Niatmu Kekuatanmu

Kekuatan dan ketangguhan seorang manusia untuk tetap istiqomah menjalankan peran, tugas, dan amanahnya berbanding lurus dengan kekuatan motivasi yang dimilikinya terhadap peran, tugas dan amanah tersebut. Tidak ada peran yang mudah kita jalankan dalam hidup, kecuali saat-saat dimana Allah mengaruniakan kemudahan dalam menjalaninya. Oleh karena itu, setiap orang perlu memiliki alasan yang kuat mengapa kita memilih dan menjalankan sebuah peran. Semakin kuat akar motivasi kita dalam melakukan sesuatu, semakin tangguh kita menjalaninya.

Peran dan amanah sebagai orang tua bukanlah hal yang mudah. Apa yang kemudian membedakan mereka yang memilih untuk menikah dengan segala konsekuensinya, sementara banyak pasangan di dunia yang sudah merasa telah mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus mengambil tanggung jawab pernikahan. Ketika pernikahan tidak dipandang sebagai sebuah keabsaahan interaksi laki-laki dan perempuan, maka wajar saja ada sebagian orang yang memilih untuk hidup tanpa ikatan pernikahan. Apa yang kemudian membedakan pasangan suami istri memilih untuk memiliki banyak keturunan dengan segala konsekuensinya, sementara banyak pasangan pernikahan yang tidak ingin memiliki keturunan atau tidak ingin memiliki keturunan yang banyak. Apa yang kemudian mendorong pasangan yang kesulitan memiliki keturunan untuk mengorbankan waktu, harta, tenaga dan pikirannya untuk sebisa mungkin berikhtiar memiliki keturunan, sementara banyak pasangan yang mudah dikaruniakan keturunan memilih untuk mengaborsi, menjual, atau menyerahkan keturunan mereka untuk dirawat orang lain.

Yang membedakan semuanya adalah cara pandang, niat dan motivasi yang tumbuh dalah setiap pilihan peran dan amanah yang diemban. Jika kita berada pada masa-masa kelelahan, kejumudan, atau kesulitan dalam pengasuhan anak, maka dua pertanyaan besar harus mampu kita jawab. Mengapa kita memilih menikah? Dan Mengapa kita memilih untuk memiliki anak? Semakin kuat motivasi kita dalam mengambil peran tersebut, semakin tangguh kita menjalaninya. Melahirkan anak adalah perjuangan yang sulit, merawat anak bukanlah pekerjaan yang mudah, membesarkan anak adalah tugas yang penuh tantangan, mendidik anak adalah adalah tanggung jawab besar, maka wajar jika banyak pasangan, terutama di negara barat memilih untuk tidak menikah atau menikah dengan merasa cukup memiliki 1 anak saja.

Dua pertanyaan inilah yang harus selalu dapat saya jawab ketika tengah melewati masa-masa kesulitan mengurus banyak anak, ditengah kerasnya kehidupan merantau di negeri USA, tanpa sanak saudara, tanpa asisten rumah tangga. Jawaban yang senantiasa perlu direfresh, diingatkan, bahkan diperbanyak. Jawaban ini pula yang kemudian kembali saya azzamkan ketika tengah dalam perjuangan melewati saat-saat sulit melahirkan anak yang kelima, dengan segala macam tantangan dalam prosesnya. Jikalau alasan itu hanya sebatas cita-cita dunia, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk segera menyerah.

Namun sebagai seorang muslim, cara pandang kita terhadap keturunan seharusnya dalam kerangka yang sama sebagaimana cara pandang Islam dalam melihat keutamaan memiliki keturunan yang sholeh.

Rasulullah SAW bersabda, Dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW  bersabda, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak) sampai ia bertanya, “Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini?” Maka dikatakan padanya, “(Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah no. 3660, Ahmad (2/509) dan lain-lain. Lihat ash-Shahihah no. 1598).

Sebuah hadist ini telah cukup menjadi alasan yang memotivasi kita untuk mendidik keturunan kita menjadi anak yang shalih, karena tidak semua orang yang memiliki keturunan akan memperoleh karunia ini. Dalam Islam, kedudukan seorang anak bagi orang tua berbeda-beda. Pertama, anak sebagai hiasan hidup sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 14. Kedua, anak sebagai cobaan hidup sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Anfal 28 dan At-Taghabun 15. Ketiga, anak sebagai musuh sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat At-Taghabun ayat 14. Keempat, anak sebagai penyenang hati sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Furqon ayat 74. Maka tentunya kita berharap anak kita dapat menjadi anak shalih, yang menyejukkan hati dan padangan kita, yang kelak akan bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat, terutama untuk memintakan ampunan bagi kita di akhirat kelak. Harapan inilah yang akan menguatkan kita dalam menjalankan hari-hari penuh tantangan sebagai orang tua. Terlebih bagi saya yang memilih untuk memperbanyak keturunan, maka alasan dalam pandangan Islam tentang memperbanyak keturunan senantisa harus tertanam dalam diri saya sebagai modal ketangguhan dalam menjalankan hari-hari yang penuh tantangan dalam menemani tumbuh kembang anak-anak. Rasulullah SAW bersabda, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat.” (Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Semoga Allah menjadikan kita sebagai salah satu kontributor banyaknya umat nabi Muhammad yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan di muka bumi yang kelak akan dibanggakan Rasulullah SAW pada hari kiamat

 San Jose, California 1 Desember 2013
Advertisements

Antara Saya, Homeschool, dan 24 Jam

“Sesungguhnya pekerjaan kita lebih banyak dari waktu yang tersedia” Begitulah kata-kata sekian “guru kehidupan” yang selalu saya ingat. Kalimat yang keluar dari orang-orang yang bersemangat mengumpulkan pahala kebaikan. Orang-orang yang berusaha meraih kedudukan tinggi di akhirat tanpa meninggalkan dunia. Orang-orang yang bersemangat untuk menjadi manusia yang bermanfaat di dunia tanpa meninggalkan akhirat. Orang-orang yang menjadi singa di siang hari dan rahib di malam hari. Orang yang digambarkan rasulullah sebagai orang yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Orang-orang yang selalu bergerak, bergerak dan bergerak menabur manfaat. Orang-orang yang berusaha menjalankan 5 peran dalam kehidupan seseimbang mungkin. Sebagai hamba Allah, sebagai anak, sebagai istri/suami, sebagai ibu/ayah, dan sebagai anggota masyarakat. Dari mereka-merekalah saya belajar mengarungi kehidupan.

Peran ibu rumah tangga yang saya pilih sebagai peran utama dalam hidup saya, juga memiliki sekian banyak pekerjaan yang harus dilakukan didalam waktu yang sama-sama tersedia selama 24 jam. Ingin sekali rasanya bisa meneladani para guru kehidupan saya untuk bisa menjadi seorang manusia yang mampu seimbang dalam urusan dunia dan akhirat. Seiring berjalannya waktu, Allah memberi petunjuk pada saya agar waktu yang tersedia cukup untuk melakukan sekian banyak pekerjaan yaitu dengan menganut 2 prinsip. 1. Dilarang bergerak kecuali untuk hal yang bermanfaat. 2. Kerjakan lebih dari 1 pekerjaan di waktu yang sama (multitasking). Saya sangat salut dengan para wanita karir yang masih seimbang mengurus rumah tangga dan anak-anak namun tetap berprestasi di karirnya. Jujur saja kapasitas diri saya yang seperti ini membuat saya harus memilih untuk menjalankan apa yang paling mungkin untuk dijalankan saat ini. Mengurus 5 anak dan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART atau keluarga sudah menghabiskan 24 jam waktu yang tersedia. Perlu penggandaan energi untuk tetap seimbang menjalankan ibadah harian plus aktif menebar kebaikan di masyarakat.

Sebenarnya saya merasa kurang pantas untuk berbagi bagaimana saya mengelola 24 jam. Karena saya yakin para ibu-ibu bekerja mengelola waktu lebih luar biasa dari apa yang saya lakukan. Terlebih bagi mereka yang ingin menyeimbangkan semuanya. Namun berhubung banyak yang menginbox dengan pertanyaan yang sama semoga tulisan ini tetap bisa diambil manfaatnya.

Daftar pekerjaan harian: 1. Menyusui bayi, 2. Masak, 3. Mencuci, 4.Melipat baju, 5.Beres-beres, 6. mencuci piring, 7. Sapu lantai, 8. Menjemput anak sekolah, 9. Mencari ide, 10. Menulis, 11. Rapat organisasi via fb 12.Mengajar homeschooling, 13. Mengurus badan anak-anak, 14. Tilawah quran 15. Tahfidz dan murojaah pribadi16. Ibadah shalat 17. Membaca 18. Iklan tak terduga seperti melerai perkelahian dll

Pembagian sesi homeschooling anak-anak: a. Sesi kognitif konsep, b. Sesi kognitif latihan, c. Sesi hands on learning, d. Sesi konsep agama dan character building, e. Sesi motorik halus, f. Sesi motorik kasar, g. Eksplorasi bebas, h. Tilawah dan tahfidz, i. Pengetahuan umum, j. Murottal hafalan, k. Membantu ummi

Pilihan metode homeschooling
i. mengerjakan workbook, ii. praktek langsung, iii. mendengar penjelasan, iv. membaca buku, v. presentasi, vi. diskusi, vii. Kegiatan mandiri, viii bimbingan langsung (talaqqi materi), ix. kunjungan edukasi, x. video edukasi

Kegiatan mingguan: kunjungan edukasi, mencari buku dan vcd materi pembelajaran seminggu ke library, mencari bahan project science atau art and craft, belanja mingguan, beres-beres ekstra, pengajian mingguan, tahfidz mingguan

Pembagian waktu yang tersedia:
A. Saat bayi menyusui atau minta dipangku
B. Saat bayi bangun dan mau duduk di kursi
C. Saat bayi tidur

Melihat daftar pekerjaan memang tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu 24 jam jika tidak dilakukan dengan multitasking.

Beberapa contoh kombinasi yang biasanya dilakukan adalah:
Kondisi A:
(1,3,a) (1,3,b) (1,3,i) (1,10,e) (1,10,f) (1,10,g) (1,11,e) (1,11,f) (1,11,g) (1,15,g) (1,15,e) (1,h) (1,c)
Kondisi B:
(4, 9, e) (4, 9,g) (4, 9, i metode x) (4, 9, d metode x) (3,c,11) (5,e,j) (5,g,j)
Kondisi C:
(2, 6, b metode i) (2, 6, 9, a metode x) (2, 6, 9, d metode x) (2, 6, 9, i metode x) (3,c,11) (7,e,j) (7,g,j)

Intinya semua dilakukan sambil mengerjakan yang lain, bahkan beres-beres pun dicicil disela-sela kegiatan. Ditengah kesibukan, alhamdulillah saya tetap memiliki me-time dalam satu hari yang begitu nikmat saya rasakan salah satunya saat setiap siang anak-anak melaksakan sesi motorik kasar dengan bermain di park kemudian saya mojok menulis atau tilawah dibawah pohon.

Apakah kegiatan ini dapat tercapai setiap hari? Jawabannya adalah harus diusahakan tercapai karena jika tidak, pekerjaan pasti akan menumpuk. Bahkan saya menargetkan semuanya selesai sebelum suami pulang. Namun terkadang banyak hal-hal yang terjadi diluar rencana sehingga tidak dapat terlaksana optimal. Alhamdulillah suami saya tidak menuntut kesempurnaan bahkan ia masih menyempatkan membantu pekerjaan yang tidak selesai. Bantuan dan dukungan suami dan anak-anak sangat membantu tercapainya semua target harian. Jujur saja, dengan berbagai pertimbangan saya tidak bisa menjalankan manner dengan ideal terutama table manner, makan dengan duduk rapi di meja makan tanpa kegiatan apapun. Hal itu masih sangat sulit bagi saya. Dalam keadaan sangat tidak ideal, terkadang porsi metode mengajar dengan video eduakasi atau belajar melalui games komputer menjadi lebih banyak terutama di hari senin saat pekerjaan lebih menumpuk. Namun saya mengimbanginya dengan kegiatan presentasi anak-anak terhadap apa yang diterima dari film yang ditonton.


San Jose 6 April 2014

Tidak Ada Yang Melarang Kita Untuk Bermimpi Besar

Saya tidak pernah lupa dengan sebuah seminar parenting bersama seorang psikolog yang mengawali seminarnya dengan sebuah pertanyaan “jika anak ibarat sebuah kertas putih, harapan apa yang ingin ibu tulis diatasnya”. Kemudian seorang ibu diminta kedepan dan menyampaikan isi tulisannya “saya ingin anak saya bisa menempuh pendidikan dengan baik supaya  kerja di perusahan besar” begitu kata seorang ibu.

Saat itu saya tidak habis fikir. Sebatas itukah harapan orang tua terhadap anak? Jangankan cita-cita yang bernuansa akhirat, cita-cita duniapun hanya sebatas “Bisa diterima” bukan “bisa membuat” perusahaan besar. Apakah untuk itu anak-anak kita harus menuntut ilmu? Belajar untuk bekerja? Seandainya saya yang disuruh maju, jangan-jangan penonton akan mencibir saya, karena cita-cita saya melambung tinggi yang saya tulis sebagai doa dan harapan terhadap anak-anak. Tidak hanya dunia tapi juga akhirat, dan tidak hanya akhirat tapi juga dunia.

Saya memang korban doktrin organisasi kampus yang menkader para aktivisnya dengan visi besar terhadap bangsa. Tak akan pernah saya lupa, ospek mahasiswa yang membuat darah saya mendidih karena semangat bergelora. Saat berteriak “untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater” meski saya hanya duduk ditengah barisan karena saat itu saya harus berdiri dengan bantuan tongkat kayu. Aktifitas kemahasiswaan khususnya organisasi islam telah menginspirasi saya untuk bergerak diatas visi misi hidup yang dirancang secara hitung mundur. Dari sebuah pertanyaan “ingin meninggal dalam keadaan apa dan sebagai apa?” Lalu hitung mundur dengan sebuah pertanyaan “apa yang ingin kamu lakukan saat ini” Sampai hari ini, saya tidak lupa tentang apa yang saya tulis dan saya impikan saat itu. Satu persatu walau lambat, tahapan-tahapan menuju impian itu Allah jawab dengan segala kemudahannya.

Mengapa begitu lambat? Karena realita tak semudah idealisme. Apalagi ketika idealisme itu ingin diwujudkan dalam status sebagai ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang sering dijuluki masyarakat sebagai “hanya ibu rumah tangga”. Ketika dapur harus ngepul, popok dan susu harus dibeli, dan segala suka duka merintis rumah tangga, saya berusaha untuk tidak berhenti meraih impian itu. Namun ternyata, semakin gigih saya mengejar impian itu, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak-anak sendiri. Membentuk mereka menjadi sebaik-baiknya manusia seperti yang digambarkan Rasulullah, yaitu manusia yang paling banyak manfaatnya. Dengan amalannya yang bermanfaat, akan mampu mengantarkan mereka meraih derajat yang tinggi di akhirat nanti. Dalam bentuk apapun peran yang diambilnya.

Saya ingin anak-anak memiliki visi dan misi hidup sejak dini. Bagi saya, memiliki visi dan misi hidup yang jelas akan menghindari mereka dari membuang waktu percuma. Semakin dini visi misi hidup ditanamkan, semakin jelas bidang keilmuan yang ingin diperdalam, semakin dini produiktifitas kehidupan dimulai. Membantu membangun visi hidup anak-anak berarti membangun konsep berfikir tentang makna kehidupan. Membantu membangun misi hidup anak-anak berarti mengasah kepekaan mereka terhadap permasalahan kemudian memotivasi mereka untuk mengambil peran menjadi bagian dari solusi permasalahan. Oleh karena itu, diskusi adalah budaya keluarga kami. Saya berusaha untuk tidak melewatkan setiap kejadian yang kami alami, kami lihat, atau kami dengar sebagai kesempatan emas untuk mengasah cara berfikir dan kepekaan sosial anak-anak serta merangsang mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki menjadi bagian dari solusi. Bahkan semenjak hijrah keluar negeri, saya sering bercerita tentang kondisi negara Indonesia kepada anak-anak dalam bahasa yang sederhana. Saya perkaya pengetahuan mereka dengan berbagai informasi dari buku, film, maupun kunjungan edukasi. Sehingga meraka termotivasi untuk selalu ingin membuat sesuatu. Jika mereka berbicara tentang cita-cita mereka biasanya mengawalinya dengan kalimat “ummi… Kalo aku sudah besar aku ingin membuat……..” Terlebih tayangan favorit mereka adalah “how it’s made” channel di youtube

Shiddiq 4.5y sangat tergila-gila dengan pesawat. Sebagian besar karya yang ia buat selalu bertema pesawat. Membuat gambar, art and craft, miniatur pesawat dll. Bahkan diusia 4 tahun ia pernah membuat buku dengan kumpulan gambar pesawatnya kemudian meminta saya untuk menuliskan cerita yang ia karang sebagai penjelasan setiap halaman yang ia gambar. Keadaan ini saya manfaatkan dalam menyampaikan materi homeschooling. Pelajaran math, bahasa, moral, agama akan lebih mudah masuk jika bertemakan pesawat. Awalnya ia bercita-cita ingin jadi pilot. “Boleh nak, jadi pilot sholih yang hafidz quran dan bisa bikin pesawat” kata saya. Kemudian saya rangsang lagi pola pikir dan kepekaan sosialnya sehingga cita-citanya berubah menjadi ingin membuat pesawat. Suatu hari saat kami sedang homeschooling dan melakukan kegiatan hands on learning bertema pesawat, tiba-tiba diskusi kami mengalir menuju pembicaraan tentang IPTN dan pak Habibie. Saya bercerita bagaimana cita-cita awal pak Habbibie mendirikan IPTN, bercerita tentang prestasi N250, dan kondisi IPTN saat ini dengan bahasa yang bisa dimengerti Shiddiq

Ummi: “Makanya idiq belajar yang rajin ya… IPTN nya nunggu idiq pulang ke Indonesia supaya bisa maju lagi”

Shiddiq: “mereka itu tau dari mana sih nama idiq?” (wkwkkwkkwkkwkkwk dasar anak-anak)

Ummi: “hehhehhe nggak sih mereka belum tau kalo ada anak kecil pinter kayak idiq yang mau bikin pesawat, ini pengennya ummi aja. Idiq pulang ke indonesia trus majuin IPTN lagi”

Shiddiq: “sekarang pak habibie masih ada gak mi?” Ummi: “beliau masih hidup, tapi sudah tua. Tapi ada anaknya yang juga jago bikin pesawat. Katanya sih bikin perusahan pesawat lagi di Batam”

Shiddiq: “Ok lah kalo gitu, idiq nanti sama anaknya pak Habibie aja” (cieeeeee gaya lo! amiiiiin)

Diwaktu yang lain…….

Shiddiq: “ummi, idiq pengen pulang ke indonesia” Ummi: “nanti ya nak insya Alllah kita pulang kalo idiq udah selesai belajar tentang pesawatnya”

Shiddiq: “ok lah mi, nanti idiq mau bikin pesawat untuk Indonesia”

Aamiiin ya Allah… Kabulkan impian ananda atau beri ganti yang lebih baik darinya. Semoga ada malaikat lewat saat itu yang mengaminkan impian bocah 4 tahun ini. Kenapa tidak mereka bermimpi? Kenapa tidak anak-anak bercita-cita besar? Karena orang-orang besar mengawali semuanya dari sebuah mimpi. Dibalik orang besar, insya Allah ada wanita yang mendukungnya, entah ia sebagai ibu atau istri atau keduanya. Melihat anak-anak yang begitu bergairah untuk belajar dan berkarya, saya menjadi semakin bahagia menyipan rapi ijazah cap gajah dalam mapnya, yang sampai saat ini belum pernah dipakai melamar kerja.


San Jose 3 april 2014

Wahai Anakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda!

Hidup memang pilihan, dan setiap pilihan memuat konsekuensi tersendiri. Terkadang sebagai orang tua, saya memilih harus menjadi berbeda dengan pilihan kebanyakan orang, terutama dalam memilih semua hal yang berkontribusi dalam membangun pola pikir dan pola sikap anak-anak. Memang kadang menjadi berbeda itu melawan kenyamanan, hanya saja saya selalu teringat bahwa kelak di yaumul akhir kita akan ditanya dan menjawab sendirian. Begitu pula saya akan mempertanggungjawabkan peran saya sebagai orang tua.

Wahai anakku…… tidak apa-apa ya kita sedikit berbeda, tapi kita masih bisa bersatu untuk beberapa hal yang sama.

Ali (10 y) memang merasa “gak nyambung” mendengar pembicaraan teman-teman di school bus yang bercerita tentang games-games popular di kalangan mereka. Ali memang tidak bermain pattlefield 4 atau call of duty, games peperangan yang tengah populer. Apalagi GTA, games rating dewasa yang menembus pasar Indonesia, yang menjadi favorit anak-anak Indonesia yang hobi “nongkrong” di warnet. “Tidak apa-apa ya nak…. Kita sedikit berbeda”. Namun saya memfasilitasinya untuk beberapa games yang bersifat ” mendesain” seperti lego desainer, belajar visual programming untuk anak-anak, atau membuat program untuk Lego Robotic.

Seandainya teman-temannya tahu bahwa Ali masih suka menonton film edukasi di pbskids, mungkin mereka akan tertawa.
Tidak apa-apa nak ….. jika mereka menganggapmu masih anak kecil. Tapi bagi ummi, Ali tidak begitu. Ali mencuci dan melipat pakaian sendiri setiap minggu. Membantu saya masak atau menyiapkan sarapan saat saya terbaring sakit. Mengasuh adik-adik. Membuat art and craft dan science project untuk mainan adiknya. Mengajari adiknya baca. Bahkan sesekali membantu memandikan adiknya.

“Tidak apa-apa ya nak….. kita sedikit berbeda” Tapi kita masih bisa duduk bersama di kelas, membuat project sekolah, mendiskusikan pelajaran, atau bermain bola saat reses.

Ali memang tidak tahu isi cerita novel fiksi yang populer. Tidak tahu bagaimana isi cerita Harry Potter. Saya memang memilih mengembangkan imajinasi anak-anak dengan cara yang berbeda. Saya beri mereka sampah plastik dan lego, lalu mereka berkreasi mengembangkan imajinasi untuk membuat berbagai kreasi lego, art and craft dan science project. “Tidak apa ya nak….. kita sedikit berbeda”. Meskipun Ali tidak “gaul” dengan cerita yang kini tengah populer, tapi saya tahu Ali senang mengikuti sirah Rasul berseri di you tube yang dibawakan oleh syekh Yasir Qodhi. Ali memang tidak punya pacar, tapi saya tau ia begitu sayang dan melindungi Shafiyah. Bahkan ia pernah mengorbankan sekolahnya karena ditinggal school bus, saat Shafiyah menangis duduk di pinggir jalan tidak mau berangkat sekolah.

Shafiyah (6y) memang tidak tahu cerita film Princess yang karakternya banyak dicetak di berbagai barang anak-anak. Sehingga ia juga tidak mengerti arti cinta kepada sang pangeran. Tapi Shafiyah sering menulis surat cinta kepada saya yang bertuliskan “i love you mom”. Saya juga tidak meragukan rasa cinta dan kepeduliannya kepada saudara. Sering menyuapi Faruq makan tanpa saya minta. Melerai dan mencarikan solusi saat kedua adiknya berebut mainan tanpa memanggil saya untuk turun menyelesaikannya. Serta berbagai sifat keibuan lainnya yang melekat pada gadis polos berumur 6 tahun.

Saya pernah melihat ia hanya tersenyum saat bermain bouncing disaat anak-anak lain seumurnya menyanyikan lagu yang sama sambil berteriak. Ia tersenyum karena tidak tahu itu lagu apa. “Tak apa ya nak kita sedikit berbeda….. ” Meskipun begitu shafiyah tetap bisa melompat di bouncer dan berbahagia. Saya memang senang menyanyi dan membuat nasyid, namun saya lebih memilih mengasah otak kanan anak dengan Al-quran dibanding lagu. “Tidak apa nak kamu tidak banyak hafal lagu…..Karena ummi lebih ingin memory otakmu diisi oleh hafalan ayat Al-quran”

Shafiyah memang berpakaian berbeda dengan hijabnya. Ia adalah satu-satunya siswa di sekolah yang berhijab. Namun perbedaan tidak menghalanginya untuk bersikap baik terhadap teman, bahkan ia pernah mendapat penghargaan dari sekolah karena sikap baiknya terhadap teman.

Shiddiq (4.5y) dan faruq (2.5y) memang tidak tahu cerita film super hero yang populer. Tidak tau siapa itu ben 10, Naruto, Spiderman atau karakter super hero lainnya. Mereka hanya tahu namanya dari berbagai barang pemberian kerabat yang memuat gambar karakter super hero. Tapi mereka pernah berteriak girang “aaaaaaa… Ayo mi cerita lagi!!!!” saat saya selesai mendongeng kisah nabi dan sahabat sambil membuat ilustrasi drama singkat agar kisah semakin seru. Berangkat dari satu kisah, berbagai pertanyaan sering Shiddiq ajukan seputar islam dan kehidupan, yang membuat saya begitu bergairah menceritakan konsep islam lainnya. ” ummi gimana sih Al-quran itu diturunin Allah?” “Ummi kenapa sih Allah menciptakan syaitan?”

Mereka memang tetap memiliki film dan karakter favorit layaknya anak-anak. Namun hanya film yang bernuansa pendidikan dan character building yang saya ijinkan. Saat mereka menonton film franklin, daniel tiger, cailliou, dan brainstains bear adalah saat yang tepat bagi saya berdiskusi tentang nilai-nilai kehidupan. Beberapa film bahkan membantu saya untuk membangun kebiasaan baik dalam diri anak-anak. Saya begitu sangat bahagia, di usia Faruq yang 2.5 tahun, ia sering membantu pekerjaan rumah seperti yang dicontohkan daniel tiger. “I’m done ummi!!!” Faruq berlari mengabarkan bahwa ia telah selesai merapihkan mainan. Masya Allah, karpet pun kembali rapi karena ia tau dimana ia harus menaruh kembali mainannya. “Tak apa ya nak kita sedikit berbeda……” Namun kita masih bisa duduk untuk bermain mobil-mobilan atau meluncur di perosotan yang sama.

Perbedaan menjadikan kehidupan begitu berwarna. Bahkan demi kebaikan, kita dituntut untuk membuat pilihan yang berbeda. Namun berbeda itu tidak berarti terasing, karena kita masih bisa tetap bersama untuk beberapa hal yang sama-sama kita sepakati. Berdamailah dengan perbedaan, dan bersatulah dalam persamaan. Meski terkadang kita menemui kondisi dimana kita harus tegas berkata “hidupku adalah hidupku dan hidupmu adalah hidupmu” dan kelak kita akan sama-sama mempertanggungjawabkannya.


San Jose, California 1 April 2014

“Ayo Nak… Duduk disini Kita Perlu Bicara”

Hari itu sepulang kuliah, adalah hari pertama saya menjemput Ali di sekolah TK. Saat itu ia berumur 3 tahun. Bocah kecil itu berlari menghampiri sambil berteriak dengan girang “horeeee….. Ali punya ummi baru!”. Itulah hari pertama bagi Ali pulang sekolah dijemput oleh sesosok bernama “ibu”. Wajahnya seolah mengatakan pada dunia, bahwa akupun bisa dijemput oleh ‘ibu” seperti teman-teman lainnya. Saya hampir tak percaya, kehidupan yang sehari-hari berkutat dengan rumus, percobaan dan himpunan mahasiswa mendadak berubah status menjadi seorang ibu, saat seorang ayah berputra satu melamar saya.

Setiap manusia pasti memiliki perasaan dalam merespon setiap keadaan, tidak hanya saya yang tiba-tiba menjadi ibu, begitu juga Ali yang tiba-tiba memiliki ibu. Proses taaruf yang singkat dan langsung menikah, membuat kami menghadapi berbagai lompatan episode dalam kehidupan.

Perasaan bahagia yang saya rasakan saat membuka lembaran baru kehidupan bercampur baur dengan berbagai perasaan lainnya. Bahagia, terharu, cemas, bingung dan berbagai perasaan lainnya mewarnai hari-hari baru saya dalam status sebagai mahasiswi, istri dan ibu. Begitu juga bagi Ali, tentunya ia memiliki perasaannya tersendiri. Entah apa yang ada dalam hati Ali saat itu. Seorang anak yang belum pernah melihat wajah almarhum sang ibunda, yang meninggal karena sakit setelah melahirkannya, harus bertemu dengan orang asing yang berstatus sebagai ibu barunya.

Berbagai kisah suka dan duka saya lalui saat awal perjuangan meraih posisi “ibu” dimata Ali. Juga perjuangan yang penuh haru biru untuk mengumpulkan sang ayah dan anak dalam sebuah atap yang sama layaknya sebuah “keluarga”. Dan kesemuanya pasti melibatkan PERASAAN. Tidak hanya perasaan orang tua terhadap anak, namun juga perasaan anak terhadap orang tua. Berbagai perjalanan yang dilalui saya sebagai orang tua, mengajarkan saya untuk tidak hanya mengutarakan apa yang orang tua rasakan terhadap anak, namun juga apa yang dirasakan anak terhadap orang tua. Tentang harapan dan keinginan, tentang apa yang disukai dan tidak disukai.

Dalam tulisan ini saya sedang tidak ingin berbagi tentang bagaimana masa-masa awal perjuangan itu. Saya ingin membandingkan apakah perasaan kami tetap sama saat pertama kali berjumpa? Ooo tentu tidak. Perasaan yang kami rasakan semakin kaya. Ada bahagia, sedih, ceria, terharu, bangga, kesal, cemas, marah dan perasaan natural lainnya sebagai seorang manusia. Namun perasaan yang paling mendominasi bagi saya adalah perasaan bersyukur memilikinya. Sehingga apapun keadaannya, perasaan bersyukur akan membawa saya dalam keadaan baik-baik saja.

Beberapa waktu yang lalu saya menanyakan perasaan Ali terhadap saya. Ada sedikit perbedaan pendapat yang terjadi diantara kami. “Ali…. Gak papa silahkan kamu jujur sama ummi, apa yang kamu harapkan sekarang. Dengan itu ummi bisa tau ummi harus ngapain, supaya ummi bisa jadi ibu yang lebih baik lagi” kata saya dalam sebuah pembicaraan intim dimana kami hanya duduk berdua. Ali pun menangis, mengutarakan perasaanya bahwa ternyata ia kecewa atas keputusan saya beberapa waktu yang lalu untuk tetap mendaftarkannya sekolah islam di akhir pekan (sunday school)..

Seminggu sebelumnya saya sedang mengingatkan ayahnya untuk mengisi pendaftaran ulang sebuah islamic sunday school. Tiba-tiba Ali yang tengah mengerjakan proyek sunday school keluar kamar dan berteriak “No!! i dont wanna go to sunday school anymore” Kata-kata itu bagaikan petir menyambar bagi saya. “Ali sudah, gak usah teruskan ngerjain proyeknya, ayo sini duduk disini, kita perlu bicara”. Panjang ia mengutarakan alasannya mengapa ia tidak ingin lagi mengikuti kelas tambahan belajar islam di sekolah itu. Tentang perasaan lelahnya. Tentang PR sekolah yang menumpuk harus ditambah dengan PR Sunday School. Tetang perjuangannya belajar bahasa arab ditengah mayoritas siswa muslim Amerika dari keturunan middle east, dan alasan-alasan lainnya. Saya tau selama ini ia menjalankan sekolah ini dengan tidak terlalu ceria. Terlebih jika harus mengerjakan PR bahasa Arab dengan hanya ditemani oleh om google translate karena saya dan ayahnya sama sekali tidak bisa membantunya. Meskipun kerja kerasnya telah membuat nilai B di rapot untuk bahasa Arab, ia masih merasa sangat berat menjalankannya. “kenapa sekolah umum bisa belajar dengan fun tapi sekolah islam nggak?” tanyanya. Saya memberi pengertian padanya bahwa ada kalanya kita menghadapi sesuatu yang “gak asyik”, yang sebenarnya berat untuk dijalankan, namun kita tetap harus menjalankannya karena Allah menginginkan kebaikan didalamnya. Saya juga memintannya untuk tidak memangkas kegiatan wajib jika ia merasa terlalu lelah. Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk memangkas kegiatan “sunnah” agar ia memiliki waktu dan energi yang cukup untuk menjalankan yang wajib, yaitu belajar agama. Sepertinya malam itu ia sangat kecewa, karena yang terpangkas justru kegiatan eksplorasi hobby bersama kami. Kegiatan robotic, elektronika, science dll.

Dalam pembicaraan kami yang kedua, saya ingin lebih mendengar perasaannya yang mendalam serta bersama-sama memutuskan solusinya. Alhamdulillah walau dengan meneteskan air mata, Ali bersedia jujur tentang harapannya. Lobi yang cukup lama kami lakukan dengan kesimpulan:

  1. Ali ingin mulai homeschool tahun ini, agar ia bisa punya waktu lebih banyak dalam eksplorasi ilmu yang ia minati. Hasil lobi: Ali bersedia meneruskan sunday school jika ia homeschool. Namun jika tidak, ia meminta belajar islam dengan saya dirumah dengan menggunakan kurikulum sunday school, serta mengikuti kelas bahasa arab online
  2. Ali ingin punya waktu bermain lebih banyak. Hasil lobi: saya mengijinkan ia melaksanakan hobinya dalam mendesain di komputer di pagi hari setelah ia menyelesaikan seluruh standar pagi hari sebelum sekolah. Semakin gesit ia menyiapkan, semakin banyak waktu yang ia bisa gunakan untuk mendesain.
  3. Jika ia homeschool ia bersedia menambahkan jamnya dalam menghafal Al-quran setiap hari
  4. Ali ingin punya tabungan sementara saya tidak pernah memberinya uang saku. Hasil lobi: Ali akan “bekerja” dengan pekerjaan ekstra diluar tugas rumah tangga yang menjadi kewajibannya. Kemudian saya membayarnya dalam bentuk tabungannya, untuk kemudian ditukar dengan barang yang ia ingin beli dibawah persetuan orang tua. jumlah jam ia bekerja tidak boleh mengurangi jam mainnya
  5. Ia ingin ummi segera lulus ujian SIM, supaya bisa driving mengantarnya ikut kursus-kursus.Satu per satu kami bahas tentang harapannya juga harapan kami sebagai orang tua. Bahkan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyanyakan semua perasaanya tentang tanggung jawab harian yang selama ini saya beri. Melaundry kain sendiri, membantu ummi setiap hari, menghafal quran dan mengaji, dll. Alhamdulillah untuk hal tersebut Ali tidak merasa keberatan. Hanya point-point diatas yang ia ingin sampaikan. Saya akhiri pembicaraan ini dengan berkata “Ali terima kasih sudah mau jujur sama ummi. Ummi belum bisa janji, ummi akan sampaikan ini dulu sama bapak. Keputusan akhirnya ada di bapak. Makasih ya li…. Semoga kita sama-sama berkumpul di surga” Ali berjalan menghampiri saya kembali untuk bertanya “Ummi, mengapa ummi bilang seperti itu?. Saya jawab “Ali…. ummi dan bapak punya harapan, Ali juga punya harapan. kadang kita sedikit berbeda pandangan, tapi ingatlah bahwa yang kita inginkan sama-sama ingin menuju surga. Jadi kadang kita perlu mencari solusi bersama. Sekarang gimana apa ali sudah lega?” Ali pun tesenyum sambil mangguk, lalu saya bertanya sambil mengajaknya “tos” “jadi bagaimana Ali sekarang kita ‘friend’ lagi?” Ali mengangkat tangannya dan berkata “friend!”

    Anak punya keinginan, sebagaimana kita sebagai orang tua. Anak punya harapan, sebagaimana kita sebagai orang tua. Anak juga memiliki perasaan, sebagaimana kita sebagai orang tua. Namun terkadang kita memiliki perbedaan dalam memilih jalan dan caranya. Namun ingatlah bahwa yang kita inginkan adalah sama-sama menuju surga. Berdamai dengan perbedaan itu perlu. Namun jika jalan yang dipilih jauh dari tujuan kita menuju surga, disinilah otoritas orang tua dapat berbicara.

San Jose, 26 Maret 2014

Saat Si Pemalu Mogok Sekolah

Disuatu pagi, seperti biasa saya membangunkan Shafiyah (6y, kindergarten) untuk pergi sekolah. Namun hari itu dan hari-hari sebelumnya Shafiyah selalu tidak ceria setiap pagi. Saat itu adalah hari-hari pertama kelahiran adik barunya. Banyak hal yang berubah dalam rumah. Semua membutuhkan penyesuaian untuk kembali stabil, tidak hanya bagi saya, namun bagi anak-anak.

Shafiyah :”teteh gak mau sekolah!!”

Kalimat itu memberi tambahan pikiran bagi saya yang masih dalam tahap pemulihan pasca melahirkan anak ke 5. Saat perut masih sakit karena rahim yang mengecil, jahitan yang masih basah, belum lagi semua pekerjaan rumah harus dikerjakan bahkan sejak pertama kali menginjak rumah sepulang dari rumah sakit. Shafiyah memberikan alasan bahwa ia tidak mau pergi sekolah karena merasa rindu dengan adik bayi. Sebuah alasan yang mungkin saja benar walau terdengar konyol.

Dengan berbagai penjelasan, saya membujuknya. Ia berangkat, namun dengan wajah yang tidak ceria. Keesokan harinya kejadian ini terus berulang, dalam keadaan rush hour di pagi hari, dengan terpaksa beberapa kali kakaknya berlari meninggalkan Shafiyah agar tidak tertinggal bus. Saya coba mengajaknya bicara dengan suasana yang nyaman, lalu ia menambahkan alasan dengan berkata “Shafiyah ditabrak anak laki-laki waktu main di playground”. Saya mengerti, kejadiaan itu pasti memberi kesan buruk pada diri Shafiyah yang kami kenal sangat sensitif. Terlebih lagi, Shafiyah yang pendiam, saat itu belum dapat secara aktif berbicara bahasa inggris. Hanya mengerti namun pasif dalam berkomunikasi. Dapat saya bayangkan, bagaimana seseorang yang tidak bisa mengkomunikasikan perasaannya karena pribadinya yang introvert dan memiliki kendala dengan bahasa.

Peristiwa mogok sekolah pun berulang, kali ini alasan Shafiyah bertambah lagi. “teteh gak suka di sekolah ini, PR nya banyak dan susah”. Sekolah ini adalah sekolah baru bagi Shafiyah. Tepat sebulan sebelum melahirkan kami pindah rumah, maka otomatis anak-anak pun harus pindah sekolah. Rumah baru, sekolah baru, adik baru, adalah perubahan berturut-turut yang dialami Shafiyah. Terlebih lagi, baru beberapa bulan kami sekeluarga pindah ke USA sehingga anak-anak masih dalam tahap menyesuaikan bahasa. Jangankan bagi anak-anak, perubahan suasana bagi orang dewasa juga membutuhkan penyesuaian.

Saya akui sekolah barunya agak berbeda dengan sekolah sebelumnya. Tuntutan akademis yang tinggi sangat terlihat dari berbagai tugas yang dibawa kerumah. Ada PR bahasa dan matematika, PR membaca, proyek bersama orang tua, kegiatan bimbingan yang harus dilakukan orang tua, sampai PR tersulit bagi Shafiyah adalah membuat karangan singkat setiap minggu pada buku jurnal writing. PR ini yang selalu membuat Shafiyah terlihat sangat berat mengerjakan tugas. Padahal ini adalah tahun pertama Shafiyah sekolah. Shafiyah yang tidak pernah ikut preschool, baru pertama kali belajar ABCD beberapa bulan yang lalu. Saya mencoba terus memotivasinya untuk melakukan hal semaksimal yang ia bisa, walau hanya menulis sebuah kalimat. sementara shafiyah, berkali-kali membujuk saya untuk sekolah bersama saya dirumah. “Teteh pengen homeschooling aja kayak Shiddiq dan Faruq, asyik….” Saya tetap menegaskan bahwa ia harus sekolah, minimal sampai ia memiliki kemampuan baca tulis dan aktif berbicara dalam bahasa Ingris sebagai modal dasar untuk bisa belajar mandiri.

Sebagai orang tua, kami harus segera mencari akar permasalahan yang menyebabkan ia tidak senang bersekolah. Saat mogok sekolah yang kesekian kali, akhirnya ayahnya memilih untuk terlambat datang ke kantor untuk bersama saya mengantar Shafiyah pergi ke sekolah sekaligus membuat janji berdiskusi dengan gurunya. Saat waktu istirahat, saya mengintip Shafiyah di playground. Saya berusaha menahan tangis saat melihat ia bermain sendirian di playground. Shafiyah sendiri ditengah keramaian, tanpa teman. Akhirnya saya mengerti apa yang menjadi permasalahan utamanya sehingga ia sangat tidak bersemangat pergi ke sekolah.

Menjadi murid baru itu tidak mudah, terlebih bagi Shafiyah yang pemalu dan membutuhkan banyak waktu untuk memulai pertemanan. Apalagi disaat orang-orang sudah mulai memiliki “genk” masing-masing. Shafiyah memang tidak seperti Ali kakaknya, yang bisa mudah berkenalan bahkan dalam satu kali pertemuan, bahkan pertemuan yang tidak sengaja seperti ketika bermain di park. Ia membutuhkan waktu yang lama, dan beberapa kali pertemuan sampai bisa merasa nyaman untuk memulai pertemanan. Tapi sekalinya ia merasa “klik” ia akan begitu setia dengan sahabatnya bahkan sangat romantis. Berbeda dengan Ali yang banyak teman tapi jarang hafal namanya. Ali percis seperti saya, sementara Shafiyah percis seperti ayahnya.

Saya harus menerima bahwa anak-anak berbeda-beda. masing-masing memiliki keunikan potensi juga kelemahannya. Saya mencoba diskusi dengan suami tentang hal ini, untuk melihat sudut pandang dari orang yang sama-sama pemalu dan pendiam. “ya…. gimana ya mi….. jangankan Shafiyah, bapak aja sampai sekarang gemeteran kalo harus ngomong didepan orang banyak….” kata Ayahnya. “Dulu juga sering mogok sekolah karena malu di sekolah” tambahnya. “hahaha…… ya sudah kalo gitu, bapak sampai sekarang masih bisa hidup kan? jadi shafiyah pun insya Allah baik-baik aja kan walau sifatnya seperti ini” guyon saya.

Dalam pandangan saya, masalah komunikasi adalah life skill yang penting dalam kehidupan. Waktu itu saya sangat cemas melihat kenyataan Shafiyah yang sulit berkomunikasi dengan orang lain selain keluarga. Sangat berbeda dengan saya yang sangat banyak bicara. Ayahnya sering mendapat masalah dalam kehidupannya karena sifatnya yang terlalu pendiam, sementara saya sering mendapat masalah karena salah bicara. Dalam ingatan saya, beliau bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun waktu melamar saya. Alhamdulillah sejalan dengan pernikahan kami, kini frekuensi bicara saya menurun drastis, sebaliknya ayahnya mulai banyak bicara, minimal di hadapan anak-anak. Berangkat dari pengalaman ayahnya dalam membangun hubungan pertemanan, akhirnya kami berkesimpulan bahwa Shafiyah harus dibantu gurunya untuk bisa merasa nyaman dengan minimal satu orang teman, yang kemudian akan membawanya mengenal teman-teman lainnya.

Saya berdiskusi lama dengan gurunya. Bercerita tentang bagaimana ia di sekolah dan di rumah. Saya akui, Shafiyah betul-betul pemalu. Dalam lingkungan yang ia kenalpun ia tidak banyak bicara, apalagi sebagai murid baru. Gurunya bahkan tidak bisa mengenali kemampuan akademis Shafiyah jika pertanyaan diajukan secara lisan. Gurunya hanya tau bahwa shafiyah mengerti pelajaran dari hasil tes mingguannya yang rata-rata mendapat angka 100. Namun gurunya begitu berkesan dengan Shafiyah yang selalu taat dan patuh, mendengarkan guru dengan baik, mengerjakan tugas dengan baik. Semua dia lakukan dengan tanpa bicara. Bahkan jika ada keperluan yang penting, Shafiyah akan mendekati guru dan berbicara dengan berbisik.

Akhirnya kami memilih seorang teman yang dirasa bisa membantu Shafiyah membangun hubungan pertemanan dengan teman lainnya. Gurunya akan meminta secara khusus para murid tersebut untuk menemani Shafiyah. Juga selalu memasangkan mereka dalam setiap tugas kelompok di kelas sampai Shafiyah merasa nyaman belajar di sekolah. Saya menegaskan bahwa saya tidak terlalu menuntut Shafiyah dalam pencapaian prestasi akademis saat ini. Saya hanya ingin ia nyaman pergi ke sekolah. Saya sangat yakin, ia akan bisa belajar dengan baik jika ia senang pergi ke sekolah.

Saya mengajak shafiyah membeli hadiah untuk Elizabeth. Saya katakan padanya bahwa saya akan membantunya berbicara pada Elizabeth. Saya meminta Elizabeth untuk menemani Shafiyah di sekolah, membantunya untuk mengenalkan pada teman-teman lainnya, melibatkan Shafiyah dalam kegiatan bermain sehingga ia tidak menjadi murid yang merasa sendirian ditengah keramaian. Alhamdulillah atas ijin Allah solusi ini berhasil. Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu menyebutkan nama-nama teman barunya. Wajahnya selalu ceria sepulang sekolah. bahkan kini ia mampu menceritakan suasana di sekolah pada saya. Ia tidak lagi sulit diminta mengerjakan PR, dan subhanallah ia kini mampu menulis PR satu paragraf karangan dengan bahasa Inggris.

Setelah diskusi kembali dengan gurunya, alhamdulillah ternyata kini ia mampu membangun hubungan pertemanan dengan teman di luar kelasnya. Mulai sedikit-sedikit mengeluarkan suara di kelas. Dan yang membuat saya sangat bersyukur, ia sudah memiliki prinsip untuk memilih dalam menghabiskan waktu bersama teman. Kadang ia mau diajak Elizabeth, kadang ia memilih kegiatan lain bersama teman lain. Artinya shafiyah tidak sekedar mengekor dan ikut-ikutan. Rapot prestasinya memang tidak segemilang mereka yang sudah fasih dalam berkomunikasi bahasa Inggris. Tapi ia yang paling baik diantara murid-murid imigran yang kebanyakan hanya bisa berbahasa spanish (orang mexico) meskipun mereka terlahir di USA. Dulu ia bertanya dengan wajah murung “besok sekolah ya? yaaaaaaah……” tapi kini bertanya dengan penuh semangat “besok sekolah ya? yeeeee!!!”

Terkadang kita hanya perlu mencari sebuah akar permasalahan yang dialami seorang anak, sehingga dengan solusi yang tepat akan mampu menyesaikan masalah-masalah lainnya. Seorang anak akan optimal dalam belajar jika ia berada dalam suasana nyaman. Suasana nyaman dan menyenangkan akan membuat otak berada dalam keadaan OLS (optimun learning state). Keadaan OLS adalah “suatu keadaan konsentrasi total yang mampu menyerap secara total perasaan, sehingga seseorang berada dalam kekuasaan dan kekuatan tertinggi pada saat itu, dan memperlihatkan kondisi usaha belajar tertinggi dari kemampuan yang dimiliki (Mihaly Csikzentmihalyi) atau dengan kata lain kondisi seseorang yang berada pada kemampuan terpandainya. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan suasana yang rileks, nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu, anak akan sulit menyerap informasi dalam suasanya sedih, bosan, apalagi dalam suasana yang menegangkan. Lingkungan belajar, komunikasi guru dalam mengajar, pola hubungan siswa dengan guru, suasana dalam hubungan pertemanan juga turut menentukan keberhasilan seorang anak dalam menyerap informasi. Dalam kasus anak saya Shafiyah, Alhamdulillah kemampuan akademisnya otomatis meningkat saat ia merasa nyaman dalam lingkungan sekolah barunya.

Sumber referensi: Mixland: The Land of creative thinking and writing; tentang Optimum Learning State

San Jose, 21 Maret 2014

Kehadiran Adik Bayi Baru Memang Tidak Mudah

Saat saya sedang membutuhkan fokus merawat bayi seperti mengganti popok atau menyusui bayi, faruq (2.5y) sering memulai aksi jahil mengganggu sang bayi. Dari mulai mencium dan memeluk dengan gemas, mencubit, melempar barang, melompat-lompat disamping bayi yang sedang diganti popoknya, atau bahkan sengaja melepaskan mulut bayi dari puting susu kemudian mengganggunya. Faruq melakukan semua itu dengan tertawa dan menatap saya dengan menantang atas respon yang akan saya pilih dalam menghadapi sikapnya. Semakin dilarang, semakin penasaran, semakin tinggi kualitas “godaan” yang dilakukannya.

Suatu hari…… Faruq mencium bayi dengan gemas. Ummi: “ooo faruq sayang adek ya, ciumnya pelan ya”. Ia menggoda adeknya lagi, saya berusaha menjauhkan sang bayi dari bahaya

Ummi: adek gak nyaman bang kayaknya, tuh dia nangis, gentle please!

Faruq kemudian mencubit

Ummi : adik sakit nak dicubit (sambil memisahkan abangnya dari adiknya)

Ummi mencoba mengalihkan dengan melibatkannya mengurus bayi, tidak berhasil, lalu dengan mainan, tetap tidak berhasil. Faruq masih terus mengganggu dan semakin kasar. Kami punya peraturan dirumah, yaitu “siapa yang membuat orang lain tidak aman harus dipisahkan sementara”.

Ummi:” abang ummi pisahkan dulu ya, karena bikin adek gak aman”

Saya pisahkan faruq ke sudut ruangan, namun ia masih terus jahil mengganggu adiknya dengan agresif sambil terus tertawa. Lalu saya berlari memisahkan diri pindah ke kamar lain dan mengunci diri. Saya juga butuh menenangkan diri untuk tetap jernih berfikir sebelum bertindak. Faruq menangis karena merasa ditinggalkan.

Faruq: “Ummi…ummi…..buka!!”

Ummi: “adek takut…ummi juga takut, dia ingin nyusu tapi gak suka diganggu”

Faruq: “ummi…… auk janji…….”

Ummi: “faruq mau janji gak ganggu adek lagi?”

Faruq “iaaa…”

Saya membuka pintu, kemudian memeluknya, dan bertanya

Ummi: “Abang kenapa sih? kok ganggu adek? sebenernya abang itu lagi pengen apa?”

Faruq: “pengen susu…….”

Shiddiq: “makanya…. kalo mau sesuatu itu bilangnya pake mulut jangan pake tangan….”

Ummi: “ia… abang kan tinggal bilang aja kalo mau susu, yuk kita bikin susu”

Saya mengerti, memiliki saudara baru itu tidak mudah bagi seorang anak. Meskipun jauh-jauh hari telah menyiapkan dengan berbagai pengertian baik lewat cerita maupun buku, kenyataannya tidak mudah diterima oleh seorang anak. Kecemburan karena hadirnya adik baru, adalah episode rutin rumah tangga saya. Bentuk kecemburuannya memang berbeda-beda, ada yang menjadi pendiam, ada yang menjadi agresif, bahkan ada yang mencari perhatian dengan merawat dan menjaga adiknya. Episode kali ini adalah eposide khusus, Faruq yang sebelumnya memang kami kenal sebagai anak N-akal (banyak akal), semakin luar biasa “menggoda” setelah kelahiran adiknya. Jika dibandingkan dengan saudaranya saat seusia Faruq, kami akui bahwa ia paling menojol kecerdasannya. Oleh karena itu sangat wajar jika ujian kesabaran dalam mendidiknya begitu luar biasa bagi kami. Mungkin dalam satu hari ada 10 kejadian yang bisa memunculkan kemarahan saya, namun saya berusaha mengumpulkan 11 alasan untuk tidak melampiaskan amarah. Sehingga biasanya yang terjadi sekitar 10 kali menarik nafas panjang sambil merapatkan gigi ditambah dzikir istigfar, juga satu atau dua time out dan refleksi. Saya sering menyampaikan pada suami, kalo saya tidak mengiringi dengan berdzikir, saya bisa menjadi ibu yang sering teriak-teriak marah dirumah. Faruq itu “sesuatu banget” buat saya, maka ia lah yang paling sering mendapat “sumpah” kebaikan dari saya yang saya ucapkan sambil menggenggam tangan sendiri dengan erat.

Perilaku yang tidak pantas (misbehavior) sering sekali dilakukan anak-anak, terlebih oleh anak usia balita. Dulu saat balita 2 tahun saya melakukan misbehavior, saya merasa cukup menyelesaikan masalah dengan mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka berhenti melakukan misbehavior. Setelah saya diskusi dengan psikolog, akhirnya saya menyadari bahwa pengalihan memang salah satu cara yang cukup efektif dalam menghentikan misbehavior seorang anak, namun orang tua harus tetap mengirinya dengan memberikan pengertian kepada anak. Pengertian perlu kita berikan sehingga mereka bisa mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang diharapkan dan mana yang tidak diharapkan, mana yang benar dan mana yang salah. Namun demikian, butuh kebijaksanaan dan proses yang bertahap dalam memberi pengertian dan meluruskan misbehavior pada anak. Memilih waktu dan cara yang tepat dalam memberi pengertian menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meluruskan perilaku anak. Bahkan terkadang refleksi tidak dapat disampaikan saat itu juga, saat anak hanya akan meresponnya dengan penolakan dan pembelaan diri. Bagi saya, menjalang tidur adalah waktu paling tepat untuk merefleksi kejadian sepanjang hari. Refleksi sering saya sampaikan dalam bentuk lain seperti dongeng atau membaca buku.

Penting bagi kita untuk dapat menerima bahwa misbehavior adalah sesuatu yang normal terjadi dalam proses perkembangan anak. Penerimaan ini akan menghindarkan kita dari perasaan stress yang berlebih yang memicu munculnya emosi negatif dalam menghadapi perilaku anak. Mengetahui motif seorang anak saat ia melakukan misbehavior dapat membantu kita untuk menghindari dan mengurangi frekuensi kejadiannya. Meskipun motif seorang anak bisa jadi berubah-ubah, namun mencari tahu akar utama permasalahan akan membantu kita untuk menemukan solusi dalam menghadapinya.

Banyak kemungkinan penyebab seorang anak melakukan misbehavior diantaranya, mencari perhatian orang tua atau lingkungan sekitar; memuaskan rasa ingin tahu terhadap sesuatu; memiliki ide yang keliru dalam mendapatkan teman; persaingan dengan saudara; ketegangan di dalam keluarga; merasa frustasi karena tidak dapat memperoleh yang diinginkan; mencoba melakukan hal baru; sedang dalam keaadaan mengantuk; kecapean atau lapar; serta adanya contoh buruk dilingkungan sekitar.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan saat nasihat biasa tidak lagi ampuh untuk menghentikan misbehavior anak diantaranya:

Pengalihan, yaitu membawa perhatian anak pada sesuatu yang lain, sehingga ia tidak fokus pada kasus sebelumnya. Misalnya dengan memberikan kegiatan bermain yang lain saat kita akan melakukan sesuatu dimana ia tidak bisa terlibat didalamnya.

Pengabaian, sepanjang misbehavior yang dilakukan tidak membahayakan, pengabaian merupakan cara memberi pengertian kepada anak bahwa ia tidak berhasil mendapatkan sesuatu dengan cara yang ia pilih. Dalam kasus Faruq anak saya, pengabaian adalah senjata yang cukup ampuh untuk menghentikan perilakunya. Apabila cara peringatan biasa telah saya tempuh sebanyak 3 kali namun belum berhasil, biasanya saya memilih tidak meresponnya. Namun jika perilakunya membahayakan atau merusak saya menempuh tahap selanjutnya.

Konsekuensi logis, misalnya jika tidak sigap dalam mempersiapkan diri sebelum pergi jalan-jalan, maka akan terlambat pergi, maka waktu bermainnya semakin sedikit. Jika membuang-buang makanan, maka makanan saya ambil lalu saya berikan paper towel dan memintanya untuk membantu membersihkan.

Time out, yaitu memisahkan sang anak dari lingkungan dimana terjadinya peristiwa. Hal ini memberi kesempatan bagi anak untuk menenangkan diri sehingga kita memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan yang perlu diterimanya. Juga memberi kesempatan kepada kita untuk bisa berfikir jernih. Dalam kasus di dalam keluarga kami, kalau tidak berhasil meminta Faruq menenangkan diri disalah satu pojok ruangan yang sama dengan terjadinya peristiwa, Saya memisahkan faruq dan membawanya ke kamar (ditemani saya didalamnya) untuk diam sejenak sampai tenang, baru kemudian bicara.

Secara manusiawi, saya memang pernah marah, bahkan pernah saya sengaja marah dengan cara orang lain marah untuk menguji apakah Faruq bisa dihentikan dengan cara “otoritas” orang tua. Namun ternyata cara tersebut sangat tidak berhasil, Faruq malah tertawa melihat ekspresi aneh wajah saya yang tidak biasanya. Astagfirullah…… Betul-betul ujian kesabaran saya. Namun, sejalan dengan waktu saya bisa menemukan polanya, saya tau Faruq sangat membutuhkan perhatian yang tidak terbagi saat mengantuk setelah waktu isya, maka suami harus siap membantu saya untuk membagi anak-anak. Kemudian saat saya harus fokus pada sebuah pekerjaan terutama yang berkaitan dengan adiknya. Maka saya harus mempersiapkan kegiatan untuknya. Itulah mengapa ditengah kerepotan saya mengurus 5 anak tanpa art, saya tetap melaksanakan kegiatan homeschool. Karena dengan kegiatan homeschool yang terprogram, saya menghindari anak-anak dari kondisi “menganggur” yang sangat memungkinkan untuk menganggu bahkan membahayakan adik bayinya. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita dalam menghadapi misbehavior anak.

Sumber inspirasi: Good house keeping, book of child care

San Jose, 14 Maret 2014