Masalah itu stimulus, Response itu pilihan

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

“Praaak!!!” Sebuah gelas keramik jatuh dari meja. Masing-masing orang pun memiliki respon yang berbeda.

Faruq (2.5y) berlari melapor: “ummi….. gelas auk jatuh”. Dengan sigap Shafiyah (6y) mendekati pecahan.

Shafiyah:  “Oo, I can help!”

Ummi : “no..no… Shafiyah! Kalo yg ini ummi gak ijinin bantu, makasih ya, biar sama ummi aja, bisa luka kalo kena pecahannya”

Untuk hal yang bersifat safety dan aturan syariat saya masih menganut aliran untuk tetap menggunakan pilihan kata “no” dan “jangan”.

Ummi: “hati-hati nak jangan deket-dekat! Ummi bersihkan dulu. Faruq mungkin naronya terlalu pinggir ya. Lain kali hati-hati ya!”

Shiddiq (4.5y) : “mmmmm…… dari pecahan gelas ini kita bisa bikin jadi mainan lho!” (Xixixixixixixi)

Setelah saya selesai memungut pecahan kaca yang besar, saya mengambil vacuum cleaner untuk membersihkan serbuk keramik yang tersisa. Kemudian Shiddiq menghampiri.

Shiddiq: “Ooo ummi, I can help you!” Kemudian saya mengijinkannya membersihkan seluruh pecahan gelas dengan vacuum cleaner.

Melihat peristiwa ini saya jadi merenung betapa sesungguhnya kisah hidup kita adalah serangkaian respon kita terhadap takdir yang Allah jadikan stimulus untuk kita. Bisa jadi beberapa orang memiliki kasus masalah yang sama namun mereka memiliki jalan cerita dan hasil akhir yang berbeda. Sebagai contoh, ada orang yang mengalami kemiskinan di masa kecil kemudian menjadi pengusaha sukses di hari tua. Namun tidak sedikit orang yang miskin memiliki keturunan yang tetap miskin.

Keseharian kita adalah kumpulan dari sekian masalah yang harus kita hadapi. Baik anak kecil, remaja, maupun orang dewasa, dituntut untuk memilih sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Kenyataannya, kebijaksanaan dalam memilih langkah pemecahan masalah tidak ditentukan oleh usia kita. Sehingga tidak jarang kita temui orang dewasa yang masih bersikap seperti anak-anak. Bahkan di media massa kita bisa lihat beberapa orang memilih cara yang sangat ekstrim dalam menyelesaikan masalahnya.

Kerasnya tantangan kehidupan, ternyata memaksa anak-anak untuk menghadapi berbagai masalah yang tidak ringan. Jadi teringat kasus anak yang bunuh diri karena gagal ujian nasional, bahkan pernah terjadi hanya karena putus cinta. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana seorang anak belum memiliki konsep diri yang cukup untuk menghadapi permasalahan.

Kondisi lingkungan dan pergaulan yang semakin kompleks, terutama banyaknya kasus kejahatan seksual, pergaulan bebas dll, menuntut kita untuk tidak menunda dalam mempersiapkan kematangan berfikir anak dan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang matang secara fisik namun memiliki mental yang mentah dalam memecahkan masalah.

Sebagai orang tua, kita memiliki tugas untuk membantu menyiapkan pribadi anak-anak yang mampu memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah. Memberi kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil disekitarnya berarti membantu mematangkan kepribadian mereka untuk menghadapi tantangan hidup mereka yang lebih kompleks pada tahapan usia selanjutnya.

Bagi saya pribadi, beberapa prinsip berikut saya anut dalam membangun kemandirian, kematangan berfikir, serta kecakapan mereka dalam menyeselaikan masalah:

  1. Memberi kesempatan mereka untuk membantu walau hasilnya belum bagus.
  2. Hanya membantu keperluan mereka yang perlu dibantu
  3. Jika usia anak saya masih dibawah 7 tahun, kemudian ia meminta bantuan lebih karena ingin diperhatikan, biasanya saya tetap membantunya. Hal ini saya lakukan, dengan pertimbangan agar anak-anak tidak merasa bertubi-tubi dituntut untuk mandiri.
  4. Melakukan berbagai proyek bersama dengan pembagian peran. Semua terlibat dengan porsi beban sesuai kemampuan
  5. Stimulus mereka untuk memberi ide dalam penyelesaian masalah sebelum memberi arahan
  6. Apresiasi setiap bantuan mereka walau sederhana
  7. Fokus pada bagaimana solusi masalah, sebelum membahas merefleksi hikmah. Apalagi sibuk membahas siapa yang salah
  8. Selama keadaan aman dan tidak membahayakan, beri kesempatan anak menyelesaikan permasalahannya dengan sesama sebelum turun membantu.
  9. Ajari anak untuk meminta tolong dengan cara yang baik jika mereka merasa frustasi
  10. Tidak memberi pertolongan sampai anak memperbaiki cara meminta tolong dengan cara yang baik
  11. Selama keadaan masih aman, saya memilih untuk berkali-kali mengingatkan mereka akan tugasnya dibanding mengambil alih tugasnya namun mengerjakannya sambil marah-marah
  12. Saat kita meminta tolong untuk hal yang tidak wajib atau darurat, dalam keadaan tertentu saya menghargai jawaban anak saya yang berusia diatas 7 tahun yang mengatakan “mmm… honestly i dont want it!” Dan saya jawab “oke deh kalo gak mau”
  13. Saya mengajarkan cara menelpon bapak dalam keadaan darurat, cara penyelamatan saat terjadi kebakaran, cara berlindung saat gempa bumi, serta apa yang harus dilakukan saat ada orang lain yang akan melakukan pelecehan seksual.
  14. Stimulus mereka untuk melihat hikmah positif dari setiap kejadian yang tidak mengenakan.
  15. Membangun diskusi dengan suasana kondusif dalam merefleksi kejadian terutama saat mereka memilih solusi yang kurang bijak dalam menghadapi permasalahan
  16. Doakan anak-anak menjadi manusia yang arif dan bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan

 

San Jose, California 16 April 2014

Kiki Barkiah

Advertisements

Manajemen Cinta

Saya tidak lupa dengan 3 buah pembicaraan yang begitu mengesankan antara saya dan anak saya Ali yang kini berusia 10 tahun. Pembicaraan yang sangat serius dan penuh privasi saat saya ingin mengajarkan tentang bagaimana adab dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Saya terpaksa mengawali pembicaraan mengenai hal ini saat usia ali 6 tahun. Pertimbangannya, karena saat itu fenomena “pacaran” sudah mulai ramai di kalangan anak sekolah dasar. Entahlah……. saya tidak tau apakah tepat atau tidak pilihan kata yang saya gunakan, tapi begitulah adanya, keadaan mendorong saya untuk menyampaikan yang harus disampaikan.

Saat usia Ali 6 tahun (di Indonesia)

Ummi: “Ali kamu pernah denger kata pacaran gak?”

Ali: “iya, anak di sekolah sdit ada mi yang pacaran” (saat itu Ali masih sekolah di sdit)

Ummi: “oh ya? menurutmu gimana li?”

Ali: “gak boleh kan mi? langsung nikah ajak kan mi? kayak ummi dan bapak”

Saya terkejut sambil tersenyum, ternyata ia sudah dapat menyimpulkan sendiri, padahal belum pernah membahas ini sebelumnya

Ummi: ‘iya” “btw ada gak sih anak perempuan yang ali suka?”

Ali: “hehehe ada”

Ummi: “oh ya? siapa? ummi kenal gak?”

Ali menyebutkan sebuah nama sambil tersenyum. saya pun tersenyum menahan tawa. Jaman sekarang memang berbeda, anak kelas 1 saja sudah punya kecenderungan hati.

Ummi: “kalo Ali suka sama seseorang, Ali gak usah bilang dulu sama orangnya ya, gak usah cerita sama temen temen juga, nanti diledek, ceritanya sama ummi aja ya… ali boleh suka sama seseorang tapi ali gak boleh berduaan ya sama anak perempuan tanpa teman, gak boleh menyentuh perempuan yang bukan saudara, dan gak boleh sering-sering diinget, nanti kalo sudah besar dan sudah siap baru ali boleh menikah”

Ali: “iya mi”

Setahun kemudian (masih di indonesia)

Ummi: “Aa gimana kabar si xxxx Aa masih suka sama dia?”

Ali: “nggak! udah ganti” (hihiihihihi)

Ummi: “oh ya? sama siapa sekarang sukanya?”

Ali: “sama si xxxx”

Ummi: “hehehehe… mmmmm masih inget kan pesan ummi?”

Ali: “gak boleh pacaran kan mi? langsung nikah aja….” Ummi: “iya… dan jangan bilang sama siapa-siapa ya, ceritanya sama ummi aja. Gak boleh berduaan, dan gak boleh bersentuhan, kalo mau main rame-rame sama yang lain yah. Juga gak usah banyak diinget, nanti ganggu belajar”

Sehari setelah membaca artikel tentang maraknya pornografi yang marak dinikmati oleh anak-anak usia sd di Indonesia, saya jadi penasaran untuk membuka kembali pembicaraan tentang ini bersama anak saya. terlebih kami kini tinggal di california. di suatu subuh, sepulang Ali dan bapak dari masjid saya mengajak ali berdiskusi.

Ummi: “eh li, kemarin ummi kan jemput shafiyah trus main di park sekolah Edenvale, masa coba a ummi liat anak elementary kayaknya grade 5an lagi ngumpul laki-laki sama perempuan terus peluk-pelukan. menurut ali gimana?”

Ali: “gak boleh…”

Ummi: “kalo di sekolah aa gimana? ada gak yang kayak gitu”

Ali: “gak pernah liat sih”

Ummi: “ada yang aa suka gak si sekolah?”

Ali: “mmmm… not here”

Ummi: “di indonesia maksudnya?”

Ali: “no….. di laurelwood” (nama sekolah lamanya)

Ummi: “oh ya? orang india a?’

Ali: “no”

Ummi: “orang jepang?”

Ali: “no”

Ummi: “orang mexico?”

Ali: “no”

Ummi: “bule amerika?”

Ali: maybe….

Ummi: “trus dulu suka main bareng?”

Ali: “jarang ketemu karena pas reses yang boys duduk di meja boys yang girls terpisah, ada sih yang campur tapi aa gak pernah. biasanya yang boys malu kalo ada girls yg girls juga” (hooooo… jadi tau… ternyata sudah muncul persaan malu)

Ummi: “oh ya aa di sekolah usa kan gak kayak sekolah Aa di indo, semua akhwatnya berjilbab. kalo disini auratnya banyak terbuka. kata Rasul, disekitar wanita itu banyak syaitannya, makanya kita diperintahkan untuk menundukan pandangan. Kalo gak sengaja pertama kali gak papa, tapi abis itu jangan diterusin”

Ali: “oke”

Ummi: “Aa tau gak! kalo kita melihat aurat lawan jenis, ada zat kimia di otak yang keluar, namanya dopamin, kalo cuma sekali karena gak sengaja gak papa, tapi kalo diterusin apalagi sampai berkali-kali zatnya keluar terus dan bisa merusak otak aa”

Ali: “oh ya mi? (dengan nada antusias)

Ummi: “iya aa, dan gak tanggung-tanggung yang dirusak 5 bagian otak, lebih parah daripada orang kena narkoba lho. kalo sudah seperti itu sudah gak bisa konsentrasi belajar apalgi beribadah.”

Saya pun mengambil kertas…

Ummi: “nih Aa, ibaratnya kertas ini otak kamu, kalo kamu melihat aurat lawan jenis, otaknya seperti ini (sambil meremas kertas), lihat lagi! (remas kertas lagi), lihat lagi! (remas lagi) rusak deh a otak kita.”

Ali: “really mi?”

Ummi: “serius… janji ya aa sama ummi, jangan pernah lihat aurat perempuan. apalagi di internet jaman sekarang gampang banget nyarinya. inget kan aa temen-temen aa yang di indo yang suka ke warnet itu? janji ya aa sama ummi”

Ali: “iya mi”

Ummi: “kalo aa itu udah ngerasa baligh belum sih? udah pernah mimpi yang bikin basah belum?”

Ali: “kayaknya belum mi, kayak gimana sih basahnya?” Ummi: “dia gak cair kayak ompol, dia lebih kentel”

Ali: “kayaknya belum mi”

Ummi: “nanti kalo Aa ngerasa begitu, aa bilang ya sama ummi. Kamu harus belajar cara mandi wajib, karena kalo kamu gak mandi wajib, shalat mu gak sah” Ali: ‘ok mi!”

Ummi: “oh ya aa, aa taukan gimana islam ngatur soal pernikahan beda agama?”

Ali: “yup… kita harus nikah sama muslim kan?”

Ummi: “yup… trus gimana dong kalo yang aa suka itu bukan muslim?”

Ali: “harus jadi muslim dulu”

Ummi: “yup…. makanya Aa sekarang belajar islam yang serius ya… karena kalo kayak gitu tanggung jawabnya tambah berat, Aa harus ajarin istri Aa tentang islam. Dah sekarang gak usah diinget-inget ya, dan jangan inget lebih dari kita inget sama Allah, nanti Allah cemburu lho”

Ali: “ok mi”

Saya tidak tau apakah pembicaraan seperti ini sesuai dengan ilmu parenting atau tidak. Hanya dengan momohon kelancaran lisan pada Allah serta itikad baik saya untuk menyelamatkan anak-anak dari rusaknya moral dan pergaulan saat ini yang memberi kekuatan bagi saya untuk membangun diskusi ini. Mempersiapkan mereka menuju akil baligh adalah tanggung jawab kita. Saya bersyukur, anak saya bisa terbuka tentang hal ini. Saya harus senantiasa menjaga hubungan yang harmonis diantara kami agar mereka mau bercerita kepada saya bahkan hanya bercerita kepada saya. Saya tidak ingin rasa ingin tau mereka, mereka tanyakan pada orang lain, bahkan pada gurunya di USA. Doa senantiasa saya panjatkan agar mereka senantiasa terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah.

San Jose California, 23 Februari 2014

Fitrah Berkasih Sayang itu Perlu Kita Jaga

Suatu hari saat bermain bersama.

Faruq (2.5y): auk sukaaaaa deh sama aa
Ummi: oh ya? Kenapa?

Faruq: karena aa suka bikin-bikin buat auk

(maksudnya Aa Ali sering membuatkan project untuk dijadikan mainan Faruq)

Suatu hari saat turun dari school bus, Shafiyah (6y) mendapat angpau imlek berisi 2 buah permen dari sekolahnya. Satu permen ia buka, kemudian dipatahkannya menjadi 3. Lalu ia bagikan untuknya, Faruq dan Shiddiq. Satu permen lainnya ia simpan dalam amplop angpau “ini untuk aa” katanya. Saat Faruq minta lagi, Shiddiq dan Shafiyah spontan menjawab “jangaaaaan ini untuk aa”

Setiap pengajian dan pulang membawa bungkusan makanan, mereka akan makan dan menyisakan sebagiannya walau bentuknya sudah tidak karuan “ini untuk aa dan bapak” kata mereka.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang terlihat sederhana di dalam keluarga, namun memberi makna yang begitu dalam bagi saya. Terkadang adiknya menangis meminta jatah kakaknya, tapi saya harus menghargai perasaan mereka dan juga hak mereka. Sepulang sekolah, barulah saya bertanya apakah Aa Ali bersedia mengikhlaskan jatahnya untuk Faruq. Biasanya Aa Ali pun lebih banyak mengikhlaskannya.

Begitu indah kasih sayang dan persaudaraan yang patut saya syukuri sebagai seorang ibu. Meski saya tau membangun rasa persaudaraan diantara anak-anak serta menjaga keistiqomahannya itu tidak mudah.

Memang betul sebuah kewajaran bila perkelahian terjadi antar saudara di dalam rumah. Namun saya percaya, ada hal yang harus diluruskan jika perkelahian diantara saudara lebih banyak mewarnai rumah kita. Saya yakin fitrah manusia itu berkasih sayang diantara sesama, namun perlu ikhtiar membentuk lingkungan agar nilai-nilai persaudaraan dan kasih sayang itu dapat tumbuh subur.

Saya begitu merasakan manfaat di usia dewasa, bagaimana kekompakan saya dan kelima saudara saya yang dibangun orang tua di masa kecil begitu bermakna kini. Sebuah persaudaraan yang saling membangunkan yang terjatuh, menopang yang rapuh, mendukung yang lemah, meluruskan yang khilaf. Begitu kompak sejak kecil, karena kami selalu bersama, dibawah asuhan yang sama, sehingga sampai saat ini kami selalu saling mendukung, bahkan berkomunikasi setiap saat lewat group whatsapp.

Maka begitulah saya ingin membangun masa kecil anak-anak saya. Sebuah persaudaaran yang saling tolong-menolong dalam kebajikan serta saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Sehingga kelak ketika kita tiada, tongkat estafet penjagaan dan bimbingan dapat kita teruskan kepada saudara-saudara mereka.

Sekali lagi, fitrah berkasih sayang itu perlu kita jaga. Menjaganya dengan membangun lingkungan yang membuat kasih sayang dapat tubuh subur didalamnya.  Membangun persaudaraan dengan kehangatan dalam sikap, romantisme dalam komunikasi, menumbuhkan budaya saling berbagi, menjaga hak-hak mereka, mendidik dengan keadilan, menghargai keunikan potensi tanpa perlu membanding-bandingkan, menstimulus mereka untuk selalu saling tolong menolong, membagi tanggung jawab kita dalam menjaga saudara, membiasakan mereka untuk saling berbagi ilmu, serta membantu mereka agar setiap perkelahian berakhir dengan saling memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan.

Ya Allah satukan keluaraga kami dibawah naungan cinta-Mu. Ikatlah hati kami dengan kasih-Mu. Kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu

San Jose, California 20 Februari 2014

Memiliki balita 2 tahun itu sesuatu banget deh!

Setelah beres homeschool dan bayi tertidur, barulah saya bisa mulai bekerja di dapur. Shiddiq (4y) dan Faruq (2.5y) tengah mengikuti kegiatan bermain mandiri. Saat itu mereka memilih membangun rel kereta api bersama.

Segera saya matikan keran cuci piring saat mendengar “buk!!” “Whoaaaaaaaaaaaa”.
Terlihat Shiddiq dengan kemarahan yang agresif terus menyerang Faruq yang sedang menangis.
Ummi: “Faruq lari sini sama ummi!”

Faruq berlari menuju saya untuk minta pertolongan. Ia tahu bahwa yang biasa saya lakukan saat terjadi perkelahian adalah membuat rasa aman sang korban dengan memeluknya.

Ummi: “Ada apa sayang kenapa Shiddiq pukul Faruq?”
Sambil marah Shiddiq menjelaskan dengan kesal bahwa kereta apinya direbut Faruq.

Faruq: “Shiddiqnya….. whoaaaa pukul Faruq”
Ummi: “hooooo ummi tau Shiddiq pasti kesel ya…. abang Faruq mau pinjam ya? Sudah ijin belum?”
Shiddiq: “ggggrh….dia gak ijin langsung rebut-rebut!” (dengan ekspresi marah)
Ummi: “Faruq lupa minta ijin ya? Lain kali harus ijin dulu itukan punya abang Shiddiq”

Ummi: “Shiddiq, ummi tau Shiddiq marah, tapi Shiddiq gak boleh kasar, Shiddiq harus bilang yang baik sama adek, kalo gak bisa bilangnya, bilang sama ummi, nanti ummi yang bantu”

Ummi: “ayo faruq, balikin keretanya abang! Faruq ambil yg truck aja ya”

Faruq: “gak mau!!!”

Perkelahian kembali terjadi. Saya sudah berusaha mengalihkan Faruq dengan menawarkan barang lain tapi tidak berhasil. Di rumah kami tidak berlaku bahwa anak yang besar harus selalu mengalah. Siapa yang berhak maka harus mengambil haknya kecuali bila mengikhlaskannya.
Ummi: “kalo sudah begini, ummi bingung. Masalahnya gak akan beres kalo gak ada yg mau ngalah. Siapa skrg yg mau ngalah?”

Shiddiq: “okelah Shiddiq aja yg ngalah”
Ummi: “makasih abang…. bang baik banget sama adek” sambil meluk dan mencium.

Melihat seperti ini…

Faruq:”okelah auk ngalah, nih! Auk mau dipeluk juga”
Hahahahaha akhirnya semua mengalah, dipeluk, dicium, dan semua dialihkan dengan permainan baru saja.

Kejadian seperti ini sering sekali terjadi. Maklum, balita 2 tahun belum terlalu mengerti batasan kepemilikan. Perkelahian sering terjadi karena mereka berfikir “barangku adalah milikku dan barangmu adalah milikku juga”. Butuh kesabaran dan keistiqomahan untuk mengajarkan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Sekalipun berkali-kali kita menyampaikan, kejadian ini akan sering berulang. Anak-anak memang sering tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Bentuk frustasi dan kekesalan mereka akhirnya dilampiaskan dalam bentuk kemarahan. Kita perlu membantu mereka untuk belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. “please, use your word and tell me what you feel”

Berikut kutipan ilmu yang saya dapat dari buku parenting “good Housekeeping”:

Perilaku anak anda di usia preschool tidak bisa dikontrol sepenuhnya, namun dengan melihat kemungkinan yang akan terjadi berbagai masalah bisa dihindari. Apa yang mereka inginkan dari kita adalah lingkungan yang nyaman dimana perilaku baik bisa berkembang. Kita perlu menerapkan rutinitas yang akan membantu mereka tetap pada jalurnya, hindari hal yang akan memicu masalah. Lakukan komunikasi yang jelas dan hangat sehingga membuat mereka mengerti posisi mereka dan apa yang kita harapkan dari mereka.
Semoga Allah selalu memberi petunjuk bagi pikiran, lisan, hati dan perilaku kita untuk memilih langkah yang tepat dalam meluruskan perilaku anak-anak kita serta memuat lingkungan hangat penuh cinta yang memberi tempat bagi tumbuhnya perilaku baik dan bukan sebaliknya.

San Jose, California 18 Februari 2014

Inilah Perjuangan Yang Memuliakan Kita

Hamil dan melahirkan merupakan perjuangan yang tidak mudah. Bahkan islam menempatkan perjuangan ini sebagai salah satu alasan bagi manusia untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagai mana ditulis dalam Al-Quran

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman:14). Seolah dalam ayat ini Allah memberikan sanjungan khusus bagi tugas seorang wanita yang begitu istimewa.

Tidak hanya berhenti sampai melahirkan, namun amanah seorang wanita pasca melahirkan juga tidaklah mudah, terutama saat melewati hari-hari pertama pasca melahirkan. Penurunan drastis kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita pasca melahirkan menyebabkan tubuh mudah lelah dan emosi mudah labil. Belum lagi rasa sakit dalam tubuh akibat mengecilnya rahim kembali pada ukuran normal. Disaat yang sama muncul amanah baru untuk merawat bayi yg membutuhkan perhatian ekstra, terutama dalam memberikan asupan asi yang cukup dan berkualitas dalam frekuensi yang relatif sering baik siang dan malam hari. Tanggung jawab ini juga menyebabkan para ibu pasca melahirkan kurang memiliki waktu istirahat yang cukup.  Itulah mengapa para ibu pasca melahirkan mengalami keadaan yang kita kenal sebagai baby blues syndrome atau postpartum distress syndrome.

Meskipun dalam bentuk yang beragam, setiap ibu yang baru melahirkan pasti mengalami hal ini. Dalam keadaan tertentu, kondisi ini bisa memburuk dan menyebabkan para ibu mengalami postpartum depresion. Dalam keadaan seperti ini bahkan sangat dianjurkan untuk didampingi oleh tenaga medis.

Perubahan kondisi tubuh yang drastis juga saya alami sebagaimana lazimnya wanita pasca melahirkan. Disaat yang sama, tanggung jawab terhadap anak-anak lainnya dan pekerjaan rumah tangga juga tetap harus dilaksanakan. Apalagi merantau tanpa art dan sanak keluarga yang bisa mendampingi. Kerjasama dengan suami menjadi kunci utama menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Alhamdulillah suami bisa cuti seminggu untuk mendampingi saya melewati hari-hari yang penuh tantangan. Bagi saya, yang paling menantang adalah menjaga perasaan anak-anak lainnya dengan kehadiran anggota baru. Meskipun semua anak menyambut dengan kebahagiaan, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka kehilangan sebagian perhatian, terlebih bagi anak yang masih balita. Kehadiran suami untuk fokus mengisi perhatian yang hilang, sangat membantu saya sehingga saya bisa lebih fokus pada bayi dan pekerjaan rumah tangga yang tentunya tidak mudah dijalani dalam keadaan fisik yang relatif lemah.

Namun demikian, sesungguhnya kita tidak berjuang sendirian. Allah tidak pernah tidur untuk selalu menjaga dan menurunkan pertolongan. Allah kirimkan teman-teman saya yang begitu perhatian dan membantu mengurangi beban amanah saya. Kiriman masakan, bumbu instant, dan berbagai keperluan pasca melahirkan begitu membantu saya. Dan yang lebih istimewa bagi saya adalah perhatian dan doa yang menguatkan saya bahwa mereka selalu ada untuk membantu saya. Alhamdulillah, atas segala kemudahan dan pertolongan Allah saya bisa melewati masa-masa sulit tersebut dengan kondisi jiwa yang relatif stabil. Hanya saja beberapa ekspresi cinta memang lebih banyak saya minta dari suami untuk menguatkan saya bahwa kami berjuang bersama dan saya tidak sendiri. Terutama untuk menstabilkan emosi saya dalam menghadapi perubahan tingkah laku kakak-kakak sang bayi yang mengekspresikan rasa sayang mereka kepada adik barunya dengan cara yang terkadang membahayakan.

Memandang kehamilan, melahirkan dan menyusui sebagai bagian dari ibadah kepada Allah akan melahirkan sikap yang berbeda dalam menjalankannya, begitu juga dengan nilainya di mata Allah. Tentu akan sangat berbeda rasanya bila dibandingkan dengan para wanita yang melihat kehamilan, melahirkan, menyusui sebagai tambahan beban apalagi hambatan mereka dalam mencapai karir. Karena kesulitan dalam menjalaninya adalah sebuah keniscayaan, maka sangat disayangkan jika kita menjalankannya tanpa memandangnya sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah.

San Jose 3 Desember 2013

Niatmu Kekuatanmu

Kekuatan dan ketangguhan seorang manusia untuk tetap istiqomah menjalankan peran, tugas, dan amanahnya berbanding lurus dengan kekuatan motivasi yang dimilikinya terhadap peran, tugas dan amanah tersebut. Tidak ada peran yang mudah kita jalankan dalam hidup, kecuali saat-saat dimana Allah mengaruniakan kemudahan dalam menjalaninya. Oleh karena itu, setiap orang perlu memiliki alasan yang kuat mengapa kita memilih dan menjalankan sebuah peran. Semakin kuat akar motivasi kita dalam melakukan sesuatu, semakin tangguh kita menjalaninya.

Peran dan amanah sebagai orang tua bukanlah hal yang mudah. Apa yang kemudian membedakan mereka yang memilih untuk menikah dengan segala konsekuensinya, sementara banyak pasangan di dunia yang sudah merasa telah mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa harus mengambil tanggung jawab pernikahan. Ketika pernikahan tidak dipandang sebagai sebuah keabsaahan interaksi laki-laki dan perempuan, maka wajar saja ada sebagian orang yang memilih untuk hidup tanpa ikatan pernikahan. Apa yang kemudian membedakan pasangan suami istri memilih untuk memiliki banyak keturunan dengan segala konsekuensinya, sementara banyak pasangan pernikahan yang tidak ingin memiliki keturunan atau tidak ingin memiliki keturunan yang banyak. Apa yang kemudian mendorong pasangan yang kesulitan memiliki keturunan untuk mengorbankan waktu, harta, tenaga dan pikirannya untuk sebisa mungkin berikhtiar memiliki keturunan, sementara banyak pasangan yang mudah dikaruniakan keturunan memilih untuk mengaborsi, menjual, atau menyerahkan keturunan mereka untuk dirawat orang lain.

Yang membedakan semuanya adalah cara pandang, niat dan motivasi yang tumbuh dalah setiap pilihan peran dan amanah yang diemban. Jika kita berada pada masa-masa kelelahan, kejumudan, atau kesulitan dalam pengasuhan anak, maka dua pertanyaan besar harus mampu kita jawab. Mengapa kita memilih menikah? Dan Mengapa kita memilih untuk memiliki anak? Semakin kuat motivasi kita dalam mengambil peran tersebut, semakin tangguh kita menjalaninya. Melahirkan anak adalah perjuangan yang sulit, merawat anak bukanlah pekerjaan yang mudah, membesarkan anak adalah tugas yang penuh tantangan, mendidik anak adalah adalah tanggung jawab besar, maka wajar jika banyak pasangan, terutama di negara barat memilih untuk tidak menikah atau menikah dengan merasa cukup memiliki 1 anak saja.

Dua pertanyaan inilah yang harus selalu dapat saya jawab ketika tengah melewati masa-masa kesulitan mengurus banyak anak, ditengah kerasnya kehidupan merantau di negeri USA, tanpa sanak saudara, tanpa asisten rumah tangga. Jawaban yang senantiasa perlu direfresh, diingatkan, bahkan diperbanyak. Jawaban ini pula yang kemudian kembali saya azzamkan ketika tengah dalam perjuangan melewati saat-saat sulit melahirkan anak yang kelima, dengan segala macam tantangan dalam prosesnya. Jikalau alasan itu hanya sebatas cita-cita dunia, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk segera menyerah.

Namun sebagai seorang muslim, cara pandang kita terhadap keturunan seharusnya dalam kerangka yang sama sebagaimana cara pandang Islam dalam melihat keutamaan memiliki keturunan yang sholeh.

Rasulullah SAW bersabda, Dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW  bersabda, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak) sampai ia bertanya, “Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini?” Maka dikatakan padanya, “(Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah no. 3660, Ahmad (2/509) dan lain-lain. Lihat ash-Shahihah no. 1598).

Sebuah hadist ini telah cukup menjadi alasan yang memotivasi kita untuk mendidik keturunan kita menjadi anak yang shalih, karena tidak semua orang yang memiliki keturunan akan memperoleh karunia ini. Dalam Islam, kedudukan seorang anak bagi orang tua berbeda-beda. Pertama, anak sebagai hiasan hidup sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 14. Kedua, anak sebagai cobaan hidup sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Anfal 28 dan At-Taghabun 15. Ketiga, anak sebagai musuh sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat At-Taghabun ayat 14. Keempat, anak sebagai penyenang hati sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Furqon ayat 74. Maka tentunya kita berharap anak kita dapat menjadi anak shalih, yang menyejukkan hati dan padangan kita, yang kelak akan bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat, terutama untuk memintakan ampunan bagi kita di akhirat kelak. Harapan inilah yang akan menguatkan kita dalam menjalankan hari-hari penuh tantangan sebagai orang tua. Terlebih bagi saya yang memilih untuk memperbanyak keturunan, maka alasan dalam pandangan Islam tentang memperbanyak keturunan senantisa harus tertanam dalam diri saya sebagai modal ketangguhan dalam menjalankan hari-hari yang penuh tantangan dalam menemani tumbuh kembang anak-anak. Rasulullah SAW bersabda, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat.” (Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Semoga Allah menjadikan kita sebagai salah satu kontributor banyaknya umat nabi Muhammad yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan di muka bumi yang kelak akan dibanggakan Rasulullah SAW pada hari kiamat

 San Jose, California 1 Desember 2013

Antara Saya, Homeschool, dan 24 Jam

“Sesungguhnya pekerjaan kita lebih banyak dari waktu yang tersedia” Begitulah kata-kata sekian “guru kehidupan” yang selalu saya ingat. Kalimat yang keluar dari orang-orang yang bersemangat mengumpulkan pahala kebaikan. Orang-orang yang berusaha meraih kedudukan tinggi di akhirat tanpa meninggalkan dunia. Orang-orang yang bersemangat untuk menjadi manusia yang bermanfaat di dunia tanpa meninggalkan akhirat. Orang-orang yang menjadi singa di siang hari dan rahib di malam hari. Orang yang digambarkan rasulullah sebagai orang yang lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Orang-orang yang selalu bergerak, bergerak dan bergerak menabur manfaat. Orang-orang yang berusaha menjalankan 5 peran dalam kehidupan seseimbang mungkin. Sebagai hamba Allah, sebagai anak, sebagai istri/suami, sebagai ibu/ayah, dan sebagai anggota masyarakat. Dari mereka-merekalah saya belajar mengarungi kehidupan.

Peran ibu rumah tangga yang saya pilih sebagai peran utama dalam hidup saya, juga memiliki sekian banyak pekerjaan yang harus dilakukan didalam waktu yang sama-sama tersedia selama 24 jam. Ingin sekali rasanya bisa meneladani para guru kehidupan saya untuk bisa menjadi seorang manusia yang mampu seimbang dalam urusan dunia dan akhirat. Seiring berjalannya waktu, Allah memberi petunjuk pada saya agar waktu yang tersedia cukup untuk melakukan sekian banyak pekerjaan yaitu dengan menganut 2 prinsip. 1. Dilarang bergerak kecuali untuk hal yang bermanfaat. 2. Kerjakan lebih dari 1 pekerjaan di waktu yang sama (multitasking). Saya sangat salut dengan para wanita karir yang masih seimbang mengurus rumah tangga dan anak-anak namun tetap berprestasi di karirnya. Jujur saja kapasitas diri saya yang seperti ini membuat saya harus memilih untuk menjalankan apa yang paling mungkin untuk dijalankan saat ini. Mengurus 5 anak dan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART atau keluarga sudah menghabiskan 24 jam waktu yang tersedia. Perlu penggandaan energi untuk tetap seimbang menjalankan ibadah harian plus aktif menebar kebaikan di masyarakat.

Sebenarnya saya merasa kurang pantas untuk berbagi bagaimana saya mengelola 24 jam. Karena saya yakin para ibu-ibu bekerja mengelola waktu lebih luar biasa dari apa yang saya lakukan. Terlebih bagi mereka yang ingin menyeimbangkan semuanya. Namun berhubung banyak yang menginbox dengan pertanyaan yang sama semoga tulisan ini tetap bisa diambil manfaatnya.

Daftar pekerjaan harian: 1. Menyusui bayi, 2. Masak, 3. Mencuci, 4.Melipat baju, 5.Beres-beres, 6. mencuci piring, 7. Sapu lantai, 8. Menjemput anak sekolah, 9. Mencari ide, 10. Menulis, 11. Rapat organisasi via fb 12.Mengajar homeschooling, 13. Mengurus badan anak-anak, 14. Tilawah quran 15. Tahfidz dan murojaah pribadi16. Ibadah shalat 17. Membaca 18. Iklan tak terduga seperti melerai perkelahian dll

Pembagian sesi homeschooling anak-anak: a. Sesi kognitif konsep, b. Sesi kognitif latihan, c. Sesi hands on learning, d. Sesi konsep agama dan character building, e. Sesi motorik halus, f. Sesi motorik kasar, g. Eksplorasi bebas, h. Tilawah dan tahfidz, i. Pengetahuan umum, j. Murottal hafalan, k. Membantu ummi

Pilihan metode homeschooling
i. mengerjakan workbook, ii. praktek langsung, iii. mendengar penjelasan, iv. membaca buku, v. presentasi, vi. diskusi, vii. Kegiatan mandiri, viii bimbingan langsung (talaqqi materi), ix. kunjungan edukasi, x. video edukasi

Kegiatan mingguan: kunjungan edukasi, mencari buku dan vcd materi pembelajaran seminggu ke library, mencari bahan project science atau art and craft, belanja mingguan, beres-beres ekstra, pengajian mingguan, tahfidz mingguan

Pembagian waktu yang tersedia:
A. Saat bayi menyusui atau minta dipangku
B. Saat bayi bangun dan mau duduk di kursi
C. Saat bayi tidur

Melihat daftar pekerjaan memang tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu 24 jam jika tidak dilakukan dengan multitasking.

Beberapa contoh kombinasi yang biasanya dilakukan adalah:
Kondisi A:
(1,3,a) (1,3,b) (1,3,i) (1,10,e) (1,10,f) (1,10,g) (1,11,e) (1,11,f) (1,11,g) (1,15,g) (1,15,e) (1,h) (1,c)
Kondisi B:
(4, 9, e) (4, 9,g) (4, 9, i metode x) (4, 9, d metode x) (3,c,11) (5,e,j) (5,g,j)
Kondisi C:
(2, 6, b metode i) (2, 6, 9, a metode x) (2, 6, 9, d metode x) (2, 6, 9, i metode x) (3,c,11) (7,e,j) (7,g,j)

Intinya semua dilakukan sambil mengerjakan yang lain, bahkan beres-beres pun dicicil disela-sela kegiatan. Ditengah kesibukan, alhamdulillah saya tetap memiliki me-time dalam satu hari yang begitu nikmat saya rasakan salah satunya saat setiap siang anak-anak melaksakan sesi motorik kasar dengan bermain di park kemudian saya mojok menulis atau tilawah dibawah pohon.

Apakah kegiatan ini dapat tercapai setiap hari? Jawabannya adalah harus diusahakan tercapai karena jika tidak, pekerjaan pasti akan menumpuk. Bahkan saya menargetkan semuanya selesai sebelum suami pulang. Namun terkadang banyak hal-hal yang terjadi diluar rencana sehingga tidak dapat terlaksana optimal. Alhamdulillah suami saya tidak menuntut kesempurnaan bahkan ia masih menyempatkan membantu pekerjaan yang tidak selesai. Bantuan dan dukungan suami dan anak-anak sangat membantu tercapainya semua target harian. Jujur saja, dengan berbagai pertimbangan saya tidak bisa menjalankan manner dengan ideal terutama table manner, makan dengan duduk rapi di meja makan tanpa kegiatan apapun. Hal itu masih sangat sulit bagi saya. Dalam keadaan sangat tidak ideal, terkadang porsi metode mengajar dengan video eduakasi atau belajar melalui games komputer menjadi lebih banyak terutama di hari senin saat pekerjaan lebih menumpuk. Namun saya mengimbanginya dengan kegiatan presentasi anak-anak terhadap apa yang diterima dari film yang ditonton.


San Jose 6 April 2014