Kurikulum Wajib Pendidikan Keluarga

Dalam melaksanakan proses pendidikan terbaik bagi anak-anak, orang tua dapat memilih berbagai pihak yang menjadi sistem pendukung. Namun hendaknya setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas dalam melaksanakan proses pendidikan ini. Visi yang jelas akan memperjelas langkah kita tentang hal apa saja yang perlu dipelajari oleh anak-anak kita serta proses pendidikan seperti apa yang perlu ditempuh oleh mereka. Visi yang jelas juga akan memantapkan langkah kita dalam memilih pihak yang akan bekerjasama dalam mendukung proses pendidikan anak-anak kita.

Pada akhirnya, proses pendidikan yang kita berikan pada anak-anak akan mengarah pada spesialisasi ilmu tertentu yang dibutuhkan mereka sebagai bekal menjalani kehidupan secara mandiri di masa yang akan datang. Namun apapun spesialisasi bidang yang akan ditempuh, apapun sistem pendukung yang terlibat dalam prosesnya, hendaknya setiap keluarga berkomitmen dalam menjalankan kurikulum pendidikan yang wajib di berikan kepada anak sebagai bekal dalam menjalankan kehidupannya. Bahkan kurikulum pendidikan ini hendaknya dijalankan orang tua sepanjang hidup anak-anaknya.

Adapun kurikulum pendidikan wajib yang perlu kita berikan adalah sbb:

  • Didiklah anak agar mengenal Tuhannya sehingga ia mengerti apa yang diinginkan Sang penciptanya terhadap dirinya
  • Didiklah anak agar mengenal Rasulnya sehingga ia tau bagaimana mengejawantahkan keinginan tuhannya terhadap dirinya.
  • Didiklah anak agar memahami agama yang merupakan pangkal dari setiap urusannya.
  • Didiklah anak agar mengetahui tujuan hidupnya, sehingga dengan atau tanpa dampingan kita ia akan selalu bergerak menuju tujuan tersebut.
  • Didiklah anak mengetahui potensi dirinya, mengetahui kemampuan dan kapasitasnya, sehingga ia dapat menjadikan hal tersebut sebagai bekal untuk meraih tujuan hidupnya.
  • Didiklah anak sampai ia menjadi manusia pembelajar sehingga dengannya ia akan menambah sendiri bekal tambahan yang dibutuhkan untuk meraih tujuan hidupnya
  • Didiklah anak sampai ia terlanjur mencintai kebaikan, sehingga apapun yang ditawarkan oleh lingkungannya, ia akan terus memilih kebaikan.
  • Jagalah fitrah kesucian anak sampai ia mampu membedakan mana yang baik dan buruk sehingga dengan atau tanpa kita ia akan senantiasa memilih jalan kebaikan dan menghindarkan keburukan
  • Didiklah anak sampai ia mampu berjalan mandiri menyusuri kehidupan meraih tujuan hidupnya.
  • Teruslah membimbing dan memantau perjalanan hidup mereka meskipun mereka sudah melewati titik dimana kita harus melepas mereka secara mandiri menjalani kehidupan.
  • Teruslah berdoa untuk kebaikan mereka sepanjang hidup kita.

Semoga ketika setiap interaksi kita dengan anak-anak bernafaskan poin-poin diatas, Allah ridho dan menghitung kita sebagai golongan orang tua yang melaksanakan perintah Q.S At-Tahrim ayat 6.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Grand Design Pendidikan Anak

Ramadhan adalah momentum emas perbaikan diri dan keluarga. Sudahkah keluarga sahabat memiliki kejelasan tujuan dalam proses membangun rumah tangga, mendidik dan merawat anak? jika belum ini kesempatan emas untuk bisa sejenak rehat dari segala kepenatan, bersama pasangan merumuskan tujuan kembali pengasuhan.

Sedikit berbagi, rancangan yang pernah kami buat sekitar 6 tahun lalu, barangkali bisa menjadi insiprasi. boleh dicontek boleh ditiru, kalo berhasil dicapai boleh dong jadi besan aku….

Cita-cita itu boleh WOW, gratis kok. Meski sulit dicapai tapi ini yang selalu jadi spirit kami walau menjalani jatuh bangun dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Kata saya pada bapak ” Susah menerapkan konsep yang kita yakini itu jauh lebih baik daripada menjalani sesuatu tanpa konsep yang jelas. paling tidak kita selalu berusaha kembali menjalankan konsep tersebut walau kenyataan tak seindah teorinya”

Grand Design Pendidikan Anak

Ala Keluarga Kiki Barkiah dan Aditya Irawan:

Visi:

  • Membangun Generasi Keturunan yang Sholih, Muslih, Hafizh dan Produktif

Misi:

  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam
  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam syariah
  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dunia islam
  • Mendidik keturunan yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban
  • Mendidik keturunan yang dapat mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban

Setiap point diatas insya Allah selalu jadi ruh dalam setiap diskusi, aktifitas, proyek, dan kegiatan belajar keluarga kami,

Tidak Ada yang Memintamu

[Dari “Percayalah, kelak Engkau akan merindukan kembali…“]

Bunda sayang……
Tidak ada yang memintamu untuk menjadi sempurna
Memerankan semua
Menjalankan segala
Apalagi memintamu menjadi seperti mereka
Yang terlihat istimewa dalam kisah hidupnya

Bunda sayang…….
Tidak ada yang memintamu untuk menjadi serba bisa
Unggul dalam segala
Istimewa dalam berkarya
Apalagi memintamu menjadi pribadi yang berbeda
Mengukir karya seperti mereka yang berkarya

Bunda sayang……
Tidak ada yang memintamu untuk meraih segalanya
Meraih prestasi yang mendunia
Menapaki tangga mencapai puncak kinerja
Apalagi menjalani hal yang serupa
Dengan mereka yang namanya tertulis dalam berita

Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah taat kepada perintah-Nya
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah menjaga diri dan keluargamu dari api neraka
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah taat pada imam keluarga
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah menjaga kehormatan dan harta suami saat tak ada
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah pertanggungjawabanmu dalam urusan rumah tangga
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah tak menolak ajakan suami tercinta
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah merawat dan mendidik ananda sepenuh jiwa
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah memberi manfaat bagi sesama

Dan untuk meminta semuanya
Allah ciptakan dirimu begitu istimewa
Dengan keunikan potensi yang tiada bandingannya
Karena engkau adalah engkau dan tiada yang sama
Maka berikanlah persembahan terbaik dari apa yang kau punya
Berjuanglah dengan cara yang kau bisa
Karena engkau adalah engkau dan tiada yang sama
Maka setiapmu akan berjuang dengan cara yang berbeda
Asalkan akhirnya untuk Allah semata

San Jose, California
Dari seorang ibu yang berjuang dengan cara apa yang ia bisa
Kiki Barkiah

Berhati-hatilah Pada Hati Anak Yang Penurut

Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak

Ada hal yang menjadi perhatian saya saat itu tentang Shafiyah. Gadis yang selama ini tidak banyak menjadi tokoh dalam kisah yang saya bagikan. Ia yang begitu penurut dan sering berbuat lurus-lurus saja, tidak menuai banyak konflik di rumah. Sehingga tidak banyak kisah yang saya angkat tentangnya.

Shafiyah memberikan banyak bantuan dalam keluarga. Ia adalah anak yang paling inisiatif di rumah. Ia seolah sangat memahami kebutuhan saudara-saudaranya sebelum saya meminta pertolongan. Ia begitu penyayang dan sabar menghadapi saudaranya, ia begitu mudah berkorban dan mengalah demi kebahagian saudaranya. Ia begitu telaten dan sabar mengurusi keperluan Fatih dan adik bayi. Bahkan ia mengadopsi beberapa pola komunikasi saya dalam membujuk, melerai dan mengarahkan adik-adiknya.

Namun rasanya sekitar beberapa bulan ini ia mengalami perubahan sikap terhadap Faruq. Semua hal yang saya ceritakan diatas terkadang tidak terlalu berlaku kepada Faruq. Ada perbedaan sikap dan respon yang ia tunjukan kepada adiknya yang satu ini. Terlebih Faruq yang sering berulah istimewa memang sering memicu konflik dengan seluruh anggota keluarga. Shafiyah cenderung kurang sabar, mudah marah dan semakin mempersulit keadaan bila memiliki masalah dengan Faruq. Meskipun saya mengerti bahwa banyak masalah dipicu oleh Faruq, namun sikapnya yang sering mempersulit dan membuat keadaan tambah runyam sering saya sesalkan.

Kalau sudah terjadi kasus seperti ini, maka hal itu merupakan sinyal yang mengabarkan pada saya bahwa ada hal yang harus dibicarakan dan diselesaikan diantra kami. Siang itu saya membuka pembicaraan yang sangat intim dengan Shafiyah. Hanya berdua saja sambil menyusui sang bayi. Pembicaraan ini saya buka karena rasa kecewa saya pada Shafiyah saat itu. Ia baru saja bertengkar dengan Faruq karena ia bersikeras mempertahankan haknya. Sepele tapi jadi rumit. Shafiyah enggan memberikan kursi miliknya di mobil. Ia yang sedari tadi berada pada bagian tersejuk kursi tengah, enggan memberikan posisinya pada saat Faruq memintanya. Meski saya tidak suka serta merta meminta anak yang lebih besar untuk mengalah, tapi berkali-kali saya sampaikan padanya betapa saya sangat berharap ia bersedia memudahkan urusan kali ini. Namun Shafiyah tetap tidak mau berbagi, bahkan merespon adiknya dengan sikap yang kurang lembut. Maka terjadilah pertengkaran itu.

Siang itu saya berkata padanya. “Teteh, ummi merasa akhir-akhir ini ada sikap yang berbeda dari teteh ke Faruq. Kenapa teteh kelihatannya sebel banget sama Faruq. Kamu sering mengalah sama Fatih, kamu juga sering berselisih sedikit sama Shiddiq, tapi kenapa kalo sama Shiddiq gak gitu-gitu amat, tapi kalo sama Faruq bawaannya keliatan sebeeel banget. Teteh galak sama Faruq. Kalo sudah berantem sepertinya ada gejolak emosi dari teteh. teteh suka nafsu sama Faruq. Kenapa sih teh?”

Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menyampaikan betapa ia tidak suka dengan sikapnya yang jahil dan menganggunya. Memang Faruq yang paling sering memicu konflik di rumah. Ketika ia sedang bosan dengan semua mainan, buku-buku dan semua bahan eksplorasi, maka ia akan mulai memainkan manusia-manusia disekitarnya. Itu tandanya ia sedang bosan dan sedang tidak punya ide untuk beraktifitas dengan benda-benda. Saya pernah bertanya pada Faruq “Bang kenapa sih sering banget jahil?” Ia pun menjawab “Abis bosen gak ada yang bisa dimainin lagi, jadi aku jahil aja”

Shafiyah berkaca-kaca karena ia menuturkan alasan selanjutnya. Ia merasa bahwa saya sering terlalu sibuk merespon perasaannya. Menurut Shafiyah, kadang ketika saya sedang sibuk berbicara pada bapak atau mengajar saat ia mengadu, saya sering merespon alakadarnya. Sekedar melarang Faruq atau memintanya mengontrol diri tetapi tidak merespon perasaannya. Ia juga merasa bahwa saya lebih banyak memperhatikan Faruq dibanding dirinya. Dari penuturannya saya menangkap bahwa ia merasa haknya baru dibela jika saya sudah memberikan konsekuensi pada Faruq. Sementara tidak semua kasus berujung pada konsekuensi untuk Faruq. Dalam kesempatan lain ia pun terbuka tentang perasaannya pada Faruq. Ia sangat cemburu tetapi tidak mengerti kenapa.

Astagfirullah, Alhamdulillah Allah menegur saya dengan kejadian ini. Sebelum terlambat, semakin parah dan berpotensi menyebabkan kehilangan mutiara hati yang begitu indah. Dihadapannya saya meminta maaf. Saya akui saya salah. Saya jelaskan padanya bahwa terkadang tidak mudah membuka folder pikiran saya dari satu topik ke topik lain dengan sesegera mungkin. Saya harus menyelesaikan pembicaraan atau pekerjaan saya sebelum membuka folder pikiran lainnya. Saya juga mengakui kesalahan saya, pandangan bahwa Shafiyah adalah anak baik yang pengalah dan tidak rewel cukup mewarnai respon sikap saya saat terjadi konflik. Ada perasaan bahwa Shafiyah yang baik dan selalu mempermudah tidak membutuhkan penanganan dengan tingkat keseriusan yang sama dengan konflik yang terjadi pada Shiddiq yang pemarah.

Saya juga meminta maaf padanya, bahwa akhir-akhir ini energi saya begitu terkuras dalam menghadapi Faruq yang sedang masuk masa usia 5 tahun. Masa dimana berbagai pemanasan saya mulai untuk selanjutnya secara serius dan terstruktur dilakukan di usia 7 tahun. Pengenalan kedisiplinan, kemandirian, aturan yang lebih serius, pembiasaan jadwal belajar, pengenalan islam dll. Sesuatu yang sebernarnya pernah ia rasakan sebelumnya. Hanya saja Faruq yang paling kurus dan tidak suka makan nasi, menyita lebih banyak waktu saya untuk memperhatikannya. Pencernaan Faruq sering sakit karena sulit makan. Maka saya meluangkan waktu lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gizinya, membuat menu terpisah sesuai keinginannya. Hal ini berarti menyita waktu saya untuk memberikan perhatian pada sang gadis yang penurut dan lurus-lurus saja.

“Shafiyah, kamu gak tau betapa ummi bangga memiliki kamu nak. Kamu yang paling sering menjadi pahlawan di rumah ini. Kamu yang paling sering membantu ummi. Kamu yang paling nurut dan gak banyak masalah sama ummi. Justru karena kamu gak banyak masalah jadi kamu merasa ummi gak terlalu memperhatikan kamu. Karena energi ummi habis sama anak-anak laki-laki yang bertingkah istimewa. Teteh, bukannya ummi juga sering memuji teteh setiap kali teteh berbuat baik. Teteh merasa belum cukup ya diperhatikan ummi? Ummi minta maaf ya nak. Akhir-akhir ini Faruq memang sering menyita perhatian ummi. Tentang disiplin, tentang jadwal, tentang sekolahya. Faruq juga sering sakit karena susah makan. Ummi berusaha memperhatikan semua anak, tapi karena usianya berbeda maka perhatiannya juga berbeda. Aa Ali sekarang lagi sibuk diperhatiin ummi soal rencana masa depannya, tentang rencana kuliah, tentang ujian persamaan. Teteh juga lagi ummi perhatiin tentang kemampuan menulis, kemampuan memahami isi bacaan, kemampuan belajar mandiri, hafalan quran. Shiddiq dan Fatih juga, tapi masing-masing beda yang diperhatikannya. Bener deh bukan karena ummi gak sayang sama teteh tapi justru kamu sangat mandiri, terlalu baik dan tidak pernah cari masalah sehingga ummi tidak banyak mengurusi teteh. Teteh ummi itu sayang sama teteh, ummi sangat bangga dan bersyukur punya teteh” Saya menyampaikan ini sepanjang saya memeluknya, selama itu pula ia terus meneteskan air matanya.

“Oke sekarang gini deh, adakah sesuatu yang teteh ingin minta pada ummi? atau adakah sesuatu yang ingin teteh lakukan bersama ummi? Teteh pengen diperhatikan ummi dalam bentuk apa?” Tanya saya. Ia pun bingung dan terdiam. “Teteh mau diperhatikan ummi dalam bentuk disuapin?” Ia menggeleng dan tersenyum. “Dimandiin?” Ia pun menggeleng dan tertawa. “Disiapin piring makannya?” Ia tetap menggeleng. “Jadi dalam bentuk apa dong pengen diperhatiinya?” tanya saya lagi. “Apa ya mi? gak tau” Lalu kami berdua tertawa bersama. Ia sendiri belum mampu mendefinisikan kebutuhan akan perhatian untuk dirinya. “Begini aja deh, gimana kalo saat shalat jumat jadi me time untuk kita berdua. Teteh bisa cerita dan curhat sama ummi berdua aja?” usul saya. Ia pun tersenyum bahagia mengangguk tanda setuju.

Beberapa minggu kemudian saya bertanya “Teh kok sekarang gak terlalu galak sama Faruq kalo berantem? Karena udah ngomong sama ummi waktu itu ya?” Ia pun mengangguk mengiyakan dan tersenyum.

Wanita oh wanita pada dasarnya kebutuhan terbesar mereka itu dua “didengar dan di akui perasaannya”. Potensi kebaikan mereka akan semakin melejit jika dua kebutuhan ini terpenuhi. Tidak banyak juga perhatian tambahan yang saya berikan sejak kejadian itu. Waktu saya sudah terbagi agar semua madrasah dapat diselenggarakan bagi setiap anak. Tetapi mengetahui perasaan bahwa saya mencintainya dan bangga padanya menjadi amunisi tersediri bagi Shafiyah. Ia hanya membutuhkan penegasan bahwa saya mencintainya. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana status dirinya dalam hati saya. Sejak hari itu saya hanya menambahkan bumbu dalam apresiasi yang saya berikan saat ia menyelesaikan tugas atau membantu pekerjaan saya. Sehingga tidak hanya ucapan terimakasih yang singkat namun sedikit lebih romantis, ekspresif dan spesifik. Hahaahaha

Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, karena sering kali kita mengabaikan perasaan yang tak terungkap melalui lisannya. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, terkadang kita perlu waktu istimewa untuk mengorek isi hati yang sesungguhnya. Berhati-hatilah pada hati yang penurut, barangkali ia menyimpan perasaan tertentu yang belum mampu ia ucapkan lewat lisan namun jika dibiarkan suatu saat akan meledak menjadi sebuah pembangkangan. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering membuat kita lupa bahwa merekapun punya harapan dan keinginan. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering menjebak kita dalam rutinitas tanpa problematika sehingga hubungan terasa hambar dan biasa saja. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering menjebak kita dalam suasana ada dan tiada terasa biasa saja, sehingga kita lupa bahwa kehadirannya begitu istimewa. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, karena kadang menurut itu melawan ego dan hasrat jiwa kadang pula mengubur sikap kritis dan mematikan logika. berhati=hatilah pada hati anak kita yang penurut, yang sering membuaat kita terlena pada perasaan ‘anakku baik-baik saja’ sehingga kita lupa melihat bagaimana mereka diluar sana.

Dengarkan suara hati mereka yang berbisik, yang jarang terdengar sejelas lisan anak-anak yang mudah menunjukan penolakan. Janagan biarkan suatu hari terkuak dalam sikap yang jauh dari harapan

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang kini ingin lebih mendengar
Kiki Barkiah

Filosofi dan Praktek homeschooling ala keluarga Kiki Barkiah

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertambahan jumlah penduduk dunia akan memunculkan persaingan kompetensi dalam setiap bidang. Ketika kebutuhan hidup semakin meningkat namun lapangan pekerjaan semakin sulit, maka hanya orang-orang yang memiliki kualifikasi yang sesuai yang dapat bersaing memenuhi kekosongan peran dalam sebuah peradaban. Sayangnya kualifikasi tersebut ternyata tidak cukup dapat dipenuhi oleh mereka yang meraih gelar pendidikanapalagi jika menempuh pendidikan dengan sistem pendidikan ala Indonesia saat ini. Sulitnya menemukan sarana pendidikan yang sesuai untuk setiap keunikan potensi anak-anak, mendorong masyarakat Indonesia untuk melirik sistem pendidikan personal seperti homeschooling.

Kebanyakan calon orang tua homeschooler merasa kebingungan saat pertama kali memulai homeschooling. Perasaan tersebut sangatlah wajar, bahkan berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para homeschooler muslim di Amerika mereka pun merasakan hal yang sama. Satu tahun pertama biasanya menjadi ajang tambal sulam mencari format yang paling pas.  Hal ini sangatlah wajar karena kondisi setiap anak dan keluarga sangat berbeda. apa yang bekerja dalam keluarga lain belum tentu dapat bekerja dalam keluarga kita. Meskipun begitu mendengar pengalaman berbagai keluarga homeschooler akan membuka cakrawala terhadap sekian pilihan cara yang dapat ita padu padankan sampai menemukan format yang paling sesuai dan paling mampu dilakukan oleh keluarga kita.

Pertanyaan yang sering sekali disampaikan para calon homeschooler adalah “Saya Ingin menjalankan homeschooling, harus mulai dari mana? Saya biasanya menjawab untuk mulai dari mengumpulkan sekian alasan mengapa kita memilih homeschooling. Mengapa? karena homeschooling itu sangat berat. Saat kita merasakan kebingungan, kegalauan, kelelahan, bahkan perasaan hampir menyerah, maka alasan inilah yang cukup menentukan seberapa besar kemampuan kita untuk bertahan dan bangkit kembali unutk menjalankan homeschooling. Sebagian orang memilih homeschooling karena kondisi kesehatan anak yang tidak memungkinakan bepergian setiap hari. Sebagian orang memilih homeschooling karena ingin folus dalam pembinaan agama atau menghafal Quran. Sebagian orang memilih karena ingin memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan minat bakat. Sebagian memilih karena kesibukan aktifitas anak-anak mereka seperti atlet atau artis misalnya. Sebagian memilih karena anak-anak mereka kesulitas bergabung dalam sistem sekolah yang bersifat masif. Beragama alasan yang melatar belakangi sebuah keluarga memilih homeschooling bahkan ada yang memilih karena sekedar menghindari biaya pendidikan yang mahal. Apapun alasannya hal itu merupakan hak sepenuhnya sebuah keluarga, namun kekuatan niat kita sangat berbanding lurus dengan keandalan kita dalam menghadapi setiap hambatan, tantangan, gangguan yang mungkin akan dihadapi saat melewat hari-hari sebagai seorang homeschooler. Maka bagi anda yang tengah mempertimbangkan homeschooling sebagai metode pendidikan anak-anak, ada baiknya untuk mendata sekian banyak alasan yang memperkuat pilihan anda.

Pertanyaan selanjutnya yang sering disampaikan oleh para calon homeschooler adalah “Lalu bagaimana kurikulumnya?” Kurikulum homeschooling sebuah keluarga sangat tergantung dari tujuan dan cita-cita akhir yang inign dicapai oleh sebuah keluarga. Apakah mereka menjalankan homeschooling agar sekedar lulus paket a, b, c? Apakah untuk memiliki keahlian supaya dapat pekerjaan yang baik? Apakah tujuannya kelak agar bisa membuka usaha sendiri? Ataukah ingin fokus dalam hal pendalaman Al-quran? ataukah agar kelak bisa masuk surga? Tujuan dan cita-cita akhir ini yang sebaiknya di break down oleh keluarga homeschooling sengga dapat memutuskan cabang ilmu apa saja yang ingin dipelajari oleh anak-anak kita serta kapan waktu yang tepat untuk mempelajari cabang ilmu tersebut. Oleh karena itu, kurikulum, pelajaran, dan metode homeschooling disesuaikan dengan cita-cita, kemampuan dan dana keluarga masing-masing.

 

Pertanyaan yang harus dijawab untuk membantu kita menentukan kurikulum, jenis pelajaran, dan metode homeschooling yang akan diambil adalah “Untuk Apa Anak Kita Belajar?” Bagi keluarga Kiki Barkiah, belajar itu bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika proses belajar hanya melahirkan kebahagiaan dunia saja, maka kami akan merasa merugi. Sebaliknya jika proses belajar hanya melahirkan kebahagiaan akhirat saja, maka kami tergolong orang-orang yang tidak beruntung. Kami memilih untuk meraih bahagia di dunia dan akhirat, tidak hanya sekedar selamat di duni dan akhirat. Selamat di dunia dan akhirat belum tentu merasakan kebagahiaan di dunia. Sementara ketika kita merasa bahagia di dunia dan akhirat, sudah pasti melewati kehidupan dunia dan akhirat dengan selamat. Ternyata, menjadi bahagia di dunia dan akhirat itu membutuhkan ilmu.
Melalui proses homeschooling, kami ingin anak-anak dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan membentuk mereka menjadi pribadi yang sholih, muslih, hafizh, dan produktif melakukan amal yang bermanfaat. Goal akhir yang ingin kami bentuk melalui proses homeschooling ini adalah manusia pembelajar yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam
  2. Berkomitmen dalam syariah
  3. Berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam
  4. Mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain
  5. Mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar
  6. Mampu melakukan islah pada dunia islam
  7. Mengenal potensi dan mampu memilih peran dalam peradaban
  8. Mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban

Pertanyaannya, kurikulum yang seperti apa yang keluarga kami jalani agar kelak dapat mengantarkan keluarga meraih bahagia di dunia dan akhirat?  Yaitu, ilmu apa saja yang dapat memberikan:

  1. Peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kita semakin mengenal kebesaran Allah sehingga  dengan itu kecintaan kepada Allah semakin bertambah. Dengan kata lain apabila ilmu tersebut tidak menambah kecintaan kita kepada Allah maka tidak perlu memadatkan kurikulum pembelajaran kami. Sebaliknya, setiap ilmu yang dipelajari sebaiknya dibahas secara mendalam dalam sudut pandang nilai ilahiah sehingga dengannya kecintaan kita kepada Allah akan bertambah.
  2. Tambahan pengetahuan yang membuat kita semakin merasa kerdil dihadapan Allah, sehingga dengannya kalian semakin tunduk dan khusuk dalam beribadah kepada Allah. Dengan kata lain apabila ilmu tersebut membuat kita semakin sombong, tidak semakin khusuk dan tunduk kepada Allah, maka ilmu tersebut harus kita tinggalkan. Sebagai contoh, di dunia maya banyak sekali ilmu yang bermanfaat tapi disampaikan oleh lagu-lagu yang nadanya membuat kita lalai dari mengingat Allah. Maka metode seperti ini lebih baik ditinggalkan.
  3. Tambahan ilmu yang menumbuhkan kepekaan diri terhadap sebuah masalah, sehingga dengannya muncul kecerdasan sosial dalam diri kita untuk mengambil sebuah peran kekhalifahan dalam kehidupan. Dengan kata lain ilmu yang kita gali tidak sebatas hanya tambahan wawasan dan wacana, tambahkan point materi sedemikian hingga ilmu tersebut bisa diterapkan untuk memecahkan masalah. Sebagai contoh, anak-anak kami dapat lebih menjiwai mata pelajaran “living and non living thing” apa saja yang menjadi kebutuhan dasar makhluk hidup karena setiap hari mereka memiliki tugas mengurus tumbuhan dan hewan peliharaan.
  4. Tambahan informasi yang berbuah keluhuran moral, sehingga dengannya bertambah derajat kita di sisi Allah. Dengan kata lain perbanyak pula wawasan yang menjadikan kita semakin baik akhlaknya dan semakin suci jiwanya seperti wawasan dalam meneladani Rasulullah SAW, para sahabat dan salafus sholeh. Sebagai contoh saat anak-anak mempelajari grammar atau vocabulary konteks kalimat bisa diambil setelah kita membaca cerita yang memuat nilai moral. Dalam homeschooling keluarga kami, setiap hari kami membedah buku yang bercerita tentang hikmah-hikmah seputar kehidupan.
  5. Tambahan pengetahuan yang meningkatkan kualitas kinerja dalam profesi yang kalian emban, sehingga dengannya keberkahan mengalir dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Dengan kata lain mengasah keahlian untuk membuat kita semakin ahli dalam bidang kita. Pelajaran ini lebih serius dilakukan saat anak-anak sudah mulai terlihat memiliki kecenderungan minat dan bakat pada bidang tertentu. Sementara untuk usia dini dan sekolah dasar kami lebih fokus pada memperkaya wawasan dan memberi sekian banyak pengalaman sambil mengamati tipe kecerdasan dan bidang yang diminati anak-anak.
  6. Proses pembelajaran yang mampu memicu perubahan dalam diri kita, sehingga dengannya kalian bersemangat melakukan perubahan sosial. Dengan kata lain setiap kali membahas ilmu sentuhlah jiwa kepemimpinan mereka sehingga mereka memiliki ide dan semangat untuk melakukan perbaikan. Ajak mereka untuk melakukan perubahan kecil di sekitar mereka. harapannya keal mereka bisa menjadi agent of change.
  7. Tambahan bekal kehidupan yang membuat kita dapat hidup lebih bermartabat dalam sebuah peradaban, sehingga dengannya kita bersemangat membangun peradaban yang bersendikan bilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan kata lain kita Ilmu yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Hal ini yang kami harapkan dari sebuah proses melahirkan manusia pembelajar dalam homeschooling keluarga kami. Bagaimana anak-anak tidak pernah berhenti belajar tentang ilmu yang dibutuhkan untuk membuat mereka semakin bermanfaat bagi umat manusia dan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.

Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah “Lalu metode belajarnya seperti apa? Metode belajar yang kami lakukan sangat beragam yang terpenting adalah bagiamana proses belajar yang dilakukan mampu mengantarkan para murid menjadi

  • Seorang manusia pembelajar yang berpikir kritis
  • Mampu mengatasi masalah secara mandiri
  • Dapat bekerja secara efektif dalam tim
  • Dapat berkomunikasi secara jelas, serta memiliki pengaruh dalam berkomunikasi
  • Memiliki kemampuan untuk memilih informasi serta menilai kualitas informasi
  • Dengan informasi dan berbagai sarana yang ada murid mampu menggabungkan pengetahuan dan melakukan analisa.
Proses belajar tersebut dapat kita asah dalam setiap kegiatan seperti membaca dan mendiskusikan isi bacaan. Rangsang anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Rangsang anak untuk memberi pendapat dan mengungkapkan ide. Bahkan ketika kita tidak sengaja membaca buku dengan kualitas informasi yang kurang bermanfaat atau bersebrangan fikroh sekalipun. Rangsang anak berpendapat tentang baik dan buruknya isi bacaan, lalu gali pendapat mereka tentang apa yang seharusnya dianut dalam kehidupan. Proses belajar diatas juga dapat kita asah dengan sering melibatkan mereka dalam proyek-proyek kerja dari mulai hal yang sederhana dan sehari-hari kita lakukan seperti menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan belajar, sampai pada proyek yang memang sengaja kita rancang untuk proses pembelajaran mereka.
Lalu bagaimana hasil yang kita harapkan dari setiap proses belajar seperti diatas? tentunya jauh dari sekedar  kemampuan menjawab soal ujian dengan baik dan benar sehingga mendapat nilai yang baik. Harapannya,
  • Setiap murid dapat menghasilkan sesuatu yang original
  • Dapat mengikuti setiap petunjuk dalam proses belajar secara seksama namun mampu melakukan improvisasi
  • Pada akhirnya mereka mampu menciptakan sesuatu yang praktis, relevan dan bermakna bagi ilmu pengetahuan
Contoh sederhananya, saat anak-anak diberikan proyek art and craft beri kebebasan anak untuk membuat sesuatu yang berbeda bahkan mengembangkan apa yang dicontohkan oleh kita dengan tetap melatih mereka menjalankan petunjuk yang ada.
Lalu bagimana ruh ini dapat kita implementasikan dalam homeschooling usia dini dan sd?
Dalam kehidupan nyata ternyata kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang. Orang-orang yang pintar dengan prestasi akademik yang baik ternyata belum tentu memiliki kecerdasan yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. Terbukti banyaknya pengangguran saat ini berasal dari orang-orang yang telah menempuh pendidikan sarjana.  Lalu bagaimanakah proses pendidikan yang mencerdaskan? Mengkompilasi pendapat para ahli, cerdas itu berarti memiliki:
  1. Kemampuan menyimpan informasi dalam memori
  2. Kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
  3. Kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
  4. Kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
  5. Kemampuan untuk memecahkan masalah
  6. Kemampuan untuk menciptakan hal baru
  7. Kemampuan untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
Namun dalam pandangan islam, definisi kecerdasan lebih dalam dari pengertian-pengertian diatas.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah) –> Sunan Ibnu Majah No. 4400

Masya Allah, agama islam yang mulia telah secara sempurna mendefinisikan orang yang paling cerdas dari sebuah titik akhir kehidupan. Bertapa sayangnya jika orang-orang yang cerdas dalam definisi yang utarakan para ahli tidak berbuah pada kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu prinsip penting yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah apapun proses belajar yang kita lakukan harus berbuah pada upaya mempersiapkan kematian.

Dari definisi tersebut sangatlah nyata terlihat bahwa pengetahuan kognitif hanyalah salah satu bagian kecil dari proses pendidikan yang mencerdaskan. Maka amatlah disayangkan jika nilai-nilai yang baik dari anak-anak kita, prestasi gemilang dari anak-anak kita, banyaknya materi yang dihafal anak-anak kita, tidak menjadikan mereka memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan apalagi mengharapkan mereka dapat menciptakan hal baru yang bermanfaat bagi manusia.

Untuk melahirkan manusia yang cerdas, ternyata sangat ditentukan dari bagaimana sikap yang dibangun di awal-awal tahun usia mereka, Sikap yang dibangun ini jauh lebih penting daripada memberikan berbagai pengetahuan kognitif, diantaranya:
  1. Anak dapat menunjukkan semangat dan rasa ingin tahu sebagai seorang pembelajar
  2. Anak memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
  3. Anak bersikap menyenangkan dan kooperatif dalam kegiatan belajar.
  4. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan satu atau lebih anak-anak
  5. Anak dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
  6. Anak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
  7. Anak dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
  8. Anak bersedia bergiliran dan berbagi mainan
  9. Anak dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
  10. Anak dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
  11. Anak dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
  12. Anak dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
  13. Anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
  14. Anak dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
  15. Anak dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
  16. Anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
  17. Anak mendengarkan dengan antusias saat dibacakan buku
  18. Anak dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
  19. Anak dapat menunjukan urutan cerita melalui gambar secara logis
  20. Anak dapat bermain peran dengan benda-benda
  21. Anak dapat mengambil peran dalam permainan berpura-pura

Lalu bagaimana tentang kemampuan membaca? Mungkin banyak para orang tua yang merasa panik ketika anak-anak belum bisa membaca saat usia lulus TK. Dalam buku Miseducation Preschool at Risk, David Elkind justru merekomendasikan untuk mulai belajar membaca secara simbolik saat usia anak anak kehilangan gigi susu. Meskipun begitu pada beberapa anak yang mampu dan menunjukkan minat serta melakukan dengan senang, proses belajar membaca bisa dilakukan lebih awal. Hal yang jauh lebih penting dari mengajarkan skill membaca adalah:

  1. Proses menamkan kecintaan kepada buku dan ilmu
  2. Melatih kemampuan anak dalam memahami isi bacaan
  3. Memperluas kosakata melalui kegiatan membaca
  4. Memperluas wawasan melalui kegiatan membaca
Ketidak-bijaksanaan dalam mengajari anak-anak membaca justru dapat berakibat menghilangkan fitrah mereka sebagai manusia pembelajar. Fenomena saat ini banyak anak-anak yang mampu membaca tapi tidak mampu menangkap isi bacaan karena kekurang-tepatan langkah awal dalam mengenalkan dunia membaca.
Membimbing mereka menjadi seorang manusia pembelajar adalah sebuah investasi yang paling berharga untuk masa depan anak-anak. Karena seorang manusia pembelajar tidak akan pernah berhenti belajar untuk memecahkan permasalhan dan memberikan kebermanfaatan bagi umat manusia. Membentuk anak-anak menjadi manusia pembelajar ternyata cukup dipengaruhi oleh kehidupan awal-awal tahun usia mereka. Beberapa hal yang perlu kita lakukan diawal-awal tahun usia mereka agar mereka menjadi manusia pembelajar yang cerdas ternyata sangatlah sederhana, diantaranya:
  1. Perbanyak menyusui secara langsung tanpa bantuan botol
  2. Perbanyak diskusi tentang lingkungan sekitar
  3. Perbanyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari
  4. Perbanyak melatih mereka melakukan keperluan dirinya sendiri dan menyelsaikan masalah yang mereka hadapi
  5. Perbanyak kegiatan membaca buku bersama mereka dan mendiskusikan isi bacaan
  6. Perbanyak olahraga bersama mereka
  7. Perbanyak melakukan kegiatan bermain aktif
  8. Perbanyak cinta dan kasih sayang
  9. Perbanyak membaca al quran sejak dalam kandungan
  10. Perbanyak doa dan sedekah, insya Allah
Proses belajar seorang anak diusia dini dapat dilakukan secara alami tanpa terpisah dari kegiatan pengasuhan sehari-hari, diantaranya melalui:

A. Berbicara

Anak belajar bahasa melalui proses mendengar orang disekitarnya berbicara. Saat ia mendengar ia belajar kata baru dan berusaha memaknai artinya. Ia belajar tentang dunia di sekitarnya serta pengetahuan-pengetahuan dasar yang penting untuk diketahui seseorang. Kegiatan berbicara merupakan kegiatan pra membaca yang akan sangat membantu seorang anak untuk lebih memahami apa yang kelak ia akan baca. Diskusi dengan anak merupakan proses awal dalam belajar membaca seorang anak di usia bayi atau balita. Anak akan menemukan bahwa bahasa dan komunikasi merupakan perngorganisasian kata menjadi sebuah kalimat. Semakin sering seorang anak diajak berbicara maka semakin banyak koskata yang mereka miliki.

Tips berbicara dengan bayi dan balita:

  • Kegiatan berbicara bukan berarti kita terus berbicara sementara anak mendengarkan. Pastikan anak memiliki banyak kesempatan untuk berbicara kepada kita
  • Respon setiap kata yang disampaikan seorang anak meski belum fasih pengucapannya dengan memperluas pembicaraan
  • Perkuat perbendaharaan kata bayi kita dengan menyebutnya berulang-ulang dan mengembangkannya pada kalimat
  • Jika kita menggunakan dua bahasa di dalam rumah, bicara pada bayi dengan bahasa yang paling kita kuasai. Hal ini akan memberi kesempatan bagi kita untuk menjelaskan sesuatu secara lebih fasih.

B. Memperkenalkan beragam bunyi

Lagu adalah salah satu cara bagi bayi dan balita dalam menambah perbendaharaan kata dan perkembangan kemampuan berbahasa. Bagi para orang tua yang  berpendapat untuk tidak sama sekali memberikan nyayian kepada anak, berikan  lantunan al-quran dari berbagai qori sehingga anak dapat mendengar berbagai macam suara.

C. Membaca buku

Kegiatan membaca buku bersama adalah cara yang sangat penting untuk mempersiapkan anak kelak dapat membaca. Kegiatan membaca bersama akan menambah perbendaharaan kata dan pengetahuan seorang anak. Ini juga membatu seorang anak melihat bagaimana bentuk tulisan dan memahami fungsi buku. Namun yang jauh lebih pening dari kegiatan membaca adalah menanamkan minat baca anak. Anak yang menikmati kegiatan membaca biasanya lebih termotivasi untuk belajar membaca sendiri.

Tips membaca bersama balita:
  • Jadikan buku sebagai investasi masa depan keluarga
  • Jadikan kegiatan membaca menjadi kegiatan harian keluarga
  • Buatkan area khusus membaca yang nyaman
  • Berikan bayi buku dengan bahan yang tidak mudah rusak sehingga ia bisa melihat-lihat sendiri
  • Sebelum membaca, ajak anak menerka isi bacaan dari gambar sampulnya
  • Bacakan ia cerita bergambar dari buku dengan menunjukkan gambarnya
  • Bacakan buku yang sama secara berulang untuk membangun kosakata mereka dalam berbahasa
  • Sesekali bacakan ia cerita yang lebih panjang tanpa buku bergambar
  • Kita juga dapat merekam proses membacakan cerita kepada anak-anak berikut respon interaktif mereka sehingga rekaman tersebut dapat kita putar kembali untuk mereka
  • Ketika bayi kita beranjak menjadi balita, kita mulai dapat bertanya tentang isi sebuah cerita serta membangun diskusi sederhana
  • Gunakan buku untuk mengenalkan kosakata yang tidak umum digunakan dalam pembicaraan sehari-hari
  • Kita juga dapat mengenalkan alfabet dengan cara membunyikannya. Kita dapat membunyikan huruf-huruf awal pada sebuah kata

D. Menulis

Kegiatan menulis dan membaca merupakan kegiatan yang beriringan. Keduanya berkaitan dengan bahasa dan merupakan proses pemberi informasi. Anak balita bisa mulai melakukan kegiatan pra menulis melalui kegiatan mencoret-coret. Berikut tips agar kegiatan menulis seorang anak dapat berlangsung lebih alamiah:
  • Orang tua tidak perlu memaksa anak-anak untuk melakukan kegiatan menulis atau menggambar
  • Orang tua dapat menyediakan fasilitas yang mendukung dan menawarkan berbagai pilihan kegiatan positif termasuk menggambar
  • Untuk tahap awal anak-anak baru sekedar belajar memegang alat tulis dan mencoret abstrak. Coretan dan gambar adalah kegiatan pra menulis yang bermanfaat kedepannya. Apresiasi setiap goresan yang mereka buat dengan membahas cerita dibalik gambar yang mereka buat
  • Tulislah keterangan cerita mereka didalam gambar yang mereka buat agar mereka memahami bahwa ada hubungan antara bahasa yang diucapkan dengan yang dituliskan
  • Kegiatan pra menulis juga dapat dilakukan tanpa perlu menunggu mereka mampu memegang alat tulis. Kita bisa melatih motorik halus mereka dengan memberikan bahan finger paint, biarkan anak mencorat-coret dan menggambar abstrak dengan jari mereka. Pengenalan alfabet juga bisa dilakukan dengan menggerakan jari kita diatas pasir pantai, tanah, atau menulis di langit
  • Jadikan kegiatan ini sebagai pilihan yang ditawarkan saay anak terlihat bosan dan bingung memilih kegitan. “Adek mau gambar?”
  • Sediakan bahan dan alat yang dibutuhkan, bebaskan ia memilih tema yang ia inginkan atau beri ia inspirasi tema terkait dengan materi yang sedang dibahas. Proses menggambar juga menjadi sarana mengungkapkan ide mereka
  • Apresiasi terhadap gambar seorang anak tidak perlu harus diwujudkan dengan pujian terhadap karyanya, bahkan sebagian orang berpendapat untuk menghindarinya. Apresiasi dapat dilakukan dengan bertanya tentang ide dibalik gambar kemudian mendiskusikannya.

E. Bermain

Anak belajar banyak tentang bahasa melalui permainan. Bermain membantu seorang anak memahami simbolisasi sehingga mereka bisa mengerti bahwa bahasa lisan dan tulisan memiliki kaitan dengan objek nyata dan pengalaman. Bermain juga membantu seorang anak mengekspresikan diri mereka dan menuangkannya dalam bentuk kata-kata.

Tips bermain agar kegiatan bermain menjadi kegiatan belajar yang alamiah:

  • Berikan mereka waktu yang cukup untuk bermain. Terkadang permainan terbaik bagi anak adalah permainan yang tidak terstruktur saat mereka dapat menggunakan imaginasi mereka dan membuat cerita terhadap permainan yang mereka lakukan
  • Ajak anak berdiskusi tentang cerita dibalik permainananya, tanpa perlu banyak mengarahkan perminan mereka kecuali bila benar-benar dibutuhkan, misal karena alasan keamanan
  • Sediakan sebanyak-banyaknya pilihan permainan yang bisa ia mainkan. Berikan ia kebebasan memilih mainan dan bagaimana cara ia ingin memainkannya. Lalu kembangkan permainan mereka menjadi sarana pengetahuan yang lebih bermakna dengan mengkaitkannya dengan materi pelajaran dalam kurikulum seperti sains dan matematika
  • Ajak mereka bermain drama terhadap cerita yang sedang dibahas, baik cerita karangan mereka atau pengembangan dari kegiatan membaca buku
Pertanyaan selanjutnya yang sering dilontarkan oleh para orang tua adalah tentang bagaimana mengajarkan agama kepada anak-anak. Kenyataannya prestasi akademik seorang anak dalam mata pelajaran agama belum tentu berbanding lurus dengan pengamalan nilai agama dalam kehidupan mereka. Praktek kehidupan beragama dalam lingkungan seorang anak sangat menetukan pemahaman dan pengamalan nilai agama seorang anak. Berikut metode yang bisa digunakan dalam mengenalkan Allah dan islam pada fasa awal-awal usia mereka diantaranya:
  1. Membangun lingkungan yang memberi pengalaman religius bagi anak
  2. Memberikan teladan pengamalan agama dan kedekatan kepada Allah didalam rumah
  3. Mengkaitkan sekian banyak pengalaman dan kejadian dengan nilai-nilai Ilahiah dan memperdalam pengenalan mereka akan sifat-sifat Allah
  4. Membaca buku cerita yang bernuansa islam sesuai dengan tahapan usianya
  5. Membaca kisah nabi yang disajikan dalam buku yang dirancang sesuai dengan tahapan usianya
  6. Memperdengarkan ayat-ayat Al-quran dan mengenalkan bahwa Al-quran memuat pesan Allah kepada manusa. Misalnya ketika kita ingin memberi nasihat kepada anak kita, katakanlah “Kata Allah di dalam Al-quran……..” Mungkin pada tahap awal redaksi perintah dari All-Quran belum diberikan secara mendetail. Tapi minimal mereka mengetahui bahwa informasi tersebut didapatkan kita dari Al-Quran. Sejalan dengan pertambahan usianya, kita bisa melengkapi diskusi-diskusi kita bersama anak-anak dengan membacakan langsung ayat al-quran beserta artinya
Apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih materi dan metode penyampaian?
  1. Perhatikan tahapan belajar anak
  2. Perhatikan kecerdasan majemuk yang dimiliki anak
  3. Perhatikan tempramen dan kepribadian anak
  4. Perhatikan gaya belajar anak (audia, visual. kinestetik)
Dari sekian filosofi yang dianut oleh keluarga kami, berikut cabang ilmu yang sehari-hari dilaksanakan dalam homeschooling keluarga kami:
  1. Matematika
  2. Languange art yang terdiri dari grammar/language lesson, Phonic, Spelling, Writing dan Reading
  3. Agama Islam
  4. Al-Quran
  5. Olah Raga
  6. Proyek rutin (mengurus rumah, hewan dan tumbuhan)
  7. Sosialisasi
  8. Pendalaman hobby (bagi yang sudah memiliki kecenderungan minat dan bakat)
  9. Pendalaman materi melalui praktek atau alat peraga
  10. Bermain

Untuk kegiatan bulanan atau mingguan, anak-anak biasanya melaksanakan kegiatan sbb:

  1. Kunjungan edukasi
  2. Belajar dari ahli
  3. Bahasa Arab
Dalam homeschooling usia sekolah dasar di keluarga kami tidak ada pelajaran khusus science atau social study yang berjenjang seperti sekolah pada umumnya. Untuk mata pelajaran science, social study, dll masuk dalam kegiatan “reading comprehensive” setiap hari sehingga pembahasannya bersifat tematik dan menyeluruh. Kami membiasakan membedah buku setiap hari dengan tema yang cenderung bebas sesuai dengan keinginan belajar anak-anak. Buku yang dibedah setiap hari biasanya terdiri dari 1 buku non fiksi dan buku fiksi yang berkisah tentang kisah kehidupan dan hikmah. Mata pelajaran yang terstruktur hanyalah matematika dan mata pelajaran yang berkaitan dengan skill penguasaan bahasa, membaca dan menulis. Kami menggunakan buku yang sesuai jenjang sekolah hanya untuk latihan membaca anak-anak karena biasanya pembahasan materi dari buku yang tersedia di kurikulum sekolah belum cuku[ untuk memuaskan rasa ingin tau keluarga kami dalam mencari ilmu.

25 November 2015, Padalarang – Bandung Barat

Referensi

Tips menghadapi balita stress atau frustasi

1. Install dalam pikiran kita bahwa balita mengalami frustasi atau stress adalah sebuah kewajaran. Sehingga kita tidak perlu ikut merasa stress atau frustasi juga. Hal ini terjadi karena adanya gap antara keinginan dan kemampuan.

2. Bantu balita stress untuk lebih mampu melakukan yang diinginkan. Seperti melepas bantuan secara bertahap sambil melatih mereka melakukan sesuatu yg diinginkannya. Tidak melepas bantuan seluruhnya secara mendadak, tidak juga dengan membantu mereka terus-menerus.

3. Bantu balita stress untuk mengungkapkan keinginannya dengan cara yang baik

4. Bantu balita stress untuk mengalihkan keinginannya menjadi sesuatu yang lain bila dirasa saat itu tidak memungkinkan untuk direalisasikan

5. Dalam kasus tertentu beri kesempatan kepada balita stress untuk menenangkan diri sampai ia siap untuk mengungkapkan keinginannya atau merealisasikan keinginannya

6. Jangan bantu balita stress demi menghentikan stressnya tanpa memberi kesempatan baginya untuk belajar bersikap yang wajar dan belajar menghadapi masalah

7. Bersabar dan konsisten dalam melatih mereka untuk menunda beberapa keinginan yang tidak mungkin atau tidak perlu direalisasikan saat itu juga. Anak perlu dilatih untuk menghadapi dunia nyata kelak bahwa tidak semua keinginan mereka akan dapat direalisasikan saat itu juga. Tentunya dengan membangun komunikasi disertai alasan konkret yang dapat diterima oleh perkembangan otaknya.

8. Tingkatkan terus kesabaran kita dalam membimbing dan melatih mereka untuk berperilaku lebih tepat, memiliki keinginan yang lebih wajar, serta meningkatkan kemampuan mereka untuk merealisasikan keinginan-keinginan mereka.

9. Berikan teladan kepada mereka dalam menegemen stress. Seperti menempatkan keinginan sesuai dengan kemampuan, terutama keinginan yang berkaitan dengan pencapaian anak-anak. Beberapa balita mengalami stress diakibatkan oleh tekanan yang diberikan orang tua mereka.

10. Berikan mereka teladan yang baik saat menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan atau keinginan. Mereka mungkin dapat salah mencerna terhadap kalimat yang kita sampaikan, tetapi mereka akan lebih mudah mencerna contoh konkrit kita dalam menyelesaikan masalah.

Fitrah Anak itu Suci, Sayangnya…

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Di suatu siang saat makan Ali (11 tahun) berkata

Ali: “Ummi… meski kita sudah hidup sangat sederhana di Amerika, dan uang kita disedekahkan ke sekolah di Indonesia, tp aa masih merasa bersalah kalo makan daging”
Ummi tertawa heran dan bertanya : “Kenapa a? Apa karena anak-anak Indonesia banyak yang gak bisa makan daging”
Aa: “Iya mi, dulu kita pun lebih sering makan tahu tempe di Indonesia, kalo inget Rasulullah, Rasulullah itu makannya sederhana”
Ummi: “Ya sudah, alhamdulillah kita bisa makan daging, sekarang aa yang sehat, belajarlah yang rajin, nanti pulang bangun indonesia supaya rakyatnya sejahtera dan bisa sering makan daging. Lagian aa, ummi beliin daging di Amerika bukan karena gak mau sederhana, karena tahu tempe disini lebih mahal, dan itu jadi makanan mewah buat kita”
Kami pun tertawa bersama…..

Begitulah sepenggal kisah kebijaksanaan seorang anak yang Allah beri cahaya kepedulian terhadap sesama. Bahkan ketika makan enak pun ia diliputi rasa bersalah. Jujur, kami memang lebih banyak menginvestasikan finansial dalam bentuk sarana pendidikan anak. Sementara kebutuhan dasar seperti pakaian dan makanan, sesederhana mungkin pemenuhannya. Meskipun makna sederhana menjadi relatif bagi setiap keluarga, serta menjadi relatif bagi setiap daerah di belahan dunia. Kami memang jarang sekali jajan. Jika menemui makanan enak dan mahal, kami lebih suka membuat sendiri dirumah sebagai kegiatan keluarga.

Mendengar pembicaraan ini saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu saat menemani tumbuh kembang Ali di masa kecil. Begitu banyak waktu kami lewatkan untuk membacakan buku, mendongengkan kisah, mengupas sirah kehidupan Rasulullah dan para sahabat, serta membahas berbagai hikmah baik dalam kisah maupun kejadian sehari-hari di sekitar kami.

Lalu saya menjadi bertanya, apakah pembicaraan ini akan saya temui di masa kini jika dulu kami lebih banyak memberinya film Naruto? Ben 10? Spiderman? Batman? Gundam? dan berbagai film superhero populer lainnya saat itu? Apakah pembicaraan ini akan saya temui jika dulu kami lebih banyak membiarkan pengasuhan anak di depan video games? Games online? Atau membiarkannya bermain di warnet bersama teman-teman yang sangat rentan terhadap pornografi dan kekerasan?

Fitrah anak memang terlahir suci, namun tugas kita sebagai orang tua untuk menjaga kesucian fitrah seorang anak. Kita memiliki amanah dalam menjaga apa yang dilihat dan didengar oleh anak-anak, karena dari sanalah berawalnya pola pikir mereka. Pola pikir yang akan menuntun mereka dalam bertindak, yang kelak membentuk kebiasaan. Lalu kebiasaan yang kelak akan membentuk karakter. Lalu karakter yang kelak membentuk kepribadian mereka. Begitu banyak hal yang ada dalam diri kita saat ini adalah cerminan masa lalu kita dan masa kecil kita. Meski selalu ada peluang bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Insya Allah.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berjuang menjaga fitrah anak-anaknya
Kiki Barkiah