Mempersiapkan Masa Akil Baligh Pemuda

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa : 9).

Ayat ini menunjukkan bahwa kita dilarang meninggalkan generasi lemah!!

Islam menaruh perhatian besar tentang mempersiapkan pemuda

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh.” (HR Abu Dawud).

Kapan kita mulai mendidik pemuda?

Sebagian orang tua memulainya saat:
  • Anak-anak menjelang akan baligh
  • Anak-anak sudah masuk usia baligh
  • Sudah muncul permasalahan yang khas seputar pemuda usia baligh
  • Bahkan ketika mulai menyesali hasil pendidikan setelah anak-anak berusia dewasa
Mempersiapkan pemuda yang mencapai akil di saat ia mencapai baligh itu membutuhkan proses. Bahkan proses seharusnya dimulai ketika mereka terlahir ke dunia.
Mari bergerak dari titik akhir
Apa yang perlu dicapai saat anak-anak sudah baligh?
Saat anak mencapai baligh anak diharapkan mencapai akil yaitu dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, memahami apa yang dibolehkan dan yang dilarang, serta mampu membedakan hal yang bermanfaat dengan hal yang tidak bermanfaat apalagi yang merusak. Tidak semua anak baligh saat ini mencapai akil.
Harapan kita ketika anak akil baligh, anak telah:
  1. Mengetahui tujuan hidupnya
  2. Rampung mengetahui garis besar hukum-hukum Allah
  3. Siap melaksanakan perintah dan larangan Allah
Tidak ada istilah remaja dalam pendidikan Islam. Mari kita pangkas fasa remaja anak!! fasa yang memberi ruang untuk labil dan melakukan kesalahan. Mari kita didik anak menjadi syabab/pemuda!!! dan memperlakukan mereka sebagai pemuda ketika masa baligh telah tiba.
Proyek besar ini kita mulai dari rumah. Menanam benih unggul di lahan yang unggul kemudian secara istiqomah menyiram tanaman keimanan, agar tumbuh kokoh dan menjulang tinggi dan pada akhirnya akan berbuah kemanfaatan.
Beberapa upaya yang dapat kita lakukan agar anak-anak siap memikul beban taklif saat ia baligh kelak, diantaranya:
  1. Tanamkan fondasi keimanan dan ketakwaan sejak dini sehingga di usia baligh mereka telah siap melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah
  2. Hidupkan keteladan Rasulullah SAW, para nabi, sahabat dan biografi orang-orang shalih dalam keseharian mereka sehingga membantu mematangkan proses berfikir agar saat baligh ia juga mencapai akil serts memiliki konsep diri yanh baik sebagai seoranv Muslim.
  3. Berusaha menjaga pandangan dan pendengaran mereka dari sesuatu yang merusak fikroh mereka termasuk hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat mereka.
  4. Mendukung program pendidikan anak yang mengantarkan mereka memahami agama dan siap menjalankan hukum Allah di usia baligh termasuk fiqh yang berkaitan dengan munculnya tanda baligh.
  5. Berusaha untuk menjaga mereka dari segala sesuatu yang merusak fitrah jiwa agar anak memiliki konsep diri seorang muslim yang kuat
  6. Menghembuskan berbagai visi, misi dan mimpi dengan memperlihatkan kondisi ummat ini, agar ia memiliki cita-cita besar dalam hidup sehingga selalu menyibukkan diri dalam hal positif
  7. Menjadi tempat yang nyaman bagi ananda untuk bercerita dan berbagi rasa agar kita terus dapat membantu mereka menyaring mana yang baik dan mana yang buruk
  8. Memperkaya pengalaman masa kecil mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, serta minimalisir kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat agar mereka menemukan kesibukan diri yang produktif sehingga tidak lagi memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi bermaksiat kepada Allah.
  9. Berusaha membantu mereka untuk mengenali potensi mereka,dan memberi kesempatan untuk mengembangkannya agar mereka bersemangat mempersiapkan masa depan mereka lebih awal.
  10. Mendukung dan memfasilitasi agar anak dapat menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan produktif agar energi mereka senantiasa terkuras pada hal-hal besar yang mereka siapkan untuk mengabdi pada ummat ini.
  11. Mendukung program pendidikan yang mempersiapkan mereka menjadi istri/suami dan orang tua
  12. Mendukung dan mengarahkan agar mereka memiliki kemandirian finansial sejak muda sehingga saat syahwat bergejolak dan tak mampu tertahan lagi dengan memperbanyak shaum, maka mereka telah siap mengucap ijab qabul dan membangun rumah tangga.

Oleh Kiki Barkiah

Advertisements

Mengasuh anak berkemauan kuat

Apakah anda memiliki anak berkemauan kuat? Anda sungguh beruntung! Anak berkemauan kuat akan sangat menantang saat mereka masih kecil, akan tetapi akan menjadi pemudi/pemuda yang hebat bila diasuh dengan baik. Memiliki motivasi yang kuat dan berpendirian teguh, mereka akan berusaha mengejar keinginan mereka dan hampir tak terpengaruh oleh tekanan lingkungannya. Sepanjang orang tua mereka tidak berusaha untuk “mematahkan kemauan mereka”, anak berkemauan keras adalah calon pemimpin masa depan.

Apakah anak berkemauan kuat itu? Sebagian orang tua menyebut mereka “sulit” atau “keras kepala”, tetapi kita juga bisa melihat mereka sebagai orang dengan integritas tinggi yang pandangannya tidak mudah digoyahkan. Mereka bersemangat dan pemberani. Mereka ingin mempelajari sesuatu sendiri daripada menerima perkataan orang lain, sehingga mereka akan menguji batas berulang kali. Mereka sangat ingin bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, sehingga terkadang menempatkan keinginan untuk menjadi benar diatas segalanya. Saat hati mereka terkunci pada sesuatu, otak mereka akan sulit untuk berpindah ke tempat lain. Anak berkemauan kuat penuh gairah dan menjalani hidup dengan kecepatan penuh.

Seringkali anak berkemauan kuat rentan terhadap perebutan kekuasaan dengan orang tua mereka. Akan tetapi, perebutan kekuasaan memerlukan adanya dua pihak. Anda tidak perlu melayani semua undangan untuk berdebat! Bila anda dapat menarik napas setiap kali emosi anda terpicu dan mengingatkan diri anda sendiri bahwa anda dapat menjaga harga diri anak anda dengan tetap mencapai apa yang anda inginkan, anda akan belajar cara untuk menghindari perebutan kekuasaan tersebut. (Jangan biarkan balita anda membuat anda bertingkah seperti balita juga!)

Tidak ada seorangpun yang suka didikte, akan tetapi anak berkemauan kuat sangat membencinya. Orang tua dapat menghindari perebutan kekuasaan dengan membantu anak merasa dimengerti meskipun anda memberikan batasan kepada mereka. Cobalah untuk berempati, berikan pilihan, dan mengertilah bahwa rasa hormat berlaku dua arah. Mencari solusi yang saling menguntungkan daripada sekedar menegakkan peraturan akan mencegah emosi anak berkemauan kuat meledak dan mengajari mereka keahlian bernegosiasi dan berkompromi.

Anak berkemauan kuat tidak sekadar ingin mempersulit. Mereka merasa integritas diri mereka ternoda bila mereka harus menyerah pada kemauan orang lain. Bila mereka diberi pilihan, mereka akan bekerjasama dengan senang hati. Bila anda merasa terganggu dengan ini karena berpikir kepatuhan adalah sesuatu yang penting, cobalah pertimbangkan kembali. Tentu saja anda ingin membesarkan seorang anak yang bertanggungjawab, penuh perhatian, mudah bekerja sama yang akan melakukan hal yang benar walaupun hal tersebut sulit. Tapi hal tersebut bukan berarti kepatuhan. Hal tersebut berarti melakukan hal yang anda inginkan.

Moralitas adalah melakukan hal yang benar, tanpa peduli apa yang dikatakan pada anda. Kepatuhan adalah melakukan apa yang dikatakan pada anda, tak peduli benar atau salah.
– H.L. Mencken

Jadi tentu saja anda ingin anak anda melakukan apa yang anda minta. Tapi itu bukan karena ia patuh, dalam artian ia akan selalu melakukan semua yang dikatakan oleh orang yang lebih besar darinya. Yang anda inginkan adalah ia melakukan permintaan anda karena ia mempercayai anda, karena ia mengerti bahwa walaupun anda tidak selalu menuruti semua keinginannya, tetapi anda peduli padanya. Anda ingin membesarkan seorang anak yang memiliki disiplin diri, berani bertanggung jawab, dan penuh perhatian — dan yang paling penting, memilki kemampuan untuk memutuskan siapa yang dapat ia percaya dan kapan ia dapat membiarkan dirinya dipengaruhi oleh orang lain.

Mematahkan kemauan seorang anak akan membuatnya terbuka pada pengaruh orang lain yang sering kali tidak memiliki tujuan yang sama dengannya. Dan lagi, hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan pada tugas kita sebagai orang tua.

Walaupun begitu, anak dengan kemauan kuat dapat menjadi sesuatu yang sulit untuk diasuh — berenergi tinggi, menantang, gigih. Bagaimana kita dapat melindungi hal-hal tersebut dan mendorong mereka untuk bekerjasama?

11 tips untuk pengasuhan anak berkemauan kuat dan penuh semangat

1. Ingatlah bahwa anak berkemauan kuat belajar dari pengalaman mereka

Hal tersebut berarti mereka harus melihat sendiri bahwa kompor itu panas. Sehingga bila anda tidak khawatir mengenai cedera serius, lebih efektif untuk mengajari mereka melalui pengalaman dibanding mencoba untuk mengendalikan mereka. Dan dapat diduga kalau anak berkemauan kuat anda akan menguji limit anda berkali-kali — begitulah cara mereka belajar. Bila anda mengetahui hal itu, akan lebih mudah untuk bersikap tenang, yang akan mencegah memburuknya hubungan anda–dan juga kesabaran anda.

2. Anak berkemauan kuat sangat ingin penguasaan, terutama atas diri mereka sendiri.

Biarkan mereka bertanggung jawab atas aktifitas mereka sendir, sebanyak mungkin. Jangan mengomeli mereka untuk menggosok gigi; akan tetapi bertanyalah:

“Apa lagi yang perlu dilakukan sebelum kita pergi?” Bila ia terlihat bingung, ingatkan kembali pada daftar aktifitas: “Setiap pagi kita sarapan, menggosok gigi, buang air, dan menyiapkan tas. Bunda lihat kamu sudah menyiapkan tasmu, hebat! Sekarang apalagi yang masih perlu dilakukan?”

Anak yang lebih merasa mandiri dan memimpin dirinya sendiri akan berkurang keinginan untuk melawannya. Belum lagi, mereka belajar bertanggung sejak dini.

3. Beri anak anda pilihan

Bila anda memberi perintah, hampir pasti ia akan siap melawan. Bila anda menawarkan pilihan, ia akan merasa menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Tentu saja, hanya berikan pilihan yang dapat anda sanggupi dan jangan merasa sakit hati karena telah menyerahkan kekuasaan padanya.

4. Berikan ia otoritas atas tubuhnya sendiri

Biarkanlah anak anda merasa dirinya berkuasa atas tubuhnya sendiri. Bila anda merasa udara diluar sedang dingin dan anda memintanya untuk mengenakan baju hangat, jangan kaget bila ia akan menolak. Sangat sulit baginya untuk membayangkan dirinya akan merasa kedinginan padahal saat ini ia sedang merasakan kehangatan di dalam rumah, dan mengenakan baju hangat hanya akan merepotkan. Dia yakin dirinya benar — tubuhnya mengatakan hal itu padanya — jadi secara alamiah ia akan menolak anda. Anda tidak ingin merendahkan percaya dirinya, tapi ajarkanlah bahwa merubah keputusan berdasarkan informasi baru tidak semestinya membuatmu malu.

5. Hindari perebutan kekuasaan dengan menggunakan peraturan dan rutinitas

Dengan begitu, anda bukanlah orang jahat yang menyuruh-nyuruh mereka, hanya saja

“Jam 8 malam adalah jadwal kita memadamkan lampu. Bila kamu bersegera, kita masih punya waktu untuk membaca dua buku” atau “Dalam rumah kita, kita harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menonton.”

6. Jangan desak ia untuk melawan anda

Paksaan selalu menghasilkan “perlawanan” — pada manusia di segala umur. Bila anda mengambil posisi yang tidak dapat ditawar lagi, anda akan dengan mudah mendesak ia untuk menentang anda, hanya untuk membuktikan kalau ia bisa. Anda akan tahu bila hal tersebut adalah awal mula perebutan kekuasaan dan anda akan melakukan apa saja untuk menang. Berhentilah, tarik napas, dan ingatkan diri anda bahwa memenangi pertempuran dengan anak anda akan selalu membuat anda kehilangan sesuatu yang paling penting: hubungan baik. Bila ragu, katakanlah:

“Baik, kamu bisa memutuskan ini sendiri.”

Bila ia tidak bisa, sebutkanlah bagian apa yang bisa ia putuskan, atau carilah cara lain untuknya agar ia bisa memenuhi kebutuhan otonominya tanpa membahayakan kesehatan atau keselamatannya.

7. Hindari perebutan kekuasaan dengan membiarkan anak anda menjaga harga dirinya

Anda tidak perlu membuktikan kalau anda benar. Anda bisa, dan harus, menetapkan harapan yang wajar dan melaksanakannya. akan tetapi janganlah pernah mematahkan kemauan anak anda atau memaksanya untuk menyetujui pandangan anda. Ia harus melakukan apa yang anda inginkan, tetapi biarkan ia memiliki pendapatnya sendiri dan perasaan tentang hal itu.

8. Dengarkan ia

Anda sebagai orang dewasa mungkin layak untuk menganggap diri anda mengetahui yang terbaik. Akan tetapi anak berkemauan kuat memiliki pendirian yang teguh karena integritasnya. Ia memiliki sudut pandang yang membuatnya berpegang teguh pada pendiriannya dan ia akan berusaha melindungi apa yang ia rasa penting. Bila anda bisa mendengarkan dengan tenang dan mempertimbangkan kata-katanya, anda akan mengerti apa yang membuatnya menentang anda. Anda tidak akan mengetahui hal tersebut bila anda berselisih dan memaksanya.

9. Lihatlah dari sudut pandangnya

Misalnya ia marah karena anda berjanji untuk mencuci pakaian kesukaannya dan kemudian lupa. Bagi anda, ia keras kepala. Baginya, wajar bila ia merasa kecewa, dan anda terasa bersifat munafik, karena ia tidak diperbolehkan untuk melanggar janjinya pada anda, tetapi anda melanggar janji anda padanya. Bagaimana anda dapat menyelesaikan masalah ini? Mintalah maaf padanya dengan bersungguh-sungguh, yakinkan ia bahwa anda berusaha keras untuk memenuhi janji-janji anda, dan cucilah pakaian itu berdua. Anda bahkan dapat mengajarinya mencuci pakaiannya sendiri sehingga anda tidak perlu berada dalam posisi ini di kemudian hari dan ia akan merasa diberi wewenang. Bayangkanlah bagaimana anda ingin diperlakukan, dan perlakukanlah ia sesuai dengan itu.

10. Disiplin melalui hubungan baik, bukan hukuman

Anak-anak tidak mempelajari apapun saat mereka di tengah pertengkaran. Seperti juga kita, pada saat itulah adrenalin bekerja dan pembelajaran terhenti. Jadi tidak perlu dipaksakan untuk memberikan pelajaran pada saat tersebut, tarik napaslah dan cobalah untuk mengerti. Anak-anak akan bekerjasama karena ada sesuatu yang lebih mereka inginkan daripada berbuat sesuka hati mereka — mereka menginginkan hubungan yang hangat dengan kita. Semakin sering anda bertengkar dan menghukum mereka, semakin kecil keinginan mereka untuk melindungi hubungan baik tersebut. Bila sesuatu mengganggu perasaan mereka, bantulah ia untuk mengekspresikan perasaan sakit, takut, atau kecewa tersebut, agar perasaan tersebut hilang. Setelah itu ia akan siap untuk mendengarkan anda saat anda mengingatkannya bahwa di dalam rumah anda, semua orang berbicara dengan cara yang baik. (Tentu saja anda harus mencontohkan hal tersebut. Anak anda tidak selalu mengerjakan apa yang anda minta, tetapi mereka akan selalu, pada akhirnya, melakukan apa yang anda lakukan.)

11. Berikan ia penghargaan dan empati

Kebanyakan anak berkemauan kuat berjuang demi mendapatkan penghargaan. Bila anda memberikan hal tersebut pada mereka, mereka tidak akan perlu berjuang untuk melindungi posisi mereka. Dan, seperti juga pada kita semua, akan sangat membantu bila mereka merasa dimengerti. Bila anda mengerti sudut pandang mereka dan merasa ia salah — misalnya, ia ingin menggunakan pakaian yang kurang pantas ke acara pernikahan — anda masih bisa berempati pada perasaannya dan berkompromi dengannya dalam batasan yang anda tentukan.

“Kamu sangat suka baju ini dan sangat ingin menggunakannya bukan? Akan tetapi dalam acara pernikahan, kita berpakaian dengan rapi untuk menghargai yang mengundang dan tamu lainnya. Bunda tahu kamu sangat kehilangan bila tidak mengenakan baju ini. Bagaimana kalau kita bawa baju ini agar kamu bisa mengenakannya di perjalanan pulang.

Apakah hal-hal diatas terkesan memanjakan? Tidak. Anda menetapkan batasan-batasannya. Tetapi anda menetapkannya dengan mempertimbangkan sudut pandang anak anda, yang akan membuatnya lebih mudah untuk bekerjasama. Tidak ada alasan untuk melakukannya dengan kasar!

Hal ini juga buka cara pengasuhan dengan otoriter, karena hal tersebut hanya akan menjadikan mereka memberontak.

Sumber: http://www.ahaparenting.com/parenting-tools/positive-discipline/Parenting-Strong-Willed-Child
Terjemahan dan adaptasi oleh: Aditya Irawan

Dari pintu yang mana kami layak memasuki jannah-Nya?

[dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Entah apa yang saat itu sedang dipermasalahkan Ali dan ayahnya di dalam kamar, tiba-tiba saya melihat Ali yang saat itu berusia 10 tahun keluar berlinang air mata. Segera saya menghampiri sang ayah untuk bertanya apa masalahnya. Dengan wajah yang sangat kecewa ia meminta saya bertanya langsung pada anak kami. Saya hampiri Ali di kamarnya, yang ternyata sedang menangis terisak-isak tak seperti biasanya. Ia pun mengambil foto almarhum ibunya lalu memeluknya bersama lelehan air matanya. Saya yang saat itu kebingungan dan salah tingkah, hanya dapat menarik nafas sejenak dan berkata “ada apa nak?” Namun ia tak beranjak dari tangisnya. “Ya sudah kalo mau menangis dulu silahkan, nanti kalo sudah tenang kita bicara” Saya pikir pasti ada masalah serius, ini kali pertamanya Ali menangis sampai seolah mengadu pada ibunya. Saya pun kembali bertanya, lalu sang ayah menjelaskan duduk perkara kekesalannya dalam versi pandangannya.

Saya coba menarik nafas dan menghampiri Ali untuk mengklarifikasi kebenarannya. Namun ternyata saya mengerti bahwa kenyataannya itu hanya salah paham saja. Saya pun menyimpulkan bahwa sang ayah terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa mau mendengar penjelasan anaknya. Terkadang inilah posisi yang cukup sulit bagi saya, antara menghargai hak anak dan menjaga kehormatan suami dihadapan mereka. Tapi bagaimanapun di dalam rumah kami keadilan harus ditegakkan, yang salah tetaplah salah. Ia berkewajiban meminta maaf untuk terlebih dahulu. hanya saja kami memang berkomitmen, jika ada diantara kami yang sedang salah bersikap dalam menghadapi anak-anak, maka tidak pantas bagi kami menyanggah sikap pasangan kami secara langsung dihadapan anak-anak. Jujur saat menulis ini saya lupa seperti apa percisnya permasalahannya. Tapi kejadian ini sulit sekali terhapus dalam memory saya. Sebuah kejadian yang memberi pelajaran berharga untuk menundukan ego sebagai orang tua ketika keadilan harus berbicara.

Saya tenangkan Ali dengan memaklumi perasaannya, saya berikan ia kesempatan jikalau ingin memperpanjang tangisannya. Namun saya sampaikan pula kemungkinan alasan di balik kemarahan ayahnya. Saya katakan mungkin sang ayah terlalu lelah dengan beban pekerjaannya sehingga berkurang kesabaran untuk mau mendengar alasan yang utama.

Saya hampiri sang ayah untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Lalu saya minta ia untuk meminta maaf pada anaknya dan segera menyelesaikan masalah ini sebelum waktu tidur tiba. Saya tahu terkadang meminta maaf bukanlah perkara yang sederhana. Namun saya ingatkan bahwa didalam keluarga kami, kami berkomitmen unuk tidak mengakhiri suatu hari dengan pertengkaran dan tidak tidur dengan membawa kemarahan.

Saya begitu menyadari bahwa keluarga kami bukanlah keluarga yang melaksanakan ibadah dengan istimewa. Seandainya jalan pintas masuk surga terbuka lewat pintu shalat, kami merasa saat ini belum memiliki tiket istimewa untuk masuk melaluinya. Seandainya surga terbuka dari pintu puasa, kami pun merasa belum mampu untuk membeli tiket vip yang mengijinkan kami masuk melaluinya. Seandainya surga memanggil dari pintu sedekah, rasanya masih jauh bagi kami untuk ikut dalam rombongan yang menghampirinya. Dan saat ini pun kami belum mendapat giliran rezeki berangkat ke tanah suci, sebagai peluang memasuki surga melalui pahala haji mabrur. Maka teringat pesan nabi yang mengkisahkan sahabat yang menjadi ahli surga bukan karena amalannya yang istimewa namun karena kebiasaanya untuk mengikhlaskan kesalahan orang lain sebelum menutup hari diatas pembaringannya.

Atas dasar itulah, saya meminta mereka menyelesaiakan kesalahpahaman ini sebelum memejamkan mata. Agar kita dapat menutup hari dengan hati yang bersih tanpa kekesalan dan prasangka. Begitu juga hal ini kami terapkan dalam hubungan suami istri di dalam rumah tangga kami. Saya tidak sanggup membawa kemarahan suami dalam istirahat malam saya, karena saya tidak yakin apakah Allah masih memberi kesempatan bagi saya untuk kembali mendapat keridhoan darinya. saya begitu khawatir akan akan menjadi istri yang paling merugi di dunia, jika telah bersusah payah berjuang dan berusaha namun harus mengakhiri usia diatas kemarahan suami tercinta.

Alhamdulillah atas ijin Allah, hati sang ayah luluh untuk meminta maaf kepada anaknya. Mereka berdua saling mengulurkan tangan dan berpelukan. Saya pun tak kuasa menahan air mata. ya begitulah….. orang tua pun manusia dan manusialah tempatnya khilaf dan salah. Tak sedikit kesalahan kami lakukan kepada anak-anak kami. Namun adalah suatu kedamaian ketika kita dapat memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan orang lain sebagaimana kitapun berharap orang lain memaafkan kesalahan kita. Semoga dengannya minimal ada sebuah celah pintu surga yang selalu terbuka bagi kita.

San Jose California
dari seorang ibu yang begitu banyak kelemahan dan kekurangan
Kiki Barkiah

Menyemai Benih Keimanan dari Dalam Rumah 

Lampiran: (Kurikulum Pendidikan Iman dan Tahapan Menanam Benih Keimanan di 7 Tahun pertama)

Oleh Kiki Barkiah

Menjadi orang tua akan memaksa kita untuk selalu lebih baik menjalani kehidupan sesuai syariat islam. Tanpa kita perlu banyak membaca teori parenting khususnya dari buku-buku psikologi dunia barat, sebenernya banyak permasalahan pengasuhan anak yang akan terselesaikan ketika kita menanam benih-benih keimanan dalam hati anak-anak. Setiap hari menyirami pohon keimanan itu dengan nasihat dan keteladanan sampai iman merasuk dalam hati mereka dan membuat mereka bersedia untuk menerima hukum-hukum Allah dengan kelapangan hati dan bersedia untuk hidup di atas syariatNya. Tidak akan kita menemukan anak-anak yang melawan dan bersikap kasar terhadap rang tua mereka karena islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua. Tidak akan kita menemukan anak-anak yang bersikap melampaui batas dalam hal pergaulan karena islam telah mengatur itu semua. 

Lihatlah fenomena generasi muda masa kini.

• 4 dari 100 pelajar dan mahasiswa Indonesia mengkonsumsi narkoba
• 95 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 SD telah mengakses pornografi
• 93 dari 100 remaja pernah berciuman bibir
• 600.000 kasus anak-anak Indonesia hamil diluar nikah usia 10 – 11 tahun
• 2,2 juta kasus remaja Indonesia usia 15 – 19 tahun yang hamil di luar nikah
• 5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual
• 3061 remaja terinfeksi HIV setiap 3 bulan
• Kasus incest terjadi di 25 Propinsi pada 2014

[Rangkuman data dari BNN dan Puslitkes UI (2011), KPAI (Oktober 2013), Kemenkes (Oktober 2013), Divisi Anak dan Remaja YKBH (2014), Content Analysis berita online YKBH, (2014)]
Sumber: web yayasan kita dan buah hati.

Kira-kira apa agama pelaku data tersebut? Jika persentase muslim Indonesia mencapai hingga 12,7 persen dari populasi dunia. Dari 205 juta penduduk Indonesia, dilaporkan sedikitnya 88,1 persen beragama Islam (republika), maka dapat kita simpulkan bahwa mayoritas pelaku adalah muslim. Mereka belajar islam, belajar mengaji, belajar Al-quran. Bahkan diantara mereka insya Allah bisa membaca Al-quran bahkan menghafalnya.

Namun apakah anak-anak dalam data tersebut hatinya bersedia tunduk terhadap hukum Allah? Jika mereka bersedia untuk tunduk kepada hukum Allah, kita tidak akan melihat data yang begitu mengerikan seperti ini. 

Lalu bukankah anak-anak juga belajar islam? Bahkan diantara mereka sekolah di sekolah islam. Diantara mereka bahkan tinggal dalam suasana pesantren. Keadaan ini adalah keadaan yang disampaikan Rasulullah SAW, dimana jumlah ummat muslim begitu banyak namun bagai buih di lautan.

Iman sebelum Al-quran VS Al-quran sebelum iman

Salah seorang sahabat nabi yang merupakan salah satu murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jundub ibn ‘Abdillah mengatakan, “kami bersama nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam, saat kami pemuda, kami belajar iman sebelum al-Qur’an. Lalu kami belajar al-Qur’an, sehingga iman kami bertambah. (Sunan Ibnu Majah, 1/74, no.64, dan Imam Tarikh al-Kabir, 2/221, Sunanul Kubro , 2/49, no. 5498, Mu’jam al-Kabir, 2/225 no. 1656, dan dishahihkan oleh Syekh al-Bani dalam Shahih Sunan Ibn Majah, 1/16, no.52

Abdullah ibn ‘Umar ibn Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami telah mengalami masa yang panjang dalam perjuangan Islam, dan seorang dari kami telah ditanamkan keimanannya sebelum diajarkan Al-Qur’an, sehingga tatkala satu surah turun kepada Nabi Muhammad Saw maka ia langsung mempelajari dan mengamalkan halal-haram, perintah-larangan dan apa saja batasan agama yang harus dijaga. Lalu aku melihat banyak orang saat ini yang diajarkan Al-Qur’an sebelum ditanamkan keimanan dalam dirinya, sehingga ia mampu membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir dan tak mengerti apa-apa soal perintah dan larangan dan batasan apa saja yang mesti dipelihara.” [Kitab Al-Mustadrak ‘Alash-Shahiihain, Jilid I hlm, 35]

Hasan Al-Bashri berkata: ““Sungguh, Al-Qur’an ini telah dibaca oleh budak-budak sahaya dan anak kecil yang tak mengerti apapun penafsirannya. Ketahuilah bahwa mentadabburi ayatnya tak lain adalah dengan mengikuti segala petunjuknya, tadabbur tak hanya sekedar menghafal huruf-hurufnya atau memelihara dari tindakan menyia-nyiakan batasannya. Sehingga ada seorang berkata sungguh aku telah membaca seluruh Qur’an dan tak ada satu huruf pun yang luput, sungguh demi Allah orang itu telah menggugurkan seluruh Qur’an karena Qur’an tak berbekas dan tak terlihat pengaruhnya pada akhlak dan amalnya!” [kitab Az-Zuhd, hlm 276]

Inilah salah satu permasalahan ummat sepeninggal Rasulullah, bahkan permasalahan ini telah muncul saat para sahabat masih hidup. Maka sangat wajar bila dari masa ke masa permasalahan ini semakin memuncak dan pada akhirnya menimbulkan persoalan pelik ummat ini. Inilah hasilnya ketika ilmu agama menjadi ilmu kognitif yang sejajar dengan mata pelajaran lainnya. Ah….. begitu banyak hal yang harus kita kejar sementara kita pun korban dari pelumpuhan nilai-nilai agama yang disempitkan dalam kurikulum pendidikan agama di dalam sekolah.

Tentu hasilnya berbeda antara:

  • Belajar Tentang Iman VS Belajar Menjadi orang yang beriman
  • Belajar arti iman VS belajar menjalani hidup diatas keimanan
  • Belajar macam-macam iman vs belajar meraih ketinggian iman
  • Belajar untuk menjawab soal ujian bab keimanan VS belajar agar keimanan berbuah surga

Kurikulum Ilmu Keimanan

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).

Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.

Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :

  1. Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
  2. Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
  3. Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.

Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :

  1. Niat, aqidah, dan amalan hati;
  2. Lidah; dan
  3. Seluruh anggota tubuh.
[Penjabaran 77 cabang iman terlampir, penulis copas dari artikel https://muslimah.or.id/6020-cabang-cabang-iman.html]

Maka apa yang kita pelajari di sekolah tentang iman memanglah tidak salah, tetapi kita hanya mempelajari highlight ilu keimanan. Ilmu itu dipangkas habis menjadi literatur pelajaran yang bersifat hafalan agar anak-anak mampu menjawab soal tentang bab keimanan dalam ujian. Jika saja cabang keimanan menjadi bab yang dirinci dengan serius dalam pendidikan anak-anak kita, insya Allah beih-benih keimanan akan memenuhi jiwa anak-anak sehingga mereka memiliki ketundukkan kepada Allah untuk siap melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. 

Belajar iman sebelum Al-Quran bukan berarti melarang belajar quran sebelum rampung belajar tentang keimanan. Belajar iman sebelum Al quran artinya menyiram dan memupuk benih keimanan sehingga anak-anak dapat:

  • Menundukkan hati kita untuk mengagungkan Allah
  • Menundukkan hati kita untuk mengagungkan perintah dan larangan Allah

Sehingga ketika iman telah merasuk jiwa maka hati siap untuk menerima dan melaksanakan Al-quran.

Inilah proyek besar dalam rumah tangga kita, proyek menanam benih keimanan dalam hati anak-anak dengan cara:

  1. Mengajarkan Ilmu yang menumbuhkan, mengokohkan dan menyuburkan keimanan (secara khusus melluangkan waktu mengajarkan iai quran dan hadist)
  2. Memberikan teladan dalam amal sebagai buah dari keimanan
  3. Menjaga dari segala sesuatu yang akan merusak keimanan
  4. Menggali hikmah kejadian sehari-hari agar semakin menyuburkan keimanan

Sebuah proyek besar dengan target:

  • Saat anak 7 tahun, ia mencapai tamyiz (mampu membedakan mana hal yang bermanfaat baginya dan mana hal yang membahanyakan dirinya)
  • Saat anak 7 tahun, ia bersedia mendapat beban untuk belajar melaksanakan ibadah mahdoh tanpa banyak penolakan
  • Saat anak 10 tahun telah berkomitmen melaksanakan shalat dan ibadah wajib lainnya sebagai buah keimanan
  • Saat anak telah baligh mereka telah siap melaksanakan seluruh hukum Allah (mencapai mukallaf)
  • Saat anak mencapai baligh anak juga mencapai akil (dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, dibolehkan dan yang dilarang, serta yang bermanfaat dan yang merusak) Tidak semua anak baligh saat ini mencapai akil
  • Saat anak mencapai akil baligh tak lama kemudian ia meraih usia Ar Rusyd (saat mereka telah mampu membelanjakan, menyimpan dan mengembangkan uang)

Artinya ketika anak akil baligh, anak telah:

  1. Mengetahui tujuan hidupnya
  2. Rampung mengetahui garis besar hukum-hukum Allah
  3. Siap melaksanakan perintah dan larangan Allah

Mari kita pangkas fasa remaja anak!! fasa yang memberi ruang untuk labil dan melakukan kesalahan. Mari kita didik anak menjadi syabab/pemuda!!! dan memperlakukan mereka sebagai pemuda ketika masa baligh telah tiba. 

Proyek besar ini kita mulai dari rumah. Menanam benih unggul di lahan yang unggul kemudian secara istiqomah menyiram tanaman keimanan ini agar tumbuh kokoh dan menjulang tinggi dan pada akhirnya akan berbuah kemanfaatan. 

Berikut salah satu upaya yang dapat kita lakukan dalam menyemai benih keimanan di tahapan usia sebelum tamyiz

Basuta

Pengenalan suasana kehidupan beragama dengan:

  • Memperdengarkan lantunan ayat suci Al-quran, doa, dan asma Allah
  • Memperlihatkan dan memperdengarkan berbagai ciptaan Allah
  • Memperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang
  • Memperlihatkan suasana kegiatan beribadah 

1-2 tahun

Pada usia ini biasnya anak mulai lebih tertarik pada kegiatan beragama dengan menirukannya. Anak juga suka meniru perilaku orang tua dan saudaranya. 

Materi:

  • Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
  • Memberikan keteladanan dalam bersikap
  • Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
  • Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
  • Memperkenalkan kata-kata ajaib yaitu terimakasih, maaf, tolong, permisi
  • Memperkenalkan kalimat-kalimat singkat yang bekaitan dengan ibadah seperti basmallah, hamdallah, dan salam
  • Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat

2-3 tahun

Pada usia ini biasnya anak mulai lebih tertarik pada kegiatan beragama dengan menirukannya. Anak juga suka meniru perilaku orang tua dan saudaranya. 

Materi:

  • Memberikan keteladanan dalam bersikap
  • Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
  • Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
  • Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
  • Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat
  • Mempraktekan kata-kata ajaib yaitu terimakasih, maaf, tolong, permisi.
  • Mempraktekan kalimat-kalimat singkat yang bekaitan dengan ibadah seperti basmallah, hamdallah, dan salam
  • Mencontohkan potongan kata dari doa-doa singkat, biasanya anak akan mengikuti akhiran kemudian semakin lama semakin hafal
  • Mulai mengajarkan tauhid rububiyah (Allah sebagai pencipta) yaitu dengan sering menyebutkan asma Allah saat memperkenalkan ciptaan Allah
  • Membangun sikap bersedia berbagi, menunggu giliran, menolong orang lain dan bekerja sama

3-4 tahun

Pada usia ini anak mengetahui perilaku yang berlawanan seperti pemahaman perilaku baik-buruk, benar-salah, sopan-tidak sopan meskipun belum dapat konsisten melakukan kebaikan. Anak mengetahui arti kasih dan sayang kepada ciptaan Tuhan. Anak dapat meniru kegiatan beribadah dengan lebih baik lagi.

Materi:

  • Memberikan keteladanan dalam bersikap
  • Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
  • Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
  • Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
  • Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat
  • Mengajarkan tauhid rububiyah (Allah sebagai pencipta) yaitu dengan sering menyebutkan asma Allah saat memperkenalkan ciptaan Allah
  • Mencontohkan doa-doa singkat, biasanya anak akan mengikuti akhiran kemudian semakin lama semakin hafal
  • Memperdengarkan surat pendek secara berulang
  • Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
  • Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik melalui buku, permainan pura-pura atau cerita
  • Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut
  • Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan
  • Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)
  • Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
  • Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun
  • Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku

4-5 tahun

Memberikan pendidikan agama dan moral

Pada usia ini anak telah mengetahui agama yang dianutnya, anak dapat meniru gerakan beribadah dengan urutan yang benar, anak mulai dapat mengucapkan doa sebelum dan/atau sesudah melakukan sesuatu, anak dapat mengenal perilaku baik/sopan dan buruk 

Materi:

  • Memberikan keteladanan dalam bersikap
  • Membiasakan asdcnak berada dalam suasana kegiatan beribadah
  • Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
  • Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
  • Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)
  • Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
  • Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik melalui buku, permainan pura-pura atau cerita
  • Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut atau dengan menggunakan kisah dari buku
  • Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
  • Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun
  • Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
  • Memberikan konsep agama melalui buku dengan bahasa sederhana atau dengan menyederhanakan bacaan
  • Mengajak anak untuk melakukan ibadah shalat meski hanya sebatas gerakan dan belum memiliki kekonsistenan dalam melaksanakannya
  • Mendekatkan anak dengan mesjid dengan sering mengajaknya shalat berjamaah atau menghadiri kegiatan majelis dzikir
  • Mencontohkan doa-doa singkat dan meminta anak menghafal secara bertahap
  • Memperdengarkan surat pendek secara berulang dan meminta anak menghafalnya secara bertahap, tanpa paksaan
  • Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan

Adapun penekanan konsep agama yang disampaikan di usia ini baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat maupun kisah fiktif yang menceritakan pengalaman sehari-hari diharapkan dapat membangun pemahaman anak sbb:

  • Allah sebagai pencipta
  • Allah sebagai pemberi rezeki
  • Allah sebagai pemilik segala sesuatu di alam jagat raya
  • Allah sebagai pembuat hukum atau aturan
  • Allah sebagai pemerintah 
  • Allah sebagai satu-satunya zat yang di sembah

usia 5-7 tahun

  • Terus istiqomah dengan apa yang dilakukan di tahapan usia sebelumnya
  • Mulai memiliki jadwal khusus untuk halaqoh agama dalam keluarga dan meminta komitmen anak dalam berpartisipasi di dalamnya
  • Mulai mengabarkan bahwa di usia 7 tahun orang tua memiliki kewajiban untuk melakukan pendidikan shalat secara lebih konsisten
  • Memperkenalkan materi fiqh ibadah secara lebih detail dan terstruktur sejalan dengan kemampuan mereka memahami bahasa dan isi bacaan buku
  • Mendorong anak untuk secara rutin melakukan ibadah mahdoh meski belum membebani mereka untuk istiqomah menjalankannya
  • Mendorong anak belajar mengaplikasikan sunnah Rasulullah dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian
  • Memberikan motivasi bagi anak untuk menghafal Al-quran
  • Mulai secara rutin dan konsisten menghafal Al-quran
  • Meningkatkan penjagaan terhadap segala pengaruh yang dapat merusak fitrah anak-anak

Adapun penekanan konsep agama yang disampaikan di usia 5-7 baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat, serta menyampaikan materi islam secara lebih tersturktur diharapkan dapat membangun pemahaman anak sbb:

  1. Anak mengenal konsep “Islam The Way of Life”
  2. Anak mengenal kesempurnaan islam yang mengatur semua bidang kehidupan dari urusan kecil sampai urusan besar
  3. Anak Mengenal konsep hari akhir dan negeri akhirat
  4. Anak mengenal konsep pertanggungjawaban amal perbuatan
  5. Anak mengenal malaikat
  6. Anak mengenal konsep bahwa syaitan adalah musuh nyata baginya
  7. Anak mengenal konsep “Rasulullah sang Teladan”
  8. Anak mengenal konsep bahwa mengaplikasikan islam berarti meneladani/itiba Rasulullah

Lampiran:

Kurikulum Ilmu Keimanan

77 Cabang Iman:
Amal yang terkait dengan hati itu ada yang berupa keyakinan dan ada yang berupa niat. Ia terbagi dua puluh empat perkara, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah, termasuk di dalamnya beriman kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, tauhid-Nya, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, serta meyakini barunya segala sesuatu selain-Nya,
  2. Demikian pula beriman kepada malaikat-Nya,
  3. Beriman kepada kitab-kitab-Nya,
  4. Beriman kepada rasul-rasul-Nya,
  5. Beriman kepada qadar-Nya yang baik maupun yang buruk,
  6. Beriman kepada hari Akhir, termasuk di dalamnya beriman kepada pertanyaan di alam kubur, kebangkitan, penghidupan kembali, hisab, mizan, shirat, surga, dan neraka.
  7. Mencintai Allah,
  8. Cinta dan benci karena-Nya.
  9. Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meyakini kemuliaannya. Termasuk di dalamnya bershalawat kepadanya dan mengikuti sunnahnya.
  10. Berniat ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya’, dan kemunafikan.
  11. Bertobat.
  12. Khauf (rasa takut kepada Allah).
  13. Raja’ (berharap kepada Allah)
  14. Bersyukur
  15. Memenuhi janji
  16. Bersabar
  17. Ridha terhadap qadha’ Allah
  18. Bertawakkal (menyerahkan urusan kepada Allah)
  19. Bersikap rahmah (sayang)
  20. Bertawadhu’, termasuk di dalamnya menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
  21. Meninggalkan sombong dan ujub.
  22. Meninggalkan hasad.
  23. Meninggalkan dendam
  24. Meninggalkan marah.

Amal yang terkait dengan lisan itu ada tujuh perkara, yaitu:

  1. Melafazkan tauhid
  2. Membaca Al Qur’an
  3. Mempelajari ilmu
  4. Mengajarkannya
  5. Berdoa
  6. Berdzikr, termasuk di dalamnya beristighfar.
  7. Menjauhi perkataan sia-sia (laghwun).

Amal yang terkait dengan anggota badan itu ada tiga puluh delapan perkara, di antaranya ada yang terkait dengan orang-perorang, ia ada lima belas perkara, yaitu:

  1. Membersihkan, baik secara hissi (inderawi) maupun maknawi. Termasuk di dalamnya menjauhi najis.
  2. Menutup aurat.
  3. Melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunat.
  4. Zakat juga demikian.
  5. Memerdekakan budak.
  6. Bersikap dermawan. Termasuk di dalamnya memberikan makan dan memuliakan tamu.
  7. Berpuasa, yang wajib maupun yang sunat.
  8. Berhaji dan berumrah juga demikian.
  9. Berthawaf.
  10. Beri’tikaf.
  11. Mencari malam Lailatul qadr.
  12. Pergi membawa agama. Termasuk di dalamnya berhijrah dari negeri syirik.
  13. Memenuhi nadzar.
  14. Memeriksa keimanan.
  15. Membayar kaffarat.

Yang terkait dengan yang menjadi pengikut, ia ada enam perkara, yaitu:

  1. Menjaga diri dengan menikah.
  2. Mengurus hak-hak orang yang ditanggungnya.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, termasuk pula menjauhi sikap durhaka.
  4. Mendidik anak.
  5. Menyambung tali silaturrahim.
  6. Menaati para pemimpin atau bersikap lembut kepada budak.

Yang terkait dengan masyarakat umum, ia ada tujuh belas cabang, yaitu:

  1. Menegakkan pemerintahan dengan adil.
  2. Mengikuti jamaah.
  3. Menaati waliyyul amri (pemerintah).
  4. Mendamaikan manusia, termasuk di dalamnya memerangi khawarij dan para pemberontak.
  5. Tolong-menolong di atas kebaikan, termasuk di dalamnya beramr ma’ruf dan bernahi munkar.
  6. Menegakkan hudud.
  7. Berjihad, termasuk di dalamnya ribath (menjaga perbatasan).
  8. Menunaikan amanah.
  9. Menunaikan khumus (1/5 ghanimah).
  10. Memberikan pinjaman dan membayarnya, serta memuliakan tetangga.
  11. Bermu’amalah dengan baik.
  12. Mengumpulkan harta dari yang halal.
  13. Menginfakkan harta pada tempatnya, termasuk di dalamnya meninggalkan boros dan berlebihan.
  14. Menjawab salam.
  15. Mendoakan orang yang bersin.
  16. Menghindarkan bahaya atau sesuatu yang mengganggu dari manusia.
  17. Menjauhi perbuatan sia-sia dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.

Sehingga jumlahnya 69 perkara, dan bisa menjadi 79 jika sebagiannya tidak disatukan dengan yang lain, wallahu a’lam. (Lihat Fathul Bari juz 1 hal. 77)

Referensi

  1. Inspirasi dari Rumah Cahaya; Budi Azhari, Lc
  2. Al- Quran dan Hadist
  3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomer 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
  4. Slow and Steady Get Me Ready, June R Oberlander
  5. The Good Housekeeping Book of Child Care: Inicluding Parenting Advice, Health Care & Child Development for Newborns to Preteens; From the Editors of Good Housekeeping; Hearst Book, 2004
  6. https://muslimah.or.id/6020-cabang-cabang-iman.html

Bocah-bocah Akhir Jaman

[Dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Hati saya tersentak membaca curhatan seorang bunda via inbox yang tinggal di salah satu perkampungan Indonesia. Beliau mengabarkan tentang kondisi masyarakat di lingkungannya. Beliau bercerita tentang seorang bocah SD berumur 8.5 tahun di lingkungannya yang sering mengkonsumsi konten pornografi. Bocah tersebut sudah berada dalam tahapan kecanduan bahkan puncaknya ia nekad melakukan “acting out” terhadap balita berusia 3 tahun. Tersentak bukan karena mendengar kasus ini, karena kasus semacam ini memang semarak terjadi di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Saya begitu tersentak karena ketika ibu sang korban melaporkan kepada ibu sang pelaku, dengan mudahnya ia menjawab “ya sudah kalo gitu, gak usah main sama anak saya aja!” Lalu ia pergi menghentikan pembicaraan menuju rumahnya.

Astagfirullah….astagfirullah….astagfirullah, kini memang telah tiba akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Anak-anak kita adalah bocah-bocah akhir zaman karena dimasa inilah kita dan anak kita hidup. Dan dimasa inilah kita mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Dan ditengah lingkungan seperti inilah kita membentuk kepribadian anak-anak kita. Sebuah masa yang Rasulullah telah kabarkan bahwa perzinahan akan merajalela. Ketika dahulu hal ini dianggap aib yang luar biasa, namun kini hal ini dianggap hal yang biasa. Bahkan mungkin kelak menjadi biasa terjadi dikalangan bocah-bocah ingusan yang seharusnya masih suci dari dosa. Di akhir zaman ini, sebuah perzinahan yang terjadi beberapa menit saja, kini tidak lagi hanya menjadi dosa dua orang manusia. Namun, teknologi telah memudahkannya untuk menjadi sarana dosa beramai-ramai.

Saya jadi teringat pesan umar bin khatab kepada para orang tua, untuk mendidik anak-anak sesuai jamannya. Dan kini, jaman telah berubah, anak kita tidak lagi tumbuh dalam masa kecil seperti kita apalagi seperti orang tua kita. Dan kita tidak lagi dapat sepenuhnya meng “copy paste” bagaimana cara orang tua kita mendampingi tumbuh kembang kita.

Kejadian ini semakin menguatkan pilihan kami, dalam memahami apa sesungguhnya hakikat “bersosialisasi” bagi anak-anak kami di masa kini. Melihat kenyataan rusaknya pergaulan di usia remaja, baik di Indonesia apalagi di Amerika, maka kami memilih untuk memaknai “belajar bersosialisasi” tidaklah harus dengan cara menempatkan anak dalam sebuah lingkungan sosial yang bersifat masif sehingga ia memiliki kesempatan untuk banyak mengenal orang lain. Karena lingkungan yang bersifat masif sangat sulit berada dalam pemantauan kami sementara hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai kepribadian dan pola pikir yang bervariasi. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu pada fasa pembentukan jati diri mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang kami anut. Sampai kelak kemudian kami siap melepaskan mereka dengan kepribadian yang lebih kokoh dan siap memilah apa yang baik untuk diteladani serta apa yang buruk untuk ditinggalkan atau didakwahi. Maka kami memilih, bahwa yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah miniatur masyarakat dalam sebuah lingkup sosialisasi yang lebih kecil, yang terjaga dan terpantau,sekedar cukup untuk mengajarkan anak bagaimana adab bergaul dan bersikap terhadap orang lain.

Bagi kami, baik tidaknya seseorang dalam bersosialisasi tidak dilihat dari berapa banyak jumlah teman yang ia miliki, serta tidak dilihat dari seberapa cepat ia mampu beradaptasi dalam lingkungan baru. Namun dari seberapa banyak kebermanfaatan yang dapat ia berikan bagi lingkungannya serta seberapa besar perbaikan yang mampu ia lahirkan bagi lingkungannya. Terlebih hidup di era sosial media seperti saat ini, membangun hubungan pertemanan menjadi perkara yang jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dengan jenis kepribadian apapun. Yang menjadi tantangan utama bersosialisasi di akhir zaman seperti ini bukanlah bagaimana membangun hubungan pertemanan yang banyak, namun bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran ditengah zaman yang semakin “wong edan”

Karena kenyataan ini, maka kami memilih untuk menjalankan program homeschooling pada fasa 7 tahun kedua perkembangan mereka setelah sebelumnya mereka diberi kesempatan untuk sedikit merasakan warna-warni realita kehidupan dunia khususnya di Amerika. Kami memilih untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka pada masa-masa pencarian jati diri mereka. Pilihan ini kami ambil dengan segala konsekuensinya, demi menjaga, memilah, dan membatasi apa yang di dengar, dilihat, dan dialami oleh anak-anak kami pada masa-masa utama pendidikan dan pembentukan karakter mereka. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan kepada mereka sebelum kelak mereka bersinggungan dengan warna-warni nilai kehidupan yang dianut menusia . Bukanlah sebuah lingkungan steril yang ingin kami ciptakan dengan mempersempit wilayah sosial mereka, namun kami membutuhkan sedikit waktu untuk membangun imunitas dalam jiwa mereka. Imunitas itu dapat kami bangun dengan memperlihatkan realitas keburukan masyarakat di dunia hanya dari kaca mata luar tanpa harus terlalu banyak bersinggungan dengan subjek pelakunya. Karena yang kami butuhkan dari fakta keburukan itu, hanyalah untuk mengasah rasa kepekaan sosial mereka. Dan kami berharap, kebersamaan kami yang lebih lama memberi kesempatan bagi kami untuk merefleksi dan mengarahkan bagaimana yang seharusnya. Kami sadar, pilihan kami bukanlah pilihan sederhana. Bahkan mungkin banyak diantara kerabat dekat pun masih ada yang tidak menyetujuinya. Namun kami harus memilih, memilih apa yang saat ini paling mudah untuk mendekatkan kami kedalam surga. Agar kelak kami dapat mempetanggungjawabkan dihadapan sang Penguasa terhadap sebuah perintah di dalam Al-quran untuk memelihara diri dan keluarga dari panasnya api neraka.

Yaa! Kami harus memilih! Walau pilihan kami melawan kenyamanan. Karena anak-anak kami adalah bocah-bocah akhir zaman, yang memiliki pilihan diantara dua peran dalam kancah kehidupan akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Memilih menjadi manusia yang memiliki masa depan sebagai bagian dari kerusakan peradaban atau memilih menjadi manusia yang mengambil bagian dalam kemenangan islam.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berdoa untuk keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah

Kala Cemburu Melanda

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Di hari-hari pertama kelahiran bayi, memang tidak mudah bagi Faruq yang saat itu berusia 2.5 tahun untuk berkompromi dengan perubahan yang ada. Kehadiran anggota baru tentunya menyita perhatian kami, terlebih bagi kami yang hidup merantau tanpa sanak saudara. Kecemburuan adalah hal yang wajar muncul meski sejak jauh-jauh hari sebelum kelahiran bayi, kami mempersiapkan Faruq agar dapat menerima kondisi ini melalui berbagai buku yang bercerita tentang saat-saat pertama memiliki adik baru.

Dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis berbagai teknik yang kami coba terapkan dalam menghadapi kecemburuan Faruq yang terkadang sangat mengganggu dan membahayakan. Dari mulai memberi pengertian, membuat aturan dan batasan, sampai sesekali memisahkan bayi dari Faruq demi keselamatan.

Sampai suatu hari Allah memberi ilham saat saya akan meninggalkan bayi ke kamar mandi. Biasanya ketika sebuah pesan larangan untuk tidak mengganggu saya sampaikan, yang sering terjadi adalah munculnya tangisan bayi yang merasa terganggu oleh ulah jahil sang abang. Dan ketika keluar kamar mandi Faruq akan tertawa puas dan senang karena merasa menang.

Suatu hari sebuah pesan saya sampaikan bukan untuk Faruq tapi untuk sang bayi. “Fatih, ummi mau ke kamar mandi dulu ya, Fatih jangan sedih, Fatih dijaga abang Faruq. Abang Faruq kan sayaaaaaaang banget sama Fatih” “Faruq tolong jaga ya nak ade babynya” maka Faruq pun tersenyum, memeluk, menjaga dan menghibur sang bayi.

Dari hari ke hari alhamdulillah kami semakin mengerti tentang Faruq. Menyampaikan sebuah larangan bagi anak dengan tipe seperti Faruq hanya akan menantangnya menguji batasan. Faruq dengan senang hati melakukan apa yang dilarang untuk sekedar memuaskan rasa penasaran tentang apa yang akan kami lakukan jika aturannya dilanggar. Dan kami semakin mengerti bahwa memberikan kepercayaan dan penghargaan padanya akan membuat ia merasa diakui, lalu ia bersemangat membuktikan yang terbaik pada kami.

Sejak saat itu, hari demi hari kemi lewati dengan memperbanyak apresiasi saat menemukan Faruq bersikap baik terhadap adik barunya. Ia pun begitu bersemangat membantu bahkan terkadang berkeras hati untuk membantu. Kepeduliannya begitu istimewa untuk seorang balita yang kini baru berusia 3 tahun. Bahkan sering sekali ketika sang bayi terdengar menangis dari kamar, ia hentikan permainannya, lalu sibuk mengumpulkan buku dan mainan bayi kemudian segera menghampiri bayi untuk menghiburnya. Bahkan seringnya, saya pun sampai tidak tahu bahwa bayi terbangun dan menangis karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga.

Masya Allah, memiliki adik memang salah satu cara ampuh untuk membuat seorang anak lebih mandiri asalkan kita mampu menanganinya dengan tepat. Faruq terpaksa harus melakukan berbagai kebutuhannya sendiri, karena ia tidak mau menunggu saya selesai menyusui. Kecuali pada hal yang benar-benar membutuhkan pertolongan saya.

Namun bagaimanapun ia adalah balita 3 tahun yang masih dalam tahap menyempurnakan 50% perkembangan otaknya. Maka ia pun sesekali bertindak layaknya balita pada umumnya yang kurang tepat bertindak dalam mengungkapkan keinginannnya.

Saat Faruq berbuat kegaduhan disamping bayi….
Ummi: “Faruq lagi cari perhatian ya…..!”
Faruq: “heheehe iya…..”
Ummi: “Faruq lagi butuh ummi ya? Kalo Faruq butuh ummi Faruq bilang ‘ummi….. Faruq butuh ummi! Gimana bilangnya?”
Faruq: “ummi….. Faruq butuh ummi”
Ummi: “sekarang Faruq lagi pengen apa?”
Faruq: “Faruq pengen susu”
Ummi: “Faruq bisa nunggu? Kalo sekarang Fatih lagi nyusu”
Faruq: “mau sekarang!”
Ummi: “kalo gitu Faruq ijin sama adek, boleh gak susunya lepas dulu?”
Faruq: “Fatih…. boleh gak nyusunya berhenti dulu?”

Terkadang Fatih pun mengerti, dan melepas puting susu. Terkadang ia menangis, lalu dihibur Faruq sementara saya menyiapkan susu.

Saat Faruq melompat-lompat atau berjungkir balik dikasur, sementara bayi sedang tidur sambil menyusui…..

Ummi: “Faruq sedang cemburu ya! Itu namanya Faruq sedang cemburu”
Faruq pun tersenyum dan berkata “adek nyusunya lama”
Ummi: “eh sini sini ummi punya cerita, dulu waktu Faruq bayi, Faruq nyusu lamaaaaaaaaaa sekali seperti Fatih. Abang Shiddiq juga harus nunggu kalo mau dipeluk ummi, tapi kalo Faruq lompat-lompat Fatih gak tidur-tidur, makin lama dong dipeluknya”
Lalu saya terus bercerita tentang kenangan masa bayinya sehingga ia pun terhibur bahagia.

Saat Faruq tiba-tiba bermain dengan kasar pada bayi…

Ummi: “abang pengen ngajak main ade bayi ya? Abang sayang ya sama adek?” Faruq pun mengangguk
Ummi: “adek gak suka kalo mainnya seperti tadi, karena sakit, adek pengen cara mainnya lembut, tapi adek sukaaaa banget kalo Faruq bawain boneka dan bacain buku” lalu Faruq pun mencari permainan lain untuk menghibur bayi.

Anak bisa diberi pengertian, anak bisa diberi kepercayaan, anak bisa terlibat mengambil peran, anak bisa memilih sikap yang sesuai, asalkan kita terus bersabar memberikan pendidikan. Mendisiplinkan anak bukanlah sebuah deklarasi kekuasaan orang tua. Mendisiplinkan adalah mengajarkan batasan perilaku. Mendisiplinkan anak adalah buah dari cinta kita maka perlu dilakukan dengan penuh cinta. Kecemburuan memang perasaan alamiah yang keberadaannya terkadang penting sebagai wujud dari cinta. Namun cinta yang tulus akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengelola rasa cemburu.

Kiki Barkiah

Ketika Hidup Harus Memilih

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Setiap keluarga pasti memiliki tantangan dan permasalahan tersendiri. Tidak satupun keluarga di dunia ini yang hidup tanpa permasalahan. Namun berbahagialah jika permasalahan yang kita hadapi bukan sebuah permasalahan yang mendekatkan kita kepada api neraka. Karena sesungguhnya musibah terbesar dalam kehidupan kita adalah jika permasalahan itu berkaitan dengan musibah agama. Namun kita berhak memilih apakah setiap permasalahan yang kita hadapi semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta atau sebaliknya.

Begitu pula dalam dunia pengasuhan anak, tantangan demi tantangan akan selalu hadir dalam setiap fasa perkembangan anak-anak. Begitu juga dalam keluarga kami, satu per satu secara bertahap kami merajut, menyulam, dan menambal setiap kekurangan dalam membentuk kepribadian anak-anak.

Jujur, ada sedikit hal yang mengusik dada, jika melihat Shiddiq (5y) yang selama ini cukup memberikan tantangan dalam dunia pengasuhan anak keluarga kami. Meskipun masih terlihat wajar jika diukur dari faktor usianya, namun tetap memberikan PR tersendiri dalam menghadapinya jika dibandingkan dengan kematangan saudara-saudaranya pada usianya, atau bahkan kematangan Faruq adiknya yang berusia 2 tahun lebih muda.

Karena Shiddiq lah kami terus belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, kemudian tambal sulam untuk meramu cara yang pas dalam menghadapinya. Namun saya akui, ketidaktepatan langkah kami dalam menghadapi fasa “terrible two” Shiddiq, cukup menyisakan PR panjang sampai hari ini. Meskipun kami melewati masa-masa “terrible two” Faruq yang lebih luar biasa, namun keluangan waktu, bertambahnya ilmu, dan fokusnya pikiran menjadikan fasa itu terasa terlewati dengan lebih baik jika dibandingkan dengan Shiddiq. Sehingga di usia Faruq yang 3 tahun, ia memiliki kematangan yang tidak pernah dicapai oleh kakak-kakaknya di saat usia yang sama. Dan terkadang kematangannya melebihi kematangan Shiddiq, abangnya.

Mengamati permasalahan Shiddiq, sering membawa pikiran saya untuk kembali pada masa 5 tahun silam. Fasa dimana dimana saya berusaha menjalankan kesemua peran secara “unggul”. Sebagai seorang wanita yang sangat aktif berorganisasi saat gadis, memang tidak mudah memilih untuk hanya berperan dalam urusan domestik rumah tangga. Meskipun secara sadar dan ikhlas saya memutuskan untuk mengabdi kepada keluarga di dalam rumah, namun segala cita-cita yang pernah saya tulis terperinci dalam sebuah daftar Visi Misi hidup, saya konversikan dalam bentuk peran yang dapat dilakukan dari dalam rumah. Saat itu saya begitu bersemangat untuk “berkarir dalam rumah”.

Sebuah usaha perdagangan dari dalam rumah saya rintis, demi mewujudkan cita-cita besar saya di bidang pendidikan. Berkantor di rumah adalah sebuah pilihan yang saya ambil, agar fungsi dan peran sebagai ibu tetap mampu saya jalankan namun cita-cita pun tetap dalam rintisan. Namun ternyata semua itu tidak mudah.

Jatuh bangun kami merintis, setiap merasa lelah saya dan suami selalu berdiskusi apakah langkah ini tepat dilakukan demi cita-cita terakhir kami, yaitu berkumpul di surga. Tak pernah saya lupa setiap kata penyemangat dari suami tercinta dalam mendukung cita-cita saya. Seorang laki-laki yang menurut pengakuannya baru saja berhijrah mendekat kepada Allah beberapa hari sebelum pertemuan kami. Seorang laki-laki yang meminang saya dengan sebuah janji untuk bersedia bersama berjuang di jalan dakwah. Lagi-lagi terkadang saya ingin mundur dan berhenti jadi pengusaha, namun lagi-lagi sang suami selalu menguatkan saya.

Memang tidak mudah untuk mundur ketika semua telah dirintis, apalagi saat itu berkaitan dengan hajat hidup karyawan yang terlibat dalam usaha. Mau tidak mau, suka tidak suka, target harus dikejar demi cashflow yang seimbang. Dan ternyata tidak mudah menjalankan peran ibu dengan optimal saat “target” dan “deadline” berbicara.

Saat itu, perilaku Shiddiq semakin menantang, caranya dalam mencari perhatian semakin menjadi. Satu per satu amanah saya lepas, satu per satu amanah didelegasikan, sampai akhirnya atas hidayah dari Allah, kini saya memilih untuk lebih fokus menjalankan peran domestik. saya hanyalah seorang manusia biasa yang Allah beri keterbatasan kemampuan untuk bisa optimal pada semua sisi. Ketika sebuah folder dalam otak harus dibuka, kenyataannya folder lain harus tertutup. Ketika “target” dan “deadline” berbicara, kenyataannya perhatian saya terhadap anak-anak alakadarnya, bahkan sekedar “anteng” saja.

Kesulitan saya di masa kini dalam menghadapi anak-anak, salah satunya adalah akibat adanya masa-masa yang terlewatkan bersama anak-anak. Sehingga kini, saya harus membayar dengan sedikit kerja ekstra. Alhamdulillah belum terlalu terlambat dalam merajut kembali yang tertinggal meski saya semakin sadar bahwa waktu tidak akan pernah kembali dan batang usia anak pun terus bertambah. Tidak mudah bagi kita untuk kembali mengulang masa-masa yang saya tertinggal itu.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup bukan hanya harus memilih apa yang terbaik namun juga harus memilih apa yg harus dikorbankan, serta memilih apa yang harus kita tunda saat ini. Dan setiap saat kita harus kembali menengok apakah pilihan kita mampu melahirkan kebahagiaan yang haqiqi.

“Berjuang itu ada caranya, gunakan cara yang kita bisa!” (Pesan dari Permata Nur Miftahur Rizki rekan seperjuangan di kampus 8 tahun lalu)

San Jose, California
Dari seorang ibu yang tengah menunda sebagian cita-citanya

Kiki Barkiah