Bocah-bocah Akhir Jaman

[Dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Hati saya tersentak membaca curhatan seorang bunda via inbox yang tinggal di salah satu perkampungan Indonesia. Beliau mengabarkan tentang kondisi masyarakat di lingkungannya. Beliau bercerita tentang seorang bocah SD berumur 8.5 tahun di lingkungannya yang sering mengkonsumsi konten pornografi. Bocah tersebut sudah berada dalam tahapan kecanduan bahkan puncaknya ia nekad melakukan “acting out” terhadap balita berusia 3 tahun. Tersentak bukan karena mendengar kasus ini, karena kasus semacam ini memang semarak terjadi di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Saya begitu tersentak karena ketika ibu sang korban melaporkan kepada ibu sang pelaku, dengan mudahnya ia menjawab “ya sudah kalo gitu, gak usah main sama anak saya aja!” Lalu ia pergi menghentikan pembicaraan menuju rumahnya.

Astagfirullah….astagfirullah….astagfirullah, kini memang telah tiba akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Anak-anak kita adalah bocah-bocah akhir zaman karena dimasa inilah kita dan anak kita hidup. Dan dimasa inilah kita mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Dan ditengah lingkungan seperti inilah kita membentuk kepribadian anak-anak kita. Sebuah masa yang Rasulullah telah kabarkan bahwa perzinahan akan merajalela. Ketika dahulu hal ini dianggap aib yang luar biasa, namun kini hal ini dianggap hal yang biasa. Bahkan mungkin kelak menjadi biasa terjadi dikalangan bocah-bocah ingusan yang seharusnya masih suci dari dosa. Di akhir zaman ini, sebuah perzinahan yang terjadi beberapa menit saja, kini tidak lagi hanya menjadi dosa dua orang manusia. Namun, teknologi telah memudahkannya untuk menjadi sarana dosa beramai-ramai.

Saya jadi teringat pesan umar bin khatab kepada para orang tua, untuk mendidik anak-anak sesuai jamannya. Dan kini, jaman telah berubah, anak kita tidak lagi tumbuh dalam masa kecil seperti kita apalagi seperti orang tua kita. Dan kita tidak lagi dapat sepenuhnya meng “copy paste” bagaimana cara orang tua kita mendampingi tumbuh kembang kita.

Kejadian ini semakin menguatkan pilihan kami, dalam memahami apa sesungguhnya hakikat “bersosialisasi” bagi anak-anak kami di masa kini. Melihat kenyataan rusaknya pergaulan di usia remaja, baik di Indonesia apalagi di Amerika, maka kami memilih untuk memaknai “belajar bersosialisasi” tidaklah harus dengan cara menempatkan anak dalam sebuah lingkungan sosial yang bersifat masif sehingga ia memiliki kesempatan untuk banyak mengenal orang lain. Karena lingkungan yang bersifat masif sangat sulit berada dalam pemantauan kami sementara hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai kepribadian dan pola pikir yang bervariasi. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu pada fasa pembentukan jati diri mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang kami anut. Sampai kelak kemudian kami siap melepaskan mereka dengan kepribadian yang lebih kokoh dan siap memilah apa yang baik untuk diteladani serta apa yang buruk untuk ditinggalkan atau didakwahi. Maka kami memilih, bahwa yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah miniatur masyarakat dalam sebuah lingkup sosialisasi yang lebih kecil, yang terjaga dan terpantau,sekedar cukup untuk mengajarkan anak bagaimana adab bergaul dan bersikap terhadap orang lain.

Bagi kami, baik tidaknya seseorang dalam bersosialisasi tidak dilihat dari berapa banyak jumlah teman yang ia miliki, serta tidak dilihat dari seberapa cepat ia mampu beradaptasi dalam lingkungan baru. Namun dari seberapa banyak kebermanfaatan yang dapat ia berikan bagi lingkungannya serta seberapa besar perbaikan yang mampu ia lahirkan bagi lingkungannya. Terlebih hidup di era sosial media seperti saat ini, membangun hubungan pertemanan menjadi perkara yang jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dengan jenis kepribadian apapun. Yang menjadi tantangan utama bersosialisasi di akhir zaman seperti ini bukanlah bagaimana membangun hubungan pertemanan yang banyak, namun bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran ditengah zaman yang semakin “wong edan”

Karena kenyataan ini, maka kami memilih untuk menjalankan program homeschooling pada fasa 7 tahun kedua perkembangan mereka setelah sebelumnya mereka diberi kesempatan untuk sedikit merasakan warna-warni realita kehidupan dunia khususnya di Amerika. Kami memilih untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka pada masa-masa pencarian jati diri mereka. Pilihan ini kami ambil dengan segala konsekuensinya, demi menjaga, memilah, dan membatasi apa yang di dengar, dilihat, dan dialami oleh anak-anak kami pada masa-masa utama pendidikan dan pembentukan karakter mereka. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan kepada mereka sebelum kelak mereka bersinggungan dengan warna-warni nilai kehidupan yang dianut menusia . Bukanlah sebuah lingkungan steril yang ingin kami ciptakan dengan mempersempit wilayah sosial mereka, namun kami membutuhkan sedikit waktu untuk membangun imunitas dalam jiwa mereka. Imunitas itu dapat kami bangun dengan memperlihatkan realitas keburukan masyarakat di dunia hanya dari kaca mata luar tanpa harus terlalu banyak bersinggungan dengan subjek pelakunya. Karena yang kami butuhkan dari fakta keburukan itu, hanyalah untuk mengasah rasa kepekaan sosial mereka. Dan kami berharap, kebersamaan kami yang lebih lama memberi kesempatan bagi kami untuk merefleksi dan mengarahkan bagaimana yang seharusnya. Kami sadar, pilihan kami bukanlah pilihan sederhana. Bahkan mungkin banyak diantara kerabat dekat pun masih ada yang tidak menyetujuinya. Namun kami harus memilih, memilih apa yang saat ini paling mudah untuk mendekatkan kami kedalam surga. Agar kelak kami dapat mempetanggungjawabkan dihadapan sang Penguasa terhadap sebuah perintah di dalam Al-quran untuk memelihara diri dan keluarga dari panasnya api neraka.

Yaa! Kami harus memilih! Walau pilihan kami melawan kenyamanan. Karena anak-anak kami adalah bocah-bocah akhir zaman, yang memiliki pilihan diantara dua peran dalam kancah kehidupan akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Memilih menjadi manusia yang memiliki masa depan sebagai bagian dari kerusakan peradaban atau memilih menjadi manusia yang mengambil bagian dalam kemenangan islam.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berdoa untuk keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah

Kala Cemburu Melanda

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Di hari-hari pertama kelahiran bayi, memang tidak mudah bagi Faruq yang saat itu berusia 2.5 tahun untuk berkompromi dengan perubahan yang ada. Kehadiran anggota baru tentunya menyita perhatian kami, terlebih bagi kami yang hidup merantau tanpa sanak saudara. Kecemburuan adalah hal yang wajar muncul meski sejak jauh-jauh hari sebelum kelahiran bayi, kami mempersiapkan Faruq agar dapat menerima kondisi ini melalui berbagai buku yang bercerita tentang saat-saat pertama memiliki adik baru.

Dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis berbagai teknik yang kami coba terapkan dalam menghadapi kecemburuan Faruq yang terkadang sangat mengganggu dan membahayakan. Dari mulai memberi pengertian, membuat aturan dan batasan, sampai sesekali memisahkan bayi dari Faruq demi keselamatan.

Sampai suatu hari Allah memberi ilham saat saya akan meninggalkan bayi ke kamar mandi. Biasanya ketika sebuah pesan larangan untuk tidak mengganggu saya sampaikan, yang sering terjadi adalah munculnya tangisan bayi yang merasa terganggu oleh ulah jahil sang abang. Dan ketika keluar kamar mandi Faruq akan tertawa puas dan senang karena merasa menang.

Suatu hari sebuah pesan saya sampaikan bukan untuk Faruq tapi untuk sang bayi. “Fatih, ummi mau ke kamar mandi dulu ya, Fatih jangan sedih, Fatih dijaga abang Faruq. Abang Faruq kan sayaaaaaaang banget sama Fatih” “Faruq tolong jaga ya nak ade babynya” maka Faruq pun tersenyum, memeluk, menjaga dan menghibur sang bayi.

Dari hari ke hari alhamdulillah kami semakin mengerti tentang Faruq. Menyampaikan sebuah larangan bagi anak dengan tipe seperti Faruq hanya akan menantangnya menguji batasan. Faruq dengan senang hati melakukan apa yang dilarang untuk sekedar memuaskan rasa penasaran tentang apa yang akan kami lakukan jika aturannya dilanggar. Dan kami semakin mengerti bahwa memberikan kepercayaan dan penghargaan padanya akan membuat ia merasa diakui, lalu ia bersemangat membuktikan yang terbaik pada kami.

Sejak saat itu, hari demi hari kemi lewati dengan memperbanyak apresiasi saat menemukan Faruq bersikap baik terhadap adik barunya. Ia pun begitu bersemangat membantu bahkan terkadang berkeras hati untuk membantu. Kepeduliannya begitu istimewa untuk seorang balita yang kini baru berusia 3 tahun. Bahkan sering sekali ketika sang bayi terdengar menangis dari kamar, ia hentikan permainannya, lalu sibuk mengumpulkan buku dan mainan bayi kemudian segera menghampiri bayi untuk menghiburnya. Bahkan seringnya, saya pun sampai tidak tahu bahwa bayi terbangun dan menangis karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga.

Masya Allah, memiliki adik memang salah satu cara ampuh untuk membuat seorang anak lebih mandiri asalkan kita mampu menanganinya dengan tepat. Faruq terpaksa harus melakukan berbagai kebutuhannya sendiri, karena ia tidak mau menunggu saya selesai menyusui. Kecuali pada hal yang benar-benar membutuhkan pertolongan saya.

Namun bagaimanapun ia adalah balita 3 tahun yang masih dalam tahap menyempurnakan 50% perkembangan otaknya. Maka ia pun sesekali bertindak layaknya balita pada umumnya yang kurang tepat bertindak dalam mengungkapkan keinginannnya.

Saat Faruq berbuat kegaduhan disamping bayi….
Ummi: “Faruq lagi cari perhatian ya…..!”
Faruq: “heheehe iya…..”
Ummi: “Faruq lagi butuh ummi ya? Kalo Faruq butuh ummi Faruq bilang ‘ummi….. Faruq butuh ummi! Gimana bilangnya?”
Faruq: “ummi….. Faruq butuh ummi”
Ummi: “sekarang Faruq lagi pengen apa?”
Faruq: “Faruq pengen susu”
Ummi: “Faruq bisa nunggu? Kalo sekarang Fatih lagi nyusu”
Faruq: “mau sekarang!”
Ummi: “kalo gitu Faruq ijin sama adek, boleh gak susunya lepas dulu?”
Faruq: “Fatih…. boleh gak nyusunya berhenti dulu?”

Terkadang Fatih pun mengerti, dan melepas puting susu. Terkadang ia menangis, lalu dihibur Faruq sementara saya menyiapkan susu.

Saat Faruq melompat-lompat atau berjungkir balik dikasur, sementara bayi sedang tidur sambil menyusui…..

Ummi: “Faruq sedang cemburu ya! Itu namanya Faruq sedang cemburu”
Faruq pun tersenyum dan berkata “adek nyusunya lama”
Ummi: “eh sini sini ummi punya cerita, dulu waktu Faruq bayi, Faruq nyusu lamaaaaaaaaaa sekali seperti Fatih. Abang Shiddiq juga harus nunggu kalo mau dipeluk ummi, tapi kalo Faruq lompat-lompat Fatih gak tidur-tidur, makin lama dong dipeluknya”
Lalu saya terus bercerita tentang kenangan masa bayinya sehingga ia pun terhibur bahagia.

Saat Faruq tiba-tiba bermain dengan kasar pada bayi…

Ummi: “abang pengen ngajak main ade bayi ya? Abang sayang ya sama adek?” Faruq pun mengangguk
Ummi: “adek gak suka kalo mainnya seperti tadi, karena sakit, adek pengen cara mainnya lembut, tapi adek sukaaaa banget kalo Faruq bawain boneka dan bacain buku” lalu Faruq pun mencari permainan lain untuk menghibur bayi.

Anak bisa diberi pengertian, anak bisa diberi kepercayaan, anak bisa terlibat mengambil peran, anak bisa memilih sikap yang sesuai, asalkan kita terus bersabar memberikan pendidikan. Mendisiplinkan anak bukanlah sebuah deklarasi kekuasaan orang tua. Mendisiplinkan adalah mengajarkan batasan perilaku. Mendisiplinkan anak adalah buah dari cinta kita maka perlu dilakukan dengan penuh cinta. Kecemburuan memang perasaan alamiah yang keberadaannya terkadang penting sebagai wujud dari cinta. Namun cinta yang tulus akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengelola rasa cemburu.

Kiki Barkiah

Ketika Hidup Harus Memilih

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Setiap keluarga pasti memiliki tantangan dan permasalahan tersendiri. Tidak satupun keluarga di dunia ini yang hidup tanpa permasalahan. Namun berbahagialah jika permasalahan yang kita hadapi bukan sebuah permasalahan yang mendekatkan kita kepada api neraka. Karena sesungguhnya musibah terbesar dalam kehidupan kita adalah jika permasalahan itu berkaitan dengan musibah agama. Namun kita berhak memilih apakah setiap permasalahan yang kita hadapi semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta atau sebaliknya.

Begitu pula dalam dunia pengasuhan anak, tantangan demi tantangan akan selalu hadir dalam setiap fasa perkembangan anak-anak. Begitu juga dalam keluarga kami, satu per satu secara bertahap kami merajut, menyulam, dan menambal setiap kekurangan dalam membentuk kepribadian anak-anak.

Jujur, ada sedikit hal yang mengusik dada, jika melihat Shiddiq (5y) yang selama ini cukup memberikan tantangan dalam dunia pengasuhan anak keluarga kami. Meskipun masih terlihat wajar jika diukur dari faktor usianya, namun tetap memberikan PR tersendiri dalam menghadapinya jika dibandingkan dengan kematangan saudara-saudaranya pada usianya, atau bahkan kematangan Faruq adiknya yang berusia 2 tahun lebih muda.

Karena Shiddiq lah kami terus belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, kemudian tambal sulam untuk meramu cara yang pas dalam menghadapinya. Namun saya akui, ketidaktepatan langkah kami dalam menghadapi fasa “terrible two” Shiddiq, cukup menyisakan PR panjang sampai hari ini. Meskipun kami melewati masa-masa “terrible two” Faruq yang lebih luar biasa, namun keluangan waktu, bertambahnya ilmu, dan fokusnya pikiran menjadikan fasa itu terasa terlewati dengan lebih baik jika dibandingkan dengan Shiddiq. Sehingga di usia Faruq yang 3 tahun, ia memiliki kematangan yang tidak pernah dicapai oleh kakak-kakaknya di saat usia yang sama. Dan terkadang kematangannya melebihi kematangan Shiddiq, abangnya.

Mengamati permasalahan Shiddiq, sering membawa pikiran saya untuk kembali pada masa 5 tahun silam. Fasa dimana dimana saya berusaha menjalankan kesemua peran secara “unggul”. Sebagai seorang wanita yang sangat aktif berorganisasi saat gadis, memang tidak mudah memilih untuk hanya berperan dalam urusan domestik rumah tangga. Meskipun secara sadar dan ikhlas saya memutuskan untuk mengabdi kepada keluarga di dalam rumah, namun segala cita-cita yang pernah saya tulis terperinci dalam sebuah daftar Visi Misi hidup, saya konversikan dalam bentuk peran yang dapat dilakukan dari dalam rumah. Saat itu saya begitu bersemangat untuk “berkarir dalam rumah”.

Sebuah usaha perdagangan dari dalam rumah saya rintis, demi mewujudkan cita-cita besar saya di bidang pendidikan. Berkantor di rumah adalah sebuah pilihan yang saya ambil, agar fungsi dan peran sebagai ibu tetap mampu saya jalankan namun cita-cita pun tetap dalam rintisan. Namun ternyata semua itu tidak mudah.

Jatuh bangun kami merintis, setiap merasa lelah saya dan suami selalu berdiskusi apakah langkah ini tepat dilakukan demi cita-cita terakhir kami, yaitu berkumpul di surga. Tak pernah saya lupa setiap kata penyemangat dari suami tercinta dalam mendukung cita-cita saya. Seorang laki-laki yang menurut pengakuannya baru saja berhijrah mendekat kepada Allah beberapa hari sebelum pertemuan kami. Seorang laki-laki yang meminang saya dengan sebuah janji untuk bersedia bersama berjuang di jalan dakwah. Lagi-lagi terkadang saya ingin mundur dan berhenti jadi pengusaha, namun lagi-lagi sang suami selalu menguatkan saya.

Memang tidak mudah untuk mundur ketika semua telah dirintis, apalagi saat itu berkaitan dengan hajat hidup karyawan yang terlibat dalam usaha. Mau tidak mau, suka tidak suka, target harus dikejar demi cashflow yang seimbang. Dan ternyata tidak mudah menjalankan peran ibu dengan optimal saat “target” dan “deadline” berbicara.

Saat itu, perilaku Shiddiq semakin menantang, caranya dalam mencari perhatian semakin menjadi. Satu per satu amanah saya lepas, satu per satu amanah didelegasikan, sampai akhirnya atas hidayah dari Allah, kini saya memilih untuk lebih fokus menjalankan peran domestik. saya hanyalah seorang manusia biasa yang Allah beri keterbatasan kemampuan untuk bisa optimal pada semua sisi. Ketika sebuah folder dalam otak harus dibuka, kenyataannya folder lain harus tertutup. Ketika “target” dan “deadline” berbicara, kenyataannya perhatian saya terhadap anak-anak alakadarnya, bahkan sekedar “anteng” saja.

Kesulitan saya di masa kini dalam menghadapi anak-anak, salah satunya adalah akibat adanya masa-masa yang terlewatkan bersama anak-anak. Sehingga kini, saya harus membayar dengan sedikit kerja ekstra. Alhamdulillah belum terlalu terlambat dalam merajut kembali yang tertinggal meski saya semakin sadar bahwa waktu tidak akan pernah kembali dan batang usia anak pun terus bertambah. Tidak mudah bagi kita untuk kembali mengulang masa-masa yang saya tertinggal itu.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup bukan hanya harus memilih apa yang terbaik namun juga harus memilih apa yg harus dikorbankan, serta memilih apa yang harus kita tunda saat ini. Dan setiap saat kita harus kembali menengok apakah pilihan kita mampu melahirkan kebahagiaan yang haqiqi.

“Berjuang itu ada caranya, gunakan cara yang kita bisa!” (Pesan dari Permata Nur Miftahur Rizki rekan seperjuangan di kampus 8 tahun lalu)

San Jose, California
Dari seorang ibu yang tengah menunda sebagian cita-citanya

Kiki Barkiah