Merumuskan Kembali Tujuan Menyekolahkan Anak-anak

Mari kita sejenak rehat dari segala hiruk pikuk aktifitas kita sehari-hari untuk berpikir dan memaknai segala kesibukan harian tersebut. Diantara kita mungkin ada yang setiap pagi sibuk mempersiapkan baju sekolah anak, menyiapkan bekal sekolah mereka, melakukan beragam aktifitas dalam jadwal yang padat merayap di pagi hari sebelum berangkat sekolah, bahkan tak jarang kita hiasi dengan teriakan-teriakan untuk menyuruh anak-anak kita melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Sebagian mereka ada yang harus melakukan semua itu sejak sangat pagi, atau terpaksa menikmati kemacetan di pagi hari. Belum lagi, biaya SPP yang sangat mahal dan uang pangkal yang super duper mahal, mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi dalam memenuhi kebutuhan anak-anak agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah.
Namun pernahkan kita sejenak bertanya sampai dimanakah tujuan, cita-cita dan harapan kita dengan menyekolahkan anak? Pernahkah kita bertanya apa yang anak-anak rasakan dan apa yang anak-anak maknai tentang keseharian mereka yang tak jauh dari dunia sekolah?
Bila diajak bernostalgia mungkin ada banyak murid seperti saya, membawa buku yang tebal dalam tas yang berat, mengerjakan tugas sekolah di rumah sampai larut malam, duduk berjam-jam di kelas yang sesekali harus melawan kantuk dan kebosanan. Ternyata saat itu saya belajar untuk mendapat nilai ulangan yang baik agar rapot yang diterima oleh urang tua bernilai cantik dan mendapat rangking yang baik. Lalu sesekali saya belajar lebih giat, bahkan sangat giat demi mendapat NEM yang cukup untuk masuk ke sekolah favorit. Dari satu sekolah favorit menuju sekolah favorit pada jenjang selanjutnya, hanya untuk mendapatkan kampus favorit dengan jurusan yang favorit. Lalu kemudian ada masa dimana saya bertanya saat melihat ijazah sekolah “Jadi sebenarnya selembar kertas yang mati-matian saya cari ini untuk apa?”
Ternyata selembar kertas yang mati-matian diraih dengan kelelahan, kurang tidur karena bergadang, juga investasi besar yang telah dikeluarkan, tidak serta merta mengantarkan saya untuk bisa memiliki kehidupan yang baik dengan kelapangan harta seperti yang menjadi harapan orang tua saat menyekolahkan saya. “Agar bisa masuk ITB, agar bisa punya pekerjaan yang baik, agar taraf hidup lebih baik dari orang tua, agar menjadi orang sukses” seperti itulah mungkin kesimpulan umum yang saya tangkap akan harapan orang tua dalam 16 tahun proses pendidikan dalam bangku sekolah.
Ayah bunda, betapa sayang perjuangan menyekolahkan anak untuk tujuan sesederhana dan sependek itu. Tanggung jawab orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak lebih dari sekedar menyekolahkan mereka sampai memiliki pekerjaan yang baik dan bisa menghasilkan uang, lebih dari sekedar mengantarkan mereka menuju gerbang pernikahan dan kemandirian kehidupan. Tanggung jawab besar kita adalah bagaimana seluruh potensi yang ada pada diri anak-anak kita hantarkan agar mereka dapat menemukan dan menjalankan peran dalam peradaban (mission of life) yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia (purpose of life).
Allah menciptakan kita bukan tanpa maksud, bukan tanpa tujuan, bukan tanpa tugas atau misi yang harus dijalankan. Ibarat manusia menciptakan sesuatu, pasti memiliki tugas spesifik dan tujuan dalam pembuatannya. Setiap karya dikatakan bekerja dengan baik dan memuaskan pembuatnya, bila ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan yang direncanakan dalam membuatnya.

Di dalam Al-Quran Allah telah menyampaikan mengenai tujuan Penciptaan Manusia, diantaranya
1. Untuk beribadah kepada Allah
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (ibadah)” Adz Dzariyat QS. 51:56)

Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan murid-murid mereka sedemikian hingga menjadikan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”
2. Untuk menjalankan misi sebagai imaroh
“Dan (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (Imaroh) Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepadaNya. Sesunguhnya Tuhanku Maha Dekat dan Memenuhi segala perminataan” Hud QS. 11:61
3. Untuk menjalankan misi sebagai khalifah
“Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Al- Baqoroh QS. 2:30

4. Untuk menjalankan misi sebagai rahmatan lil alamin ( Menebar rahmat bagi semesta)
“Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” Al-Anbiya QS. 21:107

5. Untuk menjalankan misi sebagai Bashiro wa Nadziro (Solution Maker, Problem Solver, Reminder)

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” Al-Baqoroh QS. 2:119
Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia memiliki semangat untuk menjadi pemakmur bumi. Ia akan memaknai pekerjaannya sebagai bagian dari melaksanakan fungsi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaan dan misi yang seharusnya ia jalankan. Ia akan memaknai pekerjaanya sebagai bagian dari ibadah sehingga setiap langkah dalam menjalankan perannya bertujuan unntuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah dengan cara yang diridhoi Allah.

Proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia melaksanakan peran sekecil apapun dengan penuh semangat dalam rangka memelihara agama Allah, menegakkan hukum-hukum Allah, memelihara dan menjaga kemanan bumi, menjadi problem solver yang menyelesaikan masalah dengan hukum Allah. Proses pendiikan sejati juga senantiasa membimbing manusia agar senantiasa berada di jalan kebenaran dan memiliki semangat untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran.

Insya Allah proses pendidikan tersebut akan melahirkan umat terbaik, umat pilihan, umat pertengahan yang moderat dan adil. Sebagaimana disebutkan ciri-cirinya oleh Allah di dalam Al-Quran.
1. Khoirul Ummah (Ummat yang terbaik)
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 110).

2. Ummatan Washatan (umat pertengahan) “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sekalian ummatan wasathan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu?” (Q.S. Al-Baqarah: 143).
Maka semua pihak yang bekerja sama dalam melaksanakan proses pendidikan anak-anak kita hendaklah sejalan dengan titik akhir yang ingin kita capai dari proses belajar yang harus dibayar dengan penuh kepayahan dan kelelahan. Tidakkah kita bahagia melihat anak-anak kita yang berlelah-lelah belajar, berlelah-lelah sekolah untuk menjadi seorang dokter, insinyur, guru, pengusaha, presiden dll, namun ia memiliki peran utama di muka bumi sebagai seorang mujahid, da’i dan dai’yah?

Oleh Kiki Barkiah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s