Bonding, motivasi, atau…

Main sama ayah itu “sesuatu banget ya” buat anak laki-laki. Apalagi main games komputer bareng sama ayah. Sejak ayahnya memberi hadiah bermain games bersamanya di malam hari jika semua syarat terpenuhi, anak laki-laki yang biasanya dikejar-kejar oleh saya dalam melaksanakan tugasnya kini lebih mampu memimpin dirinya.

Mantap… dari bada subuh saja semua disiplin standar pagi dan mulai belajar setelah selesai olahraga. Bahkan sering mulai belajar sejak bada subuh tanpa saya suruh. Setiap selesai sekolah Shiddiq sering bertanya “Ummi, tugas membantu ummi aku hari ini apa?”. (membantu pekerjaan ummi, masuk dalam jadwal homeschooling harian) Shiddiq bahkan mampu merinci apa saja tugas yang sudah dan belum dilaksanakan. Ia juga sering mengejar-ngejar saya untuk tugas belajar yang harus dibimbing saya.

Aa Ali juga semakin mendobrak kemampuan dirinya dalam menghargai waktu, Sudah menyelesaikan beragam pelajaran sekolah, mengerjakan proyek, bekerja sebagai guru bagi adiknya, masih semangat juga berusaha menyetor hafalan rata2 setengah juz sehari. Ia yang biasanya bersitegang soal urusan prioritas pekerjaan dalam memanfaatkan waktu, kini mati-matian akan menyelesaikan sesuai tenggat waktu yang disepakati, demi main bersama bapak. Entahlah ada kebahagiaan tersendiri melewatkan waktu bersama ayah bermain online games. Tentunya tetap kita pilihkan games yang mengandung unsur belajar dengan durasi yang tidak lama.

Sudah lama sang ayah pensiun dari dunia games sejak melamar saya menikah hahahaha. Kini ia kembali mengeluarkan skill lamanya untuk melakukan bonding bersama anak-anak. Kalo main untuk keasyikan dan kepuasan sendiri mah rasanya seperti kurang berempati terhadap pekerjaan istri. Makanya sejak menikah beliau tidak lagi bermain games seperti dulu. Tentu saya pun akan merasakan sesak di dada bila ngos-ngosan melakukan pekerjaan rumah tangga sementara suami asyik bermain games sendirian. Berhubung bermainnya menjadi bagian dari bonding dan program baby-sitting anak-anak maka lumayan lah sang ibu pun bisa beberapa puluh menit menulis buku tanpa diganggu. Sang ibu pun asyik membaca dan menulis sambil sesekali melihat jam dan menjadi pengingat waktu. “Waktu menunjukkan pukul…… siap-siap waktunya hanya….. menit lagi” Hahahahah tetep aja jadi satpam gadget yang cerewet. Sebab yang mubah itu akan bahaya kalo banyak-banyak.

NB: Anak-anak mendesain bersama-sama di minecraft. Kebetulan hampir semua anak memiliki laptop kerja mereka masing-masing. Jadi saat bermain mereka saling diskusi, tertawa dan seru bersama, tapi tetep… dgn laptop masing-masing. ya begitulah dunia digital.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s