Berhati-hatilah Pada Hati Anak Yang Penurut

Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak

Ada hal yang menjadi perhatian saya saat itu tentang Shafiyah. Gadis yang selama ini tidak banyak menjadi tokoh dalam kisah yang saya bagikan. Ia yang begitu penurut dan sering berbuat lurus-lurus saja, tidak menuai banyak konflik di rumah. Sehingga tidak banyak kisah yang saya angkat tentangnya.

Shafiyah memberikan banyak bantuan dalam keluarga. Ia adalah anak yang paling inisiatif di rumah. Ia seolah sangat memahami kebutuhan saudara-saudaranya sebelum saya meminta pertolongan. Ia begitu penyayang dan sabar menghadapi saudaranya, ia begitu mudah berkorban dan mengalah demi kebahagian saudaranya. Ia begitu telaten dan sabar mengurusi keperluan Fatih dan adik bayi. Bahkan ia mengadopsi beberapa pola komunikasi saya dalam membujuk, melerai dan mengarahkan adik-adiknya.

Namun rasanya sekitar beberapa bulan ini ia mengalami perubahan sikap terhadap Faruq. Semua hal yang saya ceritakan diatas terkadang tidak terlalu berlaku kepada Faruq. Ada perbedaan sikap dan respon yang ia tunjukan kepada adiknya yang satu ini. Terlebih Faruq yang sering berulah istimewa memang sering memicu konflik dengan seluruh anggota keluarga. Shafiyah cenderung kurang sabar, mudah marah dan semakin mempersulit keadaan bila memiliki masalah dengan Faruq. Meskipun saya mengerti bahwa banyak masalah dipicu oleh Faruq, namun sikapnya yang sering mempersulit dan membuat keadaan tambah runyam sering saya sesalkan.

Kalau sudah terjadi kasus seperti ini, maka hal itu merupakan sinyal yang mengabarkan pada saya bahwa ada hal yang harus dibicarakan dan diselesaikan diantra kami. Siang itu saya membuka pembicaraan yang sangat intim dengan Shafiyah. Hanya berdua saja sambil menyusui sang bayi. Pembicaraan ini saya buka karena rasa kecewa saya pada Shafiyah saat itu. Ia baru saja bertengkar dengan Faruq karena ia bersikeras mempertahankan haknya. Sepele tapi jadi rumit. Shafiyah enggan memberikan kursi miliknya di mobil. Ia yang sedari tadi berada pada bagian tersejuk kursi tengah, enggan memberikan posisinya pada saat Faruq memintanya. Meski saya tidak suka serta merta meminta anak yang lebih besar untuk mengalah, tapi berkali-kali saya sampaikan padanya betapa saya sangat berharap ia bersedia memudahkan urusan kali ini. Namun Shafiyah tetap tidak mau berbagi, bahkan merespon adiknya dengan sikap yang kurang lembut. Maka terjadilah pertengkaran itu.

Siang itu saya berkata padanya. “Teteh, ummi merasa akhir-akhir ini ada sikap yang berbeda dari teteh ke Faruq. Kenapa teteh kelihatannya sebel banget sama Faruq. Kamu sering mengalah sama Fatih, kamu juga sering berselisih sedikit sama Shiddiq, tapi kenapa kalo sama Shiddiq gak gitu-gitu amat, tapi kalo sama Faruq bawaannya keliatan sebeeel banget. Teteh galak sama Faruq. Kalo sudah berantem sepertinya ada gejolak emosi dari teteh. teteh suka nafsu sama Faruq. Kenapa sih teh?”

Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menyampaikan betapa ia tidak suka dengan sikapnya yang jahil dan menganggunya. Memang Faruq yang paling sering memicu konflik di rumah. Ketika ia sedang bosan dengan semua mainan, buku-buku dan semua bahan eksplorasi, maka ia akan mulai memainkan manusia-manusia disekitarnya. Itu tandanya ia sedang bosan dan sedang tidak punya ide untuk beraktifitas dengan benda-benda. Saya pernah bertanya pada Faruq “Bang kenapa sih sering banget jahil?” Ia pun menjawab “Abis bosen gak ada yang bisa dimainin lagi, jadi aku jahil aja”

Shafiyah berkaca-kaca karena ia menuturkan alasan selanjutnya. Ia merasa bahwa saya sering terlalu sibuk merespon perasaannya. Menurut Shafiyah, kadang ketika saya sedang sibuk berbicara pada bapak atau mengajar saat ia mengadu, saya sering merespon alakadarnya. Sekedar melarang Faruq atau memintanya mengontrol diri tetapi tidak merespon perasaannya. Ia juga merasa bahwa saya lebih banyak memperhatikan Faruq dibanding dirinya. Dari penuturannya saya menangkap bahwa ia merasa haknya baru dibela jika saya sudah memberikan konsekuensi pada Faruq. Sementara tidak semua kasus berujung pada konsekuensi untuk Faruq. Dalam kesempatan lain ia pun terbuka tentang perasaannya pada Faruq. Ia sangat cemburu tetapi tidak mengerti kenapa.

Astagfirullah, Alhamdulillah Allah menegur saya dengan kejadian ini. Sebelum terlambat, semakin parah dan berpotensi menyebabkan kehilangan mutiara hati yang begitu indah. Dihadapannya saya meminta maaf. Saya akui saya salah. Saya jelaskan padanya bahwa terkadang tidak mudah membuka folder pikiran saya dari satu topik ke topik lain dengan sesegera mungkin. Saya harus menyelesaikan pembicaraan atau pekerjaan saya sebelum membuka folder pikiran lainnya. Saya juga mengakui kesalahan saya, pandangan bahwa Shafiyah adalah anak baik yang pengalah dan tidak rewel cukup mewarnai respon sikap saya saat terjadi konflik. Ada perasaan bahwa Shafiyah yang baik dan selalu mempermudah tidak membutuhkan penanganan dengan tingkat keseriusan yang sama dengan konflik yang terjadi pada Shiddiq yang pemarah.

Saya juga meminta maaf padanya, bahwa akhir-akhir ini energi saya begitu terkuras dalam menghadapi Faruq yang sedang masuk masa usia 5 tahun. Masa dimana berbagai pemanasan saya mulai untuk selanjutnya secara serius dan terstruktur dilakukan di usia 7 tahun. Pengenalan kedisiplinan, kemandirian, aturan yang lebih serius, pembiasaan jadwal belajar, pengenalan islam dll. Sesuatu yang sebernarnya pernah ia rasakan sebelumnya. Hanya saja Faruq yang paling kurus dan tidak suka makan nasi, menyita lebih banyak waktu saya untuk memperhatikannya. Pencernaan Faruq sering sakit karena sulit makan. Maka saya meluangkan waktu lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gizinya, membuat menu terpisah sesuai keinginannya. Hal ini berarti menyita waktu saya untuk memberikan perhatian pada sang gadis yang penurut dan lurus-lurus saja.

“Shafiyah, kamu gak tau betapa ummi bangga memiliki kamu nak. Kamu yang paling sering menjadi pahlawan di rumah ini. Kamu yang paling sering membantu ummi. Kamu yang paling nurut dan gak banyak masalah sama ummi. Justru karena kamu gak banyak masalah jadi kamu merasa ummi gak terlalu memperhatikan kamu. Karena energi ummi habis sama anak-anak laki-laki yang bertingkah istimewa. Teteh, bukannya ummi juga sering memuji teteh setiap kali teteh berbuat baik. Teteh merasa belum cukup ya diperhatikan ummi? Ummi minta maaf ya nak. Akhir-akhir ini Faruq memang sering menyita perhatian ummi. Tentang disiplin, tentang jadwal, tentang sekolahya. Faruq juga sering sakit karena susah makan. Ummi berusaha memperhatikan semua anak, tapi karena usianya berbeda maka perhatiannya juga berbeda. Aa Ali sekarang lagi sibuk diperhatiin ummi soal rencana masa depannya, tentang rencana kuliah, tentang ujian persamaan. Teteh juga lagi ummi perhatiin tentang kemampuan menulis, kemampuan memahami isi bacaan, kemampuan belajar mandiri, hafalan quran. Shiddiq dan Fatih juga, tapi masing-masing beda yang diperhatikannya. Bener deh bukan karena ummi gak sayang sama teteh tapi justru kamu sangat mandiri, terlalu baik dan tidak pernah cari masalah sehingga ummi tidak banyak mengurusi teteh. Teteh ummi itu sayang sama teteh, ummi sangat bangga dan bersyukur punya teteh” Saya menyampaikan ini sepanjang saya memeluknya, selama itu pula ia terus meneteskan air matanya.

“Oke sekarang gini deh, adakah sesuatu yang teteh ingin minta pada ummi? atau adakah sesuatu yang ingin teteh lakukan bersama ummi? Teteh pengen diperhatikan ummi dalam bentuk apa?” Tanya saya. Ia pun bingung dan terdiam. “Teteh mau diperhatikan ummi dalam bentuk disuapin?” Ia menggeleng dan tersenyum. “Dimandiin?” Ia pun menggeleng dan tertawa. “Disiapin piring makannya?” Ia tetap menggeleng. “Jadi dalam bentuk apa dong pengen diperhatiinya?” tanya saya lagi. “Apa ya mi? gak tau” Lalu kami berdua tertawa bersama. Ia sendiri belum mampu mendefinisikan kebutuhan akan perhatian untuk dirinya. “Begini aja deh, gimana kalo saat shalat jumat jadi me time untuk kita berdua. Teteh bisa cerita dan curhat sama ummi berdua aja?” usul saya. Ia pun tersenyum bahagia mengangguk tanda setuju.

Beberapa minggu kemudian saya bertanya “Teh kok sekarang gak terlalu galak sama Faruq kalo berantem? Karena udah ngomong sama ummi waktu itu ya?” Ia pun mengangguk mengiyakan dan tersenyum.

Wanita oh wanita pada dasarnya kebutuhan terbesar mereka itu dua “didengar dan di akui perasaannya”. Potensi kebaikan mereka akan semakin melejit jika dua kebutuhan ini terpenuhi. Tidak banyak juga perhatian tambahan yang saya berikan sejak kejadian itu. Waktu saya sudah terbagi agar semua madrasah dapat diselenggarakan bagi setiap anak. Tetapi mengetahui perasaan bahwa saya mencintainya dan bangga padanya menjadi amunisi tersediri bagi Shafiyah. Ia hanya membutuhkan penegasan bahwa saya mencintainya. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana status dirinya dalam hati saya. Sejak hari itu saya hanya menambahkan bumbu dalam apresiasi yang saya berikan saat ia menyelesaikan tugas atau membantu pekerjaan saya. Sehingga tidak hanya ucapan terimakasih yang singkat namun sedikit lebih romantis, ekspresif dan spesifik. Hahaahaha

Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, karena sering kali kita mengabaikan perasaan yang tak terungkap melalui lisannya. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, terkadang kita perlu waktu istimewa untuk mengorek isi hati yang sesungguhnya. Berhati-hatilah pada hati yang penurut, barangkali ia menyimpan perasaan tertentu yang belum mampu ia ucapkan lewat lisan namun jika dibiarkan suatu saat akan meledak menjadi sebuah pembangkangan. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering membuat kita lupa bahwa merekapun punya harapan dan keinginan. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering menjebak kita dalam rutinitas tanpa problematika sehingga hubungan terasa hambar dan biasa saja. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, yang sering menjebak kita dalam suasana ada dan tiada terasa biasa saja, sehingga kita lupa bahwa kehadirannya begitu istimewa. Berhati-hatilah pada hati anak yang penurut, karena kadang menurut itu melawan ego dan hasrat jiwa kadang pula mengubur sikap kritis dan mematikan logika. berhati=hatilah pada hati anak kita yang penurut, yang sering membuaat kita terlena pada perasaan ‘anakku baik-baik saja’ sehingga kita lupa melihat bagaimana mereka diluar sana.

Dengarkan suara hati mereka yang berbisik, yang jarang terdengar sejelas lisan anak-anak yang mudah menunjukan penolakan. Janagan biarkan suatu hari terkuak dalam sikap yang jauh dari harapan

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang kini ingin lebih mendengar
Kiki Barkiah

Advertisements

One Reply to “Berhati-hatilah Pada Hati Anak Yang Penurut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s