Sesungguhnya kita dan keluarga mengalami kerugian, kecuali…

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Saat menjelang keberangkatan kami untuk camping 3 hari di hutan, ummi kesulitan menemukan kunci rumah. Selagi ummi dan bapak kebingungan mencari kunci rumah, ada pembicaraan menarik yang terdengar…..

Shiddiq: “Kita titipkan saja rumahnya pada Allah”
Ali: “Tapi kita harus ikhtiar dulu baru titipin sama Allah”

Alhamdulillah akhirnya kunci serep kami temukan, dan bismillah perjalanan pun dimulai.
Ketika malam menjelang tidur, di dalam tenda kami berbicara….

Shafiyah: “Ummi barang-barang kita kan masih ada yang diluar tenda”
Ummi: “Insya Allah gak apa-apa lah, isinya cuma bahan makanan. Kita titipin aja sama Allah”
Shiddiq: “Ummi tapi gimana kalo ada pencuri?”
Ummi: “Semua orang disini sibuk camping dik! Kayaknya gak ada yang mau nyuri-nyuri makanan, udah yuk kita bobo aja, insya Allah gak apa-apa”
(Padahal ummi males banget harus keluar tenda malam-malam)

Tiba-tiba di pagi hari, anak-anak ribut memberi kabar

“Ummi…. makanan kita ada yang nyuri!”

Ummi pun segera melihat-lihat. Ternyata beberapa bungkus snack tortilla telah sobek bahkan beberapa bungkus lainnya nampak hilang. Lalu kami melihat beberapa tupai berhamburan berlari lalu bersembunyi sambil memakan tortilla.

Spontan anak-anak pun protes berkata…

“Tuh kan ummiiiii……… kita bilang juga apa!!!!! Masukin dulu makanannya, kan harus ikhtiar dulu!”

Ummi: “Iya ya ummi yang salah, maaf ya… ummi gak kepikiran kalo bakal dicuri tupai, harusnya kita ikhtiar dulu baru titip sama Allah”

Wkwkwkwkwkkwkwkwk

Di waktu yang lain…..

Shiddiq: “Ummi kayaknya bapak itu gak pernah ngaji, idiq gak liat bapak ngaji”
Ummi: “Hehehe itu karena idiq gak ketemu bapak seharian aja, kan kalo bapak pulang sibuk nidurin idiq dulu setelah shalat jamaah”
Shiddiq: “Tapi kayaknya ngajinya gak sebanyak ummi lah…”
Ummi: “Ya udah bilang sana sama bapak jangan lupa ngaji”

Itulah cuplikan kisah diantara sekian banyak pembicaraan serupa dimana sang guru yang kadang khilaf dalam bersikap, diingatkan oleh murid-muridnya. Didalam keluarga kami, proses saling menasihati dan mengingatkan tidak hanya berlaku satu arah, namun siapapun berhak melakukan dengan cara yang hormat kepada siapapun yang membutuhkanya.

Masya Allah…. memiliki banyak anak memang melahirkan sekian banyak tanggung jawab dan amanah. Namun jika masa masa sulit yang merepotkan ini kita pandang sebagai sebuah perjuangan menanam benih investasi kebaikan dunia dan akhirat, maka semoga tak lama lagi mereka dapat menjadi pelindung kita di dunia dan juru selamat bagi kita di akhirat kelak, insya Allah.

Karena sesungguhnya kehidupan dunia itu begitu singkat, maka hal itu berarti masa “kerepotan” kita menemani tumbuh kembang anak di usia tahun-tahun pertama kelahirannya hanya sebentar saja. Namun kita perlu mempersiapkan sejak dini agar tidak mengalami “kerepotan kembali” ketika kelak mereka meranjak dewasa. Dan sesungguhnya tugas yang lebih berat menanti adalah bagaimana kita terhidar dari “kerepotan” di negeri akhirat yang disebabkan oleh mereka. Dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran di dalam keluarga adalah kunci utama untuk terhindar dari kerepotan di negeri akhirat kelak.

Firman Allah:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” Al-Quran surat Al Ashr 1-3.

#repot urusan anak diwaktu kecil itu PASTI
#repot urusan anak diwaktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH
#repot urusa anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI

Kiki Barkiah

Merumuskan Kembali Tujuan Menyekolahkan Anak-anak

Mari kita sejenak rehat dari segala hiruk pikuk aktifitas kita sehari-hari untuk berpikir dan memaknai segala kesibukan harian tersebut. Diantara kita mungkin ada yang setiap pagi sibuk mempersiapkan baju sekolah anak, menyiapkan bekal sekolah mereka, melakukan beragam aktifitas dalam jadwal yang padat merayap di pagi hari sebelum berangkat sekolah, bahkan tak jarang kita hiasi dengan teriakan-teriakan untuk menyuruh anak-anak kita melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Sebagian mereka ada yang harus melakukan semua itu sejak sangat pagi, atau terpaksa menikmati kemacetan di pagi hari. Belum lagi, biaya SPP yang sangat mahal dan uang pangkal yang super duper mahal, mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi dalam memenuhi kebutuhan anak-anak agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah.
Namun pernahkan kita sejenak bertanya sampai dimanakah tujuan, cita-cita dan harapan kita dengan menyekolahkan anak? Pernahkah kita bertanya apa yang anak-anak rasakan dan apa yang anak-anak maknai tentang keseharian mereka yang tak jauh dari dunia sekolah?
Bila diajak bernostalgia mungkin ada banyak murid seperti saya, membawa buku yang tebal dalam tas yang berat, mengerjakan tugas sekolah di rumah sampai larut malam, duduk berjam-jam di kelas yang sesekali harus melawan kantuk dan kebosanan. Ternyata saat itu saya belajar untuk mendapat nilai ulangan yang baik agar rapot yang diterima oleh urang tua bernilai cantik dan mendapat rangking yang baik. Lalu sesekali saya belajar lebih giat, bahkan sangat giat demi mendapat NEM yang cukup untuk masuk ke sekolah favorit. Dari satu sekolah favorit menuju sekolah favorit pada jenjang selanjutnya, hanya untuk mendapatkan kampus favorit dengan jurusan yang favorit. Lalu kemudian ada masa dimana saya bertanya saat melihat ijazah sekolah “Jadi sebenarnya selembar kertas yang mati-matian saya cari ini untuk apa?”
Ternyata selembar kertas yang mati-matian diraih dengan kelelahan, kurang tidur karena bergadang, juga investasi besar yang telah dikeluarkan, tidak serta merta mengantarkan saya untuk bisa memiliki kehidupan yang baik dengan kelapangan harta seperti yang menjadi harapan orang tua saat menyekolahkan saya. “Agar bisa masuk ITB, agar bisa punya pekerjaan yang baik, agar taraf hidup lebih baik dari orang tua, agar menjadi orang sukses” seperti itulah mungkin kesimpulan umum yang saya tangkap akan harapan orang tua dalam 16 tahun proses pendidikan dalam bangku sekolah.
Ayah bunda, betapa sayang perjuangan menyekolahkan anak untuk tujuan sesederhana dan sependek itu. Tanggung jawab orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak lebih dari sekedar menyekolahkan mereka sampai memiliki pekerjaan yang baik dan bisa menghasilkan uang, lebih dari sekedar mengantarkan mereka menuju gerbang pernikahan dan kemandirian kehidupan. Tanggung jawab besar kita adalah bagaimana seluruh potensi yang ada pada diri anak-anak kita hantarkan agar mereka dapat menemukan dan menjalankan peran dalam peradaban (mission of life) yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia (purpose of life).
Allah menciptakan kita bukan tanpa maksud, bukan tanpa tujuan, bukan tanpa tugas atau misi yang harus dijalankan. Ibarat manusia menciptakan sesuatu, pasti memiliki tugas spesifik dan tujuan dalam pembuatannya. Setiap karya dikatakan bekerja dengan baik dan memuaskan pembuatnya, bila ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan yang direncanakan dalam membuatnya.

Di dalam Al-Quran Allah telah menyampaikan mengenai tujuan Penciptaan Manusia, diantaranya
1. Untuk beribadah kepada Allah
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (ibadah)” Adz Dzariyat QS. 51:56)

Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan murid-murid mereka sedemikian hingga menjadikan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”
2. Untuk menjalankan misi sebagai imaroh
“Dan (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (Imaroh) Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepadaNya. Sesunguhnya Tuhanku Maha Dekat dan Memenuhi segala perminataan” Hud QS. 11:61
3. Untuk menjalankan misi sebagai khalifah
“Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Al- Baqoroh QS. 2:30

4. Untuk menjalankan misi sebagai rahmatan lil alamin ( Menebar rahmat bagi semesta)
“Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” Al-Anbiya QS. 21:107

5. Untuk menjalankan misi sebagai Bashiro wa Nadziro (Solution Maker, Problem Solver, Reminder)

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” Al-Baqoroh QS. 2:119
Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia memiliki semangat untuk menjadi pemakmur bumi. Ia akan memaknai pekerjaannya sebagai bagian dari melaksanakan fungsi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaan dan misi yang seharusnya ia jalankan. Ia akan memaknai pekerjaanya sebagai bagian dari ibadah sehingga setiap langkah dalam menjalankan perannya bertujuan unntuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah dengan cara yang diridhoi Allah.

Proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia melaksanakan peran sekecil apapun dengan penuh semangat dalam rangka memelihara agama Allah, menegakkan hukum-hukum Allah, memelihara dan menjaga kemanan bumi, menjadi problem solver yang menyelesaikan masalah dengan hukum Allah. Proses pendiikan sejati juga senantiasa membimbing manusia agar senantiasa berada di jalan kebenaran dan memiliki semangat untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran.

Insya Allah proses pendidikan tersebut akan melahirkan umat terbaik, umat pilihan, umat pertengahan yang moderat dan adil. Sebagaimana disebutkan ciri-cirinya oleh Allah di dalam Al-Quran.
1. Khoirul Ummah (Ummat yang terbaik)
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 110).

2. Ummatan Washatan (umat pertengahan) “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sekalian ummatan wasathan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu?” (Q.S. Al-Baqarah: 143).
Maka semua pihak yang bekerja sama dalam melaksanakan proses pendidikan anak-anak kita hendaklah sejalan dengan titik akhir yang ingin kita capai dari proses belajar yang harus dibayar dengan penuh kepayahan dan kelelahan. Tidakkah kita bahagia melihat anak-anak kita yang berlelah-lelah belajar, berlelah-lelah sekolah untuk menjadi seorang dokter, insinyur, guru, pengusaha, presiden dll, namun ia memiliki peran utama di muka bumi sebagai seorang mujahid, da’i dan dai’yah?

Oleh Kiki Barkiah

Bonding, motivasi, atau…

Main sama ayah itu “sesuatu banget ya” buat anak laki-laki. Apalagi main games komputer bareng sama ayah. Sejak ayahnya memberi hadiah bermain games bersamanya di malam hari jika semua syarat terpenuhi, anak laki-laki yang biasanya dikejar-kejar oleh saya dalam melaksanakan tugasnya kini lebih mampu memimpin dirinya.

Mantap… dari bada subuh saja semua disiplin standar pagi dan mulai belajar setelah selesai olahraga. Bahkan sering mulai belajar sejak bada subuh tanpa saya suruh. Setiap selesai sekolah Shiddiq sering bertanya “Ummi, tugas membantu ummi aku hari ini apa?”. (membantu pekerjaan ummi, masuk dalam jadwal homeschooling harian) Shiddiq bahkan mampu merinci apa saja tugas yang sudah dan belum dilaksanakan. Ia juga sering mengejar-ngejar saya untuk tugas belajar yang harus dibimbing saya.

Aa Ali juga semakin mendobrak kemampuan dirinya dalam menghargai waktu, Sudah menyelesaikan beragam pelajaran sekolah, mengerjakan proyek, bekerja sebagai guru bagi adiknya, masih semangat juga berusaha menyetor hafalan rata2 setengah juz sehari. Ia yang biasanya bersitegang soal urusan prioritas pekerjaan dalam memanfaatkan waktu, kini mati-matian akan menyelesaikan sesuai tenggat waktu yang disepakati, demi main bersama bapak. Entahlah ada kebahagiaan tersendiri melewatkan waktu bersama ayah bermain online games. Tentunya tetap kita pilihkan games yang mengandung unsur belajar dengan durasi yang tidak lama.

Sudah lama sang ayah pensiun dari dunia games sejak melamar saya menikah hahahaha. Kini ia kembali mengeluarkan skill lamanya untuk melakukan bonding bersama anak-anak. Kalo main untuk keasyikan dan kepuasan sendiri mah rasanya seperti kurang berempati terhadap pekerjaan istri. Makanya sejak menikah beliau tidak lagi bermain games seperti dulu. Tentu saya pun akan merasakan sesak di dada bila ngos-ngosan melakukan pekerjaan rumah tangga sementara suami asyik bermain games sendirian. Berhubung bermainnya menjadi bagian dari bonding dan program baby-sitting anak-anak maka lumayan lah sang ibu pun bisa beberapa puluh menit menulis buku tanpa diganggu. Sang ibu pun asyik membaca dan menulis sambil sesekali melihat jam dan menjadi pengingat waktu. “Waktu menunjukkan pukul…… siap-siap waktunya hanya….. menit lagi” Hahahahah tetep aja jadi satpam gadget yang cerewet. Sebab yang mubah itu akan bahaya kalo banyak-banyak.

NB: Anak-anak mendesain bersama-sama di minecraft. Kebetulan hampir semua anak memiliki laptop kerja mereka masing-masing. Jadi saat bermain mereka saling diskusi, tertawa dan seru bersama, tapi tetep… dgn laptop masing-masing. ya begitulah dunia digital.

Tanggung Jawab itu ada pada Orang Tua

Tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren.

Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik.

Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang ditempa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?

Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interaksi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.

Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya!

Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?

Kurikulum Wajib Pendidikan Keluarga

Dalam melaksanakan proses pendidikan terbaik bagi anak-anak, orang tua dapat memilih berbagai pihak yang menjadi sistem pendukung. Namun hendaknya setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas dalam melaksanakan proses pendidikan ini. Visi yang jelas akan memperjelas langkah kita tentang hal apa saja yang perlu dipelajari oleh anak-anak kita serta proses pendidikan seperti apa yang perlu ditempuh oleh mereka. Visi yang jelas juga akan memantapkan langkah kita dalam memilih pihak yang akan bekerjasama dalam mendukung proses pendidikan anak-anak kita.

Pada akhirnya, proses pendidikan yang kita berikan pada anak-anak akan mengarah pada spesialisasi ilmu tertentu yang dibutuhkan mereka sebagai bekal menjalani kehidupan secara mandiri di masa yang akan datang. Namun apapun spesialisasi bidang yang akan ditempuh, apapun sistem pendukung yang terlibat dalam prosesnya, hendaknya setiap keluarga berkomitmen dalam menjalankan kurikulum pendidikan yang wajib di berikan kepada anak sebagai bekal dalam menjalankan kehidupannya. Bahkan kurikulum pendidikan ini hendaknya dijalankan orang tua sepanjang hidup anak-anaknya.

Adapun kurikulum pendidikan wajib yang perlu kita berikan adalah sbb:

  • Didiklah anak agar mengenal Tuhannya sehingga ia mengerti apa yang diinginkan Sang penciptanya terhadap dirinya
  • Didiklah anak agar mengenal Rasulnya sehingga ia tau bagaimana mengejawantahkan keinginan tuhannya terhadap dirinya.
  • Didiklah anak agar memahami agama yang merupakan pangkal dari setiap urusannya.
  • Didiklah anak agar mengetahui tujuan hidupnya, sehingga dengan atau tanpa dampingan kita ia akan selalu bergerak menuju tujuan tersebut.
  • Didiklah anak mengetahui potensi dirinya, mengetahui kemampuan dan kapasitasnya, sehingga ia dapat menjadikan hal tersebut sebagai bekal untuk meraih tujuan hidupnya.
  • Didiklah anak sampai ia menjadi manusia pembelajar sehingga dengannya ia akan menambah sendiri bekal tambahan yang dibutuhkan untuk meraih tujuan hidupnya
  • Didiklah anak sampai ia terlanjur mencintai kebaikan, sehingga apapun yang ditawarkan oleh lingkungannya, ia akan terus memilih kebaikan.
  • Jagalah fitrah kesucian anak sampai ia mampu membedakan mana yang baik dan buruk sehingga dengan atau tanpa kita ia akan senantiasa memilih jalan kebaikan dan menghindarkan keburukan
  • Didiklah anak sampai ia mampu berjalan mandiri menyusuri kehidupan meraih tujuan hidupnya.
  • Teruslah membimbing dan memantau perjalanan hidup mereka meskipun mereka sudah melewati titik dimana kita harus melepas mereka secara mandiri menjalani kehidupan.
  • Teruslah berdoa untuk kebaikan mereka sepanjang hidup kita.

Semoga ketika setiap interaksi kita dengan anak-anak bernafaskan poin-poin diatas, Allah ridho dan menghitung kita sebagai golongan orang tua yang melaksanakan perintah Q.S At-Tahrim ayat 6.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Grand Design Pendidikan Anak

Ramadhan adalah momentum emas perbaikan diri dan keluarga. Sudahkah keluarga sahabat memiliki kejelasan tujuan dalam proses membangun rumah tangga, mendidik dan merawat anak? jika belum ini kesempatan emas untuk bisa sejenak rehat dari segala kepenatan, bersama pasangan merumuskan tujuan kembali pengasuhan.

Sedikit berbagi, rancangan yang pernah kami buat sekitar 6 tahun lalu, barangkali bisa menjadi insiprasi. boleh dicontek boleh ditiru, kalo berhasil dicapai boleh dong jadi besan aku….

Cita-cita itu boleh WOW, gratis kok. Meski sulit dicapai tapi ini yang selalu jadi spirit kami walau menjalani jatuh bangun dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Kata saya pada bapak ” Susah menerapkan konsep yang kita yakini itu jauh lebih baik daripada menjalani sesuatu tanpa konsep yang jelas. paling tidak kita selalu berusaha kembali menjalankan konsep tersebut walau kenyataan tak seindah teorinya”

Grand Design Pendidikan Anak

Ala Keluarga Kiki Barkiah dan Aditya Irawan:

Visi:

  • Membangun Generasi Keturunan yang Sholih, Muslih, Hafizh dan Produktif

Misi:

  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam
  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam syariah
  • Mendidik keturunan yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar
  • Mendidik keturunan yang mampu melakukan islah pada dunia islam
  • Mendidik keturunan yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban
  • Mendidik keturunan yang dapat mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban

Setiap point diatas insya Allah selalu jadi ruh dalam setiap diskusi, aktifitas, proyek, dan kegiatan belajar keluarga kami,

Tidak Ada yang Memintamu

[Dari “Percayalah, kelak Engkau akan merindukan kembali…“]

Bunda sayang……
Tidak ada yang memintamu untuk menjadi sempurna
Memerankan semua
Menjalankan segala
Apalagi memintamu menjadi seperti mereka
Yang terlihat istimewa dalam kisah hidupnya

Bunda sayang…….
Tidak ada yang memintamu untuk menjadi serba bisa
Unggul dalam segala
Istimewa dalam berkarya
Apalagi memintamu menjadi pribadi yang berbeda
Mengukir karya seperti mereka yang berkarya

Bunda sayang……
Tidak ada yang memintamu untuk meraih segalanya
Meraih prestasi yang mendunia
Menapaki tangga mencapai puncak kinerja
Apalagi menjalani hal yang serupa
Dengan mereka yang namanya tertulis dalam berita

Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah taat kepada perintah-Nya
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah menjaga diri dan keluargamu dari api neraka
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah taat pada imam keluarga
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah menjaga kehormatan dan harta suami saat tak ada
Bunda sayang……
Yang Allah minta darimu adalah pertanggungjawabanmu dalam urusan rumah tangga
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah tak menolak ajakan suami tercinta
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah merawat dan mendidik ananda sepenuh jiwa
Bunda sayang…..
Yang Allah minta darimu adalah memberi manfaat bagi sesama

Dan untuk meminta semuanya
Allah ciptakan dirimu begitu istimewa
Dengan keunikan potensi yang tiada bandingannya
Karena engkau adalah engkau dan tiada yang sama
Maka berikanlah persembahan terbaik dari apa yang kau punya
Berjuanglah dengan cara yang kau bisa
Karena engkau adalah engkau dan tiada yang sama
Maka setiapmu akan berjuang dengan cara yang berbeda
Asalkan akhirnya untuk Allah semata

San Jose, California
Dari seorang ibu yang berjuang dengan cara apa yang ia bisa
Kiki Barkiah