Prayer For Gaza

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Dalam sebuah kesempatan kami mengajak anak-anak menghadiri kegiatan Emergency Friday Prayer for Gaza di depan salah satu gedung pemerintah di San Fransisco, California, USA. Sebuah kegiatan “unjuk rasa” dalam bentuk khutbah Jumat yang mengangkat tema “speak up” dalam hal penjajahan di palestina, kegiatan shalat jumat dan shalat ghaib untuk para korban perang di Palestina, doa bersama dan pengumpulan donasi untuk Palestina. Turut hadir dan duduk bersama para jamaah, beberapa warga negara Amerika yang beragama nasrani dan yahudi yang juga berempati terhadap keadaan peperangan di wilayah Gaza. Saat shalat, mereka yang tidak sholat memberi kesempatan kami melaksanakan ibadah shalat dan doa, lalu kegiatan ditutup dengan orasi beberapa perwakilan lintas agama. Kami mengajak anak-anak merasakan momentum ini, sebagai materi pengantar diskusi kami saat halaqoh keluarga. “Ummi tadi orang yahudinya kenapa ikut duduk sama kita? Ummi kalo polisi-polisi tadi bukan muslim ya, kok mereka gak ikut sholat? Ummi kenapa tadi ada orang yang mau bikin kacau dan ditangkep polisi?” Tanya mereka setelah acara.

Ini bukanlah kali pertama kami mengangkat isu peperangan di palestina dalam pembicaraan keluarga. Melalui media film dan beberapa diskusi saat halaqoh keluarga, kami berkali-kali mengangkat isu terkini soal Palestina kepada anak-anak dirumah. Dengan diawali beberapa diskusi pengantar, melalui film dokumenter kami memperlihatkan suasana kondisi peperangan dan penjajahan di negeri Palestina. Dari materi ini diskusi mengalir dan berkembang diantaranya mengenalkan konsep toleransi beragama, konsep muslim adalah bersaudara dimanapun mereka berada, konsep saling menghormati antar agama, konsep seorang muslim dalam bersikap terhadap non muslim yang memerangi dan tidak memerangi, konsep hidup damai berdampingan di Amerika, konsep adab berperang dalam Islam, konsep membela diri terhadap penjajahan, bercerita tentang sejarah agama samawi, konsep jihad dan syahid, konsep membela kaum yang lemah, mengajak anak-anak berdoa untuk saudara-saudara muslim di Palestina serta berbagai diskusi yang dikemas dengan bahasa sederhana yang dilengkapi dengan perumpamaan-perumpaan sederhana dalam keseharian mereka. Berbagai pertanyaan dan penyataan pun muncul saat diskusi. “ummi kenapa mereka harus perang? Ummi kenapa Israel membom? Ummi kenapa anak-anak itu ikut perang? Ummi kenapa mereka harus membuat lorong?” Ummi kenapa begini kenapa begitu, dan sekian pertanyaan yang kami usahakan seobjektif mungkin menjawabnya.

Tujuan kami menyampaikan materi ini selain agar mereka memiliki rasa empati terhadap penderitaan warga Palestina yang berada dalam suasana peperangan dan penjajahan, kami juga ingin menumbuhkan perasaan dalam diri anak bahwa muslim di seluruh dunia adalah satu kesatuan layaknya satu tubuh. Kami juga ingin anak-anak mampu bersikap secara tepat dalam membangun hubungan terhadap mereka yang berlainan agama sebagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan, terlebih karena kami hidup di Amerika di tengah isu peperangan yang memanas. Selain itu kami ingin mengajak anak-anak bersyukur atas kenikmatan yang mereka peroleh saat ini bila dibandingkan dengan penderitaan saudara-saudara di Palestina seusia mereka. Saat mereka mengeluh tentang makanan atau keadaan lainnya, kami bercerita tentang anak-anak Palestina yang menghadapi sulitnya hidup ditengah peperangan. Saat mereka merasa malas untuk shalat dan mengaji, kami bercerita tentang anak-anak Palestina yang gemar menghafal Al-Quran ditengah peperangan.

Kami tidak ingin mereka mendapat informasi tentang isu ini dari sudut pandang yang berbeda, terlebih ditengah maraknya opini yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan dan terorisme. Kami ingin mereka mengerti tentang tuntunan Islam dalam bersikap terhadap sesama manusia. Kami ingin mereka menjadi anak-anak muslim yang turut memberikan citra positif tentang Islam ditengah masyarakat Amerika.

Kami mengerti bahwa perbedaan pandangan mewarnai tubuh ummat Islam. Bahkan opini masyarakat dunia terhadap Islam tergantung dari berita mana yang mereka baca atau muslim mana yang mereka temui. Namun kami ingin anak-anak menjadi setitik cahaya ditengah suramnya opini dunia terhadap Islam dengan turut mencitrakan keindahan Islam. Menjadi muslim yang sholih, seorang yang muslih (yang melakukan islah/perbaikan), serta produktif memberi manfaat bagi sesama.

(Catatan: yang sudah mulai mengerti dan aktif dalam halaqoh bertema palestina itu anak saya yang sudah berusia diatas 5 tahun Shiddiq, Shafiyah dan Ali)

San Jose, California 1 Agustus 2014

Kiki Barkiah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s