We are Happy Helper

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Semakin hari kami semakin bersyukur atas pilihan pengasuhan anak yang minim televisi dan video games. Pilihan ini, tidak hanya menghidarkan mereka dari pengaruh buruk tayangan televisi, namun memberikan kesempatan mereka untuk berfikir, berimaginasi dan berkreasi untuk menciptakan aktifitas mereka sendiri. Bahkan ternyata, hal ini mampumenjadikan pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Mereka sering menyebut diri mereka sebagai “we are happy helpers”.

“Ummi we are boring, can we cook something? Can we make something? Can we help something?” Kata-kata yang sering keluar saat mereka sudah bosan bermain. Seandainya saya membebaskan mereka untuk menonton televisi atau bermain games di komputer, saya yakin pilihanya akan jatuh pada 2 aktifitas tersebut.

Anak-anak menganggap menyapu daun di halaman, menyiram tanaman, menyikat kamar mandi, memasak, membuat kue, mencuci jendela, menyikat karpet, menyedot debu di karpet, dan pekerjaan rumah lainnya sebagai bagian dari permainan mereka sehari-hari, asalkan mereka tidak dalam keadaan sangat lelah dan melakukannya secara bersama-sama. Terlebih jika mereka melakukan bersama ayahnya, mereka begitu riang gembira. Maka kehangatan pun semakin terbangun antara mereka dengan sang ayah. ” yeah sure! Came on guys! Lets do bla…bla…bla” jawaban yang sering keluar dari Ali sang pemimpin pasukan jika ummi memberikan pilihan ide kegiatan.

Namun suatu hari, mereka mencuci kamar mandi bukan dalam rangka perkejaan ekstra mengisi kekosongan waktu. Ini adalah salah satu “konsekuensi” yang harus dijalankan Ali akibat perbuatan isengnya bermain air dan membasahi semua lantai kamar mandi. Maklum, desain kamar mandi kami berlantai kering, hanya boleh basah pada area bath tub.

Dalam aturan rumah kami, setiap orang harus bertanggung jawab atas “hasil eksplorasinya”. Tanpa harus marah, kami hanya meminta setiap anak mengembalikan keadaan seperti semula. Apalagi jika terjadi hal yang dilakukan tanpa sengaja. Makanan terjatuh, bersihkan. Barang terjatuh, bereskan. Hanya saja, jika itu dilakukan oleh anak yang belum mampu bertanggung jawab, maka orang tua akan membantu dengan tetap melibatkan mereka selama penyelesaiannya tidak mengandung bahaya. Namun mulai usia 7 tahun, pembebanan mulai kami berlakukan, mau tidak mau, suka atau tidak suka pekerjaan harus dilaksanakan. Terkecuali jika benar-benar membutuhkan bantuan.

Namun ekplorasi Ali kali ini, dirasa tidak pada tempatnya. Mengingat usianya yang menginjak 11 tahun, rasanya kurang pas jika memilih ekplorasi dengan bermain air dan membasahi semua lantai kamar mandi tanpa memiliki tujuan. Akhirnya kami memilih untuk menggunakan teknik overcorrection dalam memberikan konsekuensi terhadapnya. Artinya, konsekuensi logis yang diberikan, sedikit ditambah porsinya. Ia tidak hanya diminta mengeringkan lantai, tetapi sekaligus membersihkan kamar mandi.

Namun serunya, saat Ali akan melaksanakan “konsekuensinya” dengan bersemangat ia mengajak adik-adiknya. “Hi guys come on! Lets clean the bathroom!”. Lalu prajurit setia Ali yang tidak tahu bahwa itu adalah “konsekuensi” istimewa untuk Ali, menyambut dengan hati riang untuk “bereksplorasi” bersama membersihkan kamar mandi. Dengan riang dan bersemangat, mereka membersihkan 2 kamar mandi di rumah.

“Wkwkwkwkwkwkwkwkwk” tawa saya dalam hati dan membiarkan ide kreatif Ali mengajak adik-adiknya. Lalu saat saya melapor pada ayahnya sebagai sang pemberi konsekuensi, sang ayah pun merespon “wkwkwkwkwkwkkwkwkwk” katanya.

San Jose, California. 23 Juli 2014

Kiki Barkiah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s