Karena Yang Saya Cari Adalah Ibu

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Di suatu siang, Ali tiba-tiba memeluk saya dari belakang

Ali: “Ummi, not every kids has a mom like you!”
Saya kaget, campur salah tingkah, saya usap rambutnya, dan berkata,
Ummi: “And not every mom has a child like you too!”

Masyaa Allah! Pernyataan itu begitu terindah didengar, meski saya sadar betapa diri ini jauh dari kesempurnaan sebagai ibu dan istri. Perjalanan menjadi ibu tiri baginya begitu penuh warna, suka dan duka. Keadaan ini pun tidak diraih dengan proses instan. Semua melewati proses belajar yang kadang berkali-kali melakukan kesalahan. Namun yang paling utama adalah karena Allah mengkaruniakan kemudahan bagi kami dalam menjalankanya.

Namun mengapa Allah begitu memberi kemudahan bagi kami untuk bisa menjalankan fungsi dan peran kami masing-masing layaknya seorang ibu dan anak pada umumnya? Semakin hari pertanyaan itu semakin terjawab karena semakin hari hubungan kami dalam keluarga semakin indah. Salah satu faktor yang mendukung kemudahan ini adalah karena sang ayah mengawali pernikahan kami dengan niat yang benar. Ia memulai kembali hidup baru dalam mencari pasangan hidup baru, bukanlah untuk sekedar mencari kesenangan baginya. Mencari istri baru bukanlah hal yang menjadi harapan utamanya. Namun yang utama adalah mencari seorang ibu bagi anaknya agar ia mampu mempertanggungjawabkan amanah yang telah Allah beri, sepeninggal almarhumah. Merawat dan mendidik anaknya menjadi anak yang sholih, adalah satu-satu cara baginya untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri setelah tiada.

Aah… Jadi teringat masa taaruf yang singkat dan penuh makna. Hanya satu saja pernyataan beliau saat menerima biodata diri saya yang memang tebal karena saya sangat suka menulis. “Kalau sesibuk ini, kapan punya waktunya untuk ngurus anak?” Gubrak!!!! Saya pun tarik nafas sambil menahan tawa “Kalo yang saya tulis itu kan aktifitas saya saat ini sebagai mahasiswa, karena amanahnya mahasiswa ya saya upayakan yang terbaik dalam aktifitas saya, kalau besok saya jadi istri dan ibu, ya amanahnya juga sudah beda, maka insya Allah saya upayakan yang terbaik juga” sejak pernyataan itulah ia kemudian maju melamar saya, dan berbagai kemudahan datang dalam mempercepat pernikahan kami. Dan sejak hari itu, saya lepaskan semua amanah yang diemban untuk melewati hari-hari baru sebagai seorang istri dan ibu. Setelah menikah beliau berkata “Neng, kalo biodatanya dipakai untuk melamar jadi kandidat ketua himpunan mah, udah pasti kepilih, masalahnya bapak mah mau cari ibu”. Wkwkwkwkwkwkwk.

Mengawali proses menjadi ibu baru memanglah tidak mudah. Apalagi saat itu tugas saya tidak sekedar menghadirkan sosok diri sebagai ibu baru baginya, namun juga menghadirkan sosok ayah yang selama ini tinggal terpisah jauh darinya. Serta melewati hari-hari penuh suka duka untuk mengumpulkan Ali bersama ayahnya layaknya sebuah keluarga. Meski tidak mudah, apalagi saat itu lingkungan pun berfikir bahwa “tidak akan mudah” saya hanya berdiri tegar diatas keyakinan saya bahwa hati seorang anak ada dalam genggaman Allah dan bersama Allah saya bisa melewati semuanya. Alhamdulillah tidak lama dari ijab kabul kami, Allah mudahkan pula kami berkumpul sebagai sebuah keluarga. Jadi ingat saat awal-awal kami berkumpul sebagai keluarga, saya sedikit bercerita tentang sejarah Ali pada seorang khadimat/art. Beliau menangis tidak percaya kalo ali bukan anak kandung saya. Beliau berkata “Ya Allah ummi saya jadi malu, saya saja tidak bisa seperti itu pada anak saya, saya gak nyangka kalo Ali bukan anak kandung ummi”. Ketika hati telah bersatu padu dalam ikatan cinta kepada Allah. Maka tanpa pertalian darah pun manusia bisa saling mencintai, dan saling berpegangan tangan untuk meraih keridhoan ilahi.

Demikian lah sepanggal kisah yang ingin saya bagi, sepenggal kisah tentang cara Allah menjawab itikad dan niat seorang hambanya. Ketika anak dititipkan kepada Allah sepeninggal kita, maka Allah yang akan menghadirkaan sejuta cara untuk menjaga mereka. Begitu juga kelak ketika kita tiada, Allah pula yang akan menjaga mereka dengan caranya.

Bagi sahabatku yang belum menikah, jangan salah memilih niat dalam menikah, karena pernikahan adalah perjanjian teguh atau mitsaqon ghaliza yang begitu penting dalam pandangan Islam. Betapa hari-hari perjalanan panjang pernikahan kita sangat ditentukan dari bagimana niat yang mendasarinya. Namun bagi siapa yang telah terlanjur memulainya, insya Allah tidak ada kata terlambat untuk kembali meluruskan tujuan kita menikah dan mengasuh anak-anak. Allahu alam.

San Jose, California. 11 Agustus 2014

Kiki Barkiah

Apa Niatmu Menikah?

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Tuut…tuuut…
Bapak: “As salamualaikum”
Ummi: “Wa alaikum salam pak, bapak….. i just want to say i love you!”
Bapak: “Wkwkwkwkwkwkwk, ada apalagi mi dirumah?”
Ummi: “Wkwkwkwwkwkwkw seruuuuuuu deh pokoknya doain ya pak biar mudah!”
Bapak: “Iya. Semangat ya mi!!”

Telepon pun ditutup dengan ucapan salam. Telepon seperti ini hampir setiap hari dalam rumah tangga kami. Bapak sudah tau kalo saya membuka pembicaraan dengan kalimat ini pasti suasana rumah sedang sangat heboh. Maka bapak selalu tertawa dan bertanya “ada apalagi mi?”. Namun, telepon yang hanya beberapa detik ini menjadi energi bagi saya untuk kembali bekerja mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Mendadak chemistry di dalam tubuh saya bereaksi menjadi energi positif yang penuh semangat.

Ah…..Bagaimanapun saya seorang wanita. Layaknya hawa yg tercipta dari tulang rusuk adam, saya begitu membutuhkan suplemen semangat dari suami tercinta dalam dunia pengasuhan anak.

Dilain waktu……

Ummi: “Pah makasih ya td siang udah dibantu doa, doanya tokcer, langsung dimudahkan Allah”
Bapak: “Wah tau gak ummi!! Bapak berdoa dengan sepenuh hatiiiiii banget, tau gak kenapa?”
Ummi: “Kenapa pak?”
Bapak:” Karena tadi siang itu di kantor bapak lagi sibuuuuuuuuk dan banyaaaaaak problem. Jd bapak pengen ummi gak nelpon lagi. Biar gak ganggu bapak”

Wkwkwkwkwkwkwkwkkw dan kamipun berdua tertawa terbahak-bahak. Pengasuhan anak itu menguras pikiran, jiwa dan tenaga.

Ah…..Bagaimanapun saya seorang wanita. Layaknya hawa yang tercipta dari tulang rusuk adam, saya membutuhkan canda tawa sebagai bumbu cinta. Canda tawa yang halal yang merilekskan kepenatan jiwa, agar siap menghadapi pekerjaan selanjutnya. Canda tawa seperti ini sering menghiasai rumah tangga kami berdua.

Dilain waktu, saat kepanikan melanda…..

Tuuut….tuuut…
Bapak: “As salamualaikum”
Ummi: “Wa alaikumsalam, bapak apa prioritas tugas ummi di rumah?”
Bapak: “Menyusui fatih, ummi…”
Ummi: “Walau cucian numpuk pak? Piring kotor numpuk? rumah berantakan? pas bapak pulang kerjaan semua belum beres, gak apa-apa pak?”
Bapak: “Gak apa-apa ummi…”
Ummi: “Bapak, apa yang bapak harapkan dari ummi?”
Bapak: “Yang penting jaga kewarasan ummi menghadapi anak-anak”
Telpon pun ditutup dengan salam. Telpon yang hanya berdurasi beberapa menit, mampu memberi energi untuk kembali bangkit menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai karena sibuk menyusui sang bayi.

Ah….Bagaimanapun saya seorang wanita. Layaknya Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam, saya membutuhkan pengertian dari suami tercinta atas ketidaksempurnaan dalam berbakti kepadanya.

Dilain waktu saat penyakit perfeksionis menjangkit….

Ummi: “Bapak, ibu yang baik itu seperti apa, pak? Yang bisa didik anaknya jadi sholeh? Jadi pinter? Yang rumahnya rapi? Yang masakannya enak? Yang anaknya dirawat agar sehat?”
Bapak: “Yang bisa membimbing anak-anak masuk surga mi….”
Ummi: “Walau rumahnya berantakan? Walau masakannya cuma sempet bikin satu jenis? Gak papa pak?”
Bapak: “Gak papa ummi”

Ah…. bagimanapun saya seorang wanita. Layaknya Hawa yang tercipta dari tulang rusuk Adam. Bimbingan suami untuk selalu meluruskan niat dan meraih tujuan utama begitu berarti bagi saya agar terhindar dari perasaan cemas yang berlebihan dalam menghadapi keseharian amanah rumah tangga. Saya begitu menyadari bahwa kami membutuhkan jiwa yang sehat untuk bisa mendidik anak yang berjiwa sehat. Bagaimana sang ibu akan tenang dalam menjalani amanah pengasuhan anak sementara ada ruang kosong dalam jiwanya yang tak terpenuhi kebutuhannya.

Salah satu hal yang mendukung kesehatan jiwa adalah cinta kepada dan dari lawan jenis yang halal dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Bahkan telah tertulis dalam Al-Quran bahwa pernikahan menjadi sarana untuk memberi ketentraman jiwa. Ketentraman jiwa memberi akan kita energi, gairah dan semangat saat menjalani hari-hari penuh tantangan dalam penghambaan diri kepada Allah Sang Pencipta.

Saat hati bersyukur pada Allah, saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun silam. Ba’da subuh sepulang itikaf dari mesjid habiburrahman bandung, saya mengunjungi ayah saya yang berusia 70an yang telah terbaring sakit lebih dari 5 tahun diatas kasur.

Kiki: “Papah boleh gak Kiki menikah?”
Bapak: “Sama siapa?”
Kiki: “Barusan ketemu ikhwan sama orang tuanya di tempat itikaf, beliau lagi cari ibu untuk anaknya, karena istrinya sudah meninggal sejak anaknya bayi pah.”
Bapak: “Kamu niatnya mau apa ki menikah?”
Kiki: “Mau ibadah pah”

Sambil berlinang air mata bapak bicara
Bapak: “Ya sudah kalo memang betul mau ibadah, istikhorohlah, kalo mantap menikahlah, bapak juga sudah ingin nimang cucu”

Dan berbagai kemudahan pun datang, hanya selang sekitar satu bulan kemudian Allah mudahkan penikahan terlaksana. Dan berbagai kemudahan pun terus datang, terus datang, terus datang sampai sekarang dan semoga selamanya, insya Allah

Sahabat, maaf ya jika dirasa tulisan ini terlalu jujur. Saya hanya ingin menyampaikan kepada para suami, betapa cinta, semangat, canda tawa, pengertian dan bimbingan begitu berarti bagi kami para istri. Dan hal itu begitu berarti bagi pengasuhan anak-anak.

Sahabat, maaf ya jika dirasa tulisan ini terlalu jujur. Saya hanya ingin menyampaikan betapa pernikahan dalam kerangka ibadah itu begitu indah, begitu indah, begitu indah. Allahu alam.

San Jose, California. 9 Agustus 2014

Kiki Barkiah

Prayer For Gaza

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Dalam sebuah kesempatan kami mengajak anak-anak menghadiri kegiatan Emergency Friday Prayer for Gaza di depan salah satu gedung pemerintah di San Fransisco, California, USA. Sebuah kegiatan “unjuk rasa” dalam bentuk khutbah Jumat yang mengangkat tema “speak up” dalam hal penjajahan di palestina, kegiatan shalat jumat dan shalat ghaib untuk para korban perang di Palestina, doa bersama dan pengumpulan donasi untuk Palestina. Turut hadir dan duduk bersama para jamaah, beberapa warga negara Amerika yang beragama nasrani dan yahudi yang juga berempati terhadap keadaan peperangan di wilayah Gaza. Saat shalat, mereka yang tidak sholat memberi kesempatan kami melaksanakan ibadah shalat dan doa, lalu kegiatan ditutup dengan orasi beberapa perwakilan lintas agama. Kami mengajak anak-anak merasakan momentum ini, sebagai materi pengantar diskusi kami saat halaqoh keluarga. “Ummi tadi orang yahudinya kenapa ikut duduk sama kita? Ummi kalo polisi-polisi tadi bukan muslim ya, kok mereka gak ikut sholat? Ummi kenapa tadi ada orang yang mau bikin kacau dan ditangkep polisi?” Tanya mereka setelah acara.

Ini bukanlah kali pertama kami mengangkat isu peperangan di palestina dalam pembicaraan keluarga. Melalui media film dan beberapa diskusi saat halaqoh keluarga, kami berkali-kali mengangkat isu terkini soal Palestina kepada anak-anak dirumah. Dengan diawali beberapa diskusi pengantar, melalui film dokumenter kami memperlihatkan suasana kondisi peperangan dan penjajahan di negeri Palestina. Dari materi ini diskusi mengalir dan berkembang diantaranya mengenalkan konsep toleransi beragama, konsep muslim adalah bersaudara dimanapun mereka berada, konsep saling menghormati antar agama, konsep seorang muslim dalam bersikap terhadap non muslim yang memerangi dan tidak memerangi, konsep hidup damai berdampingan di Amerika, konsep adab berperang dalam Islam, konsep membela diri terhadap penjajahan, bercerita tentang sejarah agama samawi, konsep jihad dan syahid, konsep membela kaum yang lemah, mengajak anak-anak berdoa untuk saudara-saudara muslim di Palestina serta berbagai diskusi yang dikemas dengan bahasa sederhana yang dilengkapi dengan perumpamaan-perumpaan sederhana dalam keseharian mereka. Berbagai pertanyaan dan penyataan pun muncul saat diskusi. “ummi kenapa mereka harus perang? Ummi kenapa Israel membom? Ummi kenapa anak-anak itu ikut perang? Ummi kenapa mereka harus membuat lorong?” Ummi kenapa begini kenapa begitu, dan sekian pertanyaan yang kami usahakan seobjektif mungkin menjawabnya.

Tujuan kami menyampaikan materi ini selain agar mereka memiliki rasa empati terhadap penderitaan warga Palestina yang berada dalam suasana peperangan dan penjajahan, kami juga ingin menumbuhkan perasaan dalam diri anak bahwa muslim di seluruh dunia adalah satu kesatuan layaknya satu tubuh. Kami juga ingin anak-anak mampu bersikap secara tepat dalam membangun hubungan terhadap mereka yang berlainan agama sebagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan, terlebih karena kami hidup di Amerika di tengah isu peperangan yang memanas. Selain itu kami ingin mengajak anak-anak bersyukur atas kenikmatan yang mereka peroleh saat ini bila dibandingkan dengan penderitaan saudara-saudara di Palestina seusia mereka. Saat mereka mengeluh tentang makanan atau keadaan lainnya, kami bercerita tentang anak-anak Palestina yang menghadapi sulitnya hidup ditengah peperangan. Saat mereka merasa malas untuk shalat dan mengaji, kami bercerita tentang anak-anak Palestina yang gemar menghafal Al-Quran ditengah peperangan.

Kami tidak ingin mereka mendapat informasi tentang isu ini dari sudut pandang yang berbeda, terlebih ditengah maraknya opini yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan dan terorisme. Kami ingin mereka mengerti tentang tuntunan Islam dalam bersikap terhadap sesama manusia. Kami ingin mereka menjadi anak-anak muslim yang turut memberikan citra positif tentang Islam ditengah masyarakat Amerika.

Kami mengerti bahwa perbedaan pandangan mewarnai tubuh ummat Islam. Bahkan opini masyarakat dunia terhadap Islam tergantung dari berita mana yang mereka baca atau muslim mana yang mereka temui. Namun kami ingin anak-anak menjadi setitik cahaya ditengah suramnya opini dunia terhadap Islam dengan turut mencitrakan keindahan Islam. Menjadi muslim yang sholih, seorang yang muslih (yang melakukan islah/perbaikan), serta produktif memberi manfaat bagi sesama.

(Catatan: yang sudah mulai mengerti dan aktif dalam halaqoh bertema palestina itu anak saya yang sudah berusia diatas 5 tahun Shiddiq, Shafiyah dan Ali)

San Jose, California 1 Agustus 2014

Kiki Barkiah

Ya Allah Jadikanlah Kami Muslim yang Kaffah

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Tumbuh didalam sebuah zaman di Indonesia dimana banyak orang yang beragama Islam namun perilakunya jauh dari nilai Al-quran, banyak orang yang shalat namun shalatnya belum mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, banyak orang yang mengaji namun Al-quran yang dibaca belum mampu menahan lisannya dari perkataan dzholim dan sia-sia, membuat kami merenung bagaimana formulasi yang tepat mengajarkan nilai-nilai agama pada anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang menganut Islam secara menyeluruh.

Perjuangan ini semakin terasa menantang ketika kami harus hijrah ke Amerika dimana suasana belajar Islam tidak semarak seperti di tanah air. Seperti hal nya dalam urusan membaca, dimana kami memilih untuk lebih dahulu menanamkan minat membaca jauh sebelum mereka siap diajarkan skill baca. Maka kami lebih memilih untuk lebih dulu mengajarkan nilai-nilai ketuhanan dan memahamkan tentang makna shalat sebagai cara berkomunikasi dan bersyukur kepada Allah sebelum kami mengajarkan tata cara shalat. Yang jelas kami tidak ingin keluarga kami menegakkan shalat namun shalatnya tidak mampu mencegah mereka dari perbuatan keji dan mungkar, maka kami memilih untuk tidak menegakkan sholat dalam keluarga dengan cara yang keji dan mungkar pula. Hanya saja, sesuai anjuran syariat, kami bersikap tegas tentang perkara shalat pada usia 10 tahun. Dalam urusan sholat, mungkin kami terbilang “santai” dibanding keluarga muslim lain di Indonesia, karena pembebanannya baru kami mulai di usia 7 tahun seperti yang tersirat dalam hadist, meskipun begitu kami meminta semua anak berada pada ruangan sholat saat kami berjamaah.

Kami lebih memilih membentuk suasana Al Quran terlebih dahulu sebelum mengajarkan skill membaca Al Quran. Salah satunya dengan bercerita tentang kisah di Al-quran atau menyampaikan pesan-pesan Allah yang terkandung di dalamnya. Dalam urusan mengaji, mungkin kami terbilang “santai” dibanding keluarga muslim lain di Indonesia. Jadi teringat pengalaman bertahun-tahun menjadi guru Al-quran anak-anak saat di Indonesia, dimana para orang tua sangat bersemangat mengajarkan Iqro sejak usia 3 tahun, padahal anak “guru ngajinya” hanya ikut duduk disamping ibunda yang mengajar. Kami memilih untuk mulai intensif belajar mengaji di usia 5 tahun saat lidah anak-anak lebih fasih dalam mengucap makhrojul huruf, meskipun memperdengarkan Al Quran telah kami mulai sejak dalam kandungan. Mereka memang terlihat bebas bermain, namun mereka ada disekitar saya saat saya mengaji atau mengajar mengaji. Mereka baru mulai belajar skill membaca Al-quran saat mereka telah menunjukan minat dan kemampuannya. Sesekali anak saya yang 3 tahun meminta saya mengajarkannya mengaji ketika kakak-kakaknya tengah mengaji, namun saya hanya melatih pengucapan hijaiyah dengan mentalaqqi pengucapan makhrojul huruf yang tepat, tanpa memperlihatkan iqro kepadanya. Entahlah ini memang pilihan kami, untuk tidak terburu-buru memberikan pengajaran skill membaca Al-quran seperti pilihan kami untuk tidak terburu-buru mengajarkan skill membaca. Meskipun anak-anak tidak sepandai teman-teman seusianya yang sudah lebih dahulu pandai membaca, namun sejak di dalam kandungan mereka terbiasa dengan suasana membaca buku bersama dan setiap hari membaca buku menjadi agenda harian keluarga.

Melihat beberapa keluarga sangat tegas dalam pembiasaan agama sejak usia dini, mungkin kami terbilang “santai” tentang pembiasaan ini. Kami tidak menggunakan teknik hukuman dalam menegakan sholat kecuali yg sudah digariskan dalam syariat yaitu pada usia 10 tahun. Kami memilih untuk lebih banyak memberikan kisah kisah hikmah tentang nilai- nilai agama dibanding mengutamakan doktrin agama dalam melaksanakan ibadah harian. Kami sangat tidak setuju dengan aturan yang dianut beberapa keluarga muslim yang suka menjadikan tambahan ibadah harian sebagai salah satu bentuk hukuman bagi anak karena kami khawatir anak menjadi tidak suka dalam beribadah.

Memang kami juga memilih untuk tidak memfokuskan seorang anak memperdalam ilmu syariat sejak kecil, karena kami sangat terinspirasi dengan tokoh-tokoh muslim seperti Khawarizmi, Ibnu Sina dll, yang sangat menguasai ilmu agama dan menjadikan Al-Quran sebagai landasan mereka dalam menggali ilmu pengetahuan. Maka kami berusaha mengajarkan ilmu secara holistik tanpa memisahkan agama dan ilmu pengetahuan umum. Kami berusaha mengkaitkan semua pengetahuan umum yang mereka dapat dengan nilai-nilai ilahiah agar mereka bertambah keyakinan dan kecintaannya kepada Allah.

Terkadang orang salah berekspektasi tentang kondisi ibadah anak-anak kami, dengan keheranan mereka bertanya “anak ammah kiki juga belum bisa mengaji?”. Padahal sebagian ibu-ibu di Indonesia seperti kebakaran jenggot karena melihat balita lain sudah mulai belajar iqro. Malah saya yang jadi tersipu malu jika ditanya seperti itu.

Dulu waktu di Indonesia, kami memang membiasakan Shafiyah berhijab sejak balita. Di indonesia memang terbiasa melihat banyak orang berhijab. Sampai di USA, Shafiyah lebih kritis bertanya tentang hijab karena ia sering ditanya oleh teman-temannya. Jujur saja, sejak kami pindah ke USA saya sedikit mengendurkan tentang aturan berhijab sebelum Shafiyah masuk usia baligh. Tujuannya agar tidak muncul penolakan darinya saat ia memasuki usia wajib berhijab. Alhamdulilah ia masih komitmen berjilbab selama sekolah sebagai identitasnya, meski saya kini mengijinkannya membuka hijab saat ia merasa panas dengan berkata “iya nak sekarang boleh dibuka, tapi nanti kalau sudah baligh walau panas tetap dipake ya” dan Shafiyah menyepakatinya. Kami sering menjelaskan ulang pada Shafiyah bahwa hijab menjadi wajib untuk perempuan saat usia baligh, namun kami memilih untuk membelikan pakaian yang sopan dan tertutup untuk pembiasaan sejak kecil. Pernah suatu hari saya bertanya, karena khawatir Shafiyah merasa berbeda dengan teman-temannya di Amerika. “Teteh, sebenernya teteh ada perasaan pengen gak sih pakai baju “kelek” atau celana pendek diatas paha seperti temen-temen?” Alhamdulillah Shafiyah tidak memiliki selera tentang itu. “Iiiiih gak mau!” Katanya

Memang perjuangan kami untuk tetap istiqomah di Amerika tidak mudah. Apalagi anak-anak begitu kritis membandingkan realita kehidupan dengan materi agama yang kami tanamkan sebagai seorang muslim. Kalau sedang melihat kedzholiman di lingkungan sekitar, kami memang sering merefleksi kejadian bersama anak-anak bahwa “kita adalah muslim” dalam Islam hal itu dilarang. Ternyata efeknya mereka memiliki citra bahwa seorang muslim itu harus begini dan begitu. Timbullah kekritisan ketika mereka menemukan muslim yang tidak sesuai dalam bayangan mereka. “ummi, tante itu kan muslim tapi kenapa tante itu gak berjilbab kan wajib?” Contohnya. “Perintahnya wajib, tapi tante itu belum bisa melaksanakannya” jawab saya. “Ummi mereka begini mereka begitu, kalo kita muslim gak boleh kan?” Komentar mereka saat mereka melihat orang-orang Amerika yang berperilaku buruk. “Mereka gak ngerti, mereka gak tau, mereka gak diajarin, di Indonesia banyak juga muslim yang seperti itu kalo mereka gak diajarin yang baik” jawab saya yang sering khawatir jika mereka pulang ke Indonesia mereka akan melihat bahwa banyak wajah muslim yang jauh dari nilai-nilai yang mereka pelajari. Barangkali kalau mereka pulang ke Indonesia justru akan banyak bertanya “ummi mereka muslim tapi kok begini dan begitu” hehehe. Karena jujur saja, secara ketertiban, keadilan, penegakkan aturan, serta pemenuhan hak, kami lebih banyak melihat nilai-nilai Islam di terapkan di negeri ini dibanding Indonesia.

Dalam kehidupan kami di Amerika, saya selalu memberi pesan kepada anak-anak, bahwa keberadaan kita disini tidak hanya membawa nama baik diri dan keluarga, namun juga nama baik Islam dan bangsa Indonesia. Kami juga sangat yakin bahwa prestasi itu bukanlah milik suatu agama atau bangsa, tapi prestasi itu milik mereka yang mau berusaha. Alhamdulillah prestasi anak-anak pun menonjol di kelas, maka kami menanamkan pada mereka bahwa dengan prestasi itu kita turut membawa harum nama Islam dan bangsa Indonesia.

Ya inilah ikhtiar yang kami pilih, yang entah kapan ikhtiar ini bisa kami panen. Kami selalu minta petunjuk kepada Allah bagaimana agar kami tetap bisa istiqomah berIslam ditengah zaman yang sudah “wong edan” ini. Bukan saja di Amerika, tapi juga di Indonesia dan diseluruh belahan dunia, karena kita tengah memang hidup di akhir zaman.

Saya selalu ingat pesan syeikh Yasir Qodhi tentang tantangan mendidik dan mempertahankan identitas anak-anak muslim di Amerika. Beliau mengibaratkan bahwa kita berada pada sungai yang deras, jika kita tegak berdiri melawan arus kita akan mati, namun jika sepenuhnya mengikuti arus kita juga akan celaka. Jika terus mengarahkan badan menuju sebuah tujuan namun dengan berirama mengikuti arus, kita akan selamat. Insyaa Allah. Yang jelas, kami sangat percaya bahwa hati Anak ada dalam genggaman Allah sehingga kepada Allah lah kami meminta agar hati anak anak dicondongkan dalam kebaikan dan kegemaran beribadah. Kami begitu percaya bahwa tanpa banyak berkata mereka akan mendapat pelajaran dari ibadah yang orang tua lakukan. Ah…… maka diri ini sedang terus berusaha untuk memperbaiki shalat serta memperbaiki interaksi dengan Al-quran karena kami memang sadar ibadah kami masih jauh dari kesempurnaan sebagai teladan. Semoga Allah menjadikan keluarga kita sebagai pemeluk Islam yang kaffah. Aamiin

San Jose, California. 26 Juli 2014

Kiki Barkiah

We are Happy Helper

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Semakin hari kami semakin bersyukur atas pilihan pengasuhan anak yang minim televisi dan video games. Pilihan ini, tidak hanya menghidarkan mereka dari pengaruh buruk tayangan televisi, namun memberikan kesempatan mereka untuk berfikir, berimaginasi dan berkreasi untuk menciptakan aktifitas mereka sendiri. Bahkan ternyata, hal ini mampumenjadikan pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Mereka sering menyebut diri mereka sebagai “we are happy helpers”.

“Ummi we are boring, can we cook something? Can we make something? Can we help something?” Kata-kata yang sering keluar saat mereka sudah bosan bermain. Seandainya saya membebaskan mereka untuk menonton televisi atau bermain games di komputer, saya yakin pilihanya akan jatuh pada 2 aktifitas tersebut.

Anak-anak menganggap menyapu daun di halaman, menyiram tanaman, menyikat kamar mandi, memasak, membuat kue, mencuci jendela, menyikat karpet, menyedot debu di karpet, dan pekerjaan rumah lainnya sebagai bagian dari permainan mereka sehari-hari, asalkan mereka tidak dalam keadaan sangat lelah dan melakukannya secara bersama-sama. Terlebih jika mereka melakukan bersama ayahnya, mereka begitu riang gembira. Maka kehangatan pun semakin terbangun antara mereka dengan sang ayah. ” yeah sure! Came on guys! Lets do bla…bla…bla” jawaban yang sering keluar dari Ali sang pemimpin pasukan jika ummi memberikan pilihan ide kegiatan.

Namun suatu hari, mereka mencuci kamar mandi bukan dalam rangka perkejaan ekstra mengisi kekosongan waktu. Ini adalah salah satu “konsekuensi” yang harus dijalankan Ali akibat perbuatan isengnya bermain air dan membasahi semua lantai kamar mandi. Maklum, desain kamar mandi kami berlantai kering, hanya boleh basah pada area bath tub.

Dalam aturan rumah kami, setiap orang harus bertanggung jawab atas “hasil eksplorasinya”. Tanpa harus marah, kami hanya meminta setiap anak mengembalikan keadaan seperti semula. Apalagi jika terjadi hal yang dilakukan tanpa sengaja. Makanan terjatuh, bersihkan. Barang terjatuh, bereskan. Hanya saja, jika itu dilakukan oleh anak yang belum mampu bertanggung jawab, maka orang tua akan membantu dengan tetap melibatkan mereka selama penyelesaiannya tidak mengandung bahaya. Namun mulai usia 7 tahun, pembebanan mulai kami berlakukan, mau tidak mau, suka atau tidak suka pekerjaan harus dilaksanakan. Terkecuali jika benar-benar membutuhkan bantuan.

Namun ekplorasi Ali kali ini, dirasa tidak pada tempatnya. Mengingat usianya yang menginjak 11 tahun, rasanya kurang pas jika memilih ekplorasi dengan bermain air dan membasahi semua lantai kamar mandi tanpa memiliki tujuan. Akhirnya kami memilih untuk menggunakan teknik overcorrection dalam memberikan konsekuensi terhadapnya. Artinya, konsekuensi logis yang diberikan, sedikit ditambah porsinya. Ia tidak hanya diminta mengeringkan lantai, tetapi sekaligus membersihkan kamar mandi.

Namun serunya, saat Ali akan melaksanakan “konsekuensinya” dengan bersemangat ia mengajak adik-adiknya. “Hi guys come on! Lets clean the bathroom!”. Lalu prajurit setia Ali yang tidak tahu bahwa itu adalah “konsekuensi” istimewa untuk Ali, menyambut dengan hati riang untuk “bereksplorasi” bersama membersihkan kamar mandi. Dengan riang dan bersemangat, mereka membersihkan 2 kamar mandi di rumah.

“Wkwkwkwkwkwkwkwkwk” tawa saya dalam hati dan membiarkan ide kreatif Ali mengajak adik-adiknya. Lalu saat saya melapor pada ayahnya sebagai sang pemberi konsekuensi, sang ayah pun merespon “wkwkwkwkwkwkkwkwkwk” katanya.

San Jose, California. 23 Juli 2014

Kiki Barkiah

Pengasuhan Anti Stress dan Anti Marah-Marah Itu Ada Caranya

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Kala pagi tiba……

Ummi: “Standar pagi! Standar pagi! standar pagi!”

Beberapa saat kemudian….

Ummi: “Sudah selesai nak standar paginya?”

Atau sesekali mengingatkan kembali dengan berkata “Sudah sampai mana nak standar paginya?”

(Standar pagi: shalat subuh bagi yg wajib, berseka, gosok gigi, ganti baju, beresin kamar, sarapan, siap membawa perlengkapan sekolah bagi yang sekolah)

Setelah anak pergi sekolah, sebagian anak yang homeschooling mulai belajar

Saat pulang tiba…..

Ummi: “Standar pulang sekolah! Standar pulang sekolah!”

Beberapa saat kemudian….

Ummi: “Sudah selesai nak standar pulang sekolahnya?”

(Standar pulang sekolah: merapihkan semua peralatan sekolah yang dibawa, menyimpan lunch box ke tempat cuci piring, shalat dzuhur, lalu mengerjakan PR)

Terkadang anak tidak mudah langsung melaksanakan saat kali pertama diingatkan. Sampai-sampai saya memiliki kalimat favorit setiap hari : “Ali sudah sampai mana standarnya?” Karena jika tidak ada suara, biasanya Ali terhenti karena ia menemukan buku. Jika sudah membaca ia akan lupa dunia dan lupa semua tugas yang harus dilaksanakannya. Xixixixixi

Saat mereka meminta nonton film….

Ummi: “Sudah selesai semua syaratnya?”

(Syarat nonton: mengaji, menghafal quran, mengerjakan homework)

Saat mereka ingin jalan-jalan sore ke park….

Ummi: “Sudah beres semua mainannya?”

Saat kaget melihat rumah berantakan karena kegiatan ekslorasi….

Ummi: “Mmm…yang bakal ngepel siapa? Yang bakal beresin ini siapa?”
Biasanya mereka bilang “fiyuh….me!!”

Saat mendekati waktu bapak pulang…..

Ummi: “Waktu habis, bapak sebentar lagi pulang, ayo Aa pimpin ade-ade beresin mainannya!”

Saat melihat yang berserak…

Ummi: “Yang ini bekas siapa ya? Ayo tolong bereskan”

Saat waktu makan tiba….

Ummi: “Ali, Shafiyah! Pimpin adik-adik makan nak!”

Saat magrib tiba, saatnya halaqoh keluarga. Setelah berjamaah shalat, saatnya berbagi kisah dan memberi nasihat sampai adzan isya tiba. Biasanya selurus standar kegiatan sore telah selesai dilaksanakan sebelum magrib.

(Standar kegiatan sore: ekplorasi, outdoor activity, kerja bakti, lakukan tugas rumah sesuai tugasnya, mandi, makan malam)

Daftar tugas di rumah:

  1. Semua anak: beres-beres pasca bermain atau eksplorasi, lakukan yang bisa dilakukan, bantu yang bisa dibantu
  2. Ali 11 thn : loading dan unloading dishwasher yang sudah ummi bilas bersih, mengurus keperluan adik saat ummi menyusui
  3. Shafiyah 6.5 thn: baby sitting bayi selama saya memasak atau cuci piring, menyuapi faruq makan jika ingin disuapi
  4. Shiddiq 5 thn: menyiram tanaman bersama bapak, memasukan laundry ke mesin dryer
  5. Faruq 3 thn: memasukan mainan ke dalam box masing-masing, “garbage man”

Selepas isya, sebelum story time…..

Ummi: “Sudah selesai standar sebelum tidurnya?
Setelah terpenuhi semua syaratnya, cerita pengantar tidur pun dimulai

(Standar sebelum tidur: ganti baju, gosok gigi, b.a.k.)

Saat anak-anak merengek tantrum….

Ummi: “Silakan nak kalo mau nangis mojok dulu, nanti kalo sudah tenang bilang yang baik maunya apa ya?”

Saat terjadi salah paham di antara anak-anak….

Anak 1 mengadu: “Ummi bla bla bla bla…………..”

Ummi: “Silakan selesaikan sendiri dulu, kalo mentok baru ke ummi”
Anak 1 pun kembali lagi: “Ummi bla bla bla…….”

Anak 2 dipanggil…

Ummi: “ada apa?”

Anak 2: “Here is the story…bla..bla…bla”

Ummi: “Jadi solusinya apa?”

Anak 2: “Sorry….”

Baru setelah itu ummi menambahkan nasihat singkat.

Saat perkelahian fisik antar balita terjadi….

Ummi: “Tahan amarah! Tahan amarah! Tahan amarah!”

Anak digendong, dipisahkan kesudut yang berbeda

Ummi: “Kalau sudah tenang silahkan cerita!”

Setelah tenang…..

ummi: “Ada apa tadi?”

Lalu mereka mulai bercerita: “Here is the story…bla….bla…bla”

Baru setelah itu ummi membantu memberi solusi.

Beberapa jargon untuk memberi peringatan yang sering saya gunakan dirumah:

“Use your word please!”

“Be gentle, please!”

“Use inside voice, please!”

“Be nice, please!”

“Say sorry, please!”

“Talk nicely, please!”

“That’s not polite!”

“That’s not allowed!”

“That’s not acceptable!”

Saya percaya anak bisa diajak kerjasama, anak mampu diajak berencana. Ketika anak mengetahui standar kegiatan hariannya, orang tua tidak akan terlalu “heboh” dalam mengurusnya. Namun karena anak bukan robot, terkadang ada hal yang terjadi diluar rencana. Namun tentunya tetap lebih baik daripada hidup yang dilaksanakan tanpa perencanan. Ajak anak mengetahui harapan kita sebelum memberikan tuntutan pada mereka sehingga kita tidak perlu cerewet, terhidar dari stress, apalagi marah-marah.#sayabukanlahsupermomsayahanyalahibuyangberusahamenjadikankeluarganyasebagaisuperteam

San Jose, California. 16 Juli 2014

Kiki Barkiah