Hikmah itu Barang yang Hilang Milik Orang Beriman

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Saya selalu berusaha sebanyak-banyaknya menangkap hikmah dibalik setiap kegiatan yang kami lewati untuk membantu anak-anak semakin mengenal Allah, mengenal Islam, memperkuat akidah, meningkatkan motivasi dalam beribadah, membentuk ahlakul karimah, serta meningkatkan kecerdasan emosi dan intelektual.

Kegiatan ini mungkin terlihat sederhana, memetik buah dari pohon bersama-sama. Namun kegiatan sederhana ini menjadi kegiatan pengantar “family halaqoh” kami saat ba’da maghrib. Dalam homeschooling kami, kegiatan art and craft atau proyek lainnya bisa menjadi kegiatan pengantar mata pelajaran agama dan karakter. Saya memilih untuk membuat kegiatan hand on learning yang menyenangkan sebagai pembuka materi agama dan karakter karena saya percaya otak mereka akan semakin siap untuk menerima nasihat yang akan saya sampaikan.

Dari kegiatan memetik buah kali ini, kami punya kesempatan menyampaikan materi “Allah sang Pemberi Rezeki”. Banyak materi berkembang saat diskusi dengan anak-anak ketika halaqoh. Awalnya saya hanya ingin menyampaikan materi tentang karunia Allah berupa buah-buahan, pahala menanam pohon, bagaimana cara bersyukur terhadap pemberian Allah, memotivasi mereka untuk berkomunikasi dan berterima kasih pada Allah dengan shalat dan tilawah. Namun pertanyaan bersahutan muncul dari anak-anak. “Ummi apakah buah ini halal?” “Ummi apakah Allah itu makan?” “Ummi kalo ditanamnya sama bukan muslim pahalanya gimana?” “Ummi kalo kita memberi sama orang yang bukan muslim bagaimana?” Pertanyaan mereka selalu membuat saya semakin bergairah untuk mendongengkan kisah-kisah hikmah baik dari Al-quran, sirah ataupun kejadian kontemporer.

Materi pun semakin kaya dengan tambahan sirah tentang pemuda yang menemukan apel di sungai lalu meminta keihlasan sang pemilik apel, kisah tentang gadis London yang dilindungi Allah karena dzikir Al-quran, dan masih banyak lagi tambahan diskusi kami yang membuat halaqoh sangat seru.

Dimanapun, kapanpun, dirumah, di perjalanan, di alam bebas, saya selalu berusaha mengkaitkan apa yang dialami anak-anak dengan nilai-nilai ilahiah. Karena saya ingin mereka memahami bahwa Islam itu ada disetiap sendi kehidupan dan mengingat Allah itu dapat dilakukan setiap saat, tidak hanya di masjid, tidak hanya saat shalat, tilawah, zakat, shaum, dan haji saja. Dan saya begitu ingin setiap kejadian yang mereka alami, manis ataupun pahit, susah ataupun senang, lapang ataupun sempit menjadikan mereka semakin bertakwa kepada Allah.

San Jose, California. 10 Juni 2014

Kiki Barkiah

Advertisements

One Reply to “Hikmah itu Barang yang Hilang Milik Orang Beriman”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s