Wahai Anakku, Inilah Pesan Ummi Tentang Hakikat Belajar

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Suatu hari saya mengajar homeschooling dalam sesi pengetahuan umum. Tema yang diangkat minggu tersebut adalah semua hal yang berkaitan dengan bumi dan lingkungan. Saat itu saya sedang menyampaikan konsep mengenai mengapa es di belahan kutub terus mencair. Dalam homeschooling kami, setiap minggu mengangkat tema tertentu untuk dibahas. Meskipun ilmunya dikatakan berlevel “tinggi” namun dengan proses penyampaian kreatif, anak-anak saya alhamdulillah tetap dapat mengambil sebuah pelajaran meskipun berbeda penekanan bagi setiap level usia anak.

Saat itu saya menyampaikan tentang kondisi bumi yang semakin memanas yang menyebabkan es di kutub mencair dan membuat air laut semakin tinggi serta daratan semakin sempit. Hal ini salah satunya disebabkan oleh adanya lapisan gas yang disebut efek rumah kaca yang diakibatkan oleh berbagai polusi yang dibuat oleh manusia. Tentu saja materi ini akan sulit diterima balita jika disampaikan dengan gaya pengajaran biasa. Saya membuat drama singkat dalam setiap penyampaian materi seperti berperilaku sebagai pohon yang merasa kesulitan membersihkan udara. Kami membuat simulasi es mencair yang membuat air laut menjadi naik dan daratan sempit. Kami bermain role playing diatas kasur yang menggambarkan daratan yang semakin sempit jika air laut terus meninggi. Kami bermain simulasi bumi yang terus menerus membuat landfill untuk mengubur sampah. selain itu, berbagai pertanyaan pun dilempar untuk membangun sebuah diskusi. Begitulah kira-kira suasana sekolah dirumah kami, yang terkadang berlangsung diatas tempat tidur.

Ummi “aaaa…. Bagaimana ini? Tempat tinggal kita terus semakin sempit kalo air terus menerus naik. Kira-kira apa ya solusinya?”
Shiddiq 4.5y: “ooooo i know! we have to make a hotel ship!”
Ummi : “hotel ship? Subhanallah bagus itu”
Lalu Shiddiq bercerita tentang imajinasinya selama hampir 5 menit sampai-sampai kakaknya Shafiyah 6y protes karena tidak mendapat giliran berbicara.

Shafiyah : “Shiddiq, your story is too long, this is my turn!”

Kemudian Shafiyah pun bercerita tentang keinginannya membuat rumah yang mengapung di air.

Sesi pelajaran ditutup dengan drama pembangunan landfill terus menerus dan cerita bahwa 1 hari pembuangan sampah di kota New York bisa mengisi Empire State Building dengan sampah, kemudian saya bertanya

“Jadi apa dong solusinya biar landfill nya gak bikin tempat tinggal manusia makin sempit?”

Shafiyah: “harus kurangi buang sampah”

Shiddiq: “ya that’s why we make art and craft with trash!”

Wahai anakku…..

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan. Juga teringat sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya (amalnya tidak semakin baik), maka ia hanya akan semakin jauh dari Allah.” (HR ad-Darimi).

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah. Sebuah tambahan pengetahuan yang membuat kalian semakin merasa kerdil dihadapan Allah, sehingga dengannya kalian semakin tunduk dan khusuk dalam beribadah kepada Allah. Sebuah tambahan ilmu yang menumbuhkan kepekaan diri terhadap sebuah masalah, sehingga dengannya muncul kecerdasan sosial dalam diri kalian untuk mengambil sebuah peran kekhalifahan dalam kehidupan. Sebuah tambahan informasi yang berbuah keluhuran moral, sehingga dengannya bertambah derajat kalian di sisi Allah. Sebuah tambahan pengetahuan yang meningkatkan kualitas kinerja dalam profesi yang kalian emban, sehingga dengannya keberkahan mengalir dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Sebuah pembelajaran yang mampu memicu perubahan dalam diri kalian, sehingga dengannya kalian bersemangat melakukan perubahan sosial. Sebuah tambahan bekal kehidupan yang membuat kalian dapat hidup lebih bermartabat dalam sebuah peradaban, sehingga dengannya engkau bersemangat membangun peradaban yang bersendikan bilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Wahai anakku….

Ummi tidak memaksa kalian harus pandai matematika atau IPA, karena begitu banyak pilihan bagi kalian dalam mengambil peran kekhalifahan. Seandainya kalian suka matematika, ummi tidak akan menghabiskan kapasitas otakmu dengan skill berhitung cara cepat, sehingga kalian harus kursus ini itu yang mengurangi jadwal kalian bermain. Tenang saja anakku, berhitung cepat itu bisa dibantu kalkulator. Ummi lebih suka kalian mengasah logika matematika dengan memprogram gerakan robot atau membuat programming games. Ummi tidak memaksa kalian harus bisa membaca sebelum sd yang membuat kamu merasa terpaksa sehingga kelak membenci buku. Ummi hanya ingin kalian suka membaca meski saat ini masih dibacakan atau sekedar presentasi dari gambar. Karena kelak buku yang akan membantu ummi membimbing kalian dalam proses belajar seperti yang ummi harapkan diatas. Harapan ummi diatas juga tidak berarti bahwa kau harus meraih nilai ujian yang tinggi dan rapot yang membanggakan, sehingga kau tidak perlu repot-repot mencontek saat ujian atau membeli kunci jawaban soal. Seandainya engkau membawa pulang angka-angka 90 atau 100, maka ummi sangat bahagia asalkan itu kau raih dengan kejujuran. Memang betul, ummi meyodorkan berjuta buku dimasa kecil kalian, tapi kita tidak pernah kurang waktu untuk bermain kan? karena ummi pun senang bermain bersama kalian. Ummi juga tidak meminta kalian menghafal sejuta isi buku yang ummi berikan. Ummi hanya ingin kalian menjadi manusia pembelajar yang menjadikan “membaca” sebagai amalan harian kalian sebagaimana wahyu pertama dari Allah kepada Rasulullah adalah “Iqro!!!”. Jika kalian sudah cinta belajar dan belajar setiap saat, maka kalian tidak perlu repot-repot menghadapi ujian dengan SKS atau sistem kebut semalam yang membuat ilmu itu cepat hilang saat selesai ujian. Jangan seperti ummi ya nak, yang meraih sekolah favorit dan rapot yang baik sampai dapat ijazah sarjana di kampus yang baik namun membayar semuanya dengan sistem kebut semalam. Mengapa? karena nyaris semua ilmu itu hilang setelah melahirkan kalian hahahahaha. Ah…. ummi jadi teringat konflik bersama Ali beberapa tahun lalu. Ali yang sangat cinta belajar dan cinta ilmu itu TIDAK MAU BERSEKOLAH meski ia memborong semua piala olimpiade di sekolah. Seperti petir menggelegar terdengar di telinga saat ia menjelaskan kalau ia bosan bersekolah, padahal sekolah tersebut adalah sekolah yang sangat baik di kota kami. ummi katakan pada ali bahwa ummi tau kamu suka belajar, ummi tau ijazah itu bukan segala-galanya. Namun dengan ijazah begitu banyak peluang kebaikan yang terbuka. Ummi katakan saat itu kalau memang kamu tidak mau sekolah silahkan tapi kamu harus siap untuk hidup tanpa ijazah. artinya, kamu harus bekerja keras untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Akhirnya Ali setuju saat ummi menawarkan homeschooling dan ikut ujian paket, sampai akhirnya ummi dan bapak mendirikan sekolah di Batam. Sekolah yang memberi ruang bagimu untuk belajar sesuai keinginanmu. Bagi ummi kalian boleh belajar apa saja yang kalian mau namun karena kita hidup di planet bumi, maka ikutilah aturan negara dimana kalian tinggal saat ini. Pinta ummi, tetaplah kalian belajar materi apa yang akan diujikan untuk bisa mendapat ijazah itu walau terpaksa sedikit menghafal. Bagi ummi menggigit konsep itu lebih penting, menghafal itu tidak perlu kecuali menghafal Al-Quran, karena dalam dunia nyata kamu bisa mencotek “manual book” saat kalian memecahkan persoalan. Namun karena ummi bukan menteri pendidikan, mau tidak mau kalian harus berdamai dengan aturan yang ada, mau tidak mau kalian harus belajar menghadapi ujian nasional. Pesan ummi, gigitlah konsep ilmu, sehingga jika ada 70 soal turunan dari sebuah konsep dan 30 soal hafalan, minimal angka 70 sudah cukup untuk membuatmu meraih ijazah. Kalau suatu hari ada anak ummi yang jadi menteri pendidikan, hapuskan saja ujian nasional nak! hapuskan saja ujian naik kelas nak! ganti dengan tugas membuat proyek dan mempresentasikannya, sehingga tanpa ujianpun sang guru sudah tau bahwa anak sudah belajar. Karena bagi ummi, saat kalian berhasil membuat proyek, proses itu pasti akan memaksa kalian untu belajar dan mengerti. Itulah mengapa setiap hari kita “ngulik”, masak bersama, membuat art and craft, atau percobaan science. Bukan berarti kamu harus jadi cheft, atau pengrajin lho…… Ummi hanya ingin menumbuhkan budaya berkaya sejak kalian kecil. Harapan ummi sejalan dengan ilmu yang kalian terima, kelak kalian akan membuat sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. terakhir pesan ummi, ingatlah sebuah kalimat ini, kalimat ini dibuat olah uwa kalian mohammad ibrahim yang sangat gemar belajar saat ia berusia remaja. LIFE for STUDY and STUDY for LIFE. Hanya saja ummi tambahkan “and that’s all for Allah”

Nb:
Maaf ya ini mah prinsip yang dianut keluarga saya, kalo dirasa terlalu ekstrim gak usah diikutin hehe.

Referensi:
 Why are the ice caps melting? Anne Rockwell
 Tulisan tentang "hakikat belajar" oleh Muhbib Abdul Wahab

 

San Jose, California. 24 April 2014

Kiki Barkiah

Advertisements

2 Replies to “Wahai Anakku, Inilah Pesan Ummi Tentang Hakikat Belajar”

  1. Subhanalloh..
    Konsep ilmu yang Alloh janjikan akan ditinggikan derajatnya dijelaskan dengan cerita pengajaran pada anak melalui homescholling. jazakillah teh
    Alloh tinggikan derajatmu, derajat anak2mu dan derajat kami yang membaca Aamiiin ya Rahmaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s