“SAY NO!, GET AWAY, YELL, and TELL SOMEONE”

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Membaca curhatan seorang bunda yang anaknya baru saja mengalami pelecehan seksual di sekolahnya membuat saya begitu sedih melihat generasi muda indonesia saat ini. Kemajuan teknologi informasi hampir membuat hilangnya istilah budaya barat dan timur. Begitu banyak hal positif yang bisa kita contoh dari kemajuan budaya barat, namun sayangnya justru hal yang negatif yang lebih banyak diserap remaja indonesia. Dahulu, pembicaraan seputar seks mungkin sangat tabu. Kalaupun ada, hanya mulai dibahas ketika anak menjelang dewasa atau bahkan sebelum menikah. Namun melihat kenyataan bahwa penyimpangan seksual begitu mulai merajalela bahkan korbannya adalah anak-anak, maka masyarakat kini mulai lebih tanggap untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini. Di USA, pendidikan seks masuk dalam kurikulum sekolah. Namun cara pandang mereka dalam mengajarkan hal ini lebih pada “apa dan bagaimana” bahkan sekedar “bagaimana agar aman dan sehat”. Parahnya, penyampaian ilmu “bagaimana” begitu lugas disampaikan bahkan terkadang disertai dengan ilustrasi yang sesungguhnya. Sangat jauh berbeda dengan bagaimana Islam memandang tentang pendidikan seksual. Teringat seminar pendidikan seksual dalam pandangan Islam yang saya ikuti beberapa tahun yang lalu. Maka saya tidak pernah menunggu anak-anak dewasa untuk memulai komunikasi tersebut, karena sejatinya dalam pandangan Islam, pendidikan seks adalah pendidikan tentang bagaimana manusia menjaga fitrahnya sesuai dengan jenis kelamin yang Allah karuniakan. Beberapa catatan konsep yang saya dapat dalam seminar tersebut, diantaranya adalah:

  1. Mengajarkan anak tentang konsep aurat, termasuk catatan penting bahwa aurat tidak boleh dilihat dan disentuh
  2. Meminta ijin masuk kamar orang tua di 3 waktu bagi anak yang belum baligh
  3. Meminta ijin masuk kamar orang tua bagi anak yang sudah baligh
  4. Konsep baligh, tanda dan konsekuensi
  5. Memisahkan tempat tidur anak di usia 10 tahun
  6. Menjaga pandangan dan interaksi lawan jenis
  7. Menikah dalam pandangan Islam
  8. Serta meningkatkan kewaspadaan anak tentang kasus kasus penyimpangan seksual yang terjadi di sekitar lingkungan

Beberapa materi ini saya sampaikan ke anak-anak dengan beberapa tahapan dan dengan banyak metode. Tentunya disesuaikan dengan usia dan perkembangan pola pikir anak. Salah satu metode yang paling efektif adalah memanfaatkan golden opportunity. Dialog akan lebih efektif ketika diawali dengan pertanyaan atau pernyataan anak, terjadinya peristiwa, atau melalui dongeng pengantar. Sejalan dengan perkembangan usia, pembahasan saya mengenai point-point tersebut semakin dalam dan berkembang terhadap anak saya Ali (10y). Penanaman pemahaman terhadap anak pertama yang terus berusaha diterapkan dalam keseharian, bagi saya sangat mempermudah dalam penyampaian kepada anak-anak saya selanjutnya. Alhamdulillah di usia Ali yang 10 tahun, dialog dari kesemua point diatas sudah saya mulai. Kebingungan mulai saya temukan untuk memberi pengertian kepada anak perempuan saya Shafiyah (6y) untuk point kedelapan. Saya merasa perlu membekalinya tentang hal ini, terutama karena Shafiyah anak perempuan, terlebih karena kami tinggal di USA saat ini. Tinggal di california dimana pernikahan sejenis dan aborsi dilegalkan, apalagi seks tanpa pernikahan, mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Alhamdulillah, atas “peringatan” dari peristiwa bunda yang curhat siang tadi, saya punya momentum untuk membuka pembicaraan bersama Shafiyah (6y) dan Shiddiq (4y). Sebuah buku berjudul No-No the litle seal” menjadi pengantar dialog kami tentang pelecahan seksual. Buku ini mengisahkan tentang singa laut kecil yang ditinggal orang tuanya untuk berburu ikan. Selama orang tua pergi no-no dititpkan oleh seorang pamannya. Pamannya melakukan pelecehan kepada No-no dengan memeluknya dengan cara yang tidak biasa serta menyentuh area privasinya. Dengan mengumpulkan kekuatan, akhirnya no-no berhasil menceritakan semua kejadian menakutkan yang dialaminya kepada orang tuanya, meski awalnya sang paman menegaskan bahwa kejadian tersebut adalah rahasia diantara mereka.

“You have many special right-the right to say NO, to get away, to yell, and to tell someone” “SAY NO!, GET AWAY, YELL, and TELL SOMEONE” itulah point yang berulang-ulang ditekankan pada anak-anak ketika berdialog tentang hal ini.

Alhamdulillah, lega sekali rasanya telah diberi kesempatan oleh Allah untuk membuka komunikasi ini. Bahkan pembicaraan berlanjut pada kemungkinan-kemungkinan kasus lain seperti diminta membuka aurat, diminta membuka hijab, dipeluk lawan jenis dll. Pembicaraan berkembang salah satunya karena Shiddiq 4y begitu kritis bertanya banyak hal. Setelah ikhtiar ini, saya serahkan kepada Allah dengan memohon penjagaan yang sesungguhnya dari Sang Pemilik anak-anak, sambil terus berikhtiar memantau lingkungannya baik di rumah, sekolah, maupun komunitas lainnya. Salah satunya untuk terus berusaha mendorong stroller bayi dan 2 balita, berjalan kaki menuju bus stop setiap hari tepat waktu, tidak terlambat.

San Jose, California 17 Februari 2014

Kiki Barkiah


Image

Cover image from “No-No the Little Seal”, ISBN 0394880544

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s