Wahai Anakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda!

Hidup memang pilihan, dan setiap pilihan memuat konsekuensi tersendiri. Terkadang sebagai orang tua, saya memilih harus menjadi berbeda dengan pilihan kebanyakan orang, terutama dalam memilih semua hal yang berkontribusi dalam membangun pola pikir dan pola sikap anak-anak. Memang kadang menjadi berbeda itu melawan kenyamanan, hanya saja saya selalu teringat bahwa kelak di yaumul akhir kita akan ditanya dan menjawab sendirian. Begitu pula saya akan mempertanggungjawabkan peran saya sebagai orang tua.

Wahai anakku…… tidak apa-apa ya kita sedikit berbeda, tapi kita masih bisa bersatu untuk beberapa hal yang sama.

Ali (10 y) memang merasa “gak nyambung” mendengar pembicaraan teman-teman di school bus yang bercerita tentang games-games popular di kalangan mereka. Ali memang tidak bermain pattlefield 4 atau call of duty, games peperangan yang tengah populer. Apalagi GTA, games rating dewasa yang menembus pasar Indonesia, yang menjadi favorit anak-anak Indonesia yang hobi “nongkrong” di warnet. “Tidak apa-apa ya nak…. Kita sedikit berbeda”. Namun saya memfasilitasinya untuk beberapa games yang bersifat ” mendesain” seperti lego desainer, belajar visual programming untuk anak-anak, atau membuat program untuk Lego Robotic.

Seandainya teman-temannya tahu bahwa Ali masih suka menonton film edukasi di pbskids, mungkin mereka akan tertawa.
Tidak apa-apa nak ….. jika mereka menganggapmu masih anak kecil. Tapi bagi ummi, Ali tidak begitu. Ali mencuci dan melipat pakaian sendiri setiap minggu. Membantu saya masak atau menyiapkan sarapan saat saya terbaring sakit. Mengasuh adik-adik. Membuat art and craft dan science project untuk mainan adiknya. Mengajari adiknya baca. Bahkan sesekali membantu memandikan adiknya.

“Tidak apa-apa ya nak….. kita sedikit berbeda” Tapi kita masih bisa duduk bersama di kelas, membuat project sekolah, mendiskusikan pelajaran, atau bermain bola saat reses.

Ali memang tidak tahu isi cerita novel fiksi yang populer. Tidak tahu bagaimana isi cerita Harry Potter. Saya memang memilih mengembangkan imajinasi anak-anak dengan cara yang berbeda. Saya beri mereka sampah plastik dan lego, lalu mereka berkreasi mengembangkan imajinasi untuk membuat berbagai kreasi lego, art and craft dan science project. “Tidak apa ya nak….. kita sedikit berbeda”. Meskipun Ali tidak “gaul” dengan cerita yang kini tengah populer, tapi saya tahu Ali senang mengikuti sirah Rasul berseri di you tube yang dibawakan oleh syekh Yasir Qodhi. Ali memang tidak punya pacar, tapi saya tau ia begitu sayang dan melindungi Shafiyah. Bahkan ia pernah mengorbankan sekolahnya karena ditinggal school bus, saat Shafiyah menangis duduk di pinggir jalan tidak mau berangkat sekolah.

Shafiyah (6y) memang tidak tahu cerita film Princess yang karakternya banyak dicetak di berbagai barang anak-anak. Sehingga ia juga tidak mengerti arti cinta kepada sang pangeran. Tapi Shafiyah sering menulis surat cinta kepada saya yang bertuliskan “i love you mom”. Saya juga tidak meragukan rasa cinta dan kepeduliannya kepada saudara. Sering menyuapi Faruq makan tanpa saya minta. Melerai dan mencarikan solusi saat kedua adiknya berebut mainan tanpa memanggil saya untuk turun menyelesaikannya. Serta berbagai sifat keibuan lainnya yang melekat pada gadis polos berumur 6 tahun.

Saya pernah melihat ia hanya tersenyum saat bermain bouncing disaat anak-anak lain seumurnya menyanyikan lagu yang sama sambil berteriak. Ia tersenyum karena tidak tahu itu lagu apa. “Tak apa ya nak kita sedikit berbeda….. ” Meskipun begitu shafiyah tetap bisa melompat di bouncer dan berbahagia. Saya memang senang menyanyi dan membuat nasyid, namun saya lebih memilih mengasah otak kanan anak dengan Al-quran dibanding lagu. “Tidak apa nak kamu tidak banyak hafal lagu…..Karena ummi lebih ingin memory otakmu diisi oleh hafalan ayat Al-quran”

Shafiyah memang berpakaian berbeda dengan hijabnya. Ia adalah satu-satunya siswa di sekolah yang berhijab. Namun perbedaan tidak menghalanginya untuk bersikap baik terhadap teman, bahkan ia pernah mendapat penghargaan dari sekolah karena sikap baiknya terhadap teman.

Shiddiq (4.5y) dan faruq (2.5y) memang tidak tahu cerita film super hero yang populer. Tidak tau siapa itu ben 10, Naruto, Spiderman atau karakter super hero lainnya. Mereka hanya tahu namanya dari berbagai barang pemberian kerabat yang memuat gambar karakter super hero. Tapi mereka pernah berteriak girang “aaaaaaa… Ayo mi cerita lagi!!!!” saat saya selesai mendongeng kisah nabi dan sahabat sambil membuat ilustrasi drama singkat agar kisah semakin seru. Berangkat dari satu kisah, berbagai pertanyaan sering Shiddiq ajukan seputar islam dan kehidupan, yang membuat saya begitu bergairah menceritakan konsep islam lainnya. ” ummi gimana sih Al-quran itu diturunin Allah?” “Ummi kenapa sih Allah menciptakan syaitan?”

Mereka memang tetap memiliki film dan karakter favorit layaknya anak-anak. Namun hanya film yang bernuansa pendidikan dan character building yang saya ijinkan. Saat mereka menonton film franklin, daniel tiger, cailliou, dan brainstains bear adalah saat yang tepat bagi saya berdiskusi tentang nilai-nilai kehidupan. Beberapa film bahkan membantu saya untuk membangun kebiasaan baik dalam diri anak-anak. Saya begitu sangat bahagia, di usia Faruq yang 2.5 tahun, ia sering membantu pekerjaan rumah seperti yang dicontohkan daniel tiger. “I’m done ummi!!!” Faruq berlari mengabarkan bahwa ia telah selesai merapihkan mainan. Masya Allah, karpet pun kembali rapi karena ia tau dimana ia harus menaruh kembali mainannya. “Tak apa ya nak kita sedikit berbeda……” Namun kita masih bisa duduk untuk bermain mobil-mobilan atau meluncur di perosotan yang sama.

Perbedaan menjadikan kehidupan begitu berwarna. Bahkan demi kebaikan, kita dituntut untuk membuat pilihan yang berbeda. Namun berbeda itu tidak berarti terasing, karena kita masih bisa tetap bersama untuk beberapa hal yang sama-sama kita sepakati. Berdamailah dengan perbedaan, dan bersatulah dalam persamaan. Meski terkadang kita menemui kondisi dimana kita harus tegas berkata “hidupku adalah hidupku dan hidupmu adalah hidupmu” dan kelak kita akan sama-sama mempertanggungjawabkannya.


San Jose, California 1 April 2014

Advertisements

3 Replies to “Wahai Anakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda!”

  1. Hi ummi salam kenal saya dari indonesia dengan putri umur 1.5 tahun sangat takut akan kehidupan anak saya ke depannya.. mau tanya dmn bisa mendapatkan film franklin, daniel tiger, cailliou, dan brainstains bear?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s