Memiliki balita 2 tahun itu sesuatu banget deh!

Setelah beres homeschool dan bayi tertidur, barulah saya bisa mulai bekerja di dapur. Shiddiq (4y) dan Faruq (2.5y) tengah mengikuti kegiatan bermain mandiri. Saat itu mereka memilih membangun rel kereta api bersama.

Segera saya matikan keran cuci piring saat mendengar “buk!!” “Whoaaaaaaaaaaaa”.
Terlihat Shiddiq dengan kemarahan yang agresif terus menyerang Faruq yang sedang menangis.
Ummi: “Faruq lari sini sama ummi!”

Faruq berlari menuju saya untuk minta pertolongan. Ia tahu bahwa yang biasa saya lakukan saat terjadi perkelahian adalah membuat rasa aman sang korban dengan memeluknya.

Ummi: “Ada apa sayang kenapa Shiddiq pukul Faruq?”
Sambil marah Shiddiq menjelaskan dengan kesal bahwa kereta apinya direbut Faruq.

Faruq: “Shiddiqnya….. whoaaaa pukul Faruq”
Ummi: “hooooo ummi tau Shiddiq pasti kesel ya…. abang Faruq mau pinjam ya? Sudah ijin belum?”
Shiddiq: “ggggrh….dia gak ijin langsung rebut-rebut!” (dengan ekspresi marah)
Ummi: “Faruq lupa minta ijin ya? Lain kali harus ijin dulu itukan punya abang Shiddiq”

Ummi: “Shiddiq, ummi tau Shiddiq marah, tapi Shiddiq gak boleh kasar, Shiddiq harus bilang yang baik sama adek, kalo gak bisa bilangnya, bilang sama ummi, nanti ummi yang bantu”

Ummi: “ayo faruq, balikin keretanya abang! Faruq ambil yg truck aja ya”

Faruq: “gak mau!!!”

Perkelahian kembali terjadi. Saya sudah berusaha mengalihkan Faruq dengan menawarkan barang lain tapi tidak berhasil. Di rumah kami tidak berlaku bahwa anak yang besar harus selalu mengalah. Siapa yang berhak maka harus mengambil haknya kecuali bila mengikhlaskannya.
Ummi: “kalo sudah begini, ummi bingung. Masalahnya gak akan beres kalo gak ada yg mau ngalah. Siapa skrg yg mau ngalah?”

Shiddiq: “okelah Shiddiq aja yg ngalah”
Ummi: “makasih abang…. bang baik banget sama adek” sambil meluk dan mencium.

Melihat seperti ini…

Faruq:”okelah auk ngalah, nih! Auk mau dipeluk juga”
Hahahahaha akhirnya semua mengalah, dipeluk, dicium, dan semua dialihkan dengan permainan baru saja.

Kejadian seperti ini sering sekali terjadi. Maklum, balita 2 tahun belum terlalu mengerti batasan kepemilikan. Perkelahian sering terjadi karena mereka berfikir “barangku adalah milikku dan barangmu adalah milikku juga”. Butuh kesabaran dan keistiqomahan untuk mengajarkan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Sekalipun berkali-kali kita menyampaikan, kejadian ini akan sering berulang. Anak-anak memang sering tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Bentuk frustasi dan kekesalan mereka akhirnya dilampiaskan dalam bentuk kemarahan. Kita perlu membantu mereka untuk belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. “please, use your word and tell me what you feel”

Berikut kutipan ilmu yang saya dapat dari buku parenting “good Housekeeping”:

Perilaku anak anda di usia preschool tidak bisa dikontrol sepenuhnya, namun dengan melihat kemungkinan yang akan terjadi berbagai masalah bisa dihindari. Apa yang mereka inginkan dari kita adalah lingkungan yang nyaman dimana perilaku baik bisa berkembang. Kita perlu menerapkan rutinitas yang akan membantu mereka tetap pada jalurnya, hindari hal yang akan memicu masalah. Lakukan komunikasi yang jelas dan hangat sehingga membuat mereka mengerti posisi mereka dan apa yang kita harapkan dari mereka.
Semoga Allah selalu memberi petunjuk bagi pikiran, lisan, hati dan perilaku kita untuk memilih langkah yang tepat dalam meluruskan perilaku anak-anak kita serta memuat lingkungan hangat penuh cinta yang memberi tempat bagi tumbuhnya perilaku baik dan bukan sebaliknya.

San Jose, California 18 Februari 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s