Kehadiran Adik Bayi Baru Memang Tidak Mudah

Saat saya sedang membutuhkan fokus merawat bayi seperti mengganti popok atau menyusui bayi, faruq (2.5y) sering memulai aksi jahil mengganggu sang bayi. Dari mulai mencium dan memeluk dengan gemas, mencubit, melempar barang, melompat-lompat disamping bayi yang sedang diganti popoknya, atau bahkan sengaja melepaskan mulut bayi dari puting susu kemudian mengganggunya. Faruq melakukan semua itu dengan tertawa dan menatap saya dengan menantang atas respon yang akan saya pilih dalam menghadapi sikapnya. Semakin dilarang, semakin penasaran, semakin tinggi kualitas “godaan” yang dilakukannya.

Suatu hari…… Faruq mencium bayi dengan gemas. Ummi: “ooo faruq sayang adek ya, ciumnya pelan ya”. Ia menggoda adeknya lagi, saya berusaha menjauhkan sang bayi dari bahaya

Ummi: adek gak nyaman bang kayaknya, tuh dia nangis, gentle please!

Faruq kemudian mencubit

Ummi : adik sakit nak dicubit (sambil memisahkan abangnya dari adiknya)

Ummi mencoba mengalihkan dengan melibatkannya mengurus bayi, tidak berhasil, lalu dengan mainan, tetap tidak berhasil. Faruq masih terus mengganggu dan semakin kasar. Kami punya peraturan dirumah, yaitu “siapa yang membuat orang lain tidak aman harus dipisahkan sementara”.

Ummi:” abang ummi pisahkan dulu ya, karena bikin adek gak aman”

Saya pisahkan faruq ke sudut ruangan, namun ia masih terus jahil mengganggu adiknya dengan agresif sambil terus tertawa. Lalu saya berlari memisahkan diri pindah ke kamar lain dan mengunci diri. Saya juga butuh menenangkan diri untuk tetap jernih berfikir sebelum bertindak. Faruq menangis karena merasa ditinggalkan.

Faruq: “Ummi…ummi…..buka!!”

Ummi: “adek takut…ummi juga takut, dia ingin nyusu tapi gak suka diganggu”

Faruq: “ummi…… auk janji…….”

Ummi: “faruq mau janji gak ganggu adek lagi?”

Faruq “iaaa…”

Saya membuka pintu, kemudian memeluknya, dan bertanya

Ummi: “Abang kenapa sih? kok ganggu adek? sebenernya abang itu lagi pengen apa?”

Faruq: “pengen susu…….”

Shiddiq: “makanya…. kalo mau sesuatu itu bilangnya pake mulut jangan pake tangan….”

Ummi: “ia… abang kan tinggal bilang aja kalo mau susu, yuk kita bikin susu”

Saya mengerti, memiliki saudara baru itu tidak mudah bagi seorang anak. Meskipun jauh-jauh hari telah menyiapkan dengan berbagai pengertian baik lewat cerita maupun buku, kenyataannya tidak mudah diterima oleh seorang anak. Kecemburan karena hadirnya adik baru, adalah episode rutin rumah tangga saya. Bentuk kecemburuannya memang berbeda-beda, ada yang menjadi pendiam, ada yang menjadi agresif, bahkan ada yang mencari perhatian dengan merawat dan menjaga adiknya. Episode kali ini adalah eposide khusus, Faruq yang sebelumnya memang kami kenal sebagai anak N-akal (banyak akal), semakin luar biasa “menggoda” setelah kelahiran adiknya. Jika dibandingkan dengan saudaranya saat seusia Faruq, kami akui bahwa ia paling menojol kecerdasannya. Oleh karena itu sangat wajar jika ujian kesabaran dalam mendidiknya begitu luar biasa bagi kami. Mungkin dalam satu hari ada 10 kejadian yang bisa memunculkan kemarahan saya, namun saya berusaha mengumpulkan 11 alasan untuk tidak melampiaskan amarah. Sehingga biasanya yang terjadi sekitar 10 kali menarik nafas panjang sambil merapatkan gigi ditambah dzikir istigfar, juga satu atau dua time out dan refleksi. Saya sering menyampaikan pada suami, kalo saya tidak mengiringi dengan berdzikir, saya bisa menjadi ibu yang sering teriak-teriak marah dirumah. Faruq itu “sesuatu banget” buat saya, maka ia lah yang paling sering mendapat “sumpah” kebaikan dari saya yang saya ucapkan sambil menggenggam tangan sendiri dengan erat.

Perilaku yang tidak pantas (misbehavior) sering sekali dilakukan anak-anak, terlebih oleh anak usia balita. Dulu saat balita 2 tahun saya melakukan misbehavior, saya merasa cukup menyelesaikan masalah dengan mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka berhenti melakukan misbehavior. Setelah saya diskusi dengan psikolog, akhirnya saya menyadari bahwa pengalihan memang salah satu cara yang cukup efektif dalam menghentikan misbehavior seorang anak, namun orang tua harus tetap mengirinya dengan memberikan pengertian kepada anak. Pengertian perlu kita berikan sehingga mereka bisa mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang diharapkan dan mana yang tidak diharapkan, mana yang benar dan mana yang salah. Namun demikian, butuh kebijaksanaan dan proses yang bertahap dalam memberi pengertian dan meluruskan misbehavior pada anak. Memilih waktu dan cara yang tepat dalam memberi pengertian menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meluruskan perilaku anak. Bahkan terkadang refleksi tidak dapat disampaikan saat itu juga, saat anak hanya akan meresponnya dengan penolakan dan pembelaan diri. Bagi saya, menjalang tidur adalah waktu paling tepat untuk merefleksi kejadian sepanjang hari. Refleksi sering saya sampaikan dalam bentuk lain seperti dongeng atau membaca buku.

Penting bagi kita untuk dapat menerima bahwa misbehavior adalah sesuatu yang normal terjadi dalam proses perkembangan anak. Penerimaan ini akan menghindarkan kita dari perasaan stress yang berlebih yang memicu munculnya emosi negatif dalam menghadapi perilaku anak. Mengetahui motif seorang anak saat ia melakukan misbehavior dapat membantu kita untuk menghindari dan mengurangi frekuensi kejadiannya. Meskipun motif seorang anak bisa jadi berubah-ubah, namun mencari tahu akar utama permasalahan akan membantu kita untuk menemukan solusi dalam menghadapinya.

Banyak kemungkinan penyebab seorang anak melakukan misbehavior diantaranya, mencari perhatian orang tua atau lingkungan sekitar; memuaskan rasa ingin tahu terhadap sesuatu; memiliki ide yang keliru dalam mendapatkan teman; persaingan dengan saudara; ketegangan di dalam keluarga; merasa frustasi karena tidak dapat memperoleh yang diinginkan; mencoba melakukan hal baru; sedang dalam keaadaan mengantuk; kecapean atau lapar; serta adanya contoh buruk dilingkungan sekitar.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan saat nasihat biasa tidak lagi ampuh untuk menghentikan misbehavior anak diantaranya:

Pengalihan, yaitu membawa perhatian anak pada sesuatu yang lain, sehingga ia tidak fokus pada kasus sebelumnya. Misalnya dengan memberikan kegiatan bermain yang lain saat kita akan melakukan sesuatu dimana ia tidak bisa terlibat didalamnya.

Pengabaian, sepanjang misbehavior yang dilakukan tidak membahayakan, pengabaian merupakan cara memberi pengertian kepada anak bahwa ia tidak berhasil mendapatkan sesuatu dengan cara yang ia pilih. Dalam kasus Faruq anak saya, pengabaian adalah senjata yang cukup ampuh untuk menghentikan perilakunya. Apabila cara peringatan biasa telah saya tempuh sebanyak 3 kali namun belum berhasil, biasanya saya memilih tidak meresponnya. Namun jika perilakunya membahayakan atau merusak saya menempuh tahap selanjutnya.

Konsekuensi logis, misalnya jika tidak sigap dalam mempersiapkan diri sebelum pergi jalan-jalan, maka akan terlambat pergi, maka waktu bermainnya semakin sedikit. Jika membuang-buang makanan, maka makanan saya ambil lalu saya berikan paper towel dan memintanya untuk membantu membersihkan.

Time out, yaitu memisahkan sang anak dari lingkungan dimana terjadinya peristiwa. Hal ini memberi kesempatan bagi anak untuk menenangkan diri sehingga kita memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan yang perlu diterimanya. Juga memberi kesempatan kepada kita untuk bisa berfikir jernih. Dalam kasus di dalam keluarga kami, kalau tidak berhasil meminta Faruq menenangkan diri disalah satu pojok ruangan yang sama dengan terjadinya peristiwa, Saya memisahkan faruq dan membawanya ke kamar (ditemani saya didalamnya) untuk diam sejenak sampai tenang, baru kemudian bicara.

Secara manusiawi, saya memang pernah marah, bahkan pernah saya sengaja marah dengan cara orang lain marah untuk menguji apakah Faruq bisa dihentikan dengan cara “otoritas” orang tua. Namun ternyata cara tersebut sangat tidak berhasil, Faruq malah tertawa melihat ekspresi aneh wajah saya yang tidak biasanya. Astagfirullah…… Betul-betul ujian kesabaran saya. Namun, sejalan dengan waktu saya bisa menemukan polanya, saya tau Faruq sangat membutuhkan perhatian yang tidak terbagi saat mengantuk setelah waktu isya, maka suami harus siap membantu saya untuk membagi anak-anak. Kemudian saat saya harus fokus pada sebuah pekerjaan terutama yang berkaitan dengan adiknya. Maka saya harus mempersiapkan kegiatan untuknya. Itulah mengapa ditengah kerepotan saya mengurus 5 anak tanpa art, saya tetap melaksanakan kegiatan homeschool. Karena dengan kegiatan homeschool yang terprogram, saya menghindari anak-anak dari kondisi “menganggur” yang sangat memungkinkan untuk menganggu bahkan membahayakan adik bayinya. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita dalam menghadapi misbehavior anak.

Sumber inspirasi: Good house keeping, book of child care

San Jose, 14 Maret 2014

Advertisements

One Reply to “Kehadiran Adik Bayi Baru Memang Tidak Mudah”

  1. Assalamu’alaiykum..
    Sekali lg tulisan mb bnr2 “wow”.
    Sy sering menceritakan status dan tlsn2 mb kepada umiy sy,sdr2 sy dan mrk terkagum2 serta pnasaran bgmn mb bs spt itu.
    Dr tlsn mb diatas sy dan sdr2 sy pnasaran bgmn mb bs mmbuat anak usia 2 thn mengerti ttg “Kami punya peraturan dirumah, yaitu “siapa yang membuat orang lain tidak aman harus dipisahkan sementara”.”;bgmn mb bs mmbuat anak usia 2thn apa iti aman,bhw dy mmbuat tdk aman org lain dll.
    Tdk spt kbnykn org2 yg prnh sy temui, mrk gagal brkomunikasi dgn anaknya yg 2thn utk tdk mengacak2,menyobek2 buku,perabotan lainnya akhirnya dibentak lah,di senti lah, dicubit lah,dijewer lah dll dan para ortu sll membenarkan cr kasar itu alasnnya utk mmbuat jera.
    Kl tdk keberatan tlg mb bersedia mmbagi ilmunya dgn membuat tlsn ttg cara2 mb brkomunikasi dgn balita,mngajarkan peraturan dll
    Trimakasih..:-)
    Wassalamu’alaiykum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s