Inilah Perjuangan Yang Memuliakan Kita

Hamil dan melahirkan merupakan perjuangan yang tidak mudah. Bahkan islam menempatkan perjuangan ini sebagai salah satu alasan bagi manusia untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagai mana ditulis dalam Al-Quran

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman:14). Seolah dalam ayat ini Allah memberikan sanjungan khusus bagi tugas seorang wanita yang begitu istimewa.

Tidak hanya berhenti sampai melahirkan, namun amanah seorang wanita pasca melahirkan juga tidaklah mudah, terutama saat melewati hari-hari pertama pasca melahirkan. Penurunan drastis kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita pasca melahirkan menyebabkan tubuh mudah lelah dan emosi mudah labil. Belum lagi rasa sakit dalam tubuh akibat mengecilnya rahim kembali pada ukuran normal. Disaat yang sama muncul amanah baru untuk merawat bayi yg membutuhkan perhatian ekstra, terutama dalam memberikan asupan asi yang cukup dan berkualitas dalam frekuensi yang relatif sering baik siang dan malam hari. Tanggung jawab ini juga menyebabkan para ibu pasca melahirkan kurang memiliki waktu istirahat yang cukup.  Itulah mengapa para ibu pasca melahirkan mengalami keadaan yang kita kenal sebagai baby blues syndrome atau postpartum distress syndrome.

Meskipun dalam bentuk yang beragam, setiap ibu yang baru melahirkan pasti mengalami hal ini. Dalam keadaan tertentu, kondisi ini bisa memburuk dan menyebabkan para ibu mengalami postpartum depresion. Dalam keadaan seperti ini bahkan sangat dianjurkan untuk didampingi oleh tenaga medis.

Perubahan kondisi tubuh yang drastis juga saya alami sebagaimana lazimnya wanita pasca melahirkan. Disaat yang sama, tanggung jawab terhadap anak-anak lainnya dan pekerjaan rumah tangga juga tetap harus dilaksanakan. Apalagi merantau tanpa art dan sanak keluarga yang bisa mendampingi. Kerjasama dengan suami menjadi kunci utama menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Alhamdulillah suami bisa cuti seminggu untuk mendampingi saya melewati hari-hari yang penuh tantangan. Bagi saya, yang paling menantang adalah menjaga perasaan anak-anak lainnya dengan kehadiran anggota baru. Meskipun semua anak menyambut dengan kebahagiaan, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka kehilangan sebagian perhatian, terlebih bagi anak yang masih balita. Kehadiran suami untuk fokus mengisi perhatian yang hilang, sangat membantu saya sehingga saya bisa lebih fokus pada bayi dan pekerjaan rumah tangga yang tentunya tidak mudah dijalani dalam keadaan fisik yang relatif lemah.

Namun demikian, sesungguhnya kita tidak berjuang sendirian. Allah tidak pernah tidur untuk selalu menjaga dan menurunkan pertolongan. Allah kirimkan teman-teman saya yang begitu perhatian dan membantu mengurangi beban amanah saya. Kiriman masakan, bumbu instant, dan berbagai keperluan pasca melahirkan begitu membantu saya. Dan yang lebih istimewa bagi saya adalah perhatian dan doa yang menguatkan saya bahwa mereka selalu ada untuk membantu saya. Alhamdulillah, atas segala kemudahan dan pertolongan Allah saya bisa melewati masa-masa sulit tersebut dengan kondisi jiwa yang relatif stabil. Hanya saja beberapa ekspresi cinta memang lebih banyak saya minta dari suami untuk menguatkan saya bahwa kami berjuang bersama dan saya tidak sendiri. Terutama untuk menstabilkan emosi saya dalam menghadapi perubahan tingkah laku kakak-kakak sang bayi yang mengekspresikan rasa sayang mereka kepada adik barunya dengan cara yang terkadang membahayakan.

Memandang kehamilan, melahirkan dan menyusui sebagai bagian dari ibadah kepada Allah akan melahirkan sikap yang berbeda dalam menjalankannya, begitu juga dengan nilainya di mata Allah. Tentu akan sangat berbeda rasanya bila dibandingkan dengan para wanita yang melihat kehamilan, melahirkan, menyusui sebagai tambahan beban apalagi hambatan mereka dalam mencapai karir. Karena kesulitan dalam menjalaninya adalah sebuah keniscayaan, maka sangat disayangkan jika kita menjalankannya tanpa memandangnya sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah.

San Jose 3 Desember 2013
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s