Fitrah Berkasih Sayang itu Perlu Kita Jaga

Suatu hari saat bermain bersama.

Faruq (2.5y): auk sukaaaaa deh sama aa
Ummi: oh ya? Kenapa?

Faruq: karena aa suka bikin-bikin buat auk

(maksudnya Aa Ali sering membuatkan project untuk dijadikan mainan Faruq)

Suatu hari saat turun dari school bus, Shafiyah (6y) mendapat angpau imlek berisi 2 buah permen dari sekolahnya. Satu permen ia buka, kemudian dipatahkannya menjadi 3. Lalu ia bagikan untuknya, Faruq dan Shiddiq. Satu permen lainnya ia simpan dalam amplop angpau “ini untuk aa” katanya. Saat Faruq minta lagi, Shiddiq dan Shafiyah spontan menjawab “jangaaaaan ini untuk aa”

Setiap pengajian dan pulang membawa bungkusan makanan, mereka akan makan dan menyisakan sebagiannya walau bentuknya sudah tidak karuan “ini untuk aa dan bapak” kata mereka.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang terlihat sederhana di dalam keluarga, namun memberi makna yang begitu dalam bagi saya. Terkadang adiknya menangis meminta jatah kakaknya, tapi saya harus menghargai perasaan mereka dan juga hak mereka. Sepulang sekolah, barulah saya bertanya apakah Aa Ali bersedia mengikhlaskan jatahnya untuk Faruq. Biasanya Aa Ali pun lebih banyak mengikhlaskannya.

Begitu indah kasih sayang dan persaudaraan yang patut saya syukuri sebagai seorang ibu. Meski saya tau membangun rasa persaudaraan diantara anak-anak serta menjaga keistiqomahannya itu tidak mudah.

Memang betul sebuah kewajaran bila perkelahian terjadi antar saudara di dalam rumah. Namun saya percaya, ada hal yang harus diluruskan jika perkelahian diantara saudara lebih banyak mewarnai rumah kita. Saya yakin fitrah manusia itu berkasih sayang diantara sesama, namun perlu ikhtiar membentuk lingkungan agar nilai-nilai persaudaraan dan kasih sayang itu dapat tumbuh subur.

Saya begitu merasakan manfaat di usia dewasa, bagaimana kekompakan saya dan kelima saudara saya yang dibangun orang tua di masa kecil begitu bermakna kini. Sebuah persaudaraan yang saling membangunkan yang terjatuh, menopang yang rapuh, mendukung yang lemah, meluruskan yang khilaf. Begitu kompak sejak kecil, karena kami selalu bersama, dibawah asuhan yang sama, sehingga sampai saat ini kami selalu saling mendukung, bahkan berkomunikasi setiap saat lewat group whatsapp.

Maka begitulah saya ingin membangun masa kecil anak-anak saya. Sebuah persaudaaran yang saling tolong-menolong dalam kebajikan serta saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Sehingga kelak ketika kita tiada, tongkat estafet penjagaan dan bimbingan dapat kita teruskan kepada saudara-saudara mereka.

Sekali lagi, fitrah berkasih sayang itu perlu kita jaga. Menjaganya dengan membangun lingkungan yang membuat kasih sayang dapat tubuh subur didalamnya.  Membangun persaudaraan dengan kehangatan dalam sikap, romantisme dalam komunikasi, menumbuhkan budaya saling berbagi, menjaga hak-hak mereka, mendidik dengan keadilan, menghargai keunikan potensi tanpa perlu membanding-bandingkan, menstimulus mereka untuk selalu saling tolong menolong, membagi tanggung jawab kita dalam menjaga saudara, membiasakan mereka untuk saling berbagi ilmu, serta membantu mereka agar setiap perkelahian berakhir dengan saling memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan.

Ya Allah satukan keluaraga kami dibawah naungan cinta-Mu. Ikatlah hati kami dengan kasih-Mu. Kumpulkan kami sekeluarga dalam jannah-Mu

San Jose, California 20 Februari 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s