Picky Eater

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Memiliki balita yang sulit makan memang memberi tambahan ladang amal bagi para ibu. Sang ibu harus berpikir kreatif agar komposisi gizi harian bisa seimbang masuk dalam tubuhnya. Terkadang para ibu harus memasak terpisah saat balita tidak mau makan makanan menu utama. Insya Allah pahala membujuk makan para balita tak kalah dengan pahala melobby tender proyek bagi para suami yang bekerja dengan berdasi rapi. Hahahaha.

Jika balita anda sulit makan, sesungguhnya anda tidak sendirian. Banyak para ibu yang mengalami hal serupa.
Namun demikian, jika cara pandang terhadap makan anak tetap mempertahanakan cara pandang “ala indonesia” bahwa makan itu harus nasi, mungkin sebagian ibu akan merasa stress saat balita tidak mau makan. Perlu diketahui bahwa para balita membutuhkan berkali-kali percobaan untuk mencoba masakan baru. Salah satu cara mensiasati balita yang “jago ngemil” dan susah makan nasi apalagi sayur, adalah menyulap bahan-bahan baru dalam sajian makanan yang disukai anak-anak. Melibatkan mereka dalam memasaknya menjadi pengalaman yang menyenangkan tersendiri bagi mereka. Mereka akan merasa lebih puas menyantap masakan hasil karyanya. Jika saat waktu makan balita menolak atau membuang-buang makanan, artinya ia memang tidak dalam keadaan benar-benar lapar. Percayalah akan ada titik menyerah dari balita saat merasa lapar. Dan saat itulah kesempatan kita memberi makanan sehat.

Saya pribadi mengalami ujian kesabaran tentang hal ini. Dulu saat Ali kecil, saya membujuk dengan sekian cara kreatif agar ia mau makan. Bahkan menemani makan sampai lebih dari 1 jam lamanya setiap kali makan. Saya merangkai dongeng untuk setiap suapan nasi yang masuk dalam tubuhnya. Terkadang sambil membacakan buku untuknya, dimana halaman buku baru akan berpindah saat ia menyelesaikan satu suap nasinya. Lain anak lain cerita, Faruq jarang mau makan nasi. Ia lebih suka mengemil roti. Maka saya sering menyulap berbagai sajian roti yang berisi protein dan sayuran agar gizi Faruq tetap seimbang.

Menjadi ibu memang bukan pekerjaan sederhana. Pekerjaan yang sangat sulit untuk dibagi dengan sekian banyak konsentrasi. Itulah mengapa, balasan yang dijanjikan pun bukanlah balasan yang sederhana. Mari kita nikmati hari-hari penuh tantangan dalam menghadapi balita yang sulit makan, karena sesungguhnya ada peluang meraih surga dibaliknya.

San Jose, California 14 Juli 2014

Kiki Barkiah

Dialah Kado Terindah Pernikahan Kami

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Ummi: Ali maaf ya, ummi banyak minta tolong, abis adeknya minta nyusu terus!

Ali: It’s ok ummi! That’s your priority job!

Begitulah percakapan kami disuatu siang.

Bagaimana saya tidak bersyukur, hidup dalam sebuah keluarga dimana suami dan anak-anak memberikan tempat istimewa bagi saya untuk melaksanakan tugas utama saya yang tak mampu tergantikan oleh yang lain yaitu “menyusui”. Sementara seluruh anggota keluarga bahu membahu melaksanakan tanggung jawab saya lainnya agar roda kehidupan rumah tangga tetap berjalan, minimal dengan kemandirian mereka. Saat pekerjaan yang benar-benar hanya dapat dilakukan oleh saya, harus saya kerjakan, maka anak-anak bekerja sama menjaga sang bayi agar tetap tenang saat ia terbangun. Kalau bukan karena kerjasama, mungkin saya tidak sanggup mengurus kelima anak saya sendirian di negeri paman sam.

Tentunya sebagai anak pertama, Ali mengambil peran terbesar dalam keseharian kami dalam keluarga. Dari mulai menyelesaikan semua keperluan pribadinya, menjaga, mengajar, dan mengajak main adik-adiknya, sampai membantu beberapa pekerjaan dalam rumah tangga. Sebuah kehormatan bagi saya yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi ibunya, meski ia tidak terlahir dari rahim saya.

11 tahun yang lalu, seorang wanita istimewa dipilih Allah untuk melahirkan Ali. Namun karena kasih sayangNya, Allah lebih memilih untuk mengambil beliau di usia muda, dengan terlebih dahulu menggugurkan dosanya melalui sakit kanker yang dialami beliau. Dan karena kasih sayangNya pula, Allah memberikan kesempatan beliau untuk memiliki simpanan berupa seorang anak yang terlahir beberapa hari sebelum akhir usianya. Sebuah simpanan yang insya Allah akan terus menambah pundi-pundi amal ibadahnya di akhirat kelak. Sungguh begitu beruntungnya beliau, meninggal dengan membawa keimanan Islam, serta memiliki simpanan berupa seorang anak yang cerdas istimewa yang Allah genggam hatinya agar selalu dipenuhi dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.

7.5 tahun lalu, bersama Ali saya memulai sebuah perjalanan hidup baru. Bersama Ali saya terus belajar menjadi seorang ibu. Meski tidak mudah di awal, kini hari demi hari, rasa syukur memilikinya selalu tumbuh. Bahkan sampai pada suatu kesimpulan bahwa Ali Allah datangkan bagi kehidupan saya, untuk membantu saya menjadikan adik-adiknya semakin istimewa sepertinya. Kemudahan saya mengurus adik-adiknya justru karena keberadaan Ali. Ali teladan dalam keluarga. Ali inspirasi bagi adik-adiknya. Ali pemimpin, penjaga, dan guru bagi adik-adiknya. Kalau tidak karena ada Ali, kehidupan kami saat ini tidak akan seperti ini. Ali adalah kado terindah dalam pernikahan kami.

Dalam hati Ali, ada sebuah ruang istimewa bagi ibu yang melahirkannya. Sebuah ruang yang berisi rasa cinta dan baktinya meski Ali tak lama bertemu. Sebuah ruang yang hanya mampu diisi dengan mempersembahkan amalan terbaiknya sebagai seorang anak sholih.

Dalam mendidik Ali, ada masa-masa dimana saya sedang begitu kecewa terhadap perilakunya. Ketika muncul saat-saat sulit dalam menasihati dan meluruskan perilaku Ali, terkadang saya mengingatkan kembali sosok sang ibu. “Ali, seandainya mamah Ali masih ada, ia pasti akan berharap sama seperti ummi” tak lama kemudian Ali bersimbah air mata, menangis sambil memeluk foto ibunda. Lalu meminta maaf pada saya dan berjanji memperbaiki kesalahannya. Mengingatkan bahwa Ali adalah satu-satunya simpanan ibundanya didunia adalah cara terakhir yang paling ampuh jika sekian cara menasihati telah dilalui.

Hari ini ia genap 11 tahun. Pertemuan saya dengan Ali menjadikan saya untuk selalu ingat bahwa kematian itu akan datang kapan saja tanpa disangka, dan sebaik-baik simpanan adalah anak-anak yang sholih. Terimakasih Allah, karena telah menghadirkan Ali dalam cuplikan kisah hidup saya. Selamat hari lahir permataku….

San Jose, California 10 Juli 2014

Kiki Barkiah

Generasi Tanpa Ayah

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Ada suatu masa dimana saya begitu khawatir terhadap keadaan keluarga kami. Saat awal kami pindah ke Amerika dan merasakan betapa kerasnya ritme kerja di negeri ini. Entah memang secara umum di negeri ini, atau kebetulan saja pekerjaan suami yang menuntut komitmen tinggi dengan durasi pekerjaan yang lama setiap harinya serta siap bekerja kapanpun dimanapun. Terutama ketika muncul masalah yang harus diselesaikan saat itu juga tanpa kenal waktu. Entah siang atau malam entah libur atau tidak.

Saat itu saya begitu khawatir anak-anak saya menjadi generasi tanpa ayah. Generasi yang memiliki ayah namun tiada, karena sang ayah terjebak dalam ritme kerja yang “menggila”. Bahkan pernah diskusi serius kami, sampai pada sebuah pertanyaan yang saya ajukan “untuk apa kita pergi merantau dan mendapat perbaikan dalam kelapangan harta jika membuat kita semakin jauh dari Allah?” Suami mencoba menenangkan hati saya, ia berjanji ritme kerja seperti ini tidak akan lama. Ini terjadi karena banyak hal yang harus dikerjakan saat pertama kali datang ke Amerika. “Ummi, kita kan sudah berdoa pada Allah, kalo kepergian kita baik untuk agama kita, Allah akan memberangkatkan kita, dan kini kita sudah sampai disini” kata suami menguatkan saya.

Saat itu, kang Abik (ustad Habiburrahman El Shirazy) sedang berkunjung ke Amerika. Dalam pengajian saya bertanya, “ustad, bagaimana memunculkan peran ayah dalam mendidik anak-anak, jika para suami sangat sibuk dengan pekerjaan? Bagaimana agar anak-anak kita tidak menjadi generasi tanpa ayah?” Alhamdulillah nasihat ustad saat itu sangat berkesan bagi saya. Sejak itu kami berkomitmen untuk menerapkannya didalam rumah. Kurang lebih nasihat beliau adalah senantiasa menjadikan ayah sebagai pengambil keputusan utama untuk setiap keputusan besar berkaitan dengan anak. Buat anak mengetahui bahwa ayahnya terlibat dalam keputusan itu. Beliau juga berpesan untuk senantiasa memanfaatkan waktu libur kerja sebagai sarana untuk meningkatkan kedekatan dan keharmonisan hubungan keluarga.

Hampir tidak ada waktu yang bisa dipakai oleh sang ayah untuk sekedar memanjakan dirinya. Begitu banyak tanggung jawab dipikul oleh seorang manusia bernama “ayah”. Terlebih bagi kami yang hidup merantau di negeri yang bukan mayoritas muslim. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, tanggung jawab pendidikan agama sepenuhnya berada ditangan kami selaku orang tua, khususnya ayah. Mungkin pelaksaannya bisa diwakili ibu atau pihak lain sebagai guru, namun utamanya tanggung jawab kondisi agama sebuah keluarga berada ditangan sang ayah.

Saya sering meminta anak-anak menelpon ayahnya saat jam kerja jika ada hal-hal yang dirasa perlu diputuskan oleh bapak, atau meminta mereka menunggu bapak pulang untuk meminta ijin tentang hal tertentu. Ditengah kelelahan, bapak harus meluangkan waktu mendengar cerita saya tentang perkembangan anak-anak. Semua perasaan lelah, cemas, bingung, bahagia, syukur, susah, senang dalam pengasuhan anak, tercurah seluruhnya saat waktu diskusi kami. Saat itulah kami sama-sama mencari referensi ilmu, memutuskan pilihan sikap, dalam menghadapi setiap pernak-pernik pengasuhan anak. Saat itu pula kami saling menguatkan dalam kesabaran. Dengan cara inilah, saya semakin tegar, kuat, sabar, mengurus rumah tangga di negeri perantauan.

Ditengah lelah, bapak juga meluangkan waktu untuk mengurus anak-anak dengan tangannya, sebagai bentuk perhatian pada mereka. Terkadang sengaja mengganti popok bayi, atau membantu anak-anak bersuci dari najis, sebagai bentuk perhatian beliau terhadap anak-anak.

Ditengah lelah, bapak secara langsung mengawasi dan mengevaluasi pencapaian pendidikan shalat dan al-quran anak-anak, meski pelaksaannya dilakukan oleh saya.

Kondisi yang kami lakukan saat ini pun membutuhkan sebuah proses. Karena ada masa dimana bapak pergi sebelum anak bangun dan pulang setelah anak hampir mau tertidur. Sampai suatu hari, saat saya merasa sangat lelah untuk menghandle semua keperluan anak-anak, saya berbicara pada bapak “ummi sudah sangat berusaha, mengurus semua keperluan anak-anak. Keperluan tubuhnya, ilmu kognitifnya, pendidikan karakternya, bahkan mengajar Islam dan al-quran. Ummi mau bantu bapak agar bapak kelak bisa mempertanggungjawabkannya di depan Allah. Tapi ummi gak sanggup kalo sendirian, karena bagaimanapun itu tanggung jawab bapak”. Alhamdulillah sejak saat itu bapak melipatgandakan kekuatan untuk “turun langsung” mendidik anak-anak terutama Ali yang sudah masuk fasa remaja. Masa dimana ia sudah membutuhkan sentuhan langsung pendidikan dari ayahnya.

San Jose, California. 28 Juni 2014

Kiki Barkiah

Hikmah itu Barang yang Hilang Milik Orang Beriman

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Saya selalu berusaha sebanyak-banyaknya menangkap hikmah dibalik setiap kegiatan yang kami lewati untuk membantu anak-anak semakin mengenal Allah, mengenal Islam, memperkuat akidah, meningkatkan motivasi dalam beribadah, membentuk ahlakul karimah, serta meningkatkan kecerdasan emosi dan intelektual.

Kegiatan ini mungkin terlihat sederhana, memetik buah dari pohon bersama-sama. Namun kegiatan sederhana ini menjadi kegiatan pengantar “family halaqoh” kami saat ba’da maghrib. Dalam homeschooling kami, kegiatan art and craft atau proyek lainnya bisa menjadi kegiatan pengantar mata pelajaran agama dan karakter. Saya memilih untuk membuat kegiatan hand on learning yang menyenangkan sebagai pembuka materi agama dan karakter karena saya percaya otak mereka akan semakin siap untuk menerima nasihat yang akan saya sampaikan.

Dari kegiatan memetik buah kali ini, kami punya kesempatan menyampaikan materi “Allah sang Pemberi Rezeki”. Banyak materi berkembang saat diskusi dengan anak-anak ketika halaqoh. Awalnya saya hanya ingin menyampaikan materi tentang karunia Allah berupa buah-buahan, pahala menanam pohon, bagaimana cara bersyukur terhadap pemberian Allah, memotivasi mereka untuk berkomunikasi dan berterima kasih pada Allah dengan shalat dan tilawah. Namun pertanyaan bersahutan muncul dari anak-anak. “Ummi apakah buah ini halal?” “Ummi apakah Allah itu makan?” “Ummi kalo ditanamnya sama bukan muslim pahalanya gimana?” “Ummi kalo kita memberi sama orang yang bukan muslim bagaimana?” Pertanyaan mereka selalu membuat saya semakin bergairah untuk mendongengkan kisah-kisah hikmah baik dari Al-quran, sirah ataupun kejadian kontemporer.

Materi pun semakin kaya dengan tambahan sirah tentang pemuda yang menemukan apel di sungai lalu meminta keihlasan sang pemilik apel, kisah tentang gadis London yang dilindungi Allah karena dzikir Al-quran, dan masih banyak lagi tambahan diskusi kami yang membuat halaqoh sangat seru.

Dimanapun, kapanpun, dirumah, di perjalanan, di alam bebas, saya selalu berusaha mengkaitkan apa yang dialami anak-anak dengan nilai-nilai ilahiah. Karena saya ingin mereka memahami bahwa Islam itu ada disetiap sendi kehidupan dan mengingat Allah itu dapat dilakukan setiap saat, tidak hanya di masjid, tidak hanya saat shalat, tilawah, zakat, shaum, dan haji saja. Dan saya begitu ingin setiap kejadian yang mereka alami, manis ataupun pahit, susah ataupun senang, lapang ataupun sempit menjadikan mereka semakin bertakwa kepada Allah.

San Jose, California. 10 Juni 2014

Kiki Barkiah

Sebaik-Baik Waktu Pengajaran Adalah Saat Anak Bertanya

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Ummi : “bang ayo bang ambil bukunya, kita belajar yuuk”

Shiddiq: “No I don’t want it, I wanna make a cake”

Ummi pun membuat beef pie dan sepanjang masak mengajar materi preschool melalui kegiatan memasak. Membahas matematika seperti konsep jumlah, berat, bentuk dll. Membahas science tentang panas, dingin dll. Mengajak diskusi untuk meningkatkan kemampuanlanguage art dengan memimtanya mempresentasikan kembali bahan-bahan dan cara pembuatannya.

Ummi: “bang ayo bang kita belajar yuuk”

Shiddiq: “no i dont want it! I wanna play with tumbling tower”

Ummi pun mengiyakan (dulu) beberapa saat kemudian…

Shiddiq: “look ummi! This is A, this is M bla bla bla”

Akhirnya Shiddiq pun belajar alphabet melalui kegiatan menyusun balok kayu.

Ummi: “bang ayo bang belajar matematika yuk”

Shiddiq: “no i dont want it! I wanna make aeroplane”

Ummi pun mengambil kardus bekas, memotongnya, membuat kapal terbang. Lalu Shiddiq menggambar dan membuat susunan angka dalam pesawatnya. Maka Shiddiq pun belajar matematika di mainan pesawatnya.

Ummi: “bang latihan nulis huruf lagi yuk!”

Shiddiq: “no i dont want it! I wanna draw an aeroplane”

Shiddiq pun menggambar pesawat tak lama kemudian…..

Shiddiq: “ummi gimana huruf-hurufnya kalo Shiddiq mau bikin tulisan ‘Shiddiq Airlines’?”

Lalu Shiddiq pun belajar menulis huruf diatas gambar pesawatnya

Ummi: “bang sekarang baca cerita yuk!”

Shiddiq: “no i dont want it! I wanna make a story”

Nyerocos lah Shiddiq selama 30 menit menghayal lalu ummi memasukkan materi kurikulum melalui pertanyaan-pertanyaan dalam cerita yang ia buat.

Ummi “bang kamu mau kegiatan apa? Ummi mau rapat dulu di telpon”
Shiddiq: “i wanna make a book”

Shiddiq pun menggambar beberapa halaman tentang pesawat. Lalu setelah saya selesai rapat, ia meminta saya menuliskan ceritanya dalam setiap halaman ilustrasi yang ia buat. Lalu ia menuliskan sendiri judul bukunya “Aeroplane”

Ummi: “bang belajar yuk!”

Shiddiq: “no i wanna play camping!”

Shiddiq pun membangun tendanya dan Ummi pun memasukkan beberapa pengetahuan dalam diskusi bertema camping.

“No i dont want it! i wanna make this i wanna make that! i wanna play this i wanna play that”

Beginilah kurang lebih suasana homeschooling di rumah saya. Bahkan terkadang saya hanya menyiapkan sekian buku tematik mingguan dan menyiapkan berbagai bahan art and craft dan bahan kue lalu mengawali setiap pagi dengan pertanyaan “hari ini kamu mau kegiatan apa? Mau ini atau itu? Mau baca buku yang mana?”. Memiliki anak cerdas istimewa memang memberi tantangan sendiri dalam mengajar. Sering sekali saya menyiapkan materi tententu, namun pelaksanaanya berbelot menjadi kegiatan dan materi lainnya. Sudah banyak buku panduan aktifitas homeschool yg saya beli atau pinjam dari perpustakaan. Namun tidak satupun yang bisa saya tiru secara percis plek…plek…plek. Buku tersebut hanya saya baca untuk perbendaharaan ide yang sewaktu-waktu dapat saya laksanakan.Sebagai guru Shiddiq (4.5 tahun), saya hanya bisa “menggigit” kurikulum yang perlu disampaikan. Namun pelaksanaannya harus sekreatif mungkin mengikuti aliran keinginannya saat itu dalam belajar. Bagi saya yang terpenting ia selalu mengisi setiap aktifitasnya dalam rangka belajar. Bahkan jika saat itu ia sedang ingin berenang di bath tub pun, bagi saya itu bagian dari mata pelajaran homeschooling. Bagi anda para homeschooler yang kegiatan dan kurikulumnya tertata rapi layaknya sekolah formal, saya ucapkan barakallah! Namun bagi anda yang merasa kesulitan mengajak anak-anak belajar sesuai dengan lesson plan yang anda buat, maka saya katakan anda tidak sendirian, saya pun seperti anda. Hehehe….

Tidak semua anak dapat duduk manis belajar di kelas mengikuti apa yang direncanakan guru dalam sebuah kegiatan belajar. Mungkin siswa-siswi seperti Shiddiq yang tidak mau mengikuti kegiatan belajar di cap oleh sebagaian pendidik sebagai anak malas yang tidak mau belajar. Shiddiq sangat tidak suka mengerjakan workbook. Tapi ia menuangkan materi dalam workbook dalam karya nyatanya. Jujur saja kadang sesekali terasa lelah menjadi gurunya di rumah. Apalagi jika frekuensi menyusui sang bayi sedang tinggi. Karena kegiatan belajarnya selalu menyisakan pekerjaan tambahan dalam membersihkan rumah. Namun itulah harga yang harus saya bayar untuk menggali potensinya. Jika Shiddiq belum menunjukan minat untuk belajar sebuah tema tertentu, saya selalu menundanya. Namun tak lama kemudian ia akan meminta sendiri.Saya memang menganut aliran yang tidak memaksakan anak belajar membaca di usia dini. Namun terkadang saya memancing mereka apakah mereka sudah memiliki ketertarikan untuk mempelajarinya. Di usia 4 tahun saya perkenalkan huruf, namun Shiddiq tidak mau. Saya pun menundanya. Beberapa bulan kemudian ia yang meminta sendiri untuk belajar huruf bahkan langsung meminta saya menunjukan cara menulis. Bukan menulis huruf tunggal yang ia minta, namun ia langsung ingin menulis dalam sebuah kata bahkan kalimat. Bahkan tak lama dari itu, ia meminta saya menunjukan cara membaca. Saat itulah saya langsung meminjam beberapa buku latihan membaca dan mengajarinya membaca. Saat masuk pada tingkatan yang lebih sulit, Shiddiq berkata “no i dont want it! It’s hard for me!” Lalu saya pun tidak meneruskanya karena memang belum waktunya. Di usia 4 tahun saya ajak ia belajar iqro, ia tidak mau. Beberapa bulan kemudian ia sendiri yang minta saya mengajarkan mengaji. Bahkan ia mengaji dengan begitu cepat dan langsung dapat mengingatnya. Saya penganut aliran yang menjadikan proses belajar anak senatural mungkin. Maka saya lebih banyak memasukan konsep-konsep belajar dalam kegiatan yang dipilih anak-anak jika anak-anak sedang enggan mengikuti kegiatan yang saya pilihkan.

Setiap anak begitu istimewa dan unik, bahkan mereka memiliki cara yang khas dalam belajar. Setiap anak memiliki waktu tertentu untuk mencapai kematangan menerima sebuah pelajaran. Bagi saya sebaik-baiknya waktu yang tepat untuk mengajarkan pelajaran adalah saat mereka bertanya pada saya.

San Jose, California. 24 Mei 2014

Kiki Barkiah

“Sesungguhnya kita tidak akan benar-benar menghargai mereka sebelum kita benar-benar kehilangan mereka”

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Hari itu hari yang lain dari biasanya. Hari yang penuh kekacauan dan ujian kesabaran. Astagfirullah….astagfirullah… berapa banyak kata ini terucap dan tak mampu lagi saya hitung. Hampir semua target harian tidak tercapai. Telepon kelas tahfidz terpaksa tidak lagi disambungkan melihat perilaku negatif anak-anak yang meminta perhatian. Semua pekerjaan hari itu tidak terselesaikan seperti biasanya. Kegiatan homeschooling pun berjalan tidak optimal. Setelah sekian banyak konflik pertengkaran yang menguji kesabaran untuk meleraikannya, darah ini hampir mendidih melihat segala kreasi mereka yang membuat rumah seperti kapal pecah, lebih dari biasanya. Saya mencoba menyampaikan batasan-batasan perilaku agar kekacauan tidak terus bertambah sambil terus berusaha menjaga nada bicara agar tidak meninggi. Tanganpun dikepal untuk mengalihkan energi negatif dalam tubuh agar tidak bertransformasi menjadi sebuah kemarahan. Sambil terus bicara, saya terus mengingat pesan teori parenting yang saya pelajari. “Soft and gentle”

Saya berjalan keluar, menengok apa yang mereka lakukan sebelumnya di ruang tamu saat saya sedang “terjebak” menyusui bayi dan tak bisa mendampingi para balita yang bermain role playing. Ketika melihat keadaan ruang tamu, kalimat yang terucap adalah puluhan “astagfirullah…. astagfirullah… astagfirullah…. dalam volume yang cukup besar seperti memanggil anak dari posisi yang berbeda ruangan. Satu tangan ini terus mengusap dada setiap kali kata istigfar terucap. Sementara tangan yang lain membersihkan dan merapihkan kekacauan. Saya terus berupaya mendinginkan darah tubuh yang bergejolak. Saya menjauh dari anak-anak agar gejolak yang saya rasakan dalam tubuh ini tidak terlepas dalam bentuk teriakan kemarahan yang akan memutuskan berjuta neouron otak mereka. Saya duduk terdiam cukup lama, menatap hasil karya mereka yang merusak fasilitas rumah sambil terus berdzikir di dalam hati dan berfikir bagaimana harus meluruskan perilaku ini dan merapihkan semua kekacauan yang terjadi. Dalam keadaan tenang barulah saya bisa melibatkan mereka untuk bertanggung jawab dengan memberikan pengertian dan ajakan yang kreatif agar semua dapat mengambil bagian dalam penyelesaian masalah. “Innallaha maashaabirin”adalah sebuah perintah al-quran yang saya pegang dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Kalimat ini selalu saya ingat agar saya selalu berusaha untuk tidak melampiaskan kemarahan.

Peristiwa ini mengajak saya mengingat kehidupan 25 tahun silam saat saya berusia 3 atau 4 tahun. Ayah dan ibu saya bekerja, bahkan dengan berbagai pertimbangan, ibu bekerja dengan porsi yang lebih dari ayah. Terlebih sejak ayah terbaring sakit selama 7 tahun sebelum dipanggil Allah SWT. Sebagian besar waktu di masa kecil, saya lewatkan bersama televisi, teman-teman, dan asisten rumah tangga. Kondisinya hampir sama, berjumlah 5 anak dengan jarak 1 atau 2 tahun. Lalu saya berpikir tentang apa yang kira-kira dirasakan dan dilakukan asisten rumah tangga saat itu ketika berhadapan dengan perilaku saya dan saudara-saudara dimasa balita. Jika dibandingkan, kepusingan dan kerepotan saya sehari-hari saat ini, adalah dalam rangka menghadapi anak sendiri, amanah sendiri, serta ladang surga sendiri. Bukanlah sebuah kerepotan dalam kontrak pekerjaan yang berpengahasilan sekian lembar ratusan ribu. Saya yakin jika ada kesempatan pekerjaan yang lebih mudah bagi mereka dengan penghasilan yang sama, mungkin pekerjaan menjadi asisten rumah tangga adalah prioritas terakhir. Terlebih lagi bagi mereka yang bermukim, sebagian diantara mereka terpaksa meninggalkan keluarga bahkan anak-anak mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama mereka.
Setiap kali saya merasakan tantangan menjadi orang tua, selain teringat perjuangan kedua orang tua, saya selalu teringat wajah-wajah orang yang sempat mengurus masa kecil saya. Mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam hidup saya dan sangat berjasa bagi orang tua saya. Tanpa jasa mereka, kedua orang tua saya tidak mungkin dapat bekerja dengan tenang demi mencukupi kebutuhan keluarga kami.

Mengurus 5 anak tanpa bantuan orang lain memang penuh tantangan, namun patut disyukuri begitu banyak kemudahan yang Allah berikan saat ini pada saya. Berbagai peralatan rumah tangga canggih seperti mesin cuci, pengering dan vacuum cleaner sangat membantu dalam menghemat tenaga dan waktu yang saya miliki. Bahkan itupun terkadang saya masih menelpon suami saat pekerjaan tidak akan terkejar “pah maaf ya, hari ini papah pulang rumahnya belum rapi karena banyak iklan dari anak-anak”. Mungkin asisten rumah tangga akan segan meminta pemakluman seperti apa yang saya lakukan. Terkadang saat badan begitu lelah saya meminta ijin anak-anak untuk istirahat sejenak serta meminta mereka melakukan keperluannya sendiri. “Nak… maaf ummi capek sekali, bisa urus sendiri ya?” Mungkin para asisten rumah tangga pun ingin rasanya bisa sejenak merebah saat lelah mengurus para balita namun mereka terjejar oleh target harian dari sang majikan. Dan yang perlu disyukuri, nilai yang dibawa pulang suami pun jauh lebih besar dari apa yang diterima oleh asisten rumah tangga. Terlalu banyak nikmat yang Allah berikan untuk menahan diri ini dari berkeluh kesah. Malu rasanya jika banyak mengeluh. Mengingat bantuan mereka begitu berarti dalam kehidupan sebuah keluarga, maka itulah yang membuat saya tidak pernah bisa marah terhadap kekurangan asisten rumah tangga saya ketika dulu saya di bantu mereka saat merintis rumah tangga di Indonesia.Hari ini ingin rasanya saya panjatkan doa untuk seluruh asisten rumah tangga dimanapun mereka berada.

Ya Allah ya Rabb ya Tuhanku. Kupanjatkan doa padaMu untuk semua asisten rumah tangga di manapun mereka berada. Ya Allah muliakanlah kehidupan mereka sebagaimana kemuliaan amal mereka dalam merawat kami. Ya Allah lindungilah keluarga dan keturunan mereka sebagaimana mereka telah melindungi kami. Jagalah keluarga yang mereka tinggalkan sebagaimana mereka menjaga keluarga kami. Jagalah harta mereka sebagaimana mereka pun menjaga harta kami. Penuhilah segala keperluan mereka sebagaimana mereka pun berusaha memenuhi keperluan kami. Hiasilah rumah mereka dalam jannah-Mu sebagai mana mereka marawat dan menghias rumah kami. Sajikanlah hidangan ternikmat dalam jannah-Mu sebagimana mereka mempersembahkan hidangan terbaik bagi keluarga kami. Ampunilah segala khilaf dan dosa mereka karena begitu banyak pula kekhilafan kami dalam bersikap terhadap mereka. Karuniakanlah perbaikan dalam keturunan mereka sehingga kehidupan mereka lebih baik lagi sebagaimana kehidupan kami pun lebih baik dengan kehadiran mereka. Karuniakanlah mereka pemilik pekerjaan yang menyayangi mereka dan keluarga mereka, yang menghargai segala jerih payah mereka, yang memaafkan segala kekurangan mereka sebagai mana para majikan pun memiliki banyak kekurangan. Alirkanlah pahala-pahala kebaikan kami saat ini kepada mereka yang dengan tulus membantu orang tua kami menjaga, merawat bahkan mendidik kami. Kumpulkanlah kami semua dalam jannah-Mu sebagaimana engkau kumpulkan kami di dunia ini, dalam keadaan yang jauh lebih baik lagi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

San Jose, California. 1 Mei 2014

Kiki Barkiah

Wahai Anakku, Inilah Pesan Ummi Tentang Hakikat Belajar

[Dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Suatu hari saya mengajar homeschooling dalam sesi pengetahuan umum. Tema yang diangkat minggu tersebut adalah semua hal yang berkaitan dengan bumi dan lingkungan. Saat itu saya sedang menyampaikan konsep mengenai mengapa es di belahan kutub terus mencair. Dalam homeschooling kami, setiap minggu mengangkat tema tertentu untuk dibahas. Meskipun ilmunya dikatakan berlevel “tinggi” namun dengan proses penyampaian kreatif, anak-anak saya alhamdulillah tetap dapat mengambil sebuah pelajaran meskipun berbeda penekanan bagi setiap level usia anak.

Saat itu saya menyampaikan tentang kondisi bumi yang semakin memanas yang menyebabkan es di kutub mencair dan membuat air laut semakin tinggi serta daratan semakin sempit. Hal ini salah satunya disebabkan oleh adanya lapisan gas yang disebut efek rumah kaca yang diakibatkan oleh berbagai polusi yang dibuat oleh manusia. Tentu saja materi ini akan sulit diterima balita jika disampaikan dengan gaya pengajaran biasa. Saya membuat drama singkat dalam setiap penyampaian materi seperti berperilaku sebagai pohon yang merasa kesulitan membersihkan udara. Kami membuat simulasi es mencair yang membuat air laut menjadi naik dan daratan sempit. Kami bermain role playing diatas kasur yang menggambarkan daratan yang semakin sempit jika air laut terus meninggi. Kami bermain simulasi bumi yang terus menerus membuat landfill untuk mengubur sampah. selain itu, berbagai pertanyaan pun dilempar untuk membangun sebuah diskusi. Begitulah kira-kira suasana sekolah dirumah kami, yang terkadang berlangsung diatas tempat tidur.

Ummi “aaaa…. Bagaimana ini? Tempat tinggal kita terus semakin sempit kalo air terus menerus naik. Kira-kira apa ya solusinya?”
Shiddiq 4.5y: “ooooo i know! we have to make a hotel ship!”
Ummi : “hotel ship? Subhanallah bagus itu”
Lalu Shiddiq bercerita tentang imajinasinya selama hampir 5 menit sampai-sampai kakaknya Shafiyah 6y protes karena tidak mendapat giliran berbicara.

Shafiyah : “Shiddiq, your story is too long, this is my turn!”

Kemudian Shafiyah pun bercerita tentang keinginannya membuat rumah yang mengapung di air.

Sesi pelajaran ditutup dengan drama pembangunan landfill terus menerus dan cerita bahwa 1 hari pembuangan sampah di kota New York bisa mengisi Empire State Building dengan sampah, kemudian saya bertanya

“Jadi apa dong solusinya biar landfill nya gak bikin tempat tinggal manusia makin sempit?”

Shafiyah: “harus kurangi buang sampah”

Shiddiq: “ya that’s why we make art and craft with trash!”

Wahai anakku…..

Ummi teringat perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan. Juga teringat sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya (amalnya tidak semakin baik), maka ia hanya akan semakin jauh dari Allah.” (HR ad-Darimi).

Oleh karena itu, belajar seperti inilah yang ummi harapkan dari sebuah tambahan ilmu bagi kalian dalam sekolah di rumah kita. Sebuah peningkatan kapasitas intelektual yang membuat kalian semakin mengenal kebesaran Allah sehingga dengan itu kecintaan kalian kepada Allah semakin bertambah. Sebuah tambahan pengetahuan yang membuat kalian semakin merasa kerdil dihadapan Allah, sehingga dengannya kalian semakin tunduk dan khusuk dalam beribadah kepada Allah. Sebuah tambahan ilmu yang menumbuhkan kepekaan diri terhadap sebuah masalah, sehingga dengannya muncul kecerdasan sosial dalam diri kalian untuk mengambil sebuah peran kekhalifahan dalam kehidupan. Sebuah tambahan informasi yang berbuah keluhuran moral, sehingga dengannya bertambah derajat kalian di sisi Allah. Sebuah tambahan pengetahuan yang meningkatkan kualitas kinerja dalam profesi yang kalian emban, sehingga dengannya keberkahan mengalir dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Sebuah pembelajaran yang mampu memicu perubahan dalam diri kalian, sehingga dengannya kalian bersemangat melakukan perubahan sosial. Sebuah tambahan bekal kehidupan yang membuat kalian dapat hidup lebih bermartabat dalam sebuah peradaban, sehingga dengannya engkau bersemangat membangun peradaban yang bersendikan bilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Wahai anakku….

Ummi tidak memaksa kalian harus pandai matematika atau IPA, karena begitu banyak pilihan bagi kalian dalam mengambil peran kekhalifahan. Seandainya kalian suka matematika, ummi tidak akan menghabiskan kapasitas otakmu dengan skill berhitung cara cepat, sehingga kalian harus kursus ini itu yang mengurangi jadwal kalian bermain. Tenang saja anakku, berhitung cepat itu bisa dibantu kalkulator. Ummi lebih suka kalian mengasah logika matematika dengan memprogram gerakan robot atau membuat programming games. Ummi tidak memaksa kalian harus bisa membaca sebelum sd yang membuat kamu merasa terpaksa sehingga kelak membenci buku. Ummi hanya ingin kalian suka membaca meski saat ini masih dibacakan atau sekedar presentasi dari gambar. Karena kelak buku yang akan membantu ummi membimbing kalian dalam proses belajar seperti yang ummi harapkan diatas. Harapan ummi diatas juga tidak berarti bahwa kau harus meraih nilai ujian yang tinggi dan rapot yang membanggakan, sehingga kau tidak perlu repot-repot mencontek saat ujian atau membeli kunci jawaban soal. Seandainya engkau membawa pulang angka-angka 90 atau 100, maka ummi sangat bahagia asalkan itu kau raih dengan kejujuran. Memang betul, ummi meyodorkan berjuta buku dimasa kecil kalian, tapi kita tidak pernah kurang waktu untuk bermain kan? karena ummi pun senang bermain bersama kalian. Ummi juga tidak meminta kalian menghafal sejuta isi buku yang ummi berikan. Ummi hanya ingin kalian menjadi manusia pembelajar yang menjadikan “membaca” sebagai amalan harian kalian sebagaimana wahyu pertama dari Allah kepada Rasulullah adalah “Iqro!!!”. Jika kalian sudah cinta belajar dan belajar setiap saat, maka kalian tidak perlu repot-repot menghadapi ujian dengan SKS atau sistem kebut semalam yang membuat ilmu itu cepat hilang saat selesai ujian. Jangan seperti ummi ya nak, yang meraih sekolah favorit dan rapot yang baik sampai dapat ijazah sarjana di kampus yang baik namun membayar semuanya dengan sistem kebut semalam. Mengapa? karena nyaris semua ilmu itu hilang setelah melahirkan kalian hahahahaha. Ah…. ummi jadi teringat konflik bersama Ali beberapa tahun lalu. Ali yang sangat cinta belajar dan cinta ilmu itu TIDAK MAU BERSEKOLAH meski ia memborong semua piala olimpiade di sekolah. Seperti petir menggelegar terdengar di telinga saat ia menjelaskan kalau ia bosan bersekolah, padahal sekolah tersebut adalah sekolah yang sangat baik di kota kami. ummi katakan pada ali bahwa ummi tau kamu suka belajar, ummi tau ijazah itu bukan segala-galanya. Namun dengan ijazah begitu banyak peluang kebaikan yang terbuka. Ummi katakan saat itu kalau memang kamu tidak mau sekolah silahkan tapi kamu harus siap untuk hidup tanpa ijazah. artinya, kamu harus bekerja keras untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Akhirnya Ali setuju saat ummi menawarkan homeschooling dan ikut ujian paket, sampai akhirnya ummi dan bapak mendirikan sekolah di Batam. Sekolah yang memberi ruang bagimu untuk belajar sesuai keinginanmu. Bagi ummi kalian boleh belajar apa saja yang kalian mau namun karena kita hidup di planet bumi, maka ikutilah aturan negara dimana kalian tinggal saat ini. Pinta ummi, tetaplah kalian belajar materi apa yang akan diujikan untuk bisa mendapat ijazah itu walau terpaksa sedikit menghafal. Bagi ummi menggigit konsep itu lebih penting, menghafal itu tidak perlu kecuali menghafal Al-Quran, karena dalam dunia nyata kamu bisa mencotek “manual book” saat kalian memecahkan persoalan. Namun karena ummi bukan menteri pendidikan, mau tidak mau kalian harus berdamai dengan aturan yang ada, mau tidak mau kalian harus belajar menghadapi ujian nasional. Pesan ummi, gigitlah konsep ilmu, sehingga jika ada 70 soal turunan dari sebuah konsep dan 30 soal hafalan, minimal angka 70 sudah cukup untuk membuatmu meraih ijazah. Kalau suatu hari ada anak ummi yang jadi menteri pendidikan, hapuskan saja ujian nasional nak! hapuskan saja ujian naik kelas nak! ganti dengan tugas membuat proyek dan mempresentasikannya, sehingga tanpa ujianpun sang guru sudah tau bahwa anak sudah belajar. Karena bagi ummi, saat kalian berhasil membuat proyek, proses itu pasti akan memaksa kalian untu belajar dan mengerti. Itulah mengapa setiap hari kita “ngulik”, masak bersama, membuat art and craft, atau percobaan science. Bukan berarti kamu harus jadi cheft, atau pengrajin lho…… Ummi hanya ingin menumbuhkan budaya berkaya sejak kalian kecil. Harapan ummi sejalan dengan ilmu yang kalian terima, kelak kalian akan membuat sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. terakhir pesan ummi, ingatlah sebuah kalimat ini, kalimat ini dibuat olah uwa kalian mohammad ibrahim yang sangat gemar belajar saat ia berusia remaja. LIFE for STUDY and STUDY for LIFE. Hanya saja ummi tambahkan “and that’s all for Allah”

Nb:
Maaf ya ini mah prinsip yang dianut keluarga saya, kalo dirasa terlalu ekstrim gak usah diikutin hehe.

Referensi:
 Why are the ice caps melting? Anne Rockwell
 Tulisan tentang "hakikat belajar" oleh Muhbib Abdul Wahab

 

San Jose, California. 24 April 2014

Kiki Barkiah