Bocah-bocah Akhir Jaman

[Dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Hati saya tersentak membaca curhatan seorang bunda via inbox yang tinggal di salah satu perkampungan Indonesia. Beliau mengabarkan tentang kondisi masyarakat di lingkungannya. Beliau bercerita tentang seorang bocah SD berumur 8.5 tahun di lingkungannya yang sering mengkonsumsi konten pornografi. Bocah tersebut sudah berada dalam tahapan kecanduan bahkan puncaknya ia nekad melakukan “acting out” terhadap balita berusia 3 tahun. Tersentak bukan karena mendengar kasus ini, karena kasus semacam ini memang semarak terjadi di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Saya begitu tersentak karena ketika ibu sang korban melaporkan kepada ibu sang pelaku, dengan mudahnya ia menjawab “ya sudah kalo gitu, gak usah main sama anak saya aja!” Lalu ia pergi menghentikan pembicaraan menuju rumahnya.

Astagfirullah….astagfirullah….astagfirullah, kini memang telah tiba akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Anak-anak kita adalah bocah-bocah akhir zaman karena dimasa inilah kita dan anak kita hidup. Dan dimasa inilah kita mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Dan ditengah lingkungan seperti inilah kita membentuk kepribadian anak-anak kita. Sebuah masa yang Rasulullah telah kabarkan bahwa perzinahan akan merajalela. Ketika dahulu hal ini dianggap aib yang luar biasa, namun kini hal ini dianggap hal yang biasa. Bahkan mungkin kelak menjadi biasa terjadi dikalangan bocah-bocah ingusan yang seharusnya masih suci dari dosa. Di akhir zaman ini, sebuah perzinahan yang terjadi beberapa menit saja, kini tidak lagi hanya menjadi dosa dua orang manusia. Namun, teknologi telah memudahkannya untuk menjadi sarana dosa beramai-ramai.

Saya jadi teringat pesan umar bin khatab kepada para orang tua, untuk mendidik anak-anak sesuai jamannya. Dan kini, jaman telah berubah, anak kita tidak lagi tumbuh dalam masa kecil seperti kita apalagi seperti orang tua kita. Dan kita tidak lagi dapat sepenuhnya meng “copy paste” bagaimana cara orang tua kita mendampingi tumbuh kembang kita.

Kejadian ini semakin menguatkan pilihan kami, dalam memahami apa sesungguhnya hakikat “bersosialisasi” bagi anak-anak kami di masa kini. Melihat kenyataan rusaknya pergaulan di usia remaja, baik di Indonesia apalagi di Amerika, maka kami memilih untuk memaknai “belajar bersosialisasi” tidaklah harus dengan cara menempatkan anak dalam sebuah lingkungan sosial yang bersifat masif sehingga ia memiliki kesempatan untuk banyak mengenal orang lain. Karena lingkungan yang bersifat masif sangat sulit berada dalam pemantauan kami sementara hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai kepribadian dan pola pikir yang bervariasi. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu pada fasa pembentukan jati diri mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang kami anut. Sampai kelak kemudian kami siap melepaskan mereka dengan kepribadian yang lebih kokoh dan siap memilah apa yang baik untuk diteladani serta apa yang buruk untuk ditinggalkan atau didakwahi. Maka kami memilih, bahwa yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah miniatur masyarakat dalam sebuah lingkup sosialisasi yang lebih kecil, yang terjaga dan terpantau,sekedar cukup untuk mengajarkan anak bagaimana adab bergaul dan bersikap terhadap orang lain.

Bagi kami, baik tidaknya seseorang dalam bersosialisasi tidak dilihat dari berapa banyak jumlah teman yang ia miliki, serta tidak dilihat dari seberapa cepat ia mampu beradaptasi dalam lingkungan baru. Namun dari seberapa banyak kebermanfaatan yang dapat ia berikan bagi lingkungannya serta seberapa besar perbaikan yang mampu ia lahirkan bagi lingkungannya. Terlebih hidup di era sosial media seperti saat ini, membangun hubungan pertemanan menjadi perkara yang jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dengan jenis kepribadian apapun. Yang menjadi tantangan utama bersosialisasi di akhir zaman seperti ini bukanlah bagaimana membangun hubungan pertemanan yang banyak, namun bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran ditengah zaman yang semakin “wong edan”

Karena kenyataan ini, maka kami memilih untuk menjalankan program homeschooling pada fasa 7 tahun kedua perkembangan mereka setelah sebelumnya mereka diberi kesempatan untuk sedikit merasakan warna-warni realita kehidupan dunia khususnya di Amerika. Kami memilih untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka pada masa-masa pencarian jati diri mereka. Pilihan ini kami ambil dengan segala konsekuensinya, demi menjaga, memilah, dan membatasi apa yang di dengar, dilihat, dan dialami oleh anak-anak kami pada masa-masa utama pendidikan dan pembentukan karakter mereka. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan kepada mereka sebelum kelak mereka bersinggungan dengan warna-warni nilai kehidupan yang dianut menusia . Bukanlah sebuah lingkungan steril yang ingin kami ciptakan dengan mempersempit wilayah sosial mereka, namun kami membutuhkan sedikit waktu untuk membangun imunitas dalam jiwa mereka. Imunitas itu dapat kami bangun dengan memperlihatkan realitas keburukan masyarakat di dunia hanya dari kaca mata luar tanpa harus terlalu banyak bersinggungan dengan subjek pelakunya. Karena yang kami butuhkan dari fakta keburukan itu, hanyalah untuk mengasah rasa kepekaan sosial mereka. Dan kami berharap, kebersamaan kami yang lebih lama memberi kesempatan bagi kami untuk merefleksi dan mengarahkan bagaimana yang seharusnya. Kami sadar, pilihan kami bukanlah pilihan sederhana. Bahkan mungkin banyak diantara kerabat dekat pun masih ada yang tidak menyetujuinya. Namun kami harus memilih, memilih apa yang saat ini paling mudah untuk mendekatkan kami kedalam surga. Agar kelak kami dapat mempetanggungjawabkan dihadapan sang Penguasa terhadap sebuah perintah di dalam Al-quran untuk memelihara diri dan keluarga dari panasnya api neraka.

Yaa! Kami harus memilih! Walau pilihan kami melawan kenyamanan. Karena anak-anak kami adalah bocah-bocah akhir zaman, yang memiliki pilihan diantara dua peran dalam kancah kehidupan akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Memilih menjadi manusia yang memiliki masa depan sebagai bagian dari kerusakan peradaban atau memilih menjadi manusia yang mengambil bagian dalam kemenangan islam.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berdoa untuk keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah

Kala Cemburu Melanda

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Di hari-hari pertama kelahiran bayi, memang tidak mudah bagi Faruq yang saat itu berusia 2.5 tahun untuk berkompromi dengan perubahan yang ada. Kehadiran anggota baru tentunya menyita perhatian kami, terlebih bagi kami yang hidup merantau tanpa sanak saudara. Kecemburuan adalah hal yang wajar muncul meski sejak jauh-jauh hari sebelum kelahiran bayi, kami mempersiapkan Faruq agar dapat menerima kondisi ini melalui berbagai buku yang bercerita tentang saat-saat pertama memiliki adik baru.

Dalam tulisan sebelumnya saya pernah menulis berbagai teknik yang kami coba terapkan dalam menghadapi kecemburuan Faruq yang terkadang sangat mengganggu dan membahayakan. Dari mulai memberi pengertian, membuat aturan dan batasan, sampai sesekali memisahkan bayi dari Faruq demi keselamatan.

Sampai suatu hari Allah memberi ilham saat saya akan meninggalkan bayi ke kamar mandi. Biasanya ketika sebuah pesan larangan untuk tidak mengganggu saya sampaikan, yang sering terjadi adalah munculnya tangisan bayi yang merasa terganggu oleh ulah jahil sang abang. Dan ketika keluar kamar mandi Faruq akan tertawa puas dan senang karena merasa menang.

Suatu hari sebuah pesan saya sampaikan bukan untuk Faruq tapi untuk sang bayi. “Fatih, ummi mau ke kamar mandi dulu ya, Fatih jangan sedih, Fatih dijaga abang Faruq. Abang Faruq kan sayaaaaaaang banget sama Fatih” “Faruq tolong jaga ya nak ade babynya” maka Faruq pun tersenyum, memeluk, menjaga dan menghibur sang bayi.

Dari hari ke hari alhamdulillah kami semakin mengerti tentang Faruq. Menyampaikan sebuah larangan bagi anak dengan tipe seperti Faruq hanya akan menantangnya menguji batasan. Faruq dengan senang hati melakukan apa yang dilarang untuk sekedar memuaskan rasa penasaran tentang apa yang akan kami lakukan jika aturannya dilanggar. Dan kami semakin mengerti bahwa memberikan kepercayaan dan penghargaan padanya akan membuat ia merasa diakui, lalu ia bersemangat membuktikan yang terbaik pada kami.

Sejak saat itu, hari demi hari kemi lewati dengan memperbanyak apresiasi saat menemukan Faruq bersikap baik terhadap adik barunya. Ia pun begitu bersemangat membantu bahkan terkadang berkeras hati untuk membantu. Kepeduliannya begitu istimewa untuk seorang balita yang kini baru berusia 3 tahun. Bahkan sering sekali ketika sang bayi terdengar menangis dari kamar, ia hentikan permainannya, lalu sibuk mengumpulkan buku dan mainan bayi kemudian segera menghampiri bayi untuk menghiburnya. Bahkan seringnya, saya pun sampai tidak tahu bahwa bayi terbangun dan menangis karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga.

Masya Allah, memiliki adik memang salah satu cara ampuh untuk membuat seorang anak lebih mandiri asalkan kita mampu menanganinya dengan tepat. Faruq terpaksa harus melakukan berbagai kebutuhannya sendiri, karena ia tidak mau menunggu saya selesai menyusui. Kecuali pada hal yang benar-benar membutuhkan pertolongan saya.

Namun bagaimanapun ia adalah balita 3 tahun yang masih dalam tahap menyempurnakan 50% perkembangan otaknya. Maka ia pun sesekali bertindak layaknya balita pada umumnya yang kurang tepat bertindak dalam mengungkapkan keinginannnya.

Saat Faruq berbuat kegaduhan disamping bayi….
Ummi: “Faruq lagi cari perhatian ya…..!”
Faruq: “heheehe iya…..”
Ummi: “Faruq lagi butuh ummi ya? Kalo Faruq butuh ummi Faruq bilang ‘ummi….. Faruq butuh ummi! Gimana bilangnya?”
Faruq: “ummi….. Faruq butuh ummi”
Ummi: “sekarang Faruq lagi pengen apa?”
Faruq: “Faruq pengen susu”
Ummi: “Faruq bisa nunggu? Kalo sekarang Fatih lagi nyusu”
Faruq: “mau sekarang!”
Ummi: “kalo gitu Faruq ijin sama adek, boleh gak susunya lepas dulu?”
Faruq: “Fatih…. boleh gak nyusunya berhenti dulu?”

Terkadang Fatih pun mengerti, dan melepas puting susu. Terkadang ia menangis, lalu dihibur Faruq sementara saya menyiapkan susu.

Saat Faruq melompat-lompat atau berjungkir balik dikasur, sementara bayi sedang tidur sambil menyusui…..

Ummi: “Faruq sedang cemburu ya! Itu namanya Faruq sedang cemburu”
Faruq pun tersenyum dan berkata “adek nyusunya lama”
Ummi: “eh sini sini ummi punya cerita, dulu waktu Faruq bayi, Faruq nyusu lamaaaaaaaaaa sekali seperti Fatih. Abang Shiddiq juga harus nunggu kalo mau dipeluk ummi, tapi kalo Faruq lompat-lompat Fatih gak tidur-tidur, makin lama dong dipeluknya”
Lalu saya terus bercerita tentang kenangan masa bayinya sehingga ia pun terhibur bahagia.

Saat Faruq tiba-tiba bermain dengan kasar pada bayi…

Ummi: “abang pengen ngajak main ade bayi ya? Abang sayang ya sama adek?” Faruq pun mengangguk
Ummi: “adek gak suka kalo mainnya seperti tadi, karena sakit, adek pengen cara mainnya lembut, tapi adek sukaaaa banget kalo Faruq bawain boneka dan bacain buku” lalu Faruq pun mencari permainan lain untuk menghibur bayi.

Anak bisa diberi pengertian, anak bisa diberi kepercayaan, anak bisa terlibat mengambil peran, anak bisa memilih sikap yang sesuai, asalkan kita terus bersabar memberikan pendidikan. Mendisiplinkan anak bukanlah sebuah deklarasi kekuasaan orang tua. Mendisiplinkan adalah mengajarkan batasan perilaku. Mendisiplinkan anak adalah buah dari cinta kita maka perlu dilakukan dengan penuh cinta. Kecemburuan memang perasaan alamiah yang keberadaannya terkadang penting sebagai wujud dari cinta. Namun cinta yang tulus akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengelola rasa cemburu.

Kiki Barkiah

Ketika Hidup Harus Memilih

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Setiap keluarga pasti memiliki tantangan dan permasalahan tersendiri. Tidak satupun keluarga di dunia ini yang hidup tanpa permasalahan. Namun berbahagialah jika permasalahan yang kita hadapi bukan sebuah permasalahan yang mendekatkan kita kepada api neraka. Karena sesungguhnya musibah terbesar dalam kehidupan kita adalah jika permasalahan itu berkaitan dengan musibah agama. Namun kita berhak memilih apakah setiap permasalahan yang kita hadapi semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta atau sebaliknya.

Begitu pula dalam dunia pengasuhan anak, tantangan demi tantangan akan selalu hadir dalam setiap fasa perkembangan anak-anak. Begitu juga dalam keluarga kami, satu per satu secara bertahap kami merajut, menyulam, dan menambal setiap kekurangan dalam membentuk kepribadian anak-anak.

Jujur, ada sedikit hal yang mengusik dada, jika melihat Shiddiq (5y) yang selama ini cukup memberikan tantangan dalam dunia pengasuhan anak keluarga kami. Meskipun masih terlihat wajar jika diukur dari faktor usianya, namun tetap memberikan PR tersendiri dalam menghadapinya jika dibandingkan dengan kematangan saudara-saudaranya pada usianya, atau bahkan kematangan Faruq adiknya yang berusia 2 tahun lebih muda.

Karena Shiddiq lah kami terus belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, kemudian tambal sulam untuk meramu cara yang pas dalam menghadapinya. Namun saya akui, ketidaktepatan langkah kami dalam menghadapi fasa “terrible two” Shiddiq, cukup menyisakan PR panjang sampai hari ini. Meskipun kami melewati masa-masa “terrible two” Faruq yang lebih luar biasa, namun keluangan waktu, bertambahnya ilmu, dan fokusnya pikiran menjadikan fasa itu terasa terlewati dengan lebih baik jika dibandingkan dengan Shiddiq. Sehingga di usia Faruq yang 3 tahun, ia memiliki kematangan yang tidak pernah dicapai oleh kakak-kakaknya di saat usia yang sama. Dan terkadang kematangannya melebihi kematangan Shiddiq, abangnya.

Mengamati permasalahan Shiddiq, sering membawa pikiran saya untuk kembali pada masa 5 tahun silam. Fasa dimana dimana saya berusaha menjalankan kesemua peran secara “unggul”. Sebagai seorang wanita yang sangat aktif berorganisasi saat gadis, memang tidak mudah memilih untuk hanya berperan dalam urusan domestik rumah tangga. Meskipun secara sadar dan ikhlas saya memutuskan untuk mengabdi kepada keluarga di dalam rumah, namun segala cita-cita yang pernah saya tulis terperinci dalam sebuah daftar Visi Misi hidup, saya konversikan dalam bentuk peran yang dapat dilakukan dari dalam rumah. Saat itu saya begitu bersemangat untuk “berkarir dalam rumah”.

Sebuah usaha perdagangan dari dalam rumah saya rintis, demi mewujudkan cita-cita besar saya di bidang pendidikan. Berkantor di rumah adalah sebuah pilihan yang saya ambil, agar fungsi dan peran sebagai ibu tetap mampu saya jalankan namun cita-cita pun tetap dalam rintisan. Namun ternyata semua itu tidak mudah.

Jatuh bangun kami merintis, setiap merasa lelah saya dan suami selalu berdiskusi apakah langkah ini tepat dilakukan demi cita-cita terakhir kami, yaitu berkumpul di surga. Tak pernah saya lupa setiap kata penyemangat dari suami tercinta dalam mendukung cita-cita saya. Seorang laki-laki yang menurut pengakuannya baru saja berhijrah mendekat kepada Allah beberapa hari sebelum pertemuan kami. Seorang laki-laki yang meminang saya dengan sebuah janji untuk bersedia bersama berjuang di jalan dakwah. Lagi-lagi terkadang saya ingin mundur dan berhenti jadi pengusaha, namun lagi-lagi sang suami selalu menguatkan saya.

Memang tidak mudah untuk mundur ketika semua telah dirintis, apalagi saat itu berkaitan dengan hajat hidup karyawan yang terlibat dalam usaha. Mau tidak mau, suka tidak suka, target harus dikejar demi cashflow yang seimbang. Dan ternyata tidak mudah menjalankan peran ibu dengan optimal saat “target” dan “deadline” berbicara.

Saat itu, perilaku Shiddiq semakin menantang, caranya dalam mencari perhatian semakin menjadi. Satu per satu amanah saya lepas, satu per satu amanah didelegasikan, sampai akhirnya atas hidayah dari Allah, kini saya memilih untuk lebih fokus menjalankan peran domestik. saya hanyalah seorang manusia biasa yang Allah beri keterbatasan kemampuan untuk bisa optimal pada semua sisi. Ketika sebuah folder dalam otak harus dibuka, kenyataannya folder lain harus tertutup. Ketika “target” dan “deadline” berbicara, kenyataannya perhatian saya terhadap anak-anak alakadarnya, bahkan sekedar “anteng” saja.

Kesulitan saya di masa kini dalam menghadapi anak-anak, salah satunya adalah akibat adanya masa-masa yang terlewatkan bersama anak-anak. Sehingga kini, saya harus membayar dengan sedikit kerja ekstra. Alhamdulillah belum terlalu terlambat dalam merajut kembali yang tertinggal meski saya semakin sadar bahwa waktu tidak akan pernah kembali dan batang usia anak pun terus bertambah. Tidak mudah bagi kita untuk kembali mengulang masa-masa yang saya tertinggal itu.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup bukan hanya harus memilih apa yang terbaik namun juga harus memilih apa yg harus dikorbankan, serta memilih apa yang harus kita tunda saat ini. Dan setiap saat kita harus kembali menengok apakah pilihan kita mampu melahirkan kebahagiaan yang haqiqi.

“Berjuang itu ada caranya, gunakan cara yang kita bisa!” (Pesan dari Permata Nur Miftahur Rizki rekan seperjuangan di kampus 8 tahun lalu)

San Jose, California
Dari seorang ibu yang tengah menunda sebagian cita-citanya

Kiki Barkiah

Sesungguhnya kita dan keluarga mengalami kerugian, kecuali…

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 1]

Saat menjelang keberangkatan kami untuk camping 3 hari di hutan, ummi kesulitan menemukan kunci rumah. Selagi ummi dan bapak kebingungan mencari kunci rumah, ada pembicaraan menarik yang terdengar…..

Shiddiq: “Kita titipkan saja rumahnya pada Allah”
Ali: “Tapi kita harus ikhtiar dulu baru titipin sama Allah”

Alhamdulillah akhirnya kunci serep kami temukan, dan bismillah perjalanan pun dimulai.
Ketika malam menjelang tidur, di dalam tenda kami berbicara….

Shafiyah: “Ummi barang-barang kita kan masih ada yang diluar tenda”
Ummi: “Insya Allah gak apa-apa lah, isinya cuma bahan makanan. Kita titipin aja sama Allah”
Shiddiq: “Ummi tapi gimana kalo ada pencuri?”
Ummi: “Semua orang disini sibuk camping dik! Kayaknya gak ada yang mau nyuri-nyuri makanan, udah yuk kita bobo aja, insya Allah gak apa-apa”
(Padahal ummi males banget harus keluar tenda malam-malam)

Tiba-tiba di pagi hari, anak-anak ribut memberi kabar

“Ummi…. makanan kita ada yang nyuri!”

Ummi pun segera melihat-lihat. Ternyata beberapa bungkus snack tortilla telah sobek bahkan beberapa bungkus lainnya nampak hilang. Lalu kami melihat beberapa tupai berhamburan berlari lalu bersembunyi sambil memakan tortilla.

Spontan anak-anak pun protes berkata…

“Tuh kan ummiiiii……… kita bilang juga apa!!!!! Masukin dulu makanannya, kan harus ikhtiar dulu!”

Ummi: “Iya ya ummi yang salah, maaf ya… ummi gak kepikiran kalo bakal dicuri tupai, harusnya kita ikhtiar dulu baru titip sama Allah”

Wkwkwkwkwkkwkwkwk

Di waktu yang lain…..

Shiddiq: “Ummi kayaknya bapak itu gak pernah ngaji, idiq gak liat bapak ngaji”
Ummi: “Hehehe itu karena idiq gak ketemu bapak seharian aja, kan kalo bapak pulang sibuk nidurin idiq dulu setelah shalat jamaah”
Shiddiq: “Tapi kayaknya ngajinya gak sebanyak ummi lah…”
Ummi: “Ya udah bilang sana sama bapak jangan lupa ngaji”

Itulah cuplikan kisah diantara sekian banyak pembicaraan serupa dimana sang guru yang kadang khilaf dalam bersikap, diingatkan oleh murid-muridnya. Didalam keluarga kami, proses saling menasihati dan mengingatkan tidak hanya berlaku satu arah, namun siapapun berhak melakukan dengan cara yang hormat kepada siapapun yang membutuhkanya.

Masya Allah…. memiliki banyak anak memang melahirkan sekian banyak tanggung jawab dan amanah. Namun jika masa masa sulit yang merepotkan ini kita pandang sebagai sebuah perjuangan menanam benih investasi kebaikan dunia dan akhirat, maka semoga tak lama lagi mereka dapat menjadi pelindung kita di dunia dan juru selamat bagi kita di akhirat kelak, insya Allah.

Karena sesungguhnya kehidupan dunia itu begitu singkat, maka hal itu berarti masa “kerepotan” kita menemani tumbuh kembang anak di usia tahun-tahun pertama kelahirannya hanya sebentar saja. Namun kita perlu mempersiapkan sejak dini agar tidak mengalami “kerepotan kembali” ketika kelak mereka meranjak dewasa. Dan sesungguhnya tugas yang lebih berat menanti adalah bagaimana kita terhidar dari “kerepotan” di negeri akhirat yang disebabkan oleh mereka. Dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran di dalam keluarga adalah kunci utama untuk terhindar dari kerepotan di negeri akhirat kelak.

Firman Allah:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” Al-Quran surat Al Ashr 1-3.

#repot urusan anak diwaktu kecil itu PASTI
#repot urusan anak diwaktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH
#repot urusa anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI

Kiki Barkiah

Merumuskan Kembali Tujuan Menyekolahkan Anak-anak

Mari kita sejenak rehat dari segala hiruk pikuk aktifitas kita sehari-hari untuk berpikir dan memaknai segala kesibukan harian tersebut. Diantara kita mungkin ada yang setiap pagi sibuk mempersiapkan baju sekolah anak, menyiapkan bekal sekolah mereka, melakukan beragam aktifitas dalam jadwal yang padat merayap di pagi hari sebelum berangkat sekolah, bahkan tak jarang kita hiasi dengan teriakan-teriakan untuk menyuruh anak-anak kita melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Sebagian mereka ada yang harus melakukan semua itu sejak sangat pagi, atau terpaksa menikmati kemacetan di pagi hari. Belum lagi, biaya SPP yang sangat mahal dan uang pangkal yang super duper mahal, mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi dalam memenuhi kebutuhan anak-anak agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah.
Namun pernahkan kita sejenak bertanya sampai dimanakah tujuan, cita-cita dan harapan kita dengan menyekolahkan anak? Pernahkah kita bertanya apa yang anak-anak rasakan dan apa yang anak-anak maknai tentang keseharian mereka yang tak jauh dari dunia sekolah?
Bila diajak bernostalgia mungkin ada banyak murid seperti saya, membawa buku yang tebal dalam tas yang berat, mengerjakan tugas sekolah di rumah sampai larut malam, duduk berjam-jam di kelas yang sesekali harus melawan kantuk dan kebosanan. Ternyata saat itu saya belajar untuk mendapat nilai ulangan yang baik agar rapot yang diterima oleh urang tua bernilai cantik dan mendapat rangking yang baik. Lalu sesekali saya belajar lebih giat, bahkan sangat giat demi mendapat NEM yang cukup untuk masuk ke sekolah favorit. Dari satu sekolah favorit menuju sekolah favorit pada jenjang selanjutnya, hanya untuk mendapatkan kampus favorit dengan jurusan yang favorit. Lalu kemudian ada masa dimana saya bertanya saat melihat ijazah sekolah “Jadi sebenarnya selembar kertas yang mati-matian saya cari ini untuk apa?”
Ternyata selembar kertas yang mati-matian diraih dengan kelelahan, kurang tidur karena bergadang, juga investasi besar yang telah dikeluarkan, tidak serta merta mengantarkan saya untuk bisa memiliki kehidupan yang baik dengan kelapangan harta seperti yang menjadi harapan orang tua saat menyekolahkan saya. “Agar bisa masuk ITB, agar bisa punya pekerjaan yang baik, agar taraf hidup lebih baik dari orang tua, agar menjadi orang sukses” seperti itulah mungkin kesimpulan umum yang saya tangkap akan harapan orang tua dalam 16 tahun proses pendidikan dalam bangku sekolah.
Ayah bunda, betapa sayang perjuangan menyekolahkan anak untuk tujuan sesederhana dan sependek itu. Tanggung jawab orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak lebih dari sekedar menyekolahkan mereka sampai memiliki pekerjaan yang baik dan bisa menghasilkan uang, lebih dari sekedar mengantarkan mereka menuju gerbang pernikahan dan kemandirian kehidupan. Tanggung jawab besar kita adalah bagaimana seluruh potensi yang ada pada diri anak-anak kita hantarkan agar mereka dapat menemukan dan menjalankan peran dalam peradaban (mission of life) yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia (purpose of life).
Allah menciptakan kita bukan tanpa maksud, bukan tanpa tujuan, bukan tanpa tugas atau misi yang harus dijalankan. Ibarat manusia menciptakan sesuatu, pasti memiliki tugas spesifik dan tujuan dalam pembuatannya. Setiap karya dikatakan bekerja dengan baik dan memuaskan pembuatnya, bila ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan yang direncanakan dalam membuatnya.

Di dalam Al-Quran Allah telah menyampaikan mengenai tujuan Penciptaan Manusia, diantaranya
1. Untuk beribadah kepada Allah
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (ibadah)” Adz Dzariyat QS. 51:56)

Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan murid-murid mereka sedemikian hingga menjadikan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”
2. Untuk menjalankan misi sebagai imaroh
“Dan (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (Imaroh) Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepadaNya. Sesunguhnya Tuhanku Maha Dekat dan Memenuhi segala perminataan” Hud QS. 11:61
3. Untuk menjalankan misi sebagai khalifah
“Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Al- Baqoroh QS. 2:30

4. Untuk menjalankan misi sebagai rahmatan lil alamin ( Menebar rahmat bagi semesta)
“Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” Al-Anbiya QS. 21:107

5. Untuk menjalankan misi sebagai Bashiro wa Nadziro (Solution Maker, Problem Solver, Reminder)

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” Al-Baqoroh QS. 2:119
Maka proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia memiliki semangat untuk menjadi pemakmur bumi. Ia akan memaknai pekerjaannya sebagai bagian dari melaksanakan fungsi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaan dan misi yang seharusnya ia jalankan. Ia akan memaknai pekerjaanya sebagai bagian dari ibadah sehingga setiap langkah dalam menjalankan perannya bertujuan unntuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah dengan cara yang diridhoi Allah.

Proses pendidikan sejati akan mengantarkan manusia melaksanakan peran sekecil apapun dengan penuh semangat dalam rangka memelihara agama Allah, menegakkan hukum-hukum Allah, memelihara dan menjaga kemanan bumi, menjadi problem solver yang menyelesaikan masalah dengan hukum Allah. Proses pendiikan sejati juga senantiasa membimbing manusia agar senantiasa berada di jalan kebenaran dan memiliki semangat untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran.

Insya Allah proses pendidikan tersebut akan melahirkan umat terbaik, umat pilihan, umat pertengahan yang moderat dan adil. Sebagaimana disebutkan ciri-cirinya oleh Allah di dalam Al-Quran.
1. Khoirul Ummah (Ummat yang terbaik)
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 110).

2. Ummatan Washatan (umat pertengahan) “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sekalian ummatan wasathan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu?” (Q.S. Al-Baqarah: 143).
Maka semua pihak yang bekerja sama dalam melaksanakan proses pendidikan anak-anak kita hendaklah sejalan dengan titik akhir yang ingin kita capai dari proses belajar yang harus dibayar dengan penuh kepayahan dan kelelahan. Tidakkah kita bahagia melihat anak-anak kita yang berlelah-lelah belajar, berlelah-lelah sekolah untuk menjadi seorang dokter, insinyur, guru, pengusaha, presiden dll, namun ia memiliki peran utama di muka bumi sebagai seorang mujahid, da’i dan dai’yah?

Oleh Kiki Barkiah

Bonding, motivasi, atau…

Main sama ayah itu “sesuatu banget ya” buat anak laki-laki. Apalagi main games komputer bareng sama ayah. Sejak ayahnya memberi hadiah bermain games bersamanya di malam hari jika semua syarat terpenuhi, anak laki-laki yang biasanya dikejar-kejar oleh saya dalam melaksanakan tugasnya kini lebih mampu memimpin dirinya.

Mantap… dari bada subuh saja semua disiplin standar pagi dan mulai belajar setelah selesai olahraga. Bahkan sering mulai belajar sejak bada subuh tanpa saya suruh. Setiap selesai sekolah Shiddiq sering bertanya “Ummi, tugas membantu ummi aku hari ini apa?”. (membantu pekerjaan ummi, masuk dalam jadwal homeschooling harian) Shiddiq bahkan mampu merinci apa saja tugas yang sudah dan belum dilaksanakan. Ia juga sering mengejar-ngejar saya untuk tugas belajar yang harus dibimbing saya.

Aa Ali juga semakin mendobrak kemampuan dirinya dalam menghargai waktu, Sudah menyelesaikan beragam pelajaran sekolah, mengerjakan proyek, bekerja sebagai guru bagi adiknya, masih semangat juga berusaha menyetor hafalan rata2 setengah juz sehari. Ia yang biasanya bersitegang soal urusan prioritas pekerjaan dalam memanfaatkan waktu, kini mati-matian akan menyelesaikan sesuai tenggat waktu yang disepakati, demi main bersama bapak. Entahlah ada kebahagiaan tersendiri melewatkan waktu bersama ayah bermain online games. Tentunya tetap kita pilihkan games yang mengandung unsur belajar dengan durasi yang tidak lama.

Sudah lama sang ayah pensiun dari dunia games sejak melamar saya menikah hahahaha. Kini ia kembali mengeluarkan skill lamanya untuk melakukan bonding bersama anak-anak. Kalo main untuk keasyikan dan kepuasan sendiri mah rasanya seperti kurang berempati terhadap pekerjaan istri. Makanya sejak menikah beliau tidak lagi bermain games seperti dulu. Tentu saya pun akan merasakan sesak di dada bila ngos-ngosan melakukan pekerjaan rumah tangga sementara suami asyik bermain games sendirian. Berhubung bermainnya menjadi bagian dari bonding dan program baby-sitting anak-anak maka lumayan lah sang ibu pun bisa beberapa puluh menit menulis buku tanpa diganggu. Sang ibu pun asyik membaca dan menulis sambil sesekali melihat jam dan menjadi pengingat waktu. “Waktu menunjukkan pukul…… siap-siap waktunya hanya….. menit lagi” Hahahahah tetep aja jadi satpam gadget yang cerewet. Sebab yang mubah itu akan bahaya kalo banyak-banyak.

NB: Anak-anak mendesain bersama-sama di minecraft. Kebetulan hampir semua anak memiliki laptop kerja mereka masing-masing. Jadi saat bermain mereka saling diskusi, tertawa dan seru bersama, tapi tetep… dgn laptop masing-masing. ya begitulah dunia digital.

Tanggung Jawab itu ada pada Orang Tua

Tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren.

Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik.

Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang ditempa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?

Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interaksi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.

Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya!

Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?