Kala Remaja Mulai Berani Sembunyi-sembunyi

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Pagi itu seperti biasa saya meninggalkan Ali belajar secara mandiri dalam kegiatan homeschooling karena harus menyusui bayi. Setelah selesai menyusui, saya bekerja di dapur sambil turut mendengarkan materi ceramah dari syeikh Yasir Qodhi yang menjadi mata pelajaran pembuka homeschooling hari itu. Namun hati saya tergerak untuk mendekati Ali. Tiba-tiba Ali bergerak kaget menyembunyikan sesuatu dibalik selimutnya, kebetulan cuaca pagi itu sangat dingin, sehingga ia melakukan kegiatan homeschooling sambil berselimut.

“Ali sedang apa nak? Coba sini ummi mau liat” Ali pun ketakutan, saya yakin ia sadar bahwa ia tengah berbohong. Saya melihat barang dibalik selimut, ternyata sebuah handphone. Handphone itu memang tidak bisa mengeluarkan suara karena rusak sehingga tidak lagi saya gunakan. Hanya saja handphone tersebut masih dapat terkoneksi dengan internet dan masih dapat mengeluarkan suara melalui earphone. Biasanya saya pinjamkan pada Ali untuk membuka aplikasi quran saat mengaji dan hafalan. Saya buka apa yang sedang ia lihat di channel youtube. Meski saya kecewa, tapi minimal saya bersyukur bahwa yang ia lihat bukanlah hal yang haram. Ali melihat video cara pembuatan elevator dengan menggunakan aplikasi games yang sangat terkenal di kalangan anak-anak, M*n*cr*ft.Saya memintanya mematikan materi ceramah untuk berdiskusi. Saya bertanya mengapa ia harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Mengapa ia tidak menyampaikan keinginannya kalo ia ingin menonton itu. Bahkan saya pun menyatakan, sekiranya memang ia menginginkan kegiatan sambilan selagi mendengar ceramah, sebagaimana saya pun bisa mendengarnya sambil mencuci piring, mengapa ia tidak mengajukan permintaannya pada saya. Saya tegaskan, dalam keluarga kami, semua anak berhak menyatakan keinginannya sekalipun berbeda pandangan dengan orang tua. Namun tidak boleh berbohong atau melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Saya tegaskan, bahwa jika tidak ada aturan yang menjadi kesepakatan, maka perbuatan tersebut tidaklah melanggar aturan apapun . Karena hal tersebut hanyalah kesepakatan bersama orang tua. Tetapi jika melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi maka itu artinya sudah membohongi orang tua. Membohongi orang tua berarti melanggar perintah Allah. Maka bagi kami, agar anak tidak perlu berbohong, aturan diantara anak dan orang tua perlu dibicarakan kembali agar semua pihak memiliki kemudahan dan kelapangan hati dalam mematuhinya.

Meski saya sangat kecewa, alhamdulillah saat itu saya dimudahkan untuk tetap berkomunikasi dengan nada yang tenang, dan datar. Lalu saya tutup nasihat saya dengan sebuah tugas. “Ummi minta aa tuliskan dalam sebuah kertas, apa yang selama ini aa inginkan dan belum dipenuhi ummi dan bapak, supaya aa tidak perlu melakukan dengan curi-curi dibalik kami” Lalu sebuah kertas kosong terisi dengan sebuah kalimat “Aa ingin main m*n*cr*ft supaya aa bisa belajar mendesign”. lalu saya memintanya untuk mengajukan proposal tersebut pada ayahnya. Dalam keluarga kami, beberapa keputusan besar berada di tangan sang ayah, sementara saya hanya memimpin dalam tataran pelaksanaannya. Memang sudah lama Ali pernah mewacanakan bahwa teman-teman seusianya bermain aplikasi tersebut bahkan sebagian dari mereka membeli lisensinya. Namun selama ini kami mengarahkan kegiatan hiburan dan bermain anak-anak pada sarana lain. Jika anak-anak menginginkan permainan yang berkaitan dengan multimedia, maka kami cenderung memilihkan permainan yang memiliki konten edukasi yang lebih banyak. Itupun dilakukan dengan durasi yang tidak lebih dari satu jam, dibawah pengawasan dan dilakukan setelah melakukan semua kewajiban. Selama ini, Ali lebih banyak menghabiskan jatah multimedianya untuk mendesain 3D dan belajar programming Java Script dan Scratch.

Malam itu Ali menyerahkan kertas permohonannya pada sang ayah.Sebagaimana umumnya makhluk bernama laki-laki para laki-laki, terlebih sang ayah yang berprofesi sebagai IT engineer, memang sulit bekomunikasi basa-basi. Malam itu, perngajuan proposal Ali yang dilakukan tanpa pendampingan saya, berujung pada keputusan”tidak”. Ali pun menghampiri saya dengan wajah sedih “kata bapak gak boleh” tuturnya dengan sedih. “kalo bapak sudah bilang begitu,ya sudah berarti gak boleh” jawab saya.

Malam itupun saya langsung rapat bersama bapak, saya bertanya mengapa jawabannya langsung saklek “tidak”. Bapak pun menjawab, bapak sudah berikan aplikasi lain kalo memang tujuannya untuk belajar mendesain. Bapak sudah mencoba langsung aplikasi yang Ali minta. Bapak menyatakan bahwa aplikasi tersebut lebih banyak mudhorotnya dari pada maslahatnya.

Bagi mereka yang membeli lisensi aplikasi tersebut, memang dapat memanfaatkannya untuk bermain, membuat desain, memprogram games dan aplikasi lainnnya. Namun kenyataannya, anak-anak seusia Ali lebih banyak memanfaatkan aplikasi tersebut untuk menikmati permainan yang disuguhi oleh server yang mengembangkan permainan ini menjadi games online. Karena anak-anak seusia Ali memang masih belum cukup memiliki kompetensi untuk memanfaatkan aplikasi ini untuk hal yang lebih produktif. Kami merasa aplikasi ini lebih banyak mudhorotnya justru karena siapapun bisa mengembangkan dan menjual aplikasinya sesuai seleranya. Sebagai keluarga yang menjungjung tinggi produktifitas waktu dan berupaya menghindari keluarga dari perbuatan yang sia-sia, maka dalam pandangan kami, masih banyak aplikasi lain yang bisa Ali gunakan untuk memanfaatkan waktu 1 jam yang memang merupakan haknya untuk bersantai didepan multimedia.

Keesokan harinya, saya pun menjelaskan panjang lebar tentang alasan sang ayah yang menolak proposalnya. Saya paling tidak mau membiarkan seorang anak merasa kecewa karena berbeda pendapat tanpa mengetahui secara detail motif orang tua dalam mengambil keputusan. Saya mengerti Ali sangat kecewa. Saya sarankan untuk lebih memanfaatkan aplikasi yang sudah kami pilihkan dalam mengasah kemampuannya dalam mendesain. Saya tidak menyangka, kekecewaannya berujung pada pengulangan sikap dalam menyembunyikan apa yang ia harapkan. Dua hari kemudian, kejadian “sembunyi-sembunyi” itu terulang. Malam sebelum tidur, bapak mendapat ilham untuk mencari handphone rusak itu. Ali pun menjawab tidak tau ketika ditanya, bahkan ia turut membantu mencari. Ketika subuh tiba, saat Ali ke kamar mandi mengambil wudhu, bapak meminta saya ke kamarnya dan melihat barang yang disembunyikan dibalik bantal. Hanya istigfar yang bisa saya ucap sambil merenung bahwa jika anak sampai berani melakukan perbuatan sembunyi-sembunyi, maka pasti ada hak yang belum kami penuhi.

Setelah shalat berjamaah saya membuka sebuah diskusi
ummi: “Ali, kamu tau gak kisah temen ummi yang mobilnya di angkut towing truck hanya karena stiker ijin parkir di pinggir jalannya sudah habis? Menurut Ali apakah kita berdosa secara syariat memarkirkan mobil?”
Ali: “gak”
ummi: “betul li, mungkin secara syariat harusnya gak dosa, tapi karena itu adalah aturan di kota kita, maka mobil tersebut melanggar aturan. Dalam islam kita diperintahkan untuk menaati aturan pemimpin selama aturan tersebut tidak melanggar perintah Allah. Artinya seandainya aturan tentang stiker ijin parkir di pinggir jalan itu tidak ada, harusnya temen ummi itu gak bersalah. Begitu juga dirumah kita, mungkin ada perbuatan yang seharusnya mubah dalam pandangan syariah. tetapi menjadi sebuah pelanggaran kalau ada larangan yang menjadi kesepakatan antara kita. Ummi mendapat kabar dari Allah, ada yang sedang berbohong di rumah ini. apakah bapak sedang berbohong sama ummi?”
bapak: “nggak”
ummi: “apakah Ali sedang berbohong sama ummi dan bapak?”Ali pun mulai ketakutan. Namun saya memintanya berterus terang. menegaskan bahwa kebohongan akan melahiran kebohongan yang lain. Maka lebih baik terus terang meski itu akan melahirkan konsekuensi tersendiri. Akhirnya kami memintanya untuk mengambil handphone yang ia sembunyikan malam hari. Kamipun memintanya membuka aplikasi yang ia mainkan malam itu. Lagi-lagi video tutorial pembuatan sesuatu dengan menggunakan aplikasi m*n*cr*ft yang ia tonton. Saya sangat mengerti perasaan seorang remaja yang ingin bisa merasakan hal yang sama dengan teman-temannya. Namun bagaimanapun kami memiliki kemerdekaan untuk menentukan apa yang terbaik bagi keluarga kami tanpa memandang apa yang lazim di luar sana.
ummi: “Ali kenapa Ali memilih berbohong waktu bapak tanya tentang handphone?”
Ali: “Ali takut bapak marah”
ummi: “berarti Ali tau kan ada yang Ali langgar. Mungkin betul bapak akan marah kalau seandainya kamu jujur. Tapi Aa harus ingat bahwa kami akan lebih marah saat tau bahwa aa berbohong, dan yang lebih menyedihkan kami akan berkurang rasa kepercayaannya pada aa”Saya pun menggambarkan sebuah skema tulisan MARAH dengan ukuran font yang berbeda untuk menunjukan padanya bahwa ia akan semakin lebih banyak memiliki masalah saat berbohong.
ummi: “oke Ali, ummi dan bapak mengerti kamu ingin sekali memiliki aplikasi ini, tolong kami minta proposalnya dilanjutkan. Kenapa harus aplikasi m*n*cr*ft kenapa tidak dengan aplikasi yang sudah ummi bapak beri?”
Siang itu ia mencoba menyusun kembali proposalnya, meski hanya berhasil menambahkan beberapa kata “Ali ingin punya m*n*cr*ft supaya Ali bisa mendesain lift dan elevator, bisa membuat program games. Ali akan membeli aplikasinya dengan cara bekerja pada ummi dan bapak”. Agak sedikit gemas sebenernya dengan respon sang ayah yang masih yakin bahwa proposalnya bisa dipenuhi dengan aplikasi lain yang selama ini kami berikan. Terlebih kami tau bahwa anak seusia Ali pada umumnya masih berperan sebagai user. Kebanyakan diantara mereka menggunakan aplikasi ini untuk bermain games online peperangan yang memang sama sekali tidak diijinkan dilakukan didalam rumah kami. Sebagai seorang wanita, saya berusaha menguraikan keputusan ketegasan sang ayah dengan kalimat yang dapat dipahami sang anak. Ali sempat menangis, ia begitu yakin kalaupun ia melanjutkan proposal itu, sang ayah pasti tidak akan membelikan untuknya.

“Ali sayang, begini nak. misalnya kamu meminta sebuah mobil pada kami. Padahal mobil itu hanya ingin kamu gunakan pergi ke warung depan yang bisa ditempuh dengan sepeda. Maka bapak dan ummi akan lebih memilih membelikan kamu sepeda walau kami tau kamu bisa pergi ke warung itu dengan mobil. Namun kalau kamu dibelikan mobil, maka mobil itu bisa digunakan pada tujuan yang lebih jauh yang mungkin lebih banyak resikonya. Itulah mengapa bapak dan ummi sampai sekarang tidak mau membelikan aplikasi itu untuk kamu”

Ali mengerti apa yang saya maksud namun ia tak bisa menyembunyikan perasaaan kecewanya terhadap kami. Bagaimanapun saya pernah melewati masa-masa remaja. Dan saya begitu memahami, memiliki kesamaan dengan teman-teman lain adalah bagian dari kebahagiaan seorang remaja. “oke Ali, coba sini ummi mau nonton di youtube film m*n*cr*ft yang kamu bilang untuk cari ide desain itu seperti apa. film yang bikin aa memilih untuk berbohong dan mendekatkan diri dengan neraka. Ayo sini, supaya Ali gak perlu bohong lagi sama ummi, biar ummi nemenin Ali nonton itu selama 15 menit setiap minggu. tapi Aa harus buktikan bahwa aa layak diberi aplikasi tersebut untuk mendesain dan memprogram dengan memanfaatkan aplikasi yang sudah ummi bapak kasih untuk aa. Tapi janji ya jangan sembunyi-sembunyi lagi dari ummi” Alhamdulillah Bapak dan Ali setuju dan sepakat. Ali pun menghapus air matanya. Ia begitu antusias mengajak saya menonton tutorial desain m*n*cr*ft. Ia begitu bahagia. Bahkan setiap minggu baru ia sering berkata “ummi ini sudah minggu baru, Ali boleh ambil jatah nonton m*n*cr*ft nya bareng ummi kan?”

(Anakku…..maafkan ummi dan bapak yang telah mengabaikan perasaan dan keinginanmu. Tapi maaf bagaimanapun kita memiliki nilai-nilai keluarga yang kita anut dalam memanfaatkan waktu)

Kami menyadari bahwa dunia ini begitu sementara. Maka kami selalu berusaha memanfaatkan waktu seproduktif mungkin yang diniatkan dalam kerangka ibadah. Karena kami tau, bahwa kebaikan yang kami niatkan sebagai ibadah saja belum tentu bernilai ibadah di sisi Allah. Maka kami berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya peluang ibadah yang menyebabkan Allah ridho memasukkan kami dalam jannah-Nya. Maka kami berusaha memastikan dalam setiap detiknya, anggota keluarga kami selalu dalam kegiatan yang positif. Rekreasi bagi kami haruslah berada dalam minimal 1 diantara 3 alasan. Silaturrahim, Olahraga, atau kegiatan yang dapat meningkatkan wawasan dan pengalaman. Maka kata-kata yang hampir setiap hari keluar dari mulut saya adalah mengabsen satu persatu kegiatan yang dipilih anak-anak dan memastikan mereka selalu dalam kegiatan yang positif. “dilarang nganggur di rumah ini!” begitulah kalimat yang sering saya ucapkan jika melihat anak-anak melamun tanpa kegiatan positif.

San Jose, California 7 desember 2014
Dari seorang ibu yang terus belajar mendampingi anaknya yang masuk usia remaja
Kiki Barkiah

Advertisements

Ketika Buku Layaknya Sepotong Kue Baginya

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Allahummabarik! melihat perkembangan anak kami, Ali (11 tahun) yang memiliki kemampuan otodidak dalam belajar, kami begitu bersyukur atas karunia yang Allah berikan ini. Kemampuan otodidak dalam belajar yang dimilikinya sangat memudahkan kami untuk mengarahkannya dalam kebaikan serta meningkatkan produktifitas dalam kehidupannya meski usianya belum menginjak remaja. Bagaimanapun kami sebagai orang tua memiliki keterbatasan ilmu dalam mengantarkan anak-anak kami menuju pribadi yang kami cita-citakan. Namun dengan kemudahan akses informasi dari internet serta banyaknya sumber ilmu pengetahuan dari buku, sangat memudahkan anak-anak kami untuk belajar langsung dari para maestro. Melihat Ali yang kini dapat belajar secara homescholing tanpa perlu banyak bimbingan secara langsung membuat kami semakin sadar bahwa menjadikan anak-anak sebagai manusia pembelajar yang haus akan ilmu pengetahuan adalah sebuah investasi yang begitu berharga. Dengan kecintaan Ali terhadap kegiatan menggali ilmu khususnya melalui buku menjadikannya mampu mempelajari hal-hal yang wajib dipelajari serta yang ingin ia pelajari secara mandiri.

Sebagai keluarga muslim yang tinggal di USA dimana sekolah yang diselenggarakan pemerintah sama sekali tidak memberikan pelajaran agama, maka kami wajib mencari sarana yang memberikan kesempatan bagi anak-anak kami untuk dapat mengenal dan memperdalam ilmu agama. Sebuah ilmu yang wajib dimiiliki setiap muslim sebelum memperdalam ilmu-ilmu lainnya. Namun, sebagai orang tua yang minim akan ilmu agama, kami merasa tidak mampu untuk membimbing sepenuhnya pemahaman agama anak-anak kami. Alhamdulillah dengan kemudahan fasilitas internet khususnya youtube, memudahkan kami dan anak-anak kami untuk mempelajari ilmu agama langsung dari para syeikh dan profesor yang ahli di bidangnya. Setiap hari dalam kegiatan homeschooling, Ali memiliki waktu khusus untuk mengikuti kajian agama islam terkurikulum dari Syeikh Yasir Qodhi yang diselenggarakan oleh Memphis Islamic Center melalui rekaman yang ditayangkan di youtube. Mengkuti kuliah ini lebih memuaskan kebutuhan Ali dalam mendalami ilmu agama dibanding mengikuti pelajaran agama islam tingkat sd atau smp di sekolah formal di Indonesia maupun Islamic Sunday School di USA. Untuk mengetahui tingkat pemahaman Ali dalam mengikuti kajian ini, ia pun menuliskan resume kajian untuk didiskuskan dengan kami.

Dalam mempelajari ilmu umum dan mengembangkan minat bakatnya seperti dalam dunia programming, robotic dan proyek engineering sederhana, kecintaan Ali dalam membaca buku menjadi modal utama baginya untuk dapat belajar secara mandiri. Sebagai seorang coach, saya hanya berperan sebagai manager kelas baginya. Saya memastikan semua tugas dilakukan pada waktunya, mengatur alokasi waktu dalam kegiatan belajar mengajar, mengatur sumber belajar, dan dengan bermodalkan kunci jawaban dari buku pelajaran, saya melakukan pemeriksaan dan penilaian. Sebagai seorang coach saya bukanlah seorang yang serba tahu, dan mengajarkan semua pelajaran kepada Ali. Ali mempelajari ilmu yang wajib dipelajari, perlu dipelajari, dan yang ingin ia pelajari langsung dari ahlinya melalui buku dan internet. Bahkan yang terjadi adalah saya belajar dari apa yang Ali pelajari. Maka sebagai orang tua homeschooler saya bukanlah guru bagi Ali melainkan berperan sebagai manager kelasnya. Kemampuan belajar secara otodidak ini bukanlah hal yang tidak melalui sebuah proses. Investasi ini kami tanamkan sejak Ali masih kecil. Kemudian dengan cara yang semakin berkembang sejalan dengan perkembangan keadaan ekonomi dan wawasan kami selaku orangtua, kamipun mendidik adik-adik Ali untuk menjadi seorang manusia pembelajar seperti Ali.

Kami merasa ingin memiliki keleluasaan dalam mengarahkan proses belajar anak-anak kami sesuai dengan prinsip dan keyakinan yang kami anut. Melihat kenyataan praktek sekolah umum di Amerika yang di jalani oleh anak-anak kami (Shafiyah dan Shidddiq), rasanya kami ingin keluar dari sistem yang ada serta hanya memegang prinsip pendidikannya saja. Karena pada prakteknya, pembelajaran tematik yang biasanya dikaitkan dengan tema perayaan-perayaan yang menjadi kebiasaan warga Amerika seperti valentine, Halloween, thanksgiving, Easter, Christmas, terlalu membuang waktu, cenderung “lebay” dan memberikan tantangan tersendiri untuk memegang teguh keyakinan kami dalam beragama. Namun secara metode pendidikan, banyak hal positif yang dapat menjadi inspirasi bagi kami dalam melaksanakan proses pendidikan anak-anak kami.

Inspirasi yang kami dapatkan selama kami merasakan bersekolah di Amerika adalah bagaimana semua proses belajar yang dilakukan mampu mengantarkan para murid menjadi seorang manusia pembelajar yang berpikir kritis, mampu mengatasi masalah secara mandiri, dapat bekerja secara efektif dalam tim, dapat berkomunikasi secara jelas, serta memiliki pengaruh dalam berkomunikasi. Pada setiap proses belajar, murid memiliki kemampuan untuk memilih informasi serta menilai kualitas informasi. Dengan informasi dan berbagai sarana yang ada murid mampu menggabungkan pengetahuan dan melakukan analisa. Harapannya setiap murid dapat menghasilkan sesuatu yang original, mengikuti setiap petunjuk dalam proses belajar secara seksama namun mampu melakukan improvisasi. Sehingga pada akhirnya mereka mampu menciptakan sesuatu yang praktis, relevan dan bermakna bagi ilmu pengetahuan. Prinsip pendidikan inilah yang menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak muncul dari negara Amerika. Tentunya akan sangat berbeda bila dibandikan dengan hasil kualitas manusia yang muncul dari sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk lulus ujian nasional.

Sebagaimana ayat pertama Al-Quran yang turun yaitu perintah “iqro”, kegemaran membaca, kemampuan memahami isi bacaan dan mengolah informasi sumber bacaan menjadi modal utama dalam melahirkan manusia pembelajar. Hal inilah yang ingin kami capai dalam madrasah rumah kami. Salah satu rezeki yang Allah berikan kepada keluarga kami dengan hijrah ke USA adalah mendapatkan seluas-luasnya akses ilmu pengetahuan secara gratis melalui perpustakaan. Sesuatu yang sebelumnya harus kami bayar dengan mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk membangun perpustakaan kecil di rumah kami di Kota Batam, kini Allah memberikan secara gratis dan berlipat-lipat dari apa yang kami investasikan sebelumnya. Maka keluarga kami memiliki kebiasaan berkunjung ke perpustakaan minimal 1 kali seminggu dan meminjam puluhan buku setiap minggunya. kegiatan membaca adalah bagian dari keseharian hidup kami yang tidak pernah terlewatkan. Begitulah Ali melewati masa kecilnya sehingga puluhan lembar buku layaknya sepotong kue baginya. Saat Ali kecil, kami lebih banyak melewati kegiatan dengan membacakan buku baginya, terlebih saat itu saya banyak bedrest karena kehamilan adik-adiknya. Maka kami sangat berharap semoga kegemarannya dalam mengggali ilmu pengetahuan kelak akan memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia khususnya kemajuan agama islam. Aamiin 

Melihat semangat Ali dalam belajar secara otodidak mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan beberapa tahun lalu dari seorang kawan yang aktif menjual buku serial paket berharga jutaan rupiah yang juga kami miliki saat itu. Kawan tersebut bercerita tentang pengalamannya saat menawarkan buku pada ibu-ibu, lalu ada seorang ibu yang berkomentar “waduh mbak kalo harganya segitu mendingan kami beli emas aja” Saya pun tersentak dan tersenyum mendengarnya. Namun itulah sebagian realita dari masyarakat Indonesia. Investasi emas dianggap jauh bernilai dibanding berinvestasi dalam menumbuhkan kegemaran membaca bagi anak mereka. Setiap keluarga memiliki hak dalam menginvestasikan hartanya. Namun sebagai seorang muslim mari kita pilih investasi terbaik yag mampu memberikan keuntungan di dunia dan akhirat.

San Jose, California
dari seorang pendongeng sebelum tidur untuk anak-anaknya
Kiki Barkiah

Strategi Syaitan Harus Dilawan dengan Strategi

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Pekerjaan menjadi ibu memang bukanlah pekerjaan sederhana. Seorang ibu tidak hanya bertanggungjawab sebagai manager tumbuh kembang anak-anak dan manager urusan rumah tangga, namun ia juga merupakan manager pendidikan bagi anak-anaknya. Sebagai manager pendidikan, orang tua dapat melibatkan berbagai pihak dalam mendukung proses pendidikan anak-anaknya. Sekolah, lembaga kursus, pesantren, lembaga pendidikan Al-quran adalah beberapa pihak yang dapat dilibatkan dalam mencapai tujuan akhir dari proses pendidikan anak-anaknya. Selain itu ada juga keluarga yang memilih kegiatan homeschooling sebagai basis utama pendidikan anak-anaknya. Bagi keluarga yang memilih memasukkan anak mereka ke lembaga sekolah, tentunya tidak sepenuhnya dapat lepas tangan dalam kegiatan belajar anak-anaknya. Minimal ia terlibat dalam mendampingi kegiatan belajar anak-anaknya saat mengerjakan tugas sekolah atau homework.

Dalam keluarga kami, setiap sore saya pun harus mendampingi kedua anak kami yang masih bersekolah formal dalam mengerjakan tugas sekolah. Selain itu semua anak juga harus didampingi secara langsung dalam kegiatan agama seperti materi islam, tahsin quran dan tahfidz quran. Tugas itu bukanlah tugas yang sederhana bagi saya. Terlebih semua jadwal harus dipadatkan sepulang sekolah. Berbeda dengan anak yang homeschooling, beberapa kegiatan ini masih dapat diatur di pagi hari. Singkat cerita ada suatu masa dimana saya merasa tugas saya begitu overwhelmed sebagai seorang ibu. Terlebih karena setiap sore sang bayi minta disusui, sementara Faruq yang masih berusia 3 tahun juga tidak rela membiarkan ibunya memiliki waktu khusus mengajar kakak-kakaknya. Bayangkan, hampir setiap sore saya mengajar mengaji atau memandu anak mengerjakan homework diatas kasur sambil menyusui, sementara Faruq mencari perhatian dengan lompat-lompat diatas badan saya karena mengajak saya untuk bermain. Saya merasa syaitan selalu bekerja lebih keras untuk menggoda saat saya mengajar al-quran kepada anak-anak.

Kadang suasana seperti ini membuat saya ingin menangis karena mengingat cita-cita dan harapan kami yang tinggi terhadap anak-anak dalam hal penguasaan Al-quran. Andai saja ada TPA sore yang dapat ditempuh dengan jalan kaki seperti di mushola atau masjid kompleks di Indonesia, mungkin saya akan memasukkan mereka di kelas mengaji setiap sore. Mengingat kondisi memiliki balita terkadang membuat saya tidak optimal mengajar al-quran anak-anak. Di Amerika, kegiatan belajar tajwid dan tahfidz di sore hari diselenggarakan di masjid-masjid. Hanya saja kami harus menggunakan mobil untuk menempuhnya. Dan bagi saya, mengajar sendiri dengan segala kerepotannya, jauh lebih mudah dibanding setiap hari mengantar mereka ke masjid yang harus melewati highway (semacam jalan TOL).

Suatu hari kala syaitan menggoda dengan perasaan hampir menyerah, saya menelpon suami saya.
Ummi: “bapak ummi mau mengundurkan diri!”
Bapak: “mengundurkan diri apa?”
Ummi: “Mengundurkan diri jadi guru tahfidz dan tahsin anak-anak. Bapak cari saja guru lain. Ummi tidak sanggup. Bayangkan tiap sore ummi harus mengajar sambil menyusui sementara Faruq mencari perhatian untuk diajak bermain”

Namun karena bapak seorang laki-laki, bapak tidak mempertimbangkan pembicaraan “lebay” saya dengan pertimbangan emosi. Karena bapak seorang laki-laki, maka logika lebih digunakan dalam mencari solusinya.

Bapak: “oke bapak ijin pulang telat ya ada yang mau bapak beli”

Masya Allah rupanya bapak membawa pulang beberapa potong papan kayu, dan beberapa karung pasir bersih (play sand). Bapak membuatkan anak-anak bak pasir berbentuk persegi dari 4 buah papan kayu agar saya bisa mengajar Al-quran anak-anak dengan tenang. Agar selagi saya mengajar, Faruq bisa asyik bermain pasir. Sejak saat itu saya mengerti bahwa melawan strategi syaitan harus dengan strategi. Agar saya dapat mengajar dengan lebih tenang tanpa gangguan, saya harus menyiapkan sarana untuk menyalurkan energi adik-adiknya agar tidak mengganggu.

Maka kini, kadang saya mengajar mengaji dan mengawal pekerjaan homework di samping bak pasir, di sebuah kursi taman sambil menyusui. Kadang saya membawa anak-anak ke taman bermain. Anak-anak mengerjakan homework di meja makan yang disediakan di taman bermain, sementara adiknya bisa menyalurkan energinya dengan berlari, bermain bola atau bermain di playground. Kadang saya membawa mereka ke perpustakaan agar adiknya bisa asyik membaca buku saat saya mengawasi kakak-kakaknya mengerjakan homework atau mengajari mereka membaca iqro. Saya manfaatkan perjalanan menjemput anak-anak untuk murojaah hafalan quran. Baik saat memilih menggunakan stroller, sepeda dan scooter atau saat mengendarai mobil untuk keperluan yang lebih jauh. Syaitan memang punya banyak cara untuk menghalangi kita berbuat baik. Syaitan memang punya banyak cara untuk membuat kita menyerah dalam mengemban amanah. Maka strategi syaitanpun harus dilawan oleh strategi.

San Jose, California
Dari seorang hamba yang terus berusaha melawan godaan dari musuh sesungguhnya
Kiki Barkiah

Atas Ijin Allah, Cara Ini Menaklukkan Shiddiq

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Setiap masa perkembangan anak akan memiliki tantangan tersediri. Dari satu isu menuju isu lainnya. Maka proses belajar menjadi orang tua adalah sebuah proses pembelajaran seumur hidup. Baru kali ini saya memberanikan diri untuk menulis kisah tentang bagaimana kami belajar dan menerapkan ilmu dalam menghadapi Shiddiq (5 tahun) yang cukup memberikan tantangan tersendiri dalam menghadapinya. Setelah pada akhirnya Allah mengijinkan kami mendapat sebuah teknik yang cukup efektif dalam mendisiplinkannya.

Mungkin sebagian orang menganggap pengasuhan kami dirumah begitu ideal karena memiliki anak-anak yang terlihat manis dan penurut. Pernah seorang kerabat memberi testimoni saat kami berkunjung seharian kerumahnya. “Kiki, kamu ngurus anak-anak banyak tapi semua behave sekali”. Ada pula kerabat lain yang diminta tolong untuk mengasuh keempat anak kami selama 2 hari saat saya menginap di rumah sakit karena melahirkan anak kelima. Beliau memberi testimoni “Kiki asyik banget anaknya pinter-pinter, ngurusnya jadi gampang”. Padahal saat mengasuh mereka dirumah, dada sering sekali diusap untuk beristighfar. Terlebih menghadapi tingkah laku Shiddiq yang begitu sulit mengontrol emosi serta cenderung sulit mengikuti aturan yang disepakati.

Meskipun kadang terasa lelah, bingung, cemas, dan khawatir dengan perkembangan Shiddiq yang cukup berbeda dengan anak-anak lainnya, namun kami begitu bersyukur karena ia menghabiskan seluruh energi negatifnya hanya di dalam rumah. Dan hal yang membuat kami sangat bersyukur adalah karena Shiddiqlah kami bersemangat belajar menjadi orang tua.

Air mata saya hampir menetes dihadapan guru Shiddiq di sekolah. Saat kami menemuinya dalam kegiatan parent teacher conference. Begitu banyak pertanyaan tentang perilaku Shiddiq di sekolah yang ingin kami tanyakan padanya. Salah satu kekhawatiran kami adalah apakah shiddiq berperilaku “membully” orang lain saat ia merasa marah atau kecewa. Seperti yang ia sering lakukan pada saudaranya. Allahummabarik!! Hampir setengah percaya ketika gurunya mengatakan bahwa Shiddiq adalah salah satu muridnya yang begitu sempurna. Sangat baik, sangat manis, bahkan sang guru sampai terheran-heran bertanya kepada guru Shafiyah, mengapa kedua kakak adik ini begitu sangat manis dalam bersikap. Shiddiq begitu taat dalam aturan, bersemangat dalam belajar, mendengar penuh konsentrasi saat guru mengajar, aktif bertanya saat tidak mengerti, meminta bantuan saat ia merasa frustasi, aktif menjawab dan memberi pendapat, sangat penolong dan manis kepada teman-temannya. Saya pun mengutarakan keadaan Shiddiq kepada gurunya yang sangat berbeda saat ia dirumah. Bahwa Shiddiq sering mencari perhatian orang tuanya dengan membuat masalah. Shiddiq sering memicu perkelahian diantara saudara dengan ulah jahilnya. Namun jika ia merasa kecewa atau dikecewakan, ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk ditenangkan.

Kami mengerti bahwa segala perilaku negatif yang dilakukan Shiddiq adalah cara yang dipilihnya untuk mencari perhatian kami. Meskipun kami berusaha optimal meluangkan waktu yang kami miliki untuk anak-anak, tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki banyak anak akan secara otomatis membagi porsi waktu untuk mereka. Suatu hari saya bertanya kepada Shiddiq “Shiddiq kalo di sekolah suka jahil gak? Suka berantem dan marah sama temen gak?” Shiddiq pun menjawab tidak “Lalu kenapa kalo di rumah sejak pulang turun dari bus Shiddiq jahilin Faruq terus dan sering jadi berantem? Saya pun kembali bertanya. “Karena Shiddiq kebagian waktu sama umminya cuma sedikit, kalo Faruq banyak karena Faruq sekolah sama ummi, jadi Shiddiq jahilin aja Faruqnya!”. Setiap kali Shiddiq berperilaku jahil, setiap kali itulah Faruq menjadi agresif. Lalu Shiddiq membalas dengan agresif dan “jreng-jreng” perkelahian pun terjadi.

Namun bagaimanapun masa-masa ini harus kami hadapi dan harus diupayakan agar terlalui dengan baik. Akhirnya kami mencoba mempelajari bagaimana teknik pendisiplinan siswa yang dilakukan di sekolah Shiddiq. Kami mencoba mengaplikasikan hal tersebut di rumah agar paling tidak Shiddiq merasakan suasana pendisiplinan yang sama. Selain membuat aturan yang disepakati, tugas yang jelas, pembagian jadwal yang terstruktur, pemberian apresiasi atas semua perbuatan baik, kami mengadopsi teknik pendisiplinan “clip up and clip down” yang diterapkan sekolah Shiddiq.

Semua anak memiliki klip yang tertulis namanya. Setiap pagi, klip berada pada posisi ungu. Jika anak-anak sudah menyelesaikan tugas yang harus dilakukan sampai sore hari, secara bertahap klip akan naik sampai di zona hijau (clip up). Jika semua tugas sampai malam hari telah dilakukan maka klip akan naik ke zona biru. Jika anak-anak melakukan kebaikan istimewa, klip akan terus naik sampai zona ungu atau “super squad”. Jika anak-anak tidak menyelesaikan tugasnya maka klip tidak akan bergerak naik. Jika anak-anak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, merugikan diri sendiri, dan melanggar aturan aturan syariat maka klip akan bergerak turun ke zona warna dibawahnya. Menurunkan klip (clip down) adalah bentuk konkrit yang dapat dimengerti anak untuk memberikan tanda bahwa ia telah membuat kesalahan. Menurunkan klip juga menjadi salah satu bentuk yang menggambarkan perasaan kecewa dan marahnya orang tua tanpa harus bersikap kasar baik secara verbal maupun fisik.

Sebagaimana Rasulullah memerintahkan untuk mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka untuk kembali menaikkan klip yang diturunkan maka mereka harus memperbaiki kesalahannya dan melakukan kebaikan ekstra agar klip dapat kembali ke posisi semula. Teknik ini tidak hanya efektif memberi informasi bahwa perilakunya adalah salah. Namun juga memberi penghargaan kepada mereka yang mau memperbaiki kesalahannya dan membayarnya dengan perilaku baik. Setiap anak akan berusaha menyelesaikan semua tugas setiap hari yang menjadi syarat untuk dapat menonton televisi di malam hari selama 1 jam. Setiap anak akan berusaha untuk mencapai zona “super squad” setiap hari untuk meraih hadiah mainan edukasi di akhir pekan. Mainan edukasi yang kami belikan pun murah meriah saja, hanya senilai $1. Artinya jika ia melakukan kesalahan yang menyebabkan clip down, ia harus berusaha lebih keras dengan melakukan berbagai kebaikan ekstra seperti membantu pekerjaan rumah tangga agar dapat menaikkan kembali posisi klip mereka.

Dengan teknik ini alhamdulillah sangat efektif merubah perilaku Shiddiq untuk lebih taat aturan. Juga cukup efektif untuk membuatnya menahan amarah dan mempermudah urusan dengan mengalah terhadap adik tanpa diminta. Shiddiq termotivasi untuk berbuat kebaikan karena dengannya ia akan menaikkan klipnya menuju zona super squad. “Shiddiq makasih ya Shiddiq sudah mau menahan marah dan mengalah sama adek, maklum adek masih kecil, otaknya masih 50% jadi dia belum ngerti. Karena shiddiq sudah bikin urusan kita jadi lebih mudah, Shiddiq insya Allah dapat reward dari Allah, dan dapat super squad dari ummi!!!” begitu misalnya cara kami mengapresiasi kebaikan Shiddiq.

Alhamdulillah dari waktu ke waktu Allah ijinkan kami melalui satu per satu permasalahan anak-anak. Dan permasalahan pasti akan selalu ada dengan bentuk yang berbeda sesuai dengan tahapan usia mereka. Sudah 2 bulan kami mencoba menerapkan teknik ini, alhamdulillah banyak kemajuannya. Meskipun begitu, perkelahian adalah bagian dari warna kehidupan persaudaraan dimasa kecil. Sebagaimanapun kami berusaha memberi pengertian dan menghidari pemicunya. Jika saya tanya mengapa Shiddiq berbeda antara di rumah dan di sekolah, Shiddiq pun pernah menjawab “Karena di sekolah itu tidak ada Faruq!”katanya. Itulah yang membuat saya cukup ragu untuk mengabulkan permintaan Shiddiq untuk kembali homeschooling. Karena jika Shiddiq ingin kembali Homeschooling, maka Faruq harus masuk sekolah. Hahahahha.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus belajar memecahkan masalah dalam meluruskan perilaku anak-anaknya
Kiki Barkiah

Note: Teknik yang disebutkan dalam kisah ini saya coba terapkan dalam produk perdana E-Par (Education Products and Resources), E-Par Behavior Chart. Silakan menghubungi nomor WA 0812-1449-4945 (https://goo.gl/PUHctC) untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk tersebut.

Ketika Shiddiq Bertanya Tentang Pelukan

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Begitu selesai memandu siaran radio untuk acara “ Ibu Indonesia Berbagi” yang membahas tema tentang “Anak-Anak Indonesia dan Bahaya Pornografi” tubuh saya menjadi lemas dan terasa dingin sekujur tubuh. Membayangkan bagaimana 97 dari 100 orang remaja di Indonesia telah terjerumus dalam pornografi dengan tingkat keseriusan yang beragam. Artinya jika hanya ada 3 orang remaja yang masih terjaga kesuciannya, akankah keluarga kami menjadi layak dimata Allah untuk berada pada posisi orang-orang asing itu? Malam itu saya panjatkan doa agar Allah selalu melindungi anak-anak kami dari bahaya pronografi yang merusak otak. Melindungi mata, telinga dan tangan mereka dari langkah-langkah mendekatinya. Tidak hanya memohon perlindungan , namun saya memohon petunjuk dalam membimbing dan menjaga mereka dari fitnah akhir zaman ini.

Ketika pagi hari tiba, saat anak-anak sarapan dan saya mencuci piring, tiba-tiba Allah memberi sebuah jalan lewat pertanyaan Shiddiq (5 tahun). Sebuah kesempatan yang Allah berikan bagi saya untuk berikhtiar menjaga mereka.

Shiddiq: “ummi mengapa sih kita tidak boleh pelukan sama teman?

Ummi: “Kalau sama temen yang berbeda lawan jenis memang tidak boleh dik, tapi kalo memeluk teman sesama jenis misalnya laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, boleh kalau pelukannya wajar. Misal seperti ini….” Saya pun mencontohkan. “ Tapi kalau pelukannya terasa aneh, tidak biasanya, seperti menyentuh terus-terusan, merayap ke seluruh tubuh apalagi pada 4 area yang ummi pernah bilang itu gak boleh disentuh orang lain, berarti itu aneh dik! Dan itu gak boleh!”

Ummi: “Shiddiq masih inget kan 4 area apa aja yang gak boleh disentuh orang lain?”

Shididiq: “bibir gak boleh kan mi?”

Ummi: “ya bibir, bagian dada, bagian aurat utama kita (sambil saya menunjuk daerah privasi)

Shiddiq: “pantat juga gak boleh kan mi?”

Ummi: “Ya betul, kata Rasulullah aurat itu tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain”

Shiddiq: “kalo dokter boleh kan mi buka aurat kita?”

Ummi: “boleh kalo ada keperluan mau memeriksa kita, kalo gak ada, berarti gak boleh!

Shiddiq: “Kalau sama saudara boleh kan mi laki-laki dan perempuan pelukan? 

Ummi: ” boleh, tapi pelukannya tetep harus wajar, kalo gak wajar seperti yang ummi ceritain tadi, gak boleh!”

Shiddiq: “Jadi mi, mereka yang kayak gitu itu diajarin siapa sih? Diajarin ibunya?”

Ummi: “Jadi gini diq, macem-macem sumbernya, paling banyak dari film, iklan, internet. Jadi anak-anak sekarang banyaaaaaaak banget yang sering lihat sesuatu yang gak boleh dilihat. Bayangin dik, tadi malam ummi baru tau, kalo misalnya nih dik ada 100 orang anak di Indonesia yang seumur aa, nah 97 orangnya itu udah pernah lihat aurat orang lain, dari ikan, tv, film. Dan itu gak boleh diq, bahkan bisa merusak otak kita”

Shiddiq: “kenapa mi? kok gitu?”

Ummi: “jadi gini diq, Shiddiq inget kan cerita ummi tentang iblis yang pengen ngajakin manusia sebanyak-banyaknya ke neraka? Nah dia mikirin gimana caranya yang paliiiiing gampang buat bikin manusia jadi gak sholeh. Nah ternyata cara yang paling gampangnya adalah dengan merusak otak mereka dengan cara melihatkan aurat orang lain. Nah iblis itu kan punya temen-temen dalam bentuk manusia, nah temen-temen yang dalam bentuk manusia inilah yang bikin film, iklan atau gambar-gambar yang sebenernya gak boleh dilihat sama orang lain. Nah kalo manusia itu otaknya udah rusak, dia jadi gak mau belajar, dia gak mau denger nasihat kebaikan, dia jadi malas buat berbuat baik, jadinya syetan lebih gampang nanti masukin ke nerakanya. Itulah diq kenapa ummi sama bapak ketat sekali ngasih internet dan film buat kalian semua. Sudah jatahnya hanya satu jam sehari, masih dipilihin juga mau liat apa. Itu karena ummi dan bapak gak mau otak kalian rusak. Makanya kalo ada iklan di youtube pun kalian disuruh tutup mata semua, karena ummi takut ada yang gak boleh dilihat kalian. Kita juga jadi malas pergi ke danau atau laut kalo lagi summer, karena banyak yang gak baik untuk dilihat”

Shiddiq pun mengoceh dengan beberapa pernyataaan, namun saya agak lupa redaksi percisnya. Intinya ia menegaskan bahwa jika hanya sedikit anak baik yang tidak mau melakukan hal itu, berarti kita termasuk didalamnya. Sebagai ibu saya hanya dapat tersenyum haru dan bahagia, sambil terus mengaminkan pernyataannya.

Di kesempatan yang berbeda dan lebih bersifat privasi, Ali pun menambahkan sebuah pertanyaan

Ali: Ummi, kalo gitu Ali termasuk yang 3 orang itu

Ummi: “Oh ya li, sure? Ali gak pernah diajakin sama temen-temen liat pornografi di internet waktu ummi gak ada?

Ali: yeah Sure!

Ummi: Ok ummi percaya ya, jangan pernah ya nak!

Saya pun jadi teringat pernyataan Ali ketika camping. Saat itu saya mengajak anak-anak pergi menjelajah sungai.

Ali: “Ali males pergi ke sungai, disitu lagi rame, Ali takut kayak di danau waktu itu, banyak yang pakaiannya gak baik”

Saya pun tertawa penuh syukur, lalu mengajarinya menundukkan pandangan saat tak sengaja melihat aurat orang lain. Akhirnya kami bermain di hulu sungai dimana tidak banyak orang yang berenang dengan pakaian yang minim.

Demikianlah sepenggal pembicaraan kami dengan anak-anak, sepenggal ikhtiar kami dalam dalam menjaga mereka.Ya Allah terimakasih untuk setiap kesempatan yang Engkau berikan bagi kami dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berikhtiar dan mendoakan keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah
“Sang Penjelajah Hikmah”

Bila Status Janda Kelak Tiba

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Tak mampu lagi saya membendung perasaan ini untuk segera menuangkannya dalam sebuah tulisan. Setelah sebuah pembicaraan yang begitu bermakna saya lalui disela-sela kegiatan pengajian dalam komunitas di Amerika. Saya memang begitu bersemangat mendengar kisah, menggali hikmah dan membaginya dengan semesta. Begitu juga tentang pembicaraan saya hari ini dengan seorang ibu senior yang sangat saya hormati. Beliau begitu mengerti perasaan dan keadaan saya saat ini yang membesarkan anak-anak balita berjarak rapat berjumlah banyak. Karena berpuluh- puluh tahun lalu ia pun mengalaminya dalam mendampingi tumbuh kembang keenam anaknya. Namun yang begitu istimewa di mata saya adalah kesabaranya berjuang mengantarkan kesuksesan anak-anaknya hingga hari ini dalam status sebagai seorang janda. Seorang janda yang ketika ditinggal suami tercinta masih memiliki beberapa balita. Saya mencoba menyelami perasaannya di masa lampau, perasaan seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja yang tiba-tiba harus berjuang diatas kedua kakinya. Saya mencoba menyelami perasaannya dengan membayangkan jika saat ini berada dalam situasi yang sama. Sementara keseharian saya hari ini yang masih didampingi suami saja begitu penuh hiruk pikuk tiada hentinya, lalu bagaimana jika tiba-tiba harus menjalankan semua peran orang tua seorang diri saja. Saya sadar, situasi seperti itu bukanlah situasi yang mudah bagi seorang wanita. Namun perasaan kecemasan itu selalu saya lawan dengan sebuah keyakinan, bahwa Allah selalu ada bersama kita.

Saya bisa merasakan kebersamaan Allah ketika mendengar kisah yang dituturkan selanjutnya. Bagaimana beliau berjuang bersama anak-anaknya untuk terus hidup dan melanjutkan pendidikan mereka. Sehingga saat ini mereka semua tengah mengambil peran istimewa dalam peradaban manusia. Saya bisa merasakan kebahagiaannya dalam senyumanya. Senyuman seorang wanita pejuang yang melewati manis pahitnya kehidupan, sementara kini ia telah memetik sebagian hasil tanamannya. Saya bisa melihat kebahagiaan yang terukir dalam raut wajahnya terutama ketika bercerita tentang kematian suami tercinta selepas mengimami shalat di sebuah mushola yang insya Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Dari beliau saya semakin mengerti, bahwa banyak hal yang akan berubah ketika seorang wanita berubah statusnya menjadi seorang janda, namun satu hal yang pasti, satu hal yang pasti, bahwa Allah selalu ada bersama kita dan anak-anak kita.

Setelah pembicaraan ini, Ingatan saya tiba-tiba meluncur pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ketika seorang sahabat yang berprofesi sebagai pengusaha berkata pada saya “makanya jadi pengusaha, supaya kalo kita nanti jadi janda tidak harus menunggu ditaadud (dipoligami) oleh ikhwan” sebuah pernyataan yang tak mampu saya hapuskan dari memori saya hingga hari ini karena ketika itu saya berstatus sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa unit usaha apapun yang saya jalani. Sejak pernyataan itu saya dengar, saya berusaha memulai bisnis dengan rumah sebagai basis tempat bekerja. Meskipun pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya kembali memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa sumber penghasilan dan unit usaha. Sahabat saya ini memiliki jalan hidup yang istimewa. Ketika unit usaha yang dirintisnya bersama suami mencapai titik-titik kejayaan, qodarullah beliau bercerai dengan suaminya. Perceraiannya pun diiringi dengan perceraian dengan unit usahanya. Maka ia pun berstatus janda dengan kehidupan tanpa unit usaha yang dulu ia rintis salah satunya untuk mempersiapkan masa jandanya. Maka beliau pun kembali berjuang merintis sumber nafkah lainnya untuk menghidupi anak-anak yang dalam pengasuhannya.

Saya pun kembali merenung, betapa banyak orang-orang Amerika yang sibuk bekerja di masa muda, sangat sibuk bekerja, bahkan gila bekerja dengan alasan mempersiapkan masa pensiunnya. Namun tidak sedikit diantara mereka yang tidak bahagia di masa pensiun mereka meskipun harta melimpah dan mencukupi kebutuhan mereka. Juga tidak sedikit diantara mereka yang justru kehilangan pundi-pundi harta yang telah dikumpulkan semasa mudanya ketika waktu pensiun tiba. Bahkan sebagian diantara mereka menghabiskan harta simpanannya untuk membayar panti jompo tempat mereka menghabiskan sisa-sisa usianya.

Hari esok masih menjadi rahasia Allah untuk kita. Kita tidak pernah tahu tentang jalan seperti apa yang akan kita lalui. Bahkan ketika kita kerja keras mempersiapkan perbekalan di hari ini untuk hari esok, kita tidak benar-benar dapat memastikan apakah perbekalan itu akan tetap ada ketika kita benar-benar membutuhkannya. Saya mengerti semua wanita pasti ingin melewati masa janda mereka tanpa kecemasan perkara harta. Namun banyak wanita yang mungkin saat ini memiliki keadaan yang sama seperti saya. Keadaan yang meminta mereka sepenuhnya fokus mengurus rumah tangga dan belum mendapat kesempatan untuk memiliki penghasilan dari keringatnya sendiri. Jika para wanita memiliki pandangan bahwa rezeki itu berasal dari suami yang manafkahinya, maka alangkah wajar jika mereka memiliki kecemasan ketika masa janda tiba. Namun jika kita meyakini bahwa Allah memiliki cara yang tak terhingga dalam menyampaikan takaran rezeki setiap hamba yang telah Allah tetapkan dari lahir sampai ajalnya, insya Allah para wanita akan lebih optimis melewati hari-hari dalam melaksanakan kewajibannya di dalam rumah tangga meski saat ini jalan rezeki mereka sebagian besar masih lewat nafkah dari suami mereka.

Teringat nasihat terakhir almarhum tetangga orang tua saya di Bandung ketika saya sedang “berguru” dalam merintis sekolah di kota Batam, beliau berpesan “Kiki….. Sesungguhnya Allah tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Allah hanya meminta kamu taat! Sehingga Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalan kamu” Pesan ini selalu terngiang dalam pikiran saya ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, yang belum ada apa-apanya dibanding para wanita yang berjuang dengan status janda.

Yaaaa….. Hari ini saya memang seorang istri yang belum memiliki penghasilan sendiri. Bukan karena tidak mau berusaha berikhtiar mempersiapkan masa janda, namun karena baru sebatas inilah kemampuan yang bisa dipersembahkan dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Saya belum mampu menjalankan peran saya secara unggul pada semua lini kehidupan. Namun saya meyakini bahwa hari ini adalah hari ini, rezeki hari ini adalah rezeki hari ini yang datang dengan cara ini. Hari esok adalah hari esok, rezeki hari esok adalah rezeki hari esok yang datang dengan cara yang telah menjadi ketetapan-Nya. Perjuangan dan persiapan hari ini bukanlah penentu datangnya ketetapan hari esok. Perjuangan dan persiapan hari ini hanyalah ikhtiar yang dipersembahkan kepada Allah agar Allah berkenan dan ridho menurunkan ketetapan terbaik-Nya di hari esok. Kita memang tidak pernah tahu tentang hari esok, namun yang pasti Allah selalu bersama kita, Allah tidak akan meninggalkan kita selama kita selalu menjaga-Nya.

Dari Abul Abbas bin Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma dia berkata: Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda, “Hai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, sesungguhnya seandainya umat ini bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberinya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat mendatangkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” (HR. Tirmidzi, dan ia mengatakan: Hadits Hasan)

Kiki Barkiah

Andai Saja Aku Mau Mendengan Satu Kalimat Lagi

[dari 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Shiddiq (5y) memang anak yang memberi tantangan tersendiri dalam keluarga kami. Salah satu sifat yang sampai saat ini masih dalam terapi kami adalah sifat pemarah yang membuatnya dapat bertindak agresif bila emosinya tersulut. Mungkin hampir setiap hari kalimat “shiddiq, tahan amarahmu! Tahan amarahmu!” saya ucapkan sambil menahan tubuhnya dan memisahkannya dari kasus permasalahan. Kemudian saya memberinya ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Setelah tenang saya memberinya kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalan lalu terus menerus mengajarkannya untuk mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik. Saya sangat mengerti bahwa perkembangan otaknya baru berkembang sekitar 50% sehingga ia masih belajar dan butuh pengarahan dalam menyalurkan keinginannya ketika menghadapi suasana yang membuatnya mengalami frustasi. Pemahaman inilah yang membuat hati saya lebih lapang dan bersabar dalam menghadapi tingkah laku balita setiap hari. Terlebih lagi, Shiddiq (5y) yang pemarah dengan Faruq (3y) yang jahil adalah pasangan yang pas dalam menguji kesabaran saya setiap hari.

Kami akui, darah keturunan pemarah memang mengalir pada tubuh anak-anak kami, sehingga kemarahan sering kali menjadi bentuk penyaluran frustasi mereka. Namun kami sangat ingin memutus siklus keturunan pemarah ini pada generasi anak-anak kami. Meski saya harus melawan memori-memori dalam alam bawah sadar yang sangat mungkin muncul kembali ketika kondisi emosi dan fisik sedang lelah. Kondisi yang sangat mungkin memunculkan bentuk kemarahan dengan bentuk yang terpatri pada memori masa kecil saya yang di didik dengan cara bagaimana orang tua di zaman dahulu pada umumnya marah pada anak-anaknya.

Suatu hari saat sedang sangat, sangat, sangat sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tiba-tiba Ali (11 y) mengaduAli: “ummiiiiiiii…… Shiddiq (5y) mukul adik Fatiiiiiih! (8m)

Saya pun terpaksa menghentikan pekerjaan lalu mengambil bayi yang sedang menangis. Saya menahan amarah walau sejujurnya saya benar-benar kesal karena perilaku memukul adik bayi adalah perilaku yang sangat keterlaluan. Dengan nada yang tenang tapi kokoh saya bertanya,
Ummi: “Shiddiq kenapa shiddiq mukul adek bayi?”
Shiddiq: “itu karena adeknya makan buku”
Ummi: “ummi tau Shiddiq kesal, tapi Shiddiq kan bisa bilang sama adek, lalu Shiddiq ambil bukunya, jauhkan dari adek, adek masih kecil, dipukul itu sakit, apalagi adek masih bayi, sangat berbahaya”
Shiddiq: “ggggggrrrrr Shiddiq udah bilang sama adeeeek!! Shiddiq udah ambil bukunya!! Tapi adeknya makan bukunya!!”

Penjelasan shiddiq dengan nada marah cukup membuat darah saya menaik. Ditambah dengan hiruk pikuk pekerjaan membuat saya tidak bisa berlama-lama memberikan pengertian padanya. Biasanya saya hanya baru memberikan “warning 1” untuk setiap kesalahan yang diulang setelah diberi peringatan, baru kemudian memberikan hukuman berupa pengurangan hak kesenangan seperti durasi menonton televisi setelah pemberian 3x “warning”. Terkadang teknik time out saya lakukan jika diperlukan. Namun hal ini bukanlah sebagai hukuman, tapi sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk menenangkan diri.

Saya memang lebih banyak memilih teknik apresiasi, pengabaian, pemberian reward dalam membangun kepribadian anak dibanding memberikan hukuman pada mereka. Karena pemberian hukuman bagi saya lebih banyak mengajarkan apa yang tidak boleh, namun tidak sampai mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan anak-anak. Jika mereka melakukan perilaku negatif, saya lebih memilih memberikan pengertian di waktu malam menjelang tidur, baik melalui komunikasi biasa atau melalui dongeng hikmah.

Namun saat itu, beban pekerjaan rumah tangga saya menumpuk sehingga saya kurang sabar untuk menahan pemberian hukuman sampai warning 3. Tiba-tiba saya kelepasan bicara “abang, hari ini gak dapat permen karet nya ya” Kebetulan saat itu ada permen karet di rumah yang saya janjikan boleh diambil setelah semua standar sore selesai. Sejujurnya saya menyesal mengapa langsung mengeluarkan kalimat itu. Shiddiq pun menangis saat saudara-saudara lain mengambil jatah permen karet mereka. Namun saya saya tetap teguh untuk tidak memberinya. Setelah reda saya ajak Shiddiq kembali berbicara. Saya sampaikan tentang bagaimana seharusnya ia bersikap saat adik bayi memakan bukunya. Tiba-tiba saya kaget tersentak saat Shiddiq memberi penjelasan,
Shiddiq: “ummi tadi itu Shiddiq pukul punggung adek karena Shiddiq takut adek choking” 

Saya mengerti maksud Shiddiq. Shiddiq pernah dapat materi P3K dalam homeschooling kami, bahwa jika menemukan anak yang tersedak, kita harus memukul punggungnya sampai korban memuntahkan bendanya.
Ummi: “astagfirullah…astagfirullah kalo gitu ummi dong yang salah, ummi gak mau sabar denger penjelasan abang. Padahal abang bermaksud baik sama adek”. Saya pun memeluk Shiddiq dan mengapresiasi maksud baiknya.

Shiddiq: “tadi sebenernya shiddiq mau bilang itu tapi ummi terus aja bicara”. Saya pun meminta maaf padanya lalu meralat konsekuensi yang saya berikan.

Astagfirullah… Astagfirullah…. andai saja saya sedikit bersabar untuk mendengar satu kalimat lagi, mungkin saya akan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Itulah mengapa di dalam Al-Quran Allah menyandingkan kata melihat dan mendengar sebagai cara untuk mengambil pelajaran. Mengapa Allah tidak hanya menyebut kata melihat saja atau mendengar saja? Karena kebenaran tidak cukup hanya diungkap dengan sekedar melihat. Penglihatan hanya mampu melahirkan persepsi yang belum tentu benar kenyataannya. Namun dengan mendengar dan melihat kita akan lebih mengerti apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana motif seseorang dalam melakukan sesuatu, dan apa yang sesungguhnya yang dimaksud seseorang dibalik perbuatannya.

Astagfirullah…astagfirullah terkadang kita tidak sabar untuk menunda sedikit pekerjaan kita, memberikan sejenak waktu kita untuk mendengar perasaan dan penjelasan anak anak kita sehingga kita menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi perilaku mereka. Terkadang kita mendadak menjadi seorang peramal yang mampu menduga niat dari perbuatan anak-anak kita atau perilaku yang akan dilakukan mereka. Meskipun anak-anak kita berbuat salah di mata kita, namun dengan mendengar kita akan lebih memahami bahwa kesalahan mereka hanyalah ketidaktahuan mereka dalam memilih sikap yang tepat dalam menghadapi masalah. Disinilah seharusnya peran kita yang utama, mengajarkan mereka bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi suatu masalah. Namun kemarahan kita sering kali menutup kesempatan itu. Kesempatan untuk duduk tenang berbicara dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang seharusnya dianut anak-anak kita.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus belajar dan bersabar untuk lebih mendengar anak
Kiki Barkiah